14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
July 2, 2019
in Khas
“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

Minggu 30 Juni, sekitar pukul 7 pagi, saat dingin betul-betul menyusup sampai ke tulang, kami menggetarkan Subak Sidang Rapuh dan Subak Uma Kaang, Desa Marga Dauh Puri, Marga, Tabanan. Kalau diperkirakan, ada sekitar 900 peserta fun bike cross country, melewati subak-subak itu. Jalan subak yang begitu sempit, ketika dilewati ratusan peserta sepeda, membuat macet yang mengular sampai beberapa meter. Acara fun bike itu menjadi tontonan para petani yang sedang menggarap sawah. Sawah yang biasanya sepi, pagi itu mendadak seperti pasar.  

Ntud Nduk, sebuah komunitas sepeda di Desa Tunjuk, kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali, sedang mengadakan hajatan. Dalam rangka HUT Ntud Nduk yang ke tujuh, mereka sepakat mengadakan acara bersepeda  fun bike cross country, dengan medan keluar masuk persawahan dan tegalan. Sebuah acara yang sangat positif, meningkatkan minat masyarakat tentang pentingnya hidup sehat dengan cara bersepeda. Olahraga yang bisa dilakukan oleh segala kelompok umur.

Di bawah asuhan Nyoman Nastana, Ntud Nduk telah menjadi komunitas penggiat bersepeda yang konsisten. Anggotanya sampai saat ini telah mencapai 55 orang, kebanyakan warga di desa Tunjuk, dan juga ada peserta dari luar desa yang bergabung.

“Ntud Nduk Fun Bike”, memeriksa apakah sawah kami masih alami?

Kalau ditelaah, mungkin Ntud Nduk berasal dari dua kata dalam bahasa Bali. Ntud dari urat kata entud yang artinya lutut, sedangkan Nduk dari kata enduk yang artinya lemah. Kalau digabung, artinya merujuk: lutut yang lemah. Tapi ternyata Ntud Nduk dibuat dari majas Litotes, gaya bahasa yang menggunakan kata berlawanan untuk merendah. Contoh majas litotes ini dalam sebuah kalimat: “Saya menyelesaikan S2 di Amerika dengan otak yang tumpul”.

Kalau sudah bisa menyelesaikan kuliah di Amerika, pastilah otaknya encer. Atau kalimat: “mampirlah sebentar ke gubuk saya”.  Padahal yang dia maksud gubuk itu adalah rumah yang sangat mewah.

Komunitas Ntud Nduk tidak terdiri dari orang-orang yang berlutut lemah, melainkan sebaliknya. Mereka adalah para penggowes yang perkasa. Buktinya mereka bisa menyelesaikan gowes dari Tunjuk, Tabanan sampai ke Pelabuhan Padang Bay, Karangasem, kemudian nyebrang ke Pulau Nusa Penida untuk melakukan tirta yatra, sembahyang ke pura-pura di sekitaran pulau kecil itu. Mekemit , kemudian esoknya gowes lagi dari pelabuhan Padang Bay sampai ke Tunjuk. Itu jarak yang luar biasa dan gila. Ratusan kilometer.

Saya sangat salut dan hormat kepada komunitas Ntud Nduk ini, atas konsistensi mereka bersepeda. Ketika saya mendapat tawaran untuk memeriahkan acara fun bike mereka, langsung saya mengiyakan. Berpartisipasi sebagai sesama penghobi.

Maka pagi itu, walau pergelangan tangan saya sedikit bermasalah karena asam urat yang tiba-tiba kambuh, saya memaksa ikut. Ada 3 kategori dalam acara fun bike xc itu. Jalur yang terjauh sekitar 28 kilometer, yang lebih dekat ada jalur untuk pemula sekitar 17 km, dan ada jalur untuk anak-anak sepanjang 7 km. Saya ikut yang 28 kilometer.

Jalan-jalan subak , kadang landai, berliku, kadang menanjak dengan mesra

Pukul 6.30 kumpul di lapangan sepak bola Desa Tunjuk. Peserta sudah ramai berdatangan. Di tribun, MC yang cantik dengan suaranya yang manis menyapa. Pagi yang dingin. Ketemu dengan teman-teman. Ngobrol-ngobrol sebentar menunggu start. Tak disangka ketemu dengan sahabat lama Putu Bonconk, yang jauh-jauh datang dari Buleleng menghadiri undangan fun bike ini. Putu Bonconk hadir dengan tujuh orang anggota komunitas Buleleng, bersama atlit-atlit muda ISSI Buleleng yang juga berpartisipasi. Beberapa atlit ISSI Tabanan juga ikut, di antaranya Radit dan Naomi. Walau ini bukan lomba, tapi mereka berpartisipasi.

Rencananya acara itu akan dilepas Bapak Kapolres Tabanan, karena kebetulan beliau juga hobi bersepeda. Tapi beliau berhalangan hadir karena ada acara penting, akhirnya diwakili Bapak Kapolsek Kota Tabanan. Pukul 7.00 bendera pelepasan dikibarkan.

Ratusan peserta memadati jalur Tunjuk menuju Marga. Kemudian di wilayah Desa Marga Dauh Puri, kami mulai memasuki persawahan. Jalan Subak Sidang Rapuh, yang kecil dan berbeton. Betul-betul acara yang fun. Enak rasanya ramai-ramai. Bersepeda sambil ngobrol. Tak terasa sudah memasuki Subak Uma Kaang, sebuah subak di sebelah utara Monumen Candi Margarana. Hamparan persawahan dan kebun sayur hijau, menyehatkan mata para peserta acara fun bike itu. Di Subak Uma Kaang, di samping menanam padi, mayoritas petani lebih suka bercocok tanam sayur hijau. Walaupun ada juga beberapa yang menanam kacang panjang dan bunga pacah.

Sebenarnya rute persawahan adalah medan favorit pagi para penggowes. Tidak membosankan seperti di jalan raya, yang kita lihat hanya jalan lurus dan asap kendaraan. Medan persawahan betul-betul sejuk. Apalagi kalau ada jalan subak yang sudah dibeton, berliku-liku dengan sungai di sampingnya. Tak ada yang lebih indah daripada suara gemericik air yang mengalir. Mendengarnya saja, pikiran jadi sejuk. Bahkan seseorang yang bermeditasi juga mendengarkan suara air yang telah direkam untuk menemani kegiatan meditasi mereka.

Beberapa penggiat sepeda juga senang bermain lumpur. Mereka justru sengaja mencari rute dengan jalan subak yang belum tersentuh beton. Pas hujan-hujan, jalan subak yang rusak pasti banyak kubangan lumpur. Dan mereka akan terjun ke lumpur-lumpur itu dengan rasa nikmat, walaupun nanti harus cuci sepeda, sepatu dan pakaian dengan susah.

Pada hakekatnya, seperti di masa kanak-kanak, kita sebenarnya sangat menyukai air dan tanah. Di masa kecil kita sering bandel main kotor-kotoran, main air hujan dan lumpur dengan riang, walaupun setelah itu dijewer ibu.

Dengan bersepeda melewati jalur subak, para pesepeda sepertinya ingin memeriksa dengan hati yang damai, apakah sawah-sawah kami di Tabanan masih alami, petani masih semangat bekerja dan air masih mengalir dari pegunungan dengan jernih?

Setelah melewati Subak Uma Kaang, kami ketemu turunan dan tanjakan pendek-pendek. Kemudian memasuki Desa Payangan. Kehadiran kami membuat anjing-anjing di kampung itu menyalak. Melintasi Desa Payangan yang lumayan panjang, membuat para peserta yang mungkin masih pemula di dunia sepeda mulai kelelahan. Rombongan mulai terpecah-pecah. Saat inilah kelihatan siapa endurance-nya yang sudah terlatih. Kami terpencar-pencar menjadi kelompok kecil-kecil.

Ini bukanlah fun bike biasa. Awalnya fun, selanjutnya medannya begitu menantang. Di ujung Desa Payangan, ada sebuah bendungan kecil. Ada tanjakan yang sangat curam, yang menghubungkan Desa Payangan dengan Banjar Pemanis. Tanjakan berbeton ini memaksa para peserta turun dan menuntun sepeda mereka. Syukurlah saya bisa melewatinya, sukses secara pelan-pelan.

Penulis selfie dengan teman-teman pesepeda

Di Banjar Pemanis kami terus ke utara. Jalur yang melelahkan karena menanjak terus. Sampailah di Banjar Keridan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel. Di ujung banjar ini, kami kemudian diarahkan ke barat oleh marshal yang berjaga, memasuki persawahan lagi. Ternyata jalur itu tembus ke Banjar Pagi, kampung yang pernah saya tulis dulu, karena keberadaan konservasi burung hantu untuk memberantas hama tikus para petani. Di Banjar Pagi ini kami memasuki areal subak lagi, menuju arah selatan. Jalannya mulai menurun. Nah, ini adalah hadiah, istilah untuk para pesepeda. Ada tanjakan, ada hadiah turunan.

Tapi jangan gembira dulu. Setelah turunan yang begitu panjang, di Banjar Biaung kami diarahkan ke timur lagi, memasuki banjar Cacab Jangkahan. Ada tanjakan mesra yang memacu detak jantung lagi. Tadi saat jalan turunan, ada seorang peserta yang menyalip saya dengan tidak sopan. Saat memasuki tanjakan di Banjar Cacab Jangkahan itu, dia nuntun sepedanya. Rasain lu! Giliran saya mengentutinya di tanjakan itu…hehehe

Sepanjang perjalanan, di samping bersepeda, mata saya terus mengamati kanan-kiri, melihat kebun-kebun. Ternyata sedikit yang menanam bunga gumitir. Ada harapan, bunga gumitir akan meroket menjelang Galungan ini. Sebab saya sedang menanam bunga gumitir di petak sawah saya…hehehe

Setelah tanjakan di Banjar Cacab Jangkahan itu, jalannya terus menurun sampai ke lapangan Desa Tunjuk lagi, tempat start tadi. Kemudian makan snack bersama teman-teman sambil berhaha-hihi. Nonton joged sambil menunggu undian door prize.

Seperti sebelum-sebelumnya, kali ini saya juga tidak beruntung. Hadiah-hadiah door prize terlewati tanpa nomer saya disebut. [T]

Tags: balap sepedagowespertaniansubaktabanan
Share308TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Surya Gemilang # Setelah Mengunduh Film Porno

Next Post

Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co