22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BENYAI

Oka Rusmini by Oka Rusmini
September 9, 2019
in Esai
RIPUH

Edisi 9/9/19

KOPLAK menggaruk rambutnya yang mulai beruban dengan ujung kuku jempolnya yang panjang. Butiran-butiran ketombe menempel diujung kuku juga di dalam kukunya. Koplak menciumnya baunya sedikit apek, untung tidak ada Kemitir jika ada Kemitir pasti gadis cantik kesayangan Koplak itu akan mendelik, mata Kemitir yang bulat dengan bola mata besar berwarna kecoklatan itu pasti akan menatapnya dengan bersungut-sungut.

Sebetulnya Koplak tahu kebiasaan itu adalah kebiasaan buruk yang bagi Kemitir menjijikkan bagi koplak mengasikkan. Dua orang yang tumbuh bersama, bahkan gumpalan daging Koplak juga ada di daging Kemitir ternyata mereka tetap dua manusia yang memiliki keinginan yang berbeda-beda. Keingingan antara yang satu dengan yang lain tidak bergandengan, keinginan yang juga tidak bisa saling mengerti dan bersahabat. Memang berbeda arus, mau disamakan.

Membayangkan Kemitir saja kadang-kadang sudah membuat Koplak merasa diserang vertigo. Bayangkan jika dirinya menjadi Presiden.

“Kau tidak ingin naik tingkat, Koplak?”

“Naik tingkat apa? Aku sudah lama tidak sekolah. Tidak perlu naik tingkat lagi.”

“Maksudku, apa kamu tidak ingin menjadi Camat? Menjadi Bupati? Menjadi Gubernur? Menjadi Menteri… Menjadi…”

“Presiden! Begitu maksudmu?”

“Ya, Presiden sih terlalu tinggi.”

“Maksudku kau tidak ingin jadi Camat? Minimal daerah kekuasaanmu jadi lebih luas sehingga kau makin eksis.”

“Eksis?”

“Ya, eksis! Kau tahu arti kata itu?”

“Lalu kalau sudah eksis aku dapat apa?”

 “Kok dapat apa? Pertanyaan bodoh itu. Kau itu kan kepala desa teladan seluruh Indonesia. Kau harus bangga. Aku sebagai warga saja bangga melihat kau bertemu Preseiden, bersalaman dengan Presiden. Lalu kau berdekatan dengan Presiden juga menteri-menteri yang biasanya kulihat di TV. Apa kau tidak bangga sebagai kepala desa berprestasi? Sebali lagi, kau yang mewakili seluruh kepala desa untuk bertemu dengan Presiden. Kau tidak bangga?”

Koplak terdiam. Bibirnya tiba-tiba saja terasa kaku selama ini sesungguhnya dia bekerja ya untuk desanya. Tidak ada keinginan untuk jadi ini-itu lagi. Jabatannya sudah dua kali, desa yang dipimpinnya berkembang dengan baik, karena dana desa yang diberikan pemerintah memang dikelola Koplak untuk membangun kemandirian desa. Koplak tidak ingin latah membangun kantor desa yang mentereng. Dengan pondasi yang dikelilingi pahatan-pahatan Bali yang ribet dan justru membuat warga desanya enggan bertandang ke kantor Desa.

“Fasilitas harus lengkap dulu, minimal kita memiliki ruang besar untuk berkumpul warga desa,” suatu hari kepala desa seberang berkata pada Koplak ketika Koplak bertandang ke kantornya yang mirip hotel kecil megah dan mewahlah untuk ukuran koplak yang sebagian warganya bekerja bercococok tanam dan memelihara ternak.

“Kau tidak ingin membangun kantor desamu megah?”

Koplak tak menjawab pertanyaan kepala desa itu, yang memiliki kursi besar yang selalu diduduki ketika menerima tamu. Bahkan Koplak sempat menyaksikan bagaimana lagak Kades itu ketika seorang warga masuk keruangannya. Gayanya bak raja, bak bangsawan. Koplak pernah mencoba duduk dikursi milik Kades itu hampir saja dia jatuh terlentang ternyata kursi saang Kades memiliki roda. Koplak merengut kalau dia bekerja dengan kursi seperti itu bisa tidak jadi kerja, tetapi sibuk melatih tubuhnya untuk duduk manis sambil mengeser ke kiri ke kanan, kursi sudah bisa meluncur. Itu yang namanya eksis?

Koplak memang merasa senang bisa diundang Presiden dan ikut merayakan hari kemerdekaan di istana negara bersama ribuan orang-orang yang dianggap Presiden berprestasi dibidangnya. Terus kalau sudah dapat penghargaan sebagai kepala desa teladan seluruh Indonesia mau apa? Apa yang warga dapat dari penghargaan yang diberikan negara pada Koplak? Apakah Koplak akan diundang bicara? Tidak juga?

Apakah Koplak akan diberi kesempatan berbagi ilmu agar pikiran untuk memajukan desa sesungguhnya dimulai dari warga desa yang dibuat mandiri. Mandiri dalam arti warga desa memiliki penghasilan tetap disektor informal. Mandiri panganlah minimal dengan menanam beragam sayur dan umbi-umbian di sekitar pekarangan rumah. Itu hal sederhana yang biasa dilakukan orang-orang Bali pada masa lalu Koplak juga yakin itu dilakukan oleh seluruh orang-orang di desa pada masa lalu, mandiri pangan untuk keluarga dulu.

Makanya jadi orang seperti Koplak tidak boleh benyai, mengandalkan petunjuk dari pusat. Koplak dijabtan kedua ini tidak menginginkan apa-apa toh dia tidak lagi bisa maju jadi Kades lagi. Terus jika ada yang tertarik mencalonkannya jadi anggota ini-itu Koplak tidak tertarik. Baginya merawat desa adalah kemampuannya kerja lain tidak bisa. Apalagi berpolitik, wong KPK yang jelas sudah menunjukkan kinerja baik saja terus diotak-atik.

Bahkan di berita Koplak melihat DPR lagi-lagi mengajukan revisi UU KPK meski sudah berkali-kali ditolak publik. Isi revisinya masih berkutat seputar kewenangan penghentian kasus dan pembentukan dewan pengawas. Kedudukan KPK sebagai lembaga penegak hukum yang berada pada cabang kekuasaan eksekutif atau pemerintahan. Meskipun KPK merupakan bagian dari cabang kekuasaan eksekutif atau pemerintahan, namun dalam menjalankan tugas dan wewenangnya KPK bersifat independen. Pegawai KPK merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tunduk kepada peraturan perundag-undangan di bidang aparatur sipil negara

KPK dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dapat melakukan penyadapan. Namun, pelaksanaan dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Dewan Pengawas KPK

Bayangkan KPK yang sudah merombak dan mengaduk-aduk koruptor saja tetap disodok kiri-kanan. Apalagi Koplak? Hanya Kades berprestasi tingkat nasional. Kades! [T]

Tags: Anti KorupsiDPRKoplakKPKOka Rusmini
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Membangun Sikap Positif Guyub Tutur Bahasa Bali

Next Post

Keresahan Terhadap Penerapan Cara Kuno yang Semestinya Telah Menjadi Bangkai Pada Kalangan Terpelajar

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Keresahan Terhadap Penerapan Cara Kuno yang Semestinya Telah Menjadi Bangkai Pada Kalangan Terpelajar

Keresahan Terhadap Penerapan Cara Kuno yang Semestinya Telah Menjadi Bangkai Pada Kalangan Terpelajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co