23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepucuk Rindu Anak Pesisir Pantai – Kelas Inspirasi Pacitan #4

Ilari Dawashy by Ilari Dawashy
March 24, 2019
in Khas
Sepucuk Rindu Anak Pesisir Pantai – Kelas Inspirasi Pacitan #4

Sepucuk Rindu Anak Pesisir Pantai. Kelas Inspirasi Pacitan #4 -- 4 Maret 2019

4 Maret 2019

Aku suka perjalanan, baik itu perjalanan dekat ataupun perjalanan jauh. Baik itu beramai-ramai, berdua, atau sendiri. Bagiku itu sama saja. Hari itu, setelah mendapat pesan konfirmasi kelolosan sebagai relawan pengajar dengan profesi penulis, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Segera ku-booking tiket tiga hari sebelum keberangkatan. Teman yang sempat kuhasut untuk mendaftar, ternyata tidak lolos dan mengharuskan aku untuk berangkat seorang diri, tanpa mengenal siapapun dan tidak tahu akan kemana.

Pukul 06.00 kereta berangkat dari stasiun Rambipuji, Jember. Membawaku mengarungi perjalanan dan petualangan kali ini. Aku sudah biasa melakukan perjalanan menggunakan kereta api, bagiku tak masalah. Yang ku pertanyakan setelah turun di stasiun terakhir sebelum kota tujuanku, aku akan naik apa dan pergi kemana. Di tiket tertulis aku akan sampai di stasiun Madiun pukul 13.55 WIB. Membaca beberapa buku yang kubawa adalah hal paling menyenangkan kala itu.

Mencoba menggali info agar aku tidak seperti orang linglung. Aku mendapat jawaban tapi masih belum mendapat keberanian. Tetapi, berjalan sejauh ini untuk apa kembali. Satu-satunya yang harus aku jalani adalah melewati semua itu untuk mencapai kota tujuan.

Tepat sesuai jadwal, kereta sampai di Stasiun Madiun mengharuskan aku harus turun dan berpetualang. Karena sudah mendownload beberapa aplikasi ojek online sebelum berangkat, aku tidak kebingungan untuk pergi ke terminal demi melanjutkan ke perjalanan.

“Bus ke Pacitan adanya jam lima sore, Mbak,” ucap seorang petugas terminal.

“Jam lima sore?” kulirik jam di tanganku, masih pukul dua siang dan aku tidak mungkin menyia-nyiakan tiga jam untuk menunggu.

“Ada bus Ponorogo di pojok timur mbak.”

Aku masih mengingat pesan salah satu panitia lokal, jika tidak ada bus jurusan Surabaya-Pacitan maka aku harus mengambil jalan pintas untuk pergi ke terminal Ponorogo, lalu mencari bus jurusan Pacitan. Aku masih dalam trauma masa kecil dimana ditanamkan tentang penculik atau orang-orang jahat di terminal bus. Aaah untuk apa, segera aku berlari menuju bus Ponorogo. Aku harus segera sampai agar bisa beristirahat lebih lama.

Aku sangat bersyukur karena Tuhan mempermudah perjalananku, dimulai dari mencari bus Ponorogo, hingga sampai di terminal dan menemukan bus Pacitan tanpa harus menunggu lama. Memberi kabar kepada panitia agar mereka tidak terlalu khawatir. Rika, salah satu panitia yang ditugaskan untuk mendampingi rombel (rombongan belajar) ku berjanji akan menjemputku di stasiun Pacitan.

Satu jam, dua jam, sampai aku enggan melirik detak jam tanganku. Mengapa tidak sampai-sampai. Aku baru meng-iyakan kata temanku bahwa jalan menuju kota pesisir itu berkelok-kelok. Lama dan aku merasa mengapa tidak kunjung selesai. Sungguh, benar yang dicuapkan bahwa Pacitan adalah surga dibalik gunung.

“Terminal ya mbak? 10 menit lagi sampai,” kondektur memberi harapan.

Aku bisa membayangkan perjalanan yang dimulai pukul 06.00 WIB tadi akan segera berakhir. Pukul 20.00 aku sampai di terminal. Hari ini aku menghabiskan waktu 14 jam untuk perjalanan, cukup lama. Rika, seorang panitia lokal datang menjemputku, mengarungi jalanan malam kota menuju basecamp yang berdampingan dengan alun-alun.

Aku masih belum mengenal siapapun, merasa asing. Ahirnya aku memutuskan untuk membasuh diri kemudian menikmati keramaian alun-alun kota, beruntung sekali di malam minggu itu terdapat pementasan wayang di tengah pusat alun-alun.

Aku tidak tahu harus membalas apa atas semua kebaikan. Malam itu, masih belum ada relawan putri yang datang. Aku yang semula berniat akan tidur di basecamp ternyata diberikan tawaran untuk beristirahat saja di rumah Rika. Keberuntungan, wkwkwk.

***

Selamat pagi Pacitan, aku tidak pernah membayangkan akan berada di kota ini sebelumnya. Bersemangat untuk mengikuti brefing. Bergegas untuk kembali ke basecamp. Hari itu aku mulai mengenal beberapa teman panitia dan relawan.

Sebelumnya aku sudah sarapan, apa boleh buat Om Arie, relawan dari Madiun mengajakku untuk jalan-jalan dan membeli nasi jotos. Sarapan lagi bukanlah suatu masalah. Siapa yang tahu kalau pagi itu aku sarapan dua kali. Hehe…

Brefing dimulai di Aula Kantor Bupati Pacitan. Bisa dibilang formal dibandingkan dengan yang lain. Aku mulai tahu siapa teman yang akan bersamaku di rombel sembilan, SDN 5 Kalikuning, Kecamatan Tulakan. Beberapa belum datang dan sebagian sudah mulai menyusun rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan besok pada Hari Inspirasi.

Sebelum lebih lanjut, akan ku kenalkan sedikit tentang kegiatanku kali ini. Namanya Kelas Inspirasi Pacitan #4. Kali ini, kegiatan diadakan di Kecamatan Tulakan dengan mencakup 10 sekolah, yaitu SDN 6 Ketro, SDN 3 Ngumbul, SDN 2 Gasang, SDN 3 Padi, SDN 5 Wonosidi, SDN 1 Ketro, SDN 4 Kalikuning, SDN 2 Jatigunung, SDN 5 Kalikuning, dan SDN 4 Losari. Terdata sebanyak 99 relawan pengajar dan 57 relawan dokumentator yang lolos, juga 40 panitia lokal. Dengan jumlah sebanyak itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keseruan refleksi setelah kami terpisah di sepuluh sekolah untuk menginspirasi. Tentu akan banyak cerita yang di dapatkan.

Aku berniat untuk menikmati pantai seusai brefing bersama Om Arie dan kawan-kawan yang lain. Berhubung kami pergi ke rumah Om Wid (salah satu relawan Pacitan) dengan berjalan kaki bersama rombongan, Om Arie, Mbak Sansan relawan Bali, Fariz relawan Jember, dan Mas Galih relawan Bekasi.  Kami memutuskan untuk menteparkan diri saja setelah bersilaturahmi, yang tujuan lainnya adalah makan nasi berkat gratis, nasi khas yang dibungkus daun jati.

Yang semula direncanakan akan berangkat pukul 15.00 WIB menuju SDN 5 Kalikuning, kami terpaksa berangkat pukul 16.00 WIB karena beberapa alasan. Mbak Rika bersama Pak Gatot (Babinkamtibnas/relawan Pacitan), aku dengan Mas Galih, Mas Toifur (relawan fotograver Pacitan) dengan Mas Kusyuliqan (relawan vidiografer Jogja) berangkat terlebih dahulu. Sedangkan Mbak Rosi (panlok), Mas Hery (relawan Jogja), Mas Sugeng (panlok) akan menyusul karena menunggu Mbak Dini (relawan Cirebon). Dan Mas Sugeng (seorang relawan Blitar) akan menyusul esok pagi.

Jalan yang kami lewati begitu mulus sehingga aku harus minta ampun. Berkali-kali turun dari sepeda motor dan memilih berjalan kaki karena tidak bisa dilewati. Harus ekstra berhati-hati. Dengan keadaanku dan Mas Galih yang bisa disimbolkan sebagai angaka 1 dan 0, tidak bisa dibayangkan bagaimana jika kami jatuh. Beberapa diberi semangat karena pada saat brefing aku berkata mantap untuk rute, melihat realita aku malah angkat tangan.

Kami tiba menjelang maghrib disambut dengan lampu yang belum menyala. Kami harus membenahi aliran listrik sebelum beristirahat. Malam yang nikmat, kupat tahu tersedia sebagai makan malam bersama kepala sekolah dan beberapa siswa yang memang diminta untuk menemani kami di sekolah. Bukan hanya itu, kami juga ditemani dua ekor tikus membuat gaduh seisi perpustakaan yang saat itu menjadi tempat istirahat.

***

Selamat Hari Inspirasi. Pagi-pagi buta semua bersiap-siap untuk mandi. Bersemangat antri dan ternyata makan prasmanan telah tersaji di kantor guru. Betapa nikmatnya, namun aku menyadari. Sebentar lagi perpisahan akan aku alami. Fokus saja dulu pada kegiatan menginspirasi anak negeri, urusan pulang urusan nanti.

Kegiatan dimulai dengan upacara bendera. Kami harus ekstra menjadi petugas dadakan dengan semua rancangan pada malam hari, dan latihan pada keesokan pagi. Tidak lebih dari 45 menit sebelum upacara dimulai. Memberikan sambutan dan perkenalan, memberikan kesan pertama yang mengusahakan mereka akan jatuh cinta kepada kami.

Lalu dilanjut dengan senam ‘Kreasi Sirpong’ bersama yang dipimpin oleh Mas Sugeng dan Mbak Rika. Satu kesan yang aku dapat, tidak hanya siswa yang mengikuti senam, melainkan semua guru. Sangat terasa bahwa mereka sangat senang dengan kehadiran kami.

Setelah selesai, semua relawan pegajar masuk ke dalam kelas yang sudah dijadwalkan. Menerapkan sistem rooling dengan setiap relawan pengajar mendapat tugas masuk ke tiga kelas.

Pertama aku masuk ke kelas 6, kelas 5 dan yang terakhir ke kelas 3.di penghujung acara terdapat penempelan pelangi cita-cita, dengan keluar kelas seperti kereta api. Lalu membentuk lingkaran besar untuk closing. Closing di isi dengan permainan, lalu penyampaian ucapan terimkasih dan kesan pesan, baik dari Kelas Inspirasi Pacitan maupun dari pihak sekolah.

Kami mengikuti kegiatan yang telah di rancang hingga selesai. Untukku, semua biaya yang dikeluarkan baik olehku, teman-teman relawan dan panitia lokal sudah terbayarkan dengan senyum tulus dan keceriaan anak-anak pedalaman SDN 5 Kalikuning. Aku tidak merasa sia-sia harus pergi sejauh ini.

Pukul 11.30 WIB semua kegiatan telah selesai. Kami berkemas untuk pulang dan menyelesaikan administrasi. Dan mendapat makan siang nasi soto. Tanpa repot memasak. Mendapat pesan jika ada kesempatan bisa mengadakan acara lagi di SDN 5 Kalikuning, karena mereka merasa bahagia kami datang.

Lain denganku kali ini, aku masih pusing harus pulang bagaimana. Modal nekat seorang diri hingga sampai ke kota ini, apa yang akan aku lakukan dengan perjalanan pulang. Rasanya tidak sanggup untuk naik bus Pacitan – Ponorogo, Ponorogo – Surabaya, lalu Surabaya – Jember. Sedangkan jadwal kereta api masih ada esok hari. Keberuntungan, lagi-lagi ku dapatkan. Aku mendapat tawaran untuk ikut Mas Kusyuliqan ke Jogja ditambah diantar naik kereta dari stasiun lempuyangan esok hari.

Kami kembali ke balai Desa Jatigunung untuk melakukan relfeksi. Setelah menunggu lama, setelah semua rombongan dari sepuluh sekolah lengkap relfeksipun dimulai. Dari semua yang terdata lolos, hanya 76 relawan pengajar dan 47 relawan dokumntator yang hadir. Sebelum pulang, kami masih diberi tugas untuk menggambarkan bagaimana perjalanan dan keadaan di tempat kami masing-masing lalu mempresentasikan hasilnya di depan bersama rombongan belajar.

Di luar ekspektasi, aku mengira bahwa mereka adalah orang-orang pendiam dan cool. Tercermin dari rombonganku yang bisa dibilang sedikit kocak dan usil, ternyata mereka semua seperti itu. Kegiatan refleksi berlangsung sangat seru dan ramai dengan kegaduhan dan kekocakan mereka. Seakan melepaskan semua kepuasan karena telah melewati Hari Inspirasi. Lalu memberikan kehangatan terakhir sebelum berpisah ke kota dan daerah masing-masing.

Seusai refleksi, aku bersama rombongan balik ke Jogja (sebenarnya bukan balik, tetapi nyasar lebih jauh lagi dibandingkan Pacitan. Wkwkwk). Awalnya 8 orang, di alun-alun Pacitan berkurang 1 orang. Hingga terakhir di Jogja hanya tersisa 4 orang setelah mengantar Mas Galih dan Mbak Dini ke stasiun Jogjakarta. Mas Kus, Mbak Tiwul dan Mas Dito domisili Bantul. Aku? Setelah ini akan pergi kemana?

Mulai terjadi perdebatan panjang di dalam diriku. Teman satu desa yang saat ini kuliah di UIN Surakarta sedari aku berangkat sulit sekali dihubungi. Setelah ku hubungi, ternyata aku sudah melewati UIN Surakarta, tidak mungkin meminta mereka untuk mengantarku kesana. Perihal aku tidur dimana, biarlah menjadi rahasia. Yang pasti, aku baik-baik saja. Jika ingin tahu, hubungi aku langsung. Wkwk…

Paginya, pukul 06.00 WIB aku keluar dari rumah. Semalam Mas Kus berkata untuk mengajakku jalan-jalan sebelum ke stasiun kereta. Sampailah kami di makam Sultan Agung, Bantul. Olahraga pagi karena harus menaiki 450 anak tangga. Dan buru-buru turun karena takut ketinggalan kereta.

Mas Dito yang saat itu menyetir mobil bisa kulihat risau. Lampu merah sebentar-sebentar berubah warna. Sedangkan waktu semakin mepet dengan jadwal kereta. Lima menit tepat sebelum jadwal kereta datang, aku sampai di depan stasiun dan berlari, mencetak tiket lalu bergegas masuk. Astaga, keretanya belum datang. Untuk apa aku terburu-buru. Ampuuun.

Kereta mulai meninggalkan stasiun Lempuyangan. Itu artinya aku dalam perjalanan pulang. Semakin jauh meninggalkan Pacitan. Tapi aku yakin, masih ada yang tertinggal disana. Rindu, rinduku selalu tertinggal disana. Di Kota Pacitan, di Kelas Inspirasi. Untuk relawan, panitia dan seluruh penjuru anak negeri.

Kisahku di Kelas Inspirasi Pacitan #4 memang sudah usai hari itu. Tapi semangat inspirasiku masih belum usai. Inginku, semoga kita masih bisa bertemu di kegiatan inspirasi lainnya. Dan semoga Tuhan masih memberiku kesempatan untuk mengikuti Kelas Inpirasi – Kelas Inspirasi selanjutnya…

Salam Inspirasi…

Dariku, gadis desa yang ingin menginspirasi di seluruh penjuru negeri. [T]

Tags: PacitanPendidikanperjalanansekolah
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Alzhaeimer

Next Post

Malam Minggu Bersama “Beruang Penagih Hutang” di Kampus Bawah Undiksha

Ilari Dawashy

Ilari Dawashy

Nama pena dari Ika Wulandari. Lahir di Bondowoso, 14 Nopember 1997. Anak pertama dari pasangan Muhamad Eksan dan Ria Farida. Kakak dari Retno Dwi Yanti dan Muhamad Nizar Zakaria.

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Malam Minggu Bersama “Beruang Penagih Hutang” di Kampus Bawah Undiksha

Malam Minggu Bersama “Beruang Penagih Hutang” di Kampus Bawah Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co