2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kesaktian dan Kelemahan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 21, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sakti itu bisa terbang tanpa naik pesawat terbang.

Sakti itu bisa berjalan di atas padi yang sedang berbuah, tanpa merusaknya. Sakti itu bisa berubah menjadi kilat atau petir yang menyambar-nyambar. Sakti itu bisa juga jadi api membara yang terbang, lalu turun di gegumuk tengah kuburan. Ada juga orang sakti yang bisa meneropong jauh ke masa depan atau tembus ke langit tujuh jauh ke masa lalu. Super keren kan?

Kata orang kebanyakan, beda dengan kata sumber shastra. Nah, menurut beberapa sumber, ada satu kesimpulan tentang kesaktian. Sakti itu adalah saat pikiran bisa mengetahui segalanya, dan tubuh bisa mengerjakan semuanya. Sederhananya sakti adalah ketika dipahami segala yang dipikirkan, berhasil segala yang dikerjakan.

Selain itu, ada lagi pengertian lain tentang kesaktian. Menurut ajaran agama, sakti itu adalah wanita. Penjelasannya begini. Di sekolah dasar dulu, saya diajarkan tentang tiga Dewa yang memiliki tugas penting. Masing-masing Dewa memiliki tugasnya sendiri. Tiga dewa itu adalah Brahma, Wisnu dan Siwa.

Tugas Brahma adalah mencipta. Tugas Wisnu memelihara. Tugas Siwa adalah melebur segala yang diciptakan Brahma dan segala yang dipelihara Wisnu. Untuk menyukseskan tugas-tugas itu, maka tiap Dewa ditemani oleh istrinya. Istri Brahma adalah Saraswati. Istri Wisnu adalah Sri. Istri Siwa adalah Uma. Sebutan lain untuk ketiga istri Dewa itu adalah Sakti.

Saraswati penguasa pengetahuan. Jadi pengetahuan adalah kekuatan untuk menciptakan. Sri adalah Dewi Kemakmuran. Kemakmuran bisa diterjemahkan menjadi kehidupan, ciri-cirinya cukup makan dan minum, sehat, dan memiliki harta. Agar bisa makan dan minum, orang mesti bekerja. Pekerjaan dalam bahasa Bali lumbrah adalah swagina. Ada banyak teks tentang swagina. Contohnya adalah Dharma Pamaculan, Dharmaning Undagi, dan lain-lain.

Agar hidup lebih berguna, maka tubuh harus sehat. Untuk sehat diperlukanlah beragam jenis obat bagi yang sakit. Teks yang bisa dibaca adalah Usadha. Agar punya harta orang harus bekerja. Tapi barangkali juga harus dilengkapi dengan doa. Maka ada beberapa teks yang disebut Pangundang Merta yang isinya adalah doa-doa agar diberikan kemakmuran. Itulah kekuatan Sri sebagai pemelihara kehidupan.

Uma sebagai sakti Siwa, tugasnya adalah melebur. Biasanya kalau sudah bicara tentang peleburan, Uma disebut juga dengan Durga. Padahal Uma sendiri adalah Dewi yang menganugerahkan kepada manusia tentang tata upacara kematian pada zaman Kali. Apa itu zaman Kali? Silahkan dicari tahu sendiri. Kita pasti punya semiliar juta cara untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Anugerah Dewi Uma itu dikumpulkan dalam teks berjudul Uma Tattwa.

Uma atau Durga sering dibayangkan sebagai sosok menyeramkan dan ada di kuburan. Kuburan dalam pikiran manusia-manusia pendahulu yang menulis banyak teks tentang kematian bukanlah tempat menyeramkan. Tapi sebuah lapangan yang dipenuhi dengan semerbak aroma harum. Apanya yang menyeramkan dari tempat yang dipenuhi aroma harum? Kan kita sendiri seringkali mengadakan yang harum-harum itu.

Tapi menurut penuturan seseorang, jika ada aroma harum datang tiba-tiba entah darimana, kita musti lebih waspada. Waspadalah kepada aroma harum itu, bukan kepada yang busuk!

Itu dia tugas tiga Dewi yang disebut Saktinya para Dewa. Di antara ketiganya, ada dua yang sering dibicarakan. Mereka adalah Saraswati dan Uma atau Durga. Saraswati bagi orang kebanyakan digambarkan sebagai sosok cantik. Sedangkan Durga bersosok menyeramkan.

Bagi orang yang membolak-balikkan pikiran, justru Saraswatilah yang seram karena ia adalah dewinya aksara-aksara. Bayangkan betapa menyeramkannya aksara-aksara yang ditumpuk-tumpuk menjadi rerajahan. Bagi yang tidak bisa membaca, satu aksara saja sudah cukup menyeramkan. Durga disebutnya dewi yang penuh kasih sayang dan pemurah. Konon Sutasoma diberikan anugerah bernama Mahahredayadharani oleh Durga. Pokoknya, Durga itu yang penyayang!

Satu dewi yang jarang dibicarakan adalah Sri yang kekuatannya adalah memelihara kehidupan kita sekarang. Mungkin memang kecenderungan manusia lebih senang membicarakan kelahirannya di masa lalu, dan kematiannya di masa depan dari pada merenungkan perilakunya semasa hidup sekarang. 

Orang Bali juga banyak yang begini. Ada banyak upacara ketika akan dan baru lahir. Apalagi upacara kematian, lebih banyak lagi. Semasa hidup juga banyak upacara, tapi tidak banyak yang mengasihi sesamanya. Apalagi mengasihi sawah-sawah yang konon jadi palinggih Sri. Dewi Sri [Dewi Kemakmuran itu], dengan upacara sederhana kita muliakan lalu pindahkan sambil tersenyum melalui upacara ngingsirang batari Sri.

Upacara adalah jawaban dari segala hal mistis yang diyakini bisa mempengaruhi kehidupan. Tentu ada banyak latar belakang kenapa demikian. Jadi mari kita tersenyum dan mengaku, kita adalah salah satu pelaku yang hanya merasa menjadi korban perubahan.

Saya tidak ingin menyinggung yang disebut-sebut sistem Kapital oleh orang-orang pintar. Konon sistem itulah yang menjadi salah satu sutradara di balik drama perubahan yang diperankan manusia. Saya pun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sistem itu, meski sedikit hasil bacaan dari buku How The World Works dari Noam Chomsky bisa memberikan gambaran. Begitulah, saya ini Cangak yang ogah-ogahan.

Dari pembicaraan kita tentang tiga Dewa dan pasangannya, kita diberitahu bahwa di balik aktor hebat bernama Dewa, ada kekuatan Dewi yang mendukungnya. Jadi jika kita melihat seseorang yang super power atau banyak orang yang menjadi people power, kita juga harus melihat kekuatan macam apa yang menggerakkan di belakangnya. Biasanya kekuatan itu ada tapi tidak kita lihat. Kita tidak melihat, karena kita jarang melatih pengelihatan. Melatih pengelihatan juga cara untuk melatih kesaktian.

Memang ada banyak jenis kesaktian menurut deskripsi pada paragraf di awal. Kalau kesaktian itu saya jelaskan satu persatu, sepertinya Cangak kali ini haruslah sangat panjang. Jadi saya putuskan untuk tidak lagi meneruskannya. Soalnya, kita sudah sama-sama tahu dan sama-sama punya pengertian tentang kesaktian. Beda orang, beda pula pengertian. Pengertian dibentuk berdasarkan pengetahuan. Saya tidak mau memaksakan satu pengertian kesaktian kepada banyak orang. Itu tidak baik. Karena itulah, saya menyerahkan sepenuhnya kepada sodara-sodara tentang pengertian sakti.

Sebagaimana sodara-sodara, saya juga punya pengertian yang berbeda tentang kesaktian. Bagi seekor Cangak yang jujur seperti saya ini, sakti itu ketika “dia” menatapmu lembut lalu tanpa diduga kau sudah terperangkap jauh sekali di dasar kawah cinta paling dalam dan tidak tertolong.

Bayangkan kekuatan macam apa yang mampu membuat seseorang tiba-tiba terperosok sedemikian dalam. Tatapan lembut itu kekuatan? Ya tentu saja! Kekuatan itu tidak hanya berasal dari kekerasan, tapi juga kelembutan. Kekuatan itulah yang kita sebut power. Power itu yang menghidupkan seperti Saraswati, power itu juga yang mematikan seperti Uma, dan power itu juga yang menjaga seperti Sri.

Letak power itu bisa dimana-mana. Bagi lelipan kekuatan racunnya ada di kepala. Bagi ular berbisa, kekuatannya ada pada giginya. Bagi seekor kalajengking, kekuatan racunnya ada pada ekornya. Sedangkan bagi orang yang bertabiat buruk, setiap bagian tubuhnya adalah racun mematikan. Di balik itu semua, ada satu rumus warisan para tetua-tetua tentang kekuatan. Menurut rumusnya, “kekuatan adalah kelemahan! [T]


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri
  • Teman Tidak Makan Teman
  • Menerima Tanpa Terlena
  • Perlindungan
  • Pesta Dansa
  • Ingatan yang Coba Kita Lupakan
Tags: Dewi Saraswatikehidupankekuasaanrenungan
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Sidatapa, Berkabar Lewat Burung Yang Dilepasliarkan

Next Post

Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

Konflik Batin Guru Honor – Catatan Pentas “Sang Guru” Komunitas Senja & Teater Cahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co