23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Papasangan

I Wayan Kerti by I Wayan Kerti
October 13, 2019
in Cerpen
Papasangan

Lukisan Komang Astiari

Cerpen I Wayan Kerti

Bau harum menyeruak seisi kamar. Aroma wewangian serasa menusuk hidung. Suasana mistis terasa kental, menyemburatkan suasana batin yang tenang dan damai. Kamar sempit berukuran  2×3 m² diyakini sebagai kamar suci, tempat Jero Dasaran biasa melakukan semadi ketika masyarakat mapinunasan.

Asap menyan dan dupa menyembul memenuhi ruangan. Sesaji pun mulai dihaturkan. Jero Dasaran duduk bersimpuh di depan altar pemujaan kamar suci itu. Tangannya mulai memercikkan air suci. Mulutnya komat-kamit, dibarengi gerakan tangan menyembah-nyembah. Pertanda ritual telah dimulai.

Jero datang ke sini memohon doa ya? Memohon doa tentang belum punya keturunan, tiba-tiba Jero Dasaran memulai pembicaraan.

Ya, Jero. Benar sekali! seorang perempuan muda menyahut pelan, dibarengi anggukan lelaki muda yang duduk di sampingnya.

“Sekarang, silahkan berdoa dan memohon kepada-Nya”, ujar Jero Dasaran.

Pasangan suami-istri itu pun khusuk berdoa. Lalu, mereka diperciki air suci berisi kembang beraneka warna. Proses ritual terus berjalan.  Cukup lama terjadi dialog di kamar suci itu. Akhirnya, bibir Jero Dasaran tiba-tiba melontarkan ucapan, “Sudah ke sana-ke mari kamu berobat, belum juga mempunyai keturunan. Penyebabnya karena ada yang menguna-gunai”.

Pasangan suami-istri muda itu pun nampak kaget, bingung bercampur aduk, menebak-nebak, mencari sumber tentang siapa kiranya yang berniat jahat pada mereka.

Dengan langkah gontai, mereka berpamitan. Sungguh tidak diduga jika ada yang berniat jahat pada mereka. Padahal, selama ini mereka merasa tidak memiliki musuh. Sudah tujuh tahun mereka menikah, buah hati yang mereka idam-idamkan belum juga hadir. Sudah beberapa dokter ahli kandungan ternama mereka kunjungi, berulang kali. Paranormal juga sudah belasan yang dimintai bantuannya. Sampai pada langkah di kamar suci Jero Dasaran.

Apa yang baru saja dialami di tempat mapinunasan dikabarkannya kepada mertuanya. Kedua orangtua itu nampak gelisah dan bingung. Namun, lelaki tua itu nampak berusaha tegar dan berpikir bijak.

“Janganlah sedih, Nak. Kalian harus tetap berdoa dan berusaha. Kabarkan juga berita ini pada besanku. Mungkin Beliau bisa membantu mencarikan jalan keluar,” kilahnya dengan suara pelan, tak bertenaga.

Keesokan harinya, pasangan ini memutuskan untuk menemui orangtua      I Luh di kampung halamannya. Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam. Tidak ada canda-tawa, atau cerita-cerita yang membumbui kisah perjalanan mereka.

Embun masih nampak berkilauan di rerumputan terkena terpaan sinar matahari. Mereka menapakkan kaki di halaman rumah orangtuanya dengan langkah gontai.

Seorang wanita paruh baya seketika menghampiri I luh, “Ada apa, tumben pagi-pagi sudah pulang?” Matanya penuh selidik, pandangan matanya tertuju pada perut I Luh. Naluri keibuannya telah berbisik, berharap anaknya telah hamil. Lalu, dia sah menyandang predikat seorang nenek.

 “Sebenarnya, ada apa pagi-pagi sekali kalian sudah sampai di sini? Biasanya, jika hendak pulang, kalian berkabar dulu,” sela ayah I Luh yang tiba-tiba hadir di ruang tamu.

“Kami hanya ingin jalan-jalan, Ayah,” jawab sang menantu, seperti hendak menyembunyikan sesuatu.

Sang ibu tergopoh-gopoh membawa pisang rebus dan beberapa cangkir kopi. “Silakan dinikmati! Ini menu pengganjal perut favorit I Luh sejak kecil,” imbuhnya sambil menyodorkan cangkir-cangkir itu.

Sambil menikmati sarapan pisang rebus dan ngopi pagi, obrolan pun terus berlanjut. Sesekali tampak canda-tawa, tetapi akhirnya semua tampak diam dengan raut muka cemas, ketika I Luh dan suaminya menceritakan semua yang mereka alami ketika mapinunasan.

Suasana sempat hening beberapa saat. Akhirnya, sang ayah memberi saran. “I Luh, begitu juga Gede, coba kita periksakan ke dokter ahli kandungan di kota ini. Beliau sahabat ayah sejak SD yang kembali dan mengabdikan dirinya ke desa ini sejak pensiun. Siapa tahu, justru jodoh bertemu di desa ini, seperti dirimu dengan Gede.”

Ruang praktik dokter tampak lenggang, maklum karena praktiknya di desa. Jadi, tidak perlu antre.

“Om Swastiyastu!” ayah I Luh menyapa lelaki paruh baya berpakaian putih-putih yang keluar dari dalam ruang praktik.

“Tampaknya, Beliau itu adalah dokter spesialis teman ayah sejak kecil,” pikir I Luh. Sepertinya dugaannya tidaklah salah. Sebentar saja, kedua lelaki paruh baya itu telah tampak akrab.

“Tumben kau bertandang ke sini,” sapa dokter itu. “Ayo masuk saja. Kita kumpul dan ngobrol di dalam. Lagian, jarang ada pasien yang periksa ke sini,” imbuhnya.

Mereka ramai-ramai memasuki ruang praktik dokter kandungan itu. Lalu, ayah I Luh mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada karibnya. Sang dokter tampak antusias mendengar semua cerita dan keluhan keluarga ini.

“Luh, masuklah ke ruang itu,” ujar dokter sambil menunjuk salah satu sudut ruang yang tersekat kain gorden warna biru. Tak tampak perawat atau bidan yang membantu buka praktik.

“Berbaringlah!” perintah sang dokter.

I Luh pun menuruti petunjuknya. Tubuhnya direbahkan di ranjang kamar periksa itu. Sambil memasang stetoskop di telinganya, dokter itu memutar-mutar alat USG di perut I Luh. Beliau bercerita dan bertanya berbagai hal kepada I Luh. Perbincangan mereka nampak akrab sekali, bahkan sesekali terdengar canda-tawa menghasi ruang pemeriksaan,

Tiba-tiba, dokter itu bertanya, “Luh apakah kamu pernah bermaksud menunda kehamilan?”

“Maksud Dokter?” sanggah I Luh dengan nada heran dan kebingungan.

“Maksudku, kamu mungkin pernah berniat ingin menunda punya anak, lalu kalian sepakat memakai alat kontrasepsi,” kata dokter itu.

“Tentu saja tidak dokter! Saya menikah justru bermaksud segera memiliki keturunan. Tidak pernah terbersit di benak untuk menunda kebahagian keluarga kami. Ada apa dengan diri saya?” cecar I Luh dengan nada penasaran.

“Baiklah! Aku panggilkan keluargamu untuk melihat apa yang sebenarnya menimpa dirimu.”

Dokter menunjukkan sesuatu.

“Sahabatku, begitu juga kamu, Nak! Sekarang lihatlah dengan saksama layar itu!” perintah dokter itu. “Apa yang kalian lihat?” imbuhnya.

“Aku melihat seperti ada sesuatu di rahim anakku, Kawan!” jawab ayah I Luh, yang diiyakan oleh yang lain, sebagai pertanda sepakat dengan temuan pemeriksaan dokter spesialis kandungan itu.

“Itulah sumber masalahnya,” ucap dokter itu dengan mimik serius.

“Benda apa itu, Kawan? Aku jadi penasaran. Apakah ini yang dikatakan papasangan seperti yang disampaikan Jero Dasaran tempo hari?” imbuh ayah I Luh dengan ekspresi wajah yang penasaran.

“Betul! Di rahim anakmu ini memang ada papasangan, dan yang memasang pastilah orang yang ahli seperti diriku,” lanjut sang dokter dengan nada sedikit bergurau.

“Aku bertanya serius, tolong kamu jawab dengan serius, Kawan!” gertak ayah I Luh yang merasa dibuat semakin penasaran.

“Baiklah! Aku jawab dengan tegas, di rahim anakmu terpasang alat kontrasepsi “spiral”. Hal tu sama saja dengan papasangan, seperti cerita paranormal itu. Itulah pemicunya kawan,” kata dokter itu. “Tadi, aku bertanya kepada anakmu, apa dia pernah bermaksud menunda punya anak? Dia bilang, tidak. Jadi, siapa kira-kira yang memasang alat itu di rahim anakmu?” Dokter itu balik bertanya kepada ayah I Luh dengan raut muka penuh selidik, yang membuat ayah dan ibu I Luh salah tingkah.

Suasana sempat hening beberapa saat. Sepertinya semua saling introspeksi diri, saling menerka-nerka. Apa mungkin orang sakti yang menjahati anaknya. Dalam hening, orangtua I Luh teringat kisah masa lalu. Mereka lalu menarik tangan dokter itu keluar ruangan. Di serambi rumah itu, mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Aku yang salah, Kawan,” celetuk sang ayah dengan penuh penyesalan. “Dulu, ketika anakku remaja, aku lihat dia agak liar bergaul. Sering gonta-ganti teman cowok yang diajak ke rumah. Aku jadi khawatir anakku membawa aib bagi keluarga. Suatu hari ketika dia diopname karena usus buntu, aku bersama istri sepakat saat operasi sekalian dipasangi ‘alat jahanam’ itu,” tutur sang ayah dengan nada lirih.

“Ayah…!!!” Tiba-tiba I Luh menjerit histeris. [T]

Keterangan:

1. papasangan : guna-guna
2. mapinunasan : Memohon
3. Jero Dasaran : Paranormal (orang yang dapat kemasukan roh, sehingga bisa menjadi perantara berkominkasi dengan alam gaib.
4 Jero : Anda (panggilan untuk orang yang belum dikenal).

Tags: Cerpen
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Kapan “Tour de Bali” Ada Lagi?

Next Post

[Pidato Umbu Landu Paranggi] – KemBali ke Bali: KemBali ke Kedalaman Akar-Dasar Sastra

I Wayan Kerti

I Wayan Kerti

lahir di Sibetan, 29 Juni 1967. Menjalani aktivitas sehari-hari sebagai guru, saat ini bertugas di SMP Negeri 1 Abang. Gemar menulis; puisi, cerpen, opini atau esai di media massa. Saat ini juga masih dipercaya sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kabupaten Karangasem sejak 12 tahun lalu.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
[Pidato Umbu Landu Paranggi] – KemBali ke Bali: KemBali ke Kedalaman Akar-Dasar Sastra

[Pidato Umbu Landu Paranggi] - KemBali ke Bali: KemBali ke Kedalaman Akar-Dasar Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co