14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 18, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Bentuk tidak abadi, dia berubah. Warna juga tidak abadi, dia pudar. Kekayaan tidak abadi, ia bisa habis. Hidup juga tidak abadi, kita bisa tua dan mati. Pikiran juga tidak tetap. Dulu ia digunakan untuk berpikir. Sekarang untuk meliciki. Yang sama hanya hati. Tugasnya untuk mencintai.

Tapi cinta juga tidak abadi. Ia bisa hilang. Menurut shastranya, cinta hilang ketika berhenti bertemu. Cinta yang dimaksudkan pada kalimat itu adalah rasa yang ditimbulkan dari kaledangan smara. Atau dalam bahasa Jawa Kuna disebut dengan sanggama. Tapi ingatlah, ini bukan pelecehan cinta. Ini hanya salah satu pengertian dari sekian banyak usaha untuk mendefinisikannya.

Orang banyak mengira, rasa yang ditimbulkan dari sanggama itu akan bertahan selamanya. Tetapi menurut catatan shastra, ternyata tidak. Pertemuan semacam itu tidak langgeng, atau tan lana. Ada yang mengibaratkannya seperti mengadu ujung jarum. Ada juga yang mengumpamakannya hanya selama kedipan mata kucing.

Bagaimana kedipan kucing dan apa bedanya dengan kedipan manusia, saya juga tidak paham. Pokoknya begitu. Tapi ada juga yang mengandaikannya setara dengan lamanya seseorang mengunyah sirih pinang. Seberapa lamanya rasa itu dinikmati, biasanya hanya diketahui oleh mereka yang menikmati. Sampai disana, tidak akan saya lanjutkan, karena rahasia.

Lalu apa yang selalu abadi dan tidak pernah hilang? Jawabannya sudah disediakan. Jawabannya begini:

Adharma dan Sudharma selalu berpasangan. Kecerdasan dan kedunguan adalah pasangan lainnya. Keberanian dan kepengecutan juga pasangan. Ketiga pasangan itu ada di dalam tubuh, sedari lahir kemudian tumbuh. Bahkan sampai kematian tiba pun, tiga pasangan itu selalu ada. Merekalah yang tidak hilang-hilang.

Adharma artinya ketidakbaikan. Sudharma artinya kebaikan yang baik. Kedua pasangan ini memang sudah dikenal oleh berbagai kalangan. Dari kalangan apreori sampai kalangan yang supra fanatik. Kedua kalangan yang tampak berbeda ini, ternyata meyakini satu hal yang sama. Bahwa tiap manusia memiliki sisi baik dan tidak baik.

Kedua sisi inilah yang kemudian banyak dimanfaatkan oleh mereka yang mengerti caracara memanfaatkannya. Contohnya, jika ada orang yang baik hatinya, maka dimanfaatkannya hati itu dengan cuma-cuma. Tidak ada yang lebih sabar dari bumi, dikeruk ia diam, digali ia tanpa kata-kata. Diinjak ia tak mengapa. Tapi hati-hatilah kepada yang suka diam, karena bisa jadi diam-diam ia akan segera menyeimbangkan dirinya. Saat itu terjadi, kitalah yang akan terdiam untuk selamanya.

Bumi itu seperti ibu. Sangat sabar. Kalau bumi marah, pastilah seram sekali. Lebih seram dari Rangda yang biasa kita lihat. Anehnya meski Rangda itu seram, diam-diam kita sangat menyukai yang seram-seram itu. Orang cenderung lebih suka nonton Calonarang yang seram, dari pada diskusi shastra yang konon cantik meski keduanya sama-sama dilakukan di Pura. Di sana letak paradoksnya.

Ada banyak Pura yang dihiasi ragam hias seram-seram. Ada ukiran naga, ada singa, ada raksasa, ada celuluk, dan masih banyak lagi. Memang ada ragam dewa-dewa, tapi dewa-dewa yang membawa senjata juga menyeramkan.

Di Pura juga ada banyak banten yang indah. Dibentuk sedemikian rupa, diisi bunga, buah, dan lain sebagainya. Tapi bagi sebagian orang, banten juga menyeramkan. Apalagi bantenbanten yang membuatnya rumit sendiri. Sepertinya lebih mudah menghafal rumus senyawa kimia atau teori-teori sosiologi modern.

Satu naskah monolog bisa dihafalkan dengan sangat baik, tapi menghafal isi Pejati, Suci Soroan, Peras Ajuman, sangatlah sulit. Bagi yang belajar Tattwa, bisa diingatnya sistematika ajaran Sangkya sampai kesejarahannya. Bahkan ada yang bisa mengingat dengan jelas nama-nama udara yang ada dalam tubuh dan di luar tubuh.


klik

CANGAK YANG LAIN


Ada juga yang bisa mengingat rumus Neptu atau Urip dari hari lahirnya. Konon jika ada orang yang bisa menghitung rumus itu dengan tepat, maka masa depan bisa diramalkannya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan tradisi yang bisa diekspose lagi. Sayangnya banyak orang [termasuk Cangak seperti saya] merasa cukup hanya suka belajar membaca, pelit mengajarkan dan pura-pura paham.

Mungkin itu sebabnya, satu lagi pasangan yang tidak hilang-hilang adalah kecerdasan dan kedunguan. Keduanya berjalan beriringan. Saat orang memahami satu hal, ada hal lainnya yang gagal dipahaminya. Selalu begitu. Makanya tidak satu pun manusia yang bisa memahami satu hal secara utuh. Konon seperti sekumpulan orang buta yang ingin melihat gajah.

Gajah yang besar itu konon dikerubungi dan disentuh-sentuh. Ada yang menyentuh belalainya. Ada yang menyentuh kakinya. Ada juga yang menyentuh bagian-bagian lain. Tiap kali satu orang menyentuh salah satu bagian gajah, dikatakannya gajah adalah demikian. Yang menyentuh belalai mengira gajah seperti ular. Yang menyentuh kaki, mengira gajah seperti tiang. Begitu terus, terus begitu.

Saya hanya kagum membayangkan, ada sekelompok orang buta yang tidak takut menyentuh sesuatu yang tidak diketahuinya. Biasanya kebanyakan orang lebih memilih diam dari pada mencoba. Kan belum tentu juga, gajah yang disentuh-sentuh tadi adalah gajah jinak. Bagaimana kalau gajah tadi adalah gajah galak?

Itu artinya, mesti ada sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk sekadar mengetahui. Sesuatu itu bernama keberanian. Keberanian dan ketakutan juga pasangan yang tidak hilanghilang, meski manusia konon bisa menghilangkannya. Kedua perasaan ini datang silih berganti tanpa diundang.

Reaksi atas kedua perasaan ini, kadang aneh. Orang takut pada gelap, tapi pada gelap itu juga mereka berlindung. Orang takut jadi bodoh, tapi pada kebodohan pula orang sering berlindung. Orang takut pada Tuhan, tapi bukan rahasia lagi kepadanya pula manusia meminta perlindungan.

Kadang sebaliknya, orang takut pada hukum Tuhan, tapi atas dasar ketakutan pada hukum itu juga, orang sering menyakiti. Saya tidak mengerti tentang cara ketakutan dan keberanian ini. Barangkali nanti akan saya coba untuk mencari-cari, mengapa demikian.

Untuk saat ini, saya hanya ingin memikirkan kembali tentang keabadian. Juga sekaligus memikirkan pakaian-pakaian. Kan konon kebanyakan manusia senang memakai pakaian. Bahkan agama pun lebih sering hanya dijadikan pakaian untuk menutupi yang membuatnya malu.

Ada shastra yang menyebutkan, kalau menjelma menjadi manusia mestilah memiliki pakaian. Pakaian yang pertama adalah wujud atau rupa. Dengan pakaian rupa inilah manusia dapat menarik perhatian manusia lainnya. Tidak terkecuali untuk menarik hati orang-orang pintar. Dahulu pada masanya, konon orang-orang yang diperintahkan untuk menghadap para pemimpin adalah mereka yang berparas rupawan.

Kain-kain yang bagus juga adalah pakaian. Terutama bagi mereka yang akan menghadiri pertemuan penting. Kain-kain ini menjadi ukuran dalam melihat kecakapan seseorang. Maka jangan heran kalau sampai saat ini, banyak orang-orang penting suka bersolek.

Di antara semua pakaian, ada sebuah pakaian yang bisa digunakan untuk menyenangkan hati orang-orang yang telah “sampai”. Maksudnya, orang-orang yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan. Pakaian ini biasanya dipakai oleh mereka yang disebut sebagai Sang Ksama. Sang Ksama berarti ia yang pemaaf. Pakaian yang dipakai oleh Sang Ksama adalah Sastra.

Sampai disana, saya pun terkejut. Ternyata shastra juga pakaian. Sebagaimana umumnya pakaian, ia bisa dikenakan, ditanggalkan dan ditinggalkan. Benarkah begitu? [T]

Tags: cangakcintapakaiansastraTuhan
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Next Post

Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co