24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kesaktian dan Kelemahan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 21, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sakti itu bisa terbang tanpa naik pesawat terbang.

Sakti itu bisa berjalan di atas padi yang sedang berbuah, tanpa merusaknya. Sakti itu bisa berubah menjadi kilat atau petir yang menyambar-nyambar. Sakti itu bisa juga jadi api membara yang terbang, lalu turun di gegumuk tengah kuburan. Ada juga orang sakti yang bisa meneropong jauh ke masa depan atau tembus ke langit tujuh jauh ke masa lalu. Super keren kan?

Kata orang kebanyakan, beda dengan kata sumber shastra. Nah, menurut beberapa sumber, ada satu kesimpulan tentang kesaktian. Sakti itu adalah saat pikiran bisa mengetahui segalanya, dan tubuh bisa mengerjakan semuanya. Sederhananya sakti adalah ketika dipahami segala yang dipikirkan, berhasil segala yang dikerjakan.

Selain itu, ada lagi pengertian lain tentang kesaktian. Menurut ajaran agama, sakti itu adalah wanita. Penjelasannya begini. Di sekolah dasar dulu, saya diajarkan tentang tiga Dewa yang memiliki tugas penting. Masing-masing Dewa memiliki tugasnya sendiri. Tiga dewa itu adalah Brahma, Wisnu dan Siwa.

Tugas Brahma adalah mencipta. Tugas Wisnu memelihara. Tugas Siwa adalah melebur segala yang diciptakan Brahma dan segala yang dipelihara Wisnu. Untuk menyukseskan tugas-tugas itu, maka tiap Dewa ditemani oleh istrinya. Istri Brahma adalah Saraswati. Istri Wisnu adalah Sri. Istri Siwa adalah Uma. Sebutan lain untuk ketiga istri Dewa itu adalah Sakti.

Saraswati penguasa pengetahuan. Jadi pengetahuan adalah kekuatan untuk menciptakan. Sri adalah Dewi Kemakmuran. Kemakmuran bisa diterjemahkan menjadi kehidupan, ciri-cirinya cukup makan dan minum, sehat, dan memiliki harta. Agar bisa makan dan minum, orang mesti bekerja. Pekerjaan dalam bahasa Bali lumbrah adalah swagina. Ada banyak teks tentang swagina. Contohnya adalah Dharma Pamaculan, Dharmaning Undagi, dan lain-lain.

Agar hidup lebih berguna, maka tubuh harus sehat. Untuk sehat diperlukanlah beragam jenis obat bagi yang sakit. Teks yang bisa dibaca adalah Usadha. Agar punya harta orang harus bekerja. Tapi barangkali juga harus dilengkapi dengan doa. Maka ada beberapa teks yang disebut Pangundang Merta yang isinya adalah doa-doa agar diberikan kemakmuran. Itulah kekuatan Sri sebagai pemelihara kehidupan.

Uma sebagai sakti Siwa, tugasnya adalah melebur. Biasanya kalau sudah bicara tentang peleburan, Uma disebut juga dengan Durga. Padahal Uma sendiri adalah Dewi yang menganugerahkan kepada manusia tentang tata upacara kematian pada zaman Kali. Apa itu zaman Kali? Silahkan dicari tahu sendiri. Kita pasti punya semiliar juta cara untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Anugerah Dewi Uma itu dikumpulkan dalam teks berjudul Uma Tattwa.

Uma atau Durga sering dibayangkan sebagai sosok menyeramkan dan ada di kuburan. Kuburan dalam pikiran manusia-manusia pendahulu yang menulis banyak teks tentang kematian bukanlah tempat menyeramkan. Tapi sebuah lapangan yang dipenuhi dengan semerbak aroma harum. Apanya yang menyeramkan dari tempat yang dipenuhi aroma harum? Kan kita sendiri seringkali mengadakan yang harum-harum itu.

Tapi menurut penuturan seseorang, jika ada aroma harum datang tiba-tiba entah darimana, kita musti lebih waspada. Waspadalah kepada aroma harum itu, bukan kepada yang busuk!

Itu dia tugas tiga Dewi yang disebut Saktinya para Dewa. Di antara ketiganya, ada dua yang sering dibicarakan. Mereka adalah Saraswati dan Uma atau Durga. Saraswati bagi orang kebanyakan digambarkan sebagai sosok cantik. Sedangkan Durga bersosok menyeramkan.

Bagi orang yang membolak-balikkan pikiran, justru Saraswatilah yang seram karena ia adalah dewinya aksara-aksara. Bayangkan betapa menyeramkannya aksara-aksara yang ditumpuk-tumpuk menjadi rerajahan. Bagi yang tidak bisa membaca, satu aksara saja sudah cukup menyeramkan. Durga disebutnya dewi yang penuh kasih sayang dan pemurah. Konon Sutasoma diberikan anugerah bernama Mahahredayadharani oleh Durga. Pokoknya, Durga itu yang penyayang!

Satu dewi yang jarang dibicarakan adalah Sri yang kekuatannya adalah memelihara kehidupan kita sekarang. Mungkin memang kecenderungan manusia lebih senang membicarakan kelahirannya di masa lalu, dan kematiannya di masa depan dari pada merenungkan perilakunya semasa hidup sekarang. 

Orang Bali juga banyak yang begini. Ada banyak upacara ketika akan dan baru lahir. Apalagi upacara kematian, lebih banyak lagi. Semasa hidup juga banyak upacara, tapi tidak banyak yang mengasihi sesamanya. Apalagi mengasihi sawah-sawah yang konon jadi palinggih Sri. Dewi Sri [Dewi Kemakmuran itu], dengan upacara sederhana kita muliakan lalu pindahkan sambil tersenyum melalui upacara ngingsirang batari Sri.

Upacara adalah jawaban dari segala hal mistis yang diyakini bisa mempengaruhi kehidupan. Tentu ada banyak latar belakang kenapa demikian. Jadi mari kita tersenyum dan mengaku, kita adalah salah satu pelaku yang hanya merasa menjadi korban perubahan.

Saya tidak ingin menyinggung yang disebut-sebut sistem Kapital oleh orang-orang pintar. Konon sistem itulah yang menjadi salah satu sutradara di balik drama perubahan yang diperankan manusia. Saya pun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sistem itu, meski sedikit hasil bacaan dari buku How The World Works dari Noam Chomsky bisa memberikan gambaran. Begitulah, saya ini Cangak yang ogah-ogahan.

Dari pembicaraan kita tentang tiga Dewa dan pasangannya, kita diberitahu bahwa di balik aktor hebat bernama Dewa, ada kekuatan Dewi yang mendukungnya. Jadi jika kita melihat seseorang yang super power atau banyak orang yang menjadi people power, kita juga harus melihat kekuatan macam apa yang menggerakkan di belakangnya. Biasanya kekuatan itu ada tapi tidak kita lihat. Kita tidak melihat, karena kita jarang melatih pengelihatan. Melatih pengelihatan juga cara untuk melatih kesaktian.

Memang ada banyak jenis kesaktian menurut deskripsi pada paragraf di awal. Kalau kesaktian itu saya jelaskan satu persatu, sepertinya Cangak kali ini haruslah sangat panjang. Jadi saya putuskan untuk tidak lagi meneruskannya. Soalnya, kita sudah sama-sama tahu dan sama-sama punya pengertian tentang kesaktian. Beda orang, beda pula pengertian. Pengertian dibentuk berdasarkan pengetahuan. Saya tidak mau memaksakan satu pengertian kesaktian kepada banyak orang. Itu tidak baik. Karena itulah, saya menyerahkan sepenuhnya kepada sodara-sodara tentang pengertian sakti.

Sebagaimana sodara-sodara, saya juga punya pengertian yang berbeda tentang kesaktian. Bagi seekor Cangak yang jujur seperti saya ini, sakti itu ketika “dia” menatapmu lembut lalu tanpa diduga kau sudah terperangkap jauh sekali di dasar kawah cinta paling dalam dan tidak tertolong.

Bayangkan kekuatan macam apa yang mampu membuat seseorang tiba-tiba terperosok sedemikian dalam. Tatapan lembut itu kekuatan? Ya tentu saja! Kekuatan itu tidak hanya berasal dari kekerasan, tapi juga kelembutan. Kekuatan itulah yang kita sebut power. Power itu yang menghidupkan seperti Saraswati, power itu juga yang mematikan seperti Uma, dan power itu juga yang menjaga seperti Sri.

Letak power itu bisa dimana-mana. Bagi lelipan kekuatan racunnya ada di kepala. Bagi ular berbisa, kekuatannya ada pada giginya. Bagi seekor kalajengking, kekuatan racunnya ada pada ekornya. Sedangkan bagi orang yang bertabiat buruk, setiap bagian tubuhnya adalah racun mematikan. Di balik itu semua, ada satu rumus warisan para tetua-tetua tentang kekuatan. Menurut rumusnya, “kekuatan adalah kelemahan! [T]


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri
  • Teman Tidak Makan Teman
  • Menerima Tanpa Terlena
  • Perlindungan
  • Pesta Dansa
  • Ingatan yang Coba Kita Lupakan
Tags: Dewi Saraswatikehidupankekuasaanrenungan
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Sidatapa, Berkabar Lewat Burung Yang Dilepasliarkan

Next Post

Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co