2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 18, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Bentuk tidak abadi, dia berubah. Warna juga tidak abadi, dia pudar. Kekayaan tidak abadi, ia bisa habis. Hidup juga tidak abadi, kita bisa tua dan mati. Pikiran juga tidak tetap. Dulu ia digunakan untuk berpikir. Sekarang untuk meliciki. Yang sama hanya hati. Tugasnya untuk mencintai.

Tapi cinta juga tidak abadi. Ia bisa hilang. Menurut shastranya, cinta hilang ketika berhenti bertemu. Cinta yang dimaksudkan pada kalimat itu adalah rasa yang ditimbulkan dari kaledangan smara. Atau dalam bahasa Jawa Kuna disebut dengan sanggama. Tapi ingatlah, ini bukan pelecehan cinta. Ini hanya salah satu pengertian dari sekian banyak usaha untuk mendefinisikannya.

Orang banyak mengira, rasa yang ditimbulkan dari sanggama itu akan bertahan selamanya. Tetapi menurut catatan shastra, ternyata tidak. Pertemuan semacam itu tidak langgeng, atau tan lana. Ada yang mengibaratkannya seperti mengadu ujung jarum. Ada juga yang mengumpamakannya hanya selama kedipan mata kucing.

Bagaimana kedipan kucing dan apa bedanya dengan kedipan manusia, saya juga tidak paham. Pokoknya begitu. Tapi ada juga yang mengandaikannya setara dengan lamanya seseorang mengunyah sirih pinang. Seberapa lamanya rasa itu dinikmati, biasanya hanya diketahui oleh mereka yang menikmati. Sampai disana, tidak akan saya lanjutkan, karena rahasia.

Lalu apa yang selalu abadi dan tidak pernah hilang? Jawabannya sudah disediakan. Jawabannya begini:

Adharma dan Sudharma selalu berpasangan. Kecerdasan dan kedunguan adalah pasangan lainnya. Keberanian dan kepengecutan juga pasangan. Ketiga pasangan itu ada di dalam tubuh, sedari lahir kemudian tumbuh. Bahkan sampai kematian tiba pun, tiga pasangan itu selalu ada. Merekalah yang tidak hilang-hilang.

Adharma artinya ketidakbaikan. Sudharma artinya kebaikan yang baik. Kedua pasangan ini memang sudah dikenal oleh berbagai kalangan. Dari kalangan apreori sampai kalangan yang supra fanatik. Kedua kalangan yang tampak berbeda ini, ternyata meyakini satu hal yang sama. Bahwa tiap manusia memiliki sisi baik dan tidak baik.

Kedua sisi inilah yang kemudian banyak dimanfaatkan oleh mereka yang mengerti caracara memanfaatkannya. Contohnya, jika ada orang yang baik hatinya, maka dimanfaatkannya hati itu dengan cuma-cuma. Tidak ada yang lebih sabar dari bumi, dikeruk ia diam, digali ia tanpa kata-kata. Diinjak ia tak mengapa. Tapi hati-hatilah kepada yang suka diam, karena bisa jadi diam-diam ia akan segera menyeimbangkan dirinya. Saat itu terjadi, kitalah yang akan terdiam untuk selamanya.

Bumi itu seperti ibu. Sangat sabar. Kalau bumi marah, pastilah seram sekali. Lebih seram dari Rangda yang biasa kita lihat. Anehnya meski Rangda itu seram, diam-diam kita sangat menyukai yang seram-seram itu. Orang cenderung lebih suka nonton Calonarang yang seram, dari pada diskusi shastra yang konon cantik meski keduanya sama-sama dilakukan di Pura. Di sana letak paradoksnya.

Ada banyak Pura yang dihiasi ragam hias seram-seram. Ada ukiran naga, ada singa, ada raksasa, ada celuluk, dan masih banyak lagi. Memang ada ragam dewa-dewa, tapi dewa-dewa yang membawa senjata juga menyeramkan.

Di Pura juga ada banyak banten yang indah. Dibentuk sedemikian rupa, diisi bunga, buah, dan lain sebagainya. Tapi bagi sebagian orang, banten juga menyeramkan. Apalagi bantenbanten yang membuatnya rumit sendiri. Sepertinya lebih mudah menghafal rumus senyawa kimia atau teori-teori sosiologi modern.

Satu naskah monolog bisa dihafalkan dengan sangat baik, tapi menghafal isi Pejati, Suci Soroan, Peras Ajuman, sangatlah sulit. Bagi yang belajar Tattwa, bisa diingatnya sistematika ajaran Sangkya sampai kesejarahannya. Bahkan ada yang bisa mengingat dengan jelas nama-nama udara yang ada dalam tubuh dan di luar tubuh.


klik

CANGAK YANG LAIN


Ada juga yang bisa mengingat rumus Neptu atau Urip dari hari lahirnya. Konon jika ada orang yang bisa menghitung rumus itu dengan tepat, maka masa depan bisa diramalkannya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan tradisi yang bisa diekspose lagi. Sayangnya banyak orang [termasuk Cangak seperti saya] merasa cukup hanya suka belajar membaca, pelit mengajarkan dan pura-pura paham.

Mungkin itu sebabnya, satu lagi pasangan yang tidak hilang-hilang adalah kecerdasan dan kedunguan. Keduanya berjalan beriringan. Saat orang memahami satu hal, ada hal lainnya yang gagal dipahaminya. Selalu begitu. Makanya tidak satu pun manusia yang bisa memahami satu hal secara utuh. Konon seperti sekumpulan orang buta yang ingin melihat gajah.

Gajah yang besar itu konon dikerubungi dan disentuh-sentuh. Ada yang menyentuh belalainya. Ada yang menyentuh kakinya. Ada juga yang menyentuh bagian-bagian lain. Tiap kali satu orang menyentuh salah satu bagian gajah, dikatakannya gajah adalah demikian. Yang menyentuh belalai mengira gajah seperti ular. Yang menyentuh kaki, mengira gajah seperti tiang. Begitu terus, terus begitu.

Saya hanya kagum membayangkan, ada sekelompok orang buta yang tidak takut menyentuh sesuatu yang tidak diketahuinya. Biasanya kebanyakan orang lebih memilih diam dari pada mencoba. Kan belum tentu juga, gajah yang disentuh-sentuh tadi adalah gajah jinak. Bagaimana kalau gajah tadi adalah gajah galak?

Itu artinya, mesti ada sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk sekadar mengetahui. Sesuatu itu bernama keberanian. Keberanian dan ketakutan juga pasangan yang tidak hilanghilang, meski manusia konon bisa menghilangkannya. Kedua perasaan ini datang silih berganti tanpa diundang.

Reaksi atas kedua perasaan ini, kadang aneh. Orang takut pada gelap, tapi pada gelap itu juga mereka berlindung. Orang takut jadi bodoh, tapi pada kebodohan pula orang sering berlindung. Orang takut pada Tuhan, tapi bukan rahasia lagi kepadanya pula manusia meminta perlindungan.

Kadang sebaliknya, orang takut pada hukum Tuhan, tapi atas dasar ketakutan pada hukum itu juga, orang sering menyakiti. Saya tidak mengerti tentang cara ketakutan dan keberanian ini. Barangkali nanti akan saya coba untuk mencari-cari, mengapa demikian.

Untuk saat ini, saya hanya ingin memikirkan kembali tentang keabadian. Juga sekaligus memikirkan pakaian-pakaian. Kan konon kebanyakan manusia senang memakai pakaian. Bahkan agama pun lebih sering hanya dijadikan pakaian untuk menutupi yang membuatnya malu.

Ada shastra yang menyebutkan, kalau menjelma menjadi manusia mestilah memiliki pakaian. Pakaian yang pertama adalah wujud atau rupa. Dengan pakaian rupa inilah manusia dapat menarik perhatian manusia lainnya. Tidak terkecuali untuk menarik hati orang-orang pintar. Dahulu pada masanya, konon orang-orang yang diperintahkan untuk menghadap para pemimpin adalah mereka yang berparas rupawan.

Kain-kain yang bagus juga adalah pakaian. Terutama bagi mereka yang akan menghadiri pertemuan penting. Kain-kain ini menjadi ukuran dalam melihat kecakapan seseorang. Maka jangan heran kalau sampai saat ini, banyak orang-orang penting suka bersolek.

Di antara semua pakaian, ada sebuah pakaian yang bisa digunakan untuk menyenangkan hati orang-orang yang telah “sampai”. Maksudnya, orang-orang yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan. Pakaian ini biasanya dipakai oleh mereka yang disebut sebagai Sang Ksama. Sang Ksama berarti ia yang pemaaf. Pakaian yang dipakai oleh Sang Ksama adalah Sastra.

Sampai disana, saya pun terkejut. Ternyata shastra juga pakaian. Sebagaimana umumnya pakaian, ia bisa dikenakan, ditanggalkan dan ditinggalkan. Benarkah begitu? [T]

Tags: cangakcintapakaiansastraTuhan
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Next Post

Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co