23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Sikap Positif Guyub Tutur Bahasa Bali

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
September 9, 2019
in Opini
Membangun Sikap Positif Guyub Tutur Bahasa Bali

Ilustrasi: Lomba Taman Penasar, Sekaa Truna Yowana Werdhi, Br. Batanbuah, Desa Kesiman Petilan, Kec. Denpasar Timur, Duta Kota Denpasar. Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali - Senin 24 Juni 2019. (Foto: Widnyana Sudibya)

Bahasa Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai  bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa  budaya dan bahasa ilmu. Meskipun bahasa Indonesia  mempunyai enam kedudukan tetapi bahasa daerah tetap terjaga keberlangsungannya.

Hal itu menyebabkan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat  bilingualisme. Penggunaan dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa daerah)  pada masyarakat bilingualisme akan mengakibatkan perubahan peranan bahasa daerah. Menurut Fergusen situasi tersebut adalah masyarakat bilingualisme dengan diglosia. Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing punya peranan tertentu. Menurutnya, dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa. Variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek T), dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R).

Ketika diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa dan bilingualisme sebagai adanya penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat, maka Fishman menggambarkan hubungan diglosia sebagai berikut:

a.Bilingualisme dan diglosia,

Masyarakat yang dikarekterisasikan sebagai masyarakat yang bilingual dan diglosia, hampir setiap orang mengetahui ragam atau bahasa T dan ragam atau bahasa R. Kedua ragam atau bahasa itu akan digunakan menurut fungsinya masing-masing, yang tidak dapat dipertukarkan.

b.Bilingaulisme tanpa diglosia

Masyarakat yang bilingualisme tetapi tidak diglosia adalah masyarakat yang bilingual,namun mereka tidak membatasi penggunaan bahasa untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain pula. Jadi, mereka dapat menggunakan bahasa yang manapun untuk situasi dan tujuan apapun.

c.Diglosia tanpa bilingualisme

Masyarakat diglosia, tetapi tanpa bilingualisme adalah terdapat dua kelompok penutur. Kelompok pertama yang biasanya lebih kecil, merupakan kelompok yang hanya bicara dalam bahasa T sedangkan kelompok kedua, yang biasanya lebih besar dan tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, hanya berbicara bahasa R.

d.Tidak bilingualisme dan tidak diglosia

Masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala tujuan. Keadaan ini hanya mungkin ada dalam masyarakat primitif atau terpencil, yang dewasa ini tentunya sukar ditemukan. Masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual ini akan mencair apabila telah bersentuhan dengan masyarakat lain

Situasi kebahasaan pada masyarakat Bali adalah bilingualisme dan diglosia. Yang menjadi kekhawatiran adalah dengan dipergunakan bahasa Indonesia dan bahasa Bali dalam berkomunikasi, bahasa Indonesia dipastikan dapat mengeser fungsi bahasa Bali.Tanda-tanda ke arah itu sudah dapat dilihat secara kasat mata.  Masyarakat Bali yang ada di perkotaan secara pelan dan pasti menggunakan bahasa Indonesia dalam ranah keluarga. Hal ini sudah menggeser fungsi bahasa Bali. Tidak saja fungsi bahasa Bali yang bergeser tetapi juga situasi tersebut menyebabkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berprestise (diglosia). Apabila situasi ini tidak segera diantisipasi, akan mengakibatkan fungsi bahasa Bali akan terus digeser oleh bahasa Indonesia. 

Berkaitan dengan usaha pemertahanan bahasa Bali, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 20 Tahun 2013. Pada Bab II Pasal 2 ayat 1 dengan jelas termaktub bahwa Bahasa, Aksara, dan sastra Bali diajarkan pada semua jenjang pendidikan dasar dan menengah sebagai mata pelajaran di di Provinsi Bali. Dengan diberlakukan Pergub tersebut bahasa Bali diajarkan sebagai mata pelajaran wajib pada setiap satuan pendidikan.

Dengan itu pembelajaran bahasa Bali yang diajarkan pada setiap satuan pendidikan  mempunyai landasan hukum yang kuat. Pergub ini dikeluarkan sebagai respon terhadap pemberlakuan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 tidak memberikan ruang gerak terhadap pembelajaran bahasa daerah. Pada Kurikulum Tahun 2013 bahasa daerah tidak lagi diajarkan sebagai mata pelajaran (mapel) yang mandiri tetapi mapel bahasa daerah diintegrasikan dengan mapel Seni dan Budaya. Hal tersebut menimbulkan reaksi dari para pakar bahasa Bali dan Aliansi Peduli bahasa Bali, dan mahasiswa perwakilan dari berbagai universitas di Bali.

Dalam hal ini Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan penyempurnaan terhadap kurikulum dan bagaimana proses pembelajaran bahasa Bali diajarkan pada setiap satuan pendidikan. Proses pembelajaran Bahasa Bali di sekolah-sekolah diarahkan untuk tercapainya pembelajaran pada penguasaan tiga ranah yaitu penguasaan bahasa secara kognitif, afektif dan psikomotor. Penguasaan kognitif diarahkan untuk  menguasai mengenai  teori kebahasaan dan kesusastraan, penguasaan afektif ditujukan untuk penguasaan sopan santun berbahasa dan penguasaan psikomotor ditekankan pada penguasaan keterampilan berbahasa dan mampu mengkaji kesusastraan.

Pembelajaran bahasa Bali pada setiap tingkat satuan pendidikan ditekankan pada penguasaan empat keterampilan berbahasa. Dengan penekanan pada penguasaan keempat keterampilan tersebut siswa diharapkan bisa berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan menggunakan bahasa Bali dengan baik dan benar. Hal tersebut sejalan dengan implementasi Kurikulum 2013 bahwa pembelajaran diarahkan untuk pencapaian kompetensi sehingga siswa diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap direfleskikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Tercapainya standar kompetensi lulusan sangat bergantung pada banyak faktor. Faktor tersebut antara lain bagaimana proses pembelajaran tersebut dilakukan. Hal ini mengacu pada pendekatan yang diterapkan dalam proses pembelajaran.        

 Keseriusan Pemerintah Provinsi Bali dalam untuk memertahankan keberlangsungan bahasa Bali adalah dengan diterbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Pada pasal 2 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan perlindungan bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui (1) inventarisasi, (2) pengamanan, (3) pemeliharaan, (4) penyelamatan, dan (5) publikasi.

(1) Inventarisasi sebagaimana dilakukan dengan pencatatan dan pendokumentasian, penetapan, serta pemutakhiran data.

(2) Pengamanan sebagaimana dilakukan dengan cara: (a) memutakhirkan data bahasa, aksara, dan sastra Bali dalam sistem pendataan kebudayaan terpadu secara terus menerus;(b).mewariskan bahasa, aksara, dan sastra Bali pada generasi selanjutnya; dan (c) memperjuangkan secara selektif aksara dan sastra Bali sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dan warisan budaya dunia.

(3) Pemeliharaan dilakukan dengan cara: (a) menjaga nilai keluhuran dan kearifan objek Perlindungan Bahasa, Aksara Dan Sastra Bali; (b).menggunakan objek Perlindungan Bahasa,Aksara dan Sastra Balidalam kehidupan sehari-hari; (c) menjaga keanekaragaman objek Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali; (d).menghidupkan dan menjaga ekosistem Bahasa, Aksara dan Sastra Bali untuk setiap objek Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali; dan (e) mewariskan objek Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali kepada generasi berikutnya.

(4) Penyelamatan dilakukan dengan cara: (a) revitalisasi; (b) repatriasi; dan/atau (c) restorasi.

(5) Publikasi dilakukan melalui penyebaran informasi kepada seluruh masyarakat yang ada di Bali dan di luar Bali dalam berbagai bentuk media.

Kebijakan tersebut telah diimplementasikan oleh bupati dan walikota. Salah satu  dapat dicermati dari dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Walikota Denpasar Nomor 836 Tahun 2018 tertanggal 2 Oktober 2018 tentang Hari Penggunaan busana adat Bali, Pelindungan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali serta penyelenggaraan bulan bahasa Bali serentak di Kota Denpasar. Walaupun telah diterbitkan peraturan gubernur yang mengayomi kebertahanan bahasa Bali, apabila sikap positif masyarakat Bali terhadap bahasa Bali tidak ada,  fungsi bahasa Bali akan semakin tergerus oleh penggunaan bahasa Indonesia.

Salah satu riset  yang telah dilakukan oleh Adnyana (2018) adalah kajian terhadap sikap guyub tutur  bahasa Bali Dialek Terunyan (BBDT) dengan mengambil sampel 13 siswa dari 130 siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kintamani yang berasal dari Desa Terunyan. Hal yang perlu digaris bawahi dari hasil kajian tersebut adalah meskipun guyub tutur BBDT mempunyai sikap positif terhadap BBDT tetapi mereka tidak mempunyai kebanggan terhadap bahasanya. Apabila kebanggaan terhadap bahasanya tidak ada, maka dapat diprediksi fungsi bahasa BBDT akan mengalami pergeseran.

Sikap berbahasa guyub tutur bahasa Bali yang tinggal di perkotaan tentu berbeda dengan yang tinggal di perdesaan. Meskipun belum ada kajian mengenai sikap gutub tutur bahasa Bali di daerah perkotaan tetapi secara kasat mata ada kecendrungan masyarakat yang tinggal di perkotaan memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pada ranah keluarga. Keberadaan bahasa Bali ditengarai mengalami penyusutan penutur bahkan pengamat bahasa Bali menyatakan bahwa bahasa Bali mengalami krisis penutur

Kebertahanan  suatu bahasa sangat bergantung kepada sikap positif guyub tuturnya. Apabila sikap positif tidak ada dapat dipastikan secara perlahan-lahan fungsi bahasa tersebut tergantikan dengan bahasa lain. Lambert (1967:91-1902) menyatakan bahwa sikap itu terdiri dari tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif.

Komponen kognitif berhubungan dengan pengetahuan mengenai bahasa Bali. Komponen afektif menyangkut masalah penilaian baik, suka atau tidak suka terhadap suatu terhadap bahasa tertentu. Komponen konatif menyangkut perilaku yang dalam hal ini bagaimana keterampilan seseorang dalam menggunakan suatu bahasa. Ketiga komponen tersebut berhubungan erat dan untuk menentukan sikap bahasa seseorang dapat dianalisis dari sikap seseorang terhadap ketiga komponen tersebut (kognitif,afektif, dan psikomotor). 

Menurut Garvin dan Matiot (dalam Chaer, 2004:152) ada tiga ciri untuk menentukan sikap bahasa yaitu :

(1) kesetiaan bahasa (language loyalty) yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain;

(2) kebanggaan bahasa (language pride) yang mendorong seseorang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat;

(3) kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm ) yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun dan merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa (language use). Seseorang dikatakan memilki sikap positif terhadap bahasanya dapat dicermati dari kesetiaan bahasa, kebanggaan bahasa dan kesadaran akan norma. Apabila ketiga ciri tersebut sudah mulai memudar maka seseorang atau masyarakat tutur maka sikap negatif terhadap bahasanya telah melanda guyub tutur suatu bahasa.

Pemertahanan bahasa Bali jangan hanya dipercayakan pada usaha pemerintah dalam hal ini Pemerintah Provinsi Bali melalui pendidikan formal. Jika dicermati proses pembelajaran bahasa Bali dengan alokasi 2 jam pelajaran per minggu dirasakan tidaklah memadai. Dengan alokasi waktu yang terbatas siswa dituntut menguasai dan bisa berbahasa Bali dengan baik. Hal ini tentu merupakan hal yang mustahil. Dengan keterbatasan waktu siswa dituntut menguasai tentang pengetahuan bahasa dan keterampilan berbahasa. Permasalahan pembelajaran bahasa Bali tidak hanya diakibatkan keterbatasan waktu yang tersedia tetapi juga rendahnya motivasi para siswa untuk belajar bahasa Bali. Hal ini kemungkinan terjadi karena bahasa Bali tidak sebagai mata pelajaran yang menentukan kelulusan siswa.

Disamping itu, pembelajaran akan berhasil bergantung pada sikap bahasa anak terhadap bahasa Bali. Sikap bahasa sangat dipengaruhi oleh sikap berbahasa para orang tuanya. Pada saat ini ada kecendrungan para orang tua (terutama di daerah perkotaan) memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi pada ranah keluarga. Berbagai alasan disampaikan mengapa para otang tua memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam rumah tangga. Para orang tua menganggap bahasa Indonesia lebih prestisius.

Dengan memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam rumah tangga, anaknya tidak akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah karena di sekolah bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Anak yang sudah terbiasa berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi di rumah ketika mereka memasuki pendidikan formal (SD,SMP, SMA) mereka mempelajari bahasa Bali. Mereka mengalami kesulitan mempelajari bahasa Bali. Mereka mempelajari bahasa yang mereka tidak pernah diperoleh dalam rumah tangga. Berbeda dengan anak yang menguasai dua bahasa, bahasa Bali dan bahasa Indonesia atau sebaliknya, mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam mempelajari bahasa Bali di sekolah.

Yang menjadi tugas kita adalah bagaimana memertahankan bahasa Bali yang merupakan warisan budaya adiluhung masyarakat Bali. Pemertahanan bahasa Bali dapat dilakukan  melalui pendidikan formal dengan mengajarkan bahasa Bali di sekolah   sedangkan jalur infomal dengan menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa pengantar di lingkungan keluarga. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah guyub tutur bahasa Bali (terutama di perkotaan) mempunyai sikap positif terhadap bahasa Bali.

Kesadaran untuk memertahankan eksistensi bahasa Bali harus dimulai dari lingkungan rumah tangga. Jangan merasa minder apalagi beranggapan dengan memilih bahasa Bali sebagai bahasa pengantar dalam rumah tangga merasa “kampungan”. Sikap positif terhadap bahasa Bali perlu dibangun dari generasi ke generasi.

Kesetiaan dan kebanggaan terhadap bahasa Bali perlu dibangun. Kesetiaan bahasa dapat dilakukan oleh para orang tua dengan menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa pengatar dalam ranah keluarga. Perkenalkanlah kepada anak situasi kebahasaan (bilingualime) sejak dini. Hal itu dapat dilakukan dengan mengajarkan bahasa Bali dan Bahasa Indonesia. Anak diperkenalkan bahasa Bali lebih awal, apabila anak sudah lancar berkomunikasi dengan bahasa Indonesia selanjutnya anak diperkenalkan dengan bahasa Bali, begitu sebaliknya.

Dengan memakai bahasa Bali sebagai pengantar dalam keluarga, diharapkan anak mempunyai kebanggaan terhadap bahasa Bali. Bahasa Bali dijadikan sebagai lambang identitas pribadi atau kelompok dan sekaligus membedakannya dari orang atau kelompok lain dan sebagai satu wujud kepribadian dan intelektualitas. Ciri orang yang memiliki kebanggaan terhadap suatu bahasa dengan menggunakan bahasa tersebutdalam  berbagai kesempatan baik secara lisan maupun tulisan dengan meminimalisasi penggunaan bahasa lain. [T]

Tags: BahasaBahasa BaliBahasa IndonesiaguruPendidikansekolah
Share94TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Ibu Rupa Batuan Sebentuk Penghormatan Terhadap “Ibu”

Next Post

BENYAI

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

BENYAI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co