26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Robinson Gamar by Robinson Gamar
June 18, 2019
in Ulasan
Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Upin Ipin/Youtube

Karya  film bisa menjadi gambaran sebuah bangsa. Melalui karya visual ini kerap dititipkan pesan kebudayaan bahkan politik dari negara asal film tersebut. Bagaimana figur Rambo diciptakan untuk menutup malu Amerika atas kekalahan dalam perang Vietnam.

 Orang sekampung dengan senjata lengkap bisa dilibas hanya oleh aksi seorang Rambo. Meski kenyataannya Amerika jelas-jelas kalah dalam perang Vietnam. Tapi begitulah cara mereka “menutup malu” sekaligus membangun optimisme bangsanya.

Tidak jauh berbeda India. Dengan bangganya mereka selalu menampilkan artis yang mengenakan pakaian khas India (sari) lengkap dengan lagu dan tariannya. Arjuna dengan gagahnya menarik busur dan memenangkan perang besar seeprti yang tertuang dalam kisah Mahabharata. Betapa gagahnya. 

China dan Jepang juga tak kalah dasyatnya mempengaruhi alam pikir penonton dunia melalui film yang disajikan. China misalnya, mereka sangat bangga menampilkan adegan-adegan beladiri kungfu. Maka muncullah film-film seeprti kungfu master dan sejenisnya. Jepang tak kalah hebatnya, ikon samurai atau sosok Ninja punya temapt tersendiri si hati pecinta film action dunia termasuk Indonesia. 

Demikianlah mereka dengan industri kreatifnya menampilkan kebanggannya sebagai sebuah bangsa. Ada nuansa optimisme di dalamnya. Jadi, masuk akal jika mereka dapat memenangkan persaingan di berbagai bidang. 

Lantas bagaimana dengan rumpun bangsa melayu yang mendiami gugusan bumi Asia Tenggara. Malaysia dan Indonesia bisa jadi perbandingan menarik. Salah satu serial anak-anak yang cukup terkenal adalah Upin Ipin. Produksi Malaysia tapi rutin ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.

Walau jalan ceritanya bisa dibilang “biasa-biasa” saja, Malaysia berhasil menyampaikan sebuah pesan besar melalui serial Upin – Ipin. Pesan apakah itu? 

Upin Ipin melalui figur-figur yang ditampilkan berhasil menyampaikan pesan keberagaman. Lihat saja tokoh-tokohnya. Upin dan Ipin jelas mewakili sosok “pribumi” Malaysia yang ceria dan selalu hadir sebagai sosok sentral dalam tiap cerita. Tapi di sisi lain hadir pula Jarjit, seorang anak yang digambarkan sebagai anak malaysia berdarah India.

Lalu  ada Fizi mewakili Arab, ada Mei-mei mewakili Tionghoa juga ada Suasanti yang digambarkan sebagai anak negeri tetangga Indonesia. Mereka berteman akrab satu sama lain. Melalui serial ini Malaysia ingin menyampaikan pesan bahwa mereka adalah bangsa yang menghargai kemajemukan.

Saatnya kita masuk ke bangsa kita tercinta Indonesia. Nahhh, kita memang selalu lain daripada yang lain khususnya dalam industri perfilman. Mau bukti? Paling fenomenal menurut saya adalah film bergenre horor. Judulnya rada-rada alay.  

“Hantu beranak dalam kuburan”, “Pelukan Janda Hantu”, “Hantu Puncak Datang Bulan”, “Dendam Hantu Mupeng” dan masih banyak lagi. Kaalu ga ada kata hantu rasanya gimana gitu ya. Dan sosok hantunya selalu perempuan, emang perempuan itu menakutkan ya? Hehehe

“Hantu Beranak dalam kubur” misalnya. Dikisahkan seorang perempuan diusir suaminya karena ketahuan hamil akibat diperkosa oleh laki-laki lain. Usaha si perempuan menberi penjesan pada si suami malah berbalas tamparan dan pukulan. Lalu tak punya pilihan selain pergi meninggalkan rumah. 

Apesnya di tengah jalah malah dihadang laki-laki lain. Terus jadi korban perampokan, bahkan nyawanya ikut melayang. Singkat cerita karena mati dalam keadaan hamil jadilah dia si hantu yang beranak dalam kuburan. Hehehe

Kebayang gak sih susahnya itu hantu? Sudah diperkosa, diusir suami, dirampok dan dibunuh. Eh pas melahirkan tak ada yang tolongin, dalam kuburan pula. Gimana ya kira-kira dia menjelaskan semuanya pada si anak kalau ditanya siapa bapaknya? Terus, kenapa lahir dalam kuburan, emang ga punya BPJS?  Terus mau gak suster ngesot bantuin, secara suster ngedot kan hantu rumah sakit, bukan hantu kuburan, hehe..

Lain lagi dengan hantu datang bulan. Bayangkan saudara-saudara, sudah jadi hantu masih saja ribet ngurusin cari pembalut. Kalau dia buruh kira-kira ikut nuntut cuti haid ga ya kira-kira? Entahlah… Memang susah dibayangnkan karena cuma di film. 

Namun jangan salah pemirsa. Film-film jenis ini laris manis di bioskop-bioskop papan atas. Penontonnya cukup berjubel. Kalau udah masuk bioskop elit maka hampir bisa dipastikan penggemarnya adalah kalangan menengah ke atas dan terdidik. Saya yang tingkat kecerdasannya jauh di bawah rata-rata cukup kesulitan memahami bagaimana kelompok terdidik ini menyukai film horor alay tadi. 

Kembali ke soal bangsa. Kalau memalui Upin Ipin Mayasia berhasil pesan keberagaman. Lantas pesan kebangsaan apakah yang bisa disampaikan oleh para setan-setan alay dari Indonesia. Mau bilang perempuan Indonesia tangguh karena bisa melahirkan sendiri dalam kuburan? Atau orang Indonesia itu serba bisa, tak ada puskesmas kuburan pun jadi. Apa coba..katakan rangga katakan…hehehe..

Padahal bangsa Indonesai ini adalah bangsa besar. Kita punya sejarah maritim yang kuat. Kekayaan alam, budaya suku bangsa yang tak ada tandingannya. Peninggalan sejarahnya tidak kalah dengan bangsa lain, demikian pula dengan ketangguhan orang-orangnya. Mengapa bukan itu yang dieksplor sebagai sebuah karya dan kebanggan sebagai bangsa. 

Seharusnya kita lebih hebat dari Upin Ipin. Sosok imajiner karya negeri tetangga.  

Kita juga bisa lebih hebat dari Amerika karena konon Vietnam bisa menang perang atas Amerika karena belajar perang Gerilya di Indonesia. Kitapun bisa lebih hebat dari China, Jepang juga India sebab kita punya ragam tari, kreasi tenunan yang tak terhitung jumlahnya, lagu daerah bahkan seni bela diri pencak silat yang tak kalah hebat dengan kungfu.

Saatnya industri kreatif kita tampil hebat menyampaikan pesan sebuah bangsa. Membangun optimisme. Jangan biarkan generasi kita seperti anak hantu yang lahir dalam “kuburan kebodohan”. Nanti malah kalah sama Upin-Ipin. Sebab walaupun tidak pernah dikupas siapa orang tua Upin Ipin, tapi paling tidak mereka tidak lahir dalam kuburan. Pake nakut-nakuti orang pula. 

Betapa beruntungnya kamu Upin – Ipin… Titip salam buat kak Ros ya,,,!! [T]

Tags: burung hantufilmFilm Indonesiafilm layar lebarMalaysiaUpin Ipin
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas

Next Post

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

Robinson Gamar

Robinson Gamar

Lahir di Flores, NTT, 8 Juli 1982. Tinggal di Sanur, Denpasar. Sehari - hari kerja sebagai kontributor Kompas.com wilayah Bali..

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co