3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Robinson Gamar by Robinson Gamar
June 18, 2019
in Ulasan
Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Upin Ipin/Youtube

Karya  film bisa menjadi gambaran sebuah bangsa. Melalui karya visual ini kerap dititipkan pesan kebudayaan bahkan politik dari negara asal film tersebut. Bagaimana figur Rambo diciptakan untuk menutup malu Amerika atas kekalahan dalam perang Vietnam.

 Orang sekampung dengan senjata lengkap bisa dilibas hanya oleh aksi seorang Rambo. Meski kenyataannya Amerika jelas-jelas kalah dalam perang Vietnam. Tapi begitulah cara mereka “menutup malu” sekaligus membangun optimisme bangsanya.

Tidak jauh berbeda India. Dengan bangganya mereka selalu menampilkan artis yang mengenakan pakaian khas India (sari) lengkap dengan lagu dan tariannya. Arjuna dengan gagahnya menarik busur dan memenangkan perang besar seeprti yang tertuang dalam kisah Mahabharata. Betapa gagahnya. 

China dan Jepang juga tak kalah dasyatnya mempengaruhi alam pikir penonton dunia melalui film yang disajikan. China misalnya, mereka sangat bangga menampilkan adegan-adegan beladiri kungfu. Maka muncullah film-film seeprti kungfu master dan sejenisnya. Jepang tak kalah hebatnya, ikon samurai atau sosok Ninja punya temapt tersendiri si hati pecinta film action dunia termasuk Indonesia. 

Demikianlah mereka dengan industri kreatifnya menampilkan kebanggannya sebagai sebuah bangsa. Ada nuansa optimisme di dalamnya. Jadi, masuk akal jika mereka dapat memenangkan persaingan di berbagai bidang. 

Lantas bagaimana dengan rumpun bangsa melayu yang mendiami gugusan bumi Asia Tenggara. Malaysia dan Indonesia bisa jadi perbandingan menarik. Salah satu serial anak-anak yang cukup terkenal adalah Upin Ipin. Produksi Malaysia tapi rutin ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.

Walau jalan ceritanya bisa dibilang “biasa-biasa” saja, Malaysia berhasil menyampaikan sebuah pesan besar melalui serial Upin – Ipin. Pesan apakah itu? 

Upin Ipin melalui figur-figur yang ditampilkan berhasil menyampaikan pesan keberagaman. Lihat saja tokoh-tokohnya. Upin dan Ipin jelas mewakili sosok “pribumi” Malaysia yang ceria dan selalu hadir sebagai sosok sentral dalam tiap cerita. Tapi di sisi lain hadir pula Jarjit, seorang anak yang digambarkan sebagai anak malaysia berdarah India.

Lalu  ada Fizi mewakili Arab, ada Mei-mei mewakili Tionghoa juga ada Suasanti yang digambarkan sebagai anak negeri tetangga Indonesia. Mereka berteman akrab satu sama lain. Melalui serial ini Malaysia ingin menyampaikan pesan bahwa mereka adalah bangsa yang menghargai kemajemukan.

Saatnya kita masuk ke bangsa kita tercinta Indonesia. Nahhh, kita memang selalu lain daripada yang lain khususnya dalam industri perfilman. Mau bukti? Paling fenomenal menurut saya adalah film bergenre horor. Judulnya rada-rada alay.  

“Hantu beranak dalam kuburan”, “Pelukan Janda Hantu”, “Hantu Puncak Datang Bulan”, “Dendam Hantu Mupeng” dan masih banyak lagi. Kaalu ga ada kata hantu rasanya gimana gitu ya. Dan sosok hantunya selalu perempuan, emang perempuan itu menakutkan ya? Hehehe

“Hantu Beranak dalam kubur” misalnya. Dikisahkan seorang perempuan diusir suaminya karena ketahuan hamil akibat diperkosa oleh laki-laki lain. Usaha si perempuan menberi penjesan pada si suami malah berbalas tamparan dan pukulan. Lalu tak punya pilihan selain pergi meninggalkan rumah. 

Apesnya di tengah jalah malah dihadang laki-laki lain. Terus jadi korban perampokan, bahkan nyawanya ikut melayang. Singkat cerita karena mati dalam keadaan hamil jadilah dia si hantu yang beranak dalam kuburan. Hehehe

Kebayang gak sih susahnya itu hantu? Sudah diperkosa, diusir suami, dirampok dan dibunuh. Eh pas melahirkan tak ada yang tolongin, dalam kuburan pula. Gimana ya kira-kira dia menjelaskan semuanya pada si anak kalau ditanya siapa bapaknya? Terus, kenapa lahir dalam kuburan, emang ga punya BPJS?  Terus mau gak suster ngesot bantuin, secara suster ngedot kan hantu rumah sakit, bukan hantu kuburan, hehe..

Lain lagi dengan hantu datang bulan. Bayangkan saudara-saudara, sudah jadi hantu masih saja ribet ngurusin cari pembalut. Kalau dia buruh kira-kira ikut nuntut cuti haid ga ya kira-kira? Entahlah… Memang susah dibayangnkan karena cuma di film. 

Namun jangan salah pemirsa. Film-film jenis ini laris manis di bioskop-bioskop papan atas. Penontonnya cukup berjubel. Kalau udah masuk bioskop elit maka hampir bisa dipastikan penggemarnya adalah kalangan menengah ke atas dan terdidik. Saya yang tingkat kecerdasannya jauh di bawah rata-rata cukup kesulitan memahami bagaimana kelompok terdidik ini menyukai film horor alay tadi. 

Kembali ke soal bangsa. Kalau memalui Upin Ipin Mayasia berhasil pesan keberagaman. Lantas pesan kebangsaan apakah yang bisa disampaikan oleh para setan-setan alay dari Indonesia. Mau bilang perempuan Indonesia tangguh karena bisa melahirkan sendiri dalam kuburan? Atau orang Indonesia itu serba bisa, tak ada puskesmas kuburan pun jadi. Apa coba..katakan rangga katakan…hehehe..

Padahal bangsa Indonesai ini adalah bangsa besar. Kita punya sejarah maritim yang kuat. Kekayaan alam, budaya suku bangsa yang tak ada tandingannya. Peninggalan sejarahnya tidak kalah dengan bangsa lain, demikian pula dengan ketangguhan orang-orangnya. Mengapa bukan itu yang dieksplor sebagai sebuah karya dan kebanggan sebagai bangsa. 

Seharusnya kita lebih hebat dari Upin Ipin. Sosok imajiner karya negeri tetangga.  

Kita juga bisa lebih hebat dari Amerika karena konon Vietnam bisa menang perang atas Amerika karena belajar perang Gerilya di Indonesia. Kitapun bisa lebih hebat dari China, Jepang juga India sebab kita punya ragam tari, kreasi tenunan yang tak terhitung jumlahnya, lagu daerah bahkan seni bela diri pencak silat yang tak kalah hebat dengan kungfu.

Saatnya industri kreatif kita tampil hebat menyampaikan pesan sebuah bangsa. Membangun optimisme. Jangan biarkan generasi kita seperti anak hantu yang lahir dalam “kuburan kebodohan”. Nanti malah kalah sama Upin-Ipin. Sebab walaupun tidak pernah dikupas siapa orang tua Upin Ipin, tapi paling tidak mereka tidak lahir dalam kuburan. Pake nakut-nakuti orang pula. 

Betapa beruntungnya kamu Upin – Ipin… Titip salam buat kak Ros ya,,,!! [T]

Tags: burung hantufilmFilm Indonesiafilm layar lebarMalaysiaUpin Ipin
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas

Next Post

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

Robinson Gamar

Robinson Gamar

Lahir di Flores, NTT, 8 Juli 1982. Tinggal di Sanur, Denpasar. Sehari - hari kerja sebagai kontributor Kompas.com wilayah Bali..

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co