24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 21, 2019
in Ulasan
Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

Satu adegan dalam pementasan teater Sang Guru oleh Komunitas Senja (Foto: Riyan Giggs Teater Sadewa)

Gedung Ksirarnawa Art Center, Taman Budaya Denpasar, cukup ramai walau kursi penonton tidak penuh. Beberapa anak-anak dan orang dewasa membaur menjadi penonton pementasan berjudul “Sang Guru” adaptasi naskah monolog karya Hendra Utay yang sebelumnya berjudul “Pidato 7 Menit”. Dipentaskan oleh Komunitas Senja bersama Teater Cahaya dalam rangka Program Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Art Center Tahun 2019 yang disutradarai Adi Wiguna atau akrab disapa Legu.

Pementasan “Sang Guru” yang berlangsung pada 18 Mei 2019 ini bercerita tentang seorang guru yang memegang teguh mitos pendidikan untuk anak negeri. Suatu kali, guru itu diminta untuk melakukan pidato dalam rangka Hari Pendidikan. Sesungguhnya acara itu berkaitan langsung dengan konferensi pers untuk menyampaikan pada publik mengenai rencana pembangunan di sekolah itu. Guru yang berpegang teguh pada idealismenya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini kemudian menyiapkan pidato panjang dengan harapan dapat menginspirasi anak-anak bangsa.

Tiba-tiba setelah isi pidato itu selesai dibuat, bendahara sekolah menghubungi guru itu untuk memberitahunya agar memotong durasi pidato menjadi tujuh menit. Guru itu sakit hati, sebab persiapannya yang serius harus dipotong, seolah-olah apa yang disiapkannya hanya bersifat seremonial, bukan satu hal yang penting. Dia menduga yang akan mengganti pidatonya adalah kepala sekolah, padahal umumnya pidato dari kepala sekolah hanya akan membahas mengenai pembangunan fisik, gedung, kolam, taman dan sebagainya.

Pementasan “Sang Guru” Komunitas Senja (Foto: Riyan Giggs Teater Sadewa)

Nasib guru honor itu menjadi lebih tragis ketika ia tinggal selama belasan tahun bersama temannya yang sudah berkeluarga. Tetapi secara tiba-tiba juga istri temannya itu hanya ingin tinggal bersama keluarga kecilnya di rumah itu. Konflik batin guru menjadi berlapis.

Pementasan berakhir dengan adegang guru itu ditelepon oleh seorang dari Malaysia yang menawarkannya mengajar di Malaysia. Ia ditawarkan bayaran yang tinggi untuk mengajar, tetapi ia menolak dengan alasan kecintaan dan tekadnya mengembangkan pendidikan di negaranya tercinta, beberpa kali ia ditawarkan dengan gaji yang semakin tinggi, guru itu tetap menolak. Tetapi ketika ditawarkan harga yang sangat tinggi akhirnya dia menerima.

Tubuh guru yang diperankan oleh Putu Eka Widya Putra mengingatkan saya pada guru saya ketika SMA. Guru saya itu kurus seperti tubuh Eka, namun orangnya sangat cuek seolah tak memikirkan dunia pendidikan. Ketika mengajar di kelas pun terkadang matanya enggan memandang siswa, saya curiga jangan-jangan guru saya itu sesungguhnya memiliki kepribadian seperti guru pada pementasan ini yang memikirkan dunia pendidikan begitu serius. Tapi saya ragu.

Tokoh Guru sesungguhnya sempat protes ke sekolahnya, ia sempat dihadang oleh satpam yang diperankan oleh Yomel, kemudian bendahara ikut menghadang sehingga terjadi keributan di antara orang-orang itu. Namun semua berhenti ketika kepala sekolah datang. Kemudian kepala sekolah memastikan dan bertanya pada guru, “apakah durasi pidatonya sudah dipotong menjadi tujuh menit?” Dengan sangat takut seperti ketakutan bawahan kepada atasannya, guru menjawab “sudah”.  Keributan hilang.

Ketika seorang tokoh kepala sekolah yang diperankan oleh Indra Empol muncul di panggung, dengan gaya khasnya (Saya menyebutnya khas sebab pada pentas sebelumnya, dia juga membawa bentuk bisnis kecil yang serupa) saya ingat akan proses pada pentas drama musikal Kelompok Sekali Pentas yang sebelumnya—Empol terlibat pada pementasan tersebut.

Pada latihan sebelumnya itu saya menganggap bahwa adanya usaha latihan pengurungan tokoh dalam tubuh aktor melalui pembiasaan. Pada akhirnya, tokoh yang diperankan dan aktor akan saling tawar menawar sehingga siapa yang paling kuat dan siapa yang paling iklas menerima, ia yang akan menonjol dalam tubuh aktor di panggung. Dalam hal ini Empol tampil di atas panggung masih dengan gestur Mantri Polisi, saat berperan dalam pementasan Sukreni sebelumnya.

Saya membayangkan ada pergulatan dalam diri Empol antara tokoh kepala sekolah dan Mantri Polisi yang sudah tertanam. Mungkin, proses penanaman Mantri Polisi lebih panjang dan lebih dalam ketimbang pemagaran tokoh kepala sekolah sehingga tubuh mantri polisi masih terbingkai dan dapat dilihat pada Empol. Namun bagaimana pun juga permain Empol begitu menarik. Seluruh tubuhnya yang hidup cukup memberitahu penonton bahwa panggung ini bukan panggung yang kelima atau yang keenam, tetapi lebih dari itu.

Empol yang cukup kuat di atas panggung sebagai pemeran kepala sekolah sesungguhnya menjadi pisau bermata dua. Ya sebab, kekuatan yang seperti itu, bisa mematikan permainan aktor yang lain, tetapi untungnya pemeran bendahara yaitu Goldyna Rarasari (Ody) cukup kuat mengimbangi Empol sehingga tumpang-tindih itu tidak terlalu terlihat di panggung.

Ody menjadi menarik ketika menampilkan seorang perempuan yang sering berurusan dengan uang. Ya bendahara, seperti halnya beberapa teman saya yang bekerja pada instansi keuangan. Dari cara bicara, gelagat, dan cara menanggapi orang dengan pekerjaan yang lain, ya seperti itulah bendahara yang saya ketahui.

Hal yang perlu dipikirkan dalam hal ini adalah ketika karakter seperti itu dibawa di atas panggung tidak bisa dibawa secara utuh. Maksudnya, panggung memiliki realita yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Tokoh seperti itu tidak hanya dibawa begitu saja ke atas panggung, tetapi lebih dari itu, karakter harus mengalami penubuhan, penawaran dalam diri, dan yang terpenting adalah kesadaran bendahara sebagai orang yang mempertontonkan sehingga yang muncul adalah bendahara panggung, bukan bendahara pada umumnya.

Menariknya, dalam lakon ini, dimunculkan seorang tokoh dari suatu etnis dengan dialog yang menyerupai suatu etnis tertenu dan tokoh inilah teman dari guru yang tinggal selama belasan tahun itu. Tokoh ini diperankan oleh Bayu. Bayu cukup menarik  membawakan tokoh ini. Caranya berdialog dan gerak-gerik yang menarik. Tetapi yang kemudian menjadi pertanyaan adalah di mana setting tempat ini?

Tidak bisa dipungkiri ketika membahas seorang guru yang idealis, setting tempat yang biasa muncul adalah Indonesia, bukan suatu tempat khusus. Tetapi Indonesia yang mana? Itulah yang membuat saya bingung. Memang menarik ketika tokoh seperti ini masuk sehingga tidak ada pendapat di mana tempat cerita ini berlangsung.

Selain itu, hal-hal yang sering muncul ketika seorang guru di bawa ke atas panggung sebagai tema, yang biasa muncul sebagaimana juga muncul dalam pementasan ini adalah guru yang setia pada bangsa—ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, heroik, tetapi terkadang seolah luput dari pandangan seorang guru yang malas mengajar, seorang guru yang apatis, yang juga merupakan realita dalam dunia pendidikan, guru yang lebih mementingkan sertifikasi ketimbang perkembangan peserta didik. Tidak jarang guru masa kini yang seperti itu, sehingga benarkah saat ini masih relevan menyebut semua guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Mestinya hal seperti ini juga menarik dibawa ke atas panggung.

Pementasan inilah yang mengantarkan saya tiba-tiba berada di Denpasar, dan sungguh saya berharap pementasan ini dibawa keliling ke kampus-kampus yang berlatar pendidikan. Khususnya kampus-kampus yang mencetak guru, untuk setidaknya mengingatkan kembali bahwa idealisme adalah hal yang mungkin bisa disebut tidak dibutuhkan dan tidak dihargai di rumahnya sendiri, di dunia pendidikan sebab yang lebih penting dari itu adalah pendidikan sebagai barang dagangan, sebagai komoditas.

Satu lagi. Guru itu sebelum ke Malaysia adalah seorang yang miskin, punya hutang, hingga ngebon di warung temannya. Ia juga sempat kehilangan orang yang dicintainya. Jadi, lengkap dan berlapislah kesedihan guru miskin itu. [T]

Tags: guruguru honorerKomunitas Senjaseni pertunjukanTeater
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Kesaktian dan Kelemahan

Next Post

Reinkarnasi “Kawitan” dalam Berkarya – Pameran Lukisan Lintas Generasi di Bentara Budaya Bali

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Reinkarnasi “Kawitan” dalam Berkarya – Pameran Lukisan Lintas Generasi di Bentara Budaya Bali

Reinkarnasi “Kawitan” dalam Berkarya – Pameran Lukisan Lintas Generasi di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co