24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 18, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Bentuk tidak abadi, dia berubah. Warna juga tidak abadi, dia pudar. Kekayaan tidak abadi, ia bisa habis. Hidup juga tidak abadi, kita bisa tua dan mati. Pikiran juga tidak tetap. Dulu ia digunakan untuk berpikir. Sekarang untuk meliciki. Yang sama hanya hati. Tugasnya untuk mencintai.

Tapi cinta juga tidak abadi. Ia bisa hilang. Menurut shastranya, cinta hilang ketika berhenti bertemu. Cinta yang dimaksudkan pada kalimat itu adalah rasa yang ditimbulkan dari kaledangan smara. Atau dalam bahasa Jawa Kuna disebut dengan sanggama. Tapi ingatlah, ini bukan pelecehan cinta. Ini hanya salah satu pengertian dari sekian banyak usaha untuk mendefinisikannya.

Orang banyak mengira, rasa yang ditimbulkan dari sanggama itu akan bertahan selamanya. Tetapi menurut catatan shastra, ternyata tidak. Pertemuan semacam itu tidak langgeng, atau tan lana. Ada yang mengibaratkannya seperti mengadu ujung jarum. Ada juga yang mengumpamakannya hanya selama kedipan mata kucing.

Bagaimana kedipan kucing dan apa bedanya dengan kedipan manusia, saya juga tidak paham. Pokoknya begitu. Tapi ada juga yang mengandaikannya setara dengan lamanya seseorang mengunyah sirih pinang. Seberapa lamanya rasa itu dinikmati, biasanya hanya diketahui oleh mereka yang menikmati. Sampai disana, tidak akan saya lanjutkan, karena rahasia.

Lalu apa yang selalu abadi dan tidak pernah hilang? Jawabannya sudah disediakan. Jawabannya begini:

Adharma dan Sudharma selalu berpasangan. Kecerdasan dan kedunguan adalah pasangan lainnya. Keberanian dan kepengecutan juga pasangan. Ketiga pasangan itu ada di dalam tubuh, sedari lahir kemudian tumbuh. Bahkan sampai kematian tiba pun, tiga pasangan itu selalu ada. Merekalah yang tidak hilang-hilang.

Adharma artinya ketidakbaikan. Sudharma artinya kebaikan yang baik. Kedua pasangan ini memang sudah dikenal oleh berbagai kalangan. Dari kalangan apreori sampai kalangan yang supra fanatik. Kedua kalangan yang tampak berbeda ini, ternyata meyakini satu hal yang sama. Bahwa tiap manusia memiliki sisi baik dan tidak baik.

Kedua sisi inilah yang kemudian banyak dimanfaatkan oleh mereka yang mengerti caracara memanfaatkannya. Contohnya, jika ada orang yang baik hatinya, maka dimanfaatkannya hati itu dengan cuma-cuma. Tidak ada yang lebih sabar dari bumi, dikeruk ia diam, digali ia tanpa kata-kata. Diinjak ia tak mengapa. Tapi hati-hatilah kepada yang suka diam, karena bisa jadi diam-diam ia akan segera menyeimbangkan dirinya. Saat itu terjadi, kitalah yang akan terdiam untuk selamanya.

Bumi itu seperti ibu. Sangat sabar. Kalau bumi marah, pastilah seram sekali. Lebih seram dari Rangda yang biasa kita lihat. Anehnya meski Rangda itu seram, diam-diam kita sangat menyukai yang seram-seram itu. Orang cenderung lebih suka nonton Calonarang yang seram, dari pada diskusi shastra yang konon cantik meski keduanya sama-sama dilakukan di Pura. Di sana letak paradoksnya.

Ada banyak Pura yang dihiasi ragam hias seram-seram. Ada ukiran naga, ada singa, ada raksasa, ada celuluk, dan masih banyak lagi. Memang ada ragam dewa-dewa, tapi dewa-dewa yang membawa senjata juga menyeramkan.

Di Pura juga ada banyak banten yang indah. Dibentuk sedemikian rupa, diisi bunga, buah, dan lain sebagainya. Tapi bagi sebagian orang, banten juga menyeramkan. Apalagi bantenbanten yang membuatnya rumit sendiri. Sepertinya lebih mudah menghafal rumus senyawa kimia atau teori-teori sosiologi modern.

Satu naskah monolog bisa dihafalkan dengan sangat baik, tapi menghafal isi Pejati, Suci Soroan, Peras Ajuman, sangatlah sulit. Bagi yang belajar Tattwa, bisa diingatnya sistematika ajaran Sangkya sampai kesejarahannya. Bahkan ada yang bisa mengingat dengan jelas nama-nama udara yang ada dalam tubuh dan di luar tubuh.


klik

CANGAK YANG LAIN


Ada juga yang bisa mengingat rumus Neptu atau Urip dari hari lahirnya. Konon jika ada orang yang bisa menghitung rumus itu dengan tepat, maka masa depan bisa diramalkannya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan tradisi yang bisa diekspose lagi. Sayangnya banyak orang [termasuk Cangak seperti saya] merasa cukup hanya suka belajar membaca, pelit mengajarkan dan pura-pura paham.

Mungkin itu sebabnya, satu lagi pasangan yang tidak hilang-hilang adalah kecerdasan dan kedunguan. Keduanya berjalan beriringan. Saat orang memahami satu hal, ada hal lainnya yang gagal dipahaminya. Selalu begitu. Makanya tidak satu pun manusia yang bisa memahami satu hal secara utuh. Konon seperti sekumpulan orang buta yang ingin melihat gajah.

Gajah yang besar itu konon dikerubungi dan disentuh-sentuh. Ada yang menyentuh belalainya. Ada yang menyentuh kakinya. Ada juga yang menyentuh bagian-bagian lain. Tiap kali satu orang menyentuh salah satu bagian gajah, dikatakannya gajah adalah demikian. Yang menyentuh belalai mengira gajah seperti ular. Yang menyentuh kaki, mengira gajah seperti tiang. Begitu terus, terus begitu.

Saya hanya kagum membayangkan, ada sekelompok orang buta yang tidak takut menyentuh sesuatu yang tidak diketahuinya. Biasanya kebanyakan orang lebih memilih diam dari pada mencoba. Kan belum tentu juga, gajah yang disentuh-sentuh tadi adalah gajah jinak. Bagaimana kalau gajah tadi adalah gajah galak?

Itu artinya, mesti ada sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk sekadar mengetahui. Sesuatu itu bernama keberanian. Keberanian dan ketakutan juga pasangan yang tidak hilanghilang, meski manusia konon bisa menghilangkannya. Kedua perasaan ini datang silih berganti tanpa diundang.

Reaksi atas kedua perasaan ini, kadang aneh. Orang takut pada gelap, tapi pada gelap itu juga mereka berlindung. Orang takut jadi bodoh, tapi pada kebodohan pula orang sering berlindung. Orang takut pada Tuhan, tapi bukan rahasia lagi kepadanya pula manusia meminta perlindungan.

Kadang sebaliknya, orang takut pada hukum Tuhan, tapi atas dasar ketakutan pada hukum itu juga, orang sering menyakiti. Saya tidak mengerti tentang cara ketakutan dan keberanian ini. Barangkali nanti akan saya coba untuk mencari-cari, mengapa demikian.

Untuk saat ini, saya hanya ingin memikirkan kembali tentang keabadian. Juga sekaligus memikirkan pakaian-pakaian. Kan konon kebanyakan manusia senang memakai pakaian. Bahkan agama pun lebih sering hanya dijadikan pakaian untuk menutupi yang membuatnya malu.

Ada shastra yang menyebutkan, kalau menjelma menjadi manusia mestilah memiliki pakaian. Pakaian yang pertama adalah wujud atau rupa. Dengan pakaian rupa inilah manusia dapat menarik perhatian manusia lainnya. Tidak terkecuali untuk menarik hati orang-orang pintar. Dahulu pada masanya, konon orang-orang yang diperintahkan untuk menghadap para pemimpin adalah mereka yang berparas rupawan.

Kain-kain yang bagus juga adalah pakaian. Terutama bagi mereka yang akan menghadiri pertemuan penting. Kain-kain ini menjadi ukuran dalam melihat kecakapan seseorang. Maka jangan heran kalau sampai saat ini, banyak orang-orang penting suka bersolek.

Di antara semua pakaian, ada sebuah pakaian yang bisa digunakan untuk menyenangkan hati orang-orang yang telah “sampai”. Maksudnya, orang-orang yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan. Pakaian ini biasanya dipakai oleh mereka yang disebut sebagai Sang Ksama. Sang Ksama berarti ia yang pemaaf. Pakaian yang dipakai oleh Sang Ksama adalah Sastra.

Sampai disana, saya pun terkejut. Ternyata shastra juga pakaian. Sebagaimana umumnya pakaian, ia bisa dikenakan, ditanggalkan dan ditinggalkan. Benarkah begitu? [T]

Tags: cangakcintapakaiansastraTuhan
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Next Post

Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co