2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepucuk Rindu Anak Pesisir Pantai – Kelas Inspirasi Pacitan #4

Ilari Dawashy by Ilari Dawashy
March 24, 2019
in Khas
Sepucuk Rindu Anak Pesisir Pantai – Kelas Inspirasi Pacitan #4

Sepucuk Rindu Anak Pesisir Pantai. Kelas Inspirasi Pacitan #4 -- 4 Maret 2019

4 Maret 2019

Aku suka perjalanan, baik itu perjalanan dekat ataupun perjalanan jauh. Baik itu beramai-ramai, berdua, atau sendiri. Bagiku itu sama saja. Hari itu, setelah mendapat pesan konfirmasi kelolosan sebagai relawan pengajar dengan profesi penulis, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Segera ku-booking tiket tiga hari sebelum keberangkatan. Teman yang sempat kuhasut untuk mendaftar, ternyata tidak lolos dan mengharuskan aku untuk berangkat seorang diri, tanpa mengenal siapapun dan tidak tahu akan kemana.

Pukul 06.00 kereta berangkat dari stasiun Rambipuji, Jember. Membawaku mengarungi perjalanan dan petualangan kali ini. Aku sudah biasa melakukan perjalanan menggunakan kereta api, bagiku tak masalah. Yang ku pertanyakan setelah turun di stasiun terakhir sebelum kota tujuanku, aku akan naik apa dan pergi kemana. Di tiket tertulis aku akan sampai di stasiun Madiun pukul 13.55 WIB. Membaca beberapa buku yang kubawa adalah hal paling menyenangkan kala itu.

Mencoba menggali info agar aku tidak seperti orang linglung. Aku mendapat jawaban tapi masih belum mendapat keberanian. Tetapi, berjalan sejauh ini untuk apa kembali. Satu-satunya yang harus aku jalani adalah melewati semua itu untuk mencapai kota tujuan.

Tepat sesuai jadwal, kereta sampai di Stasiun Madiun mengharuskan aku harus turun dan berpetualang. Karena sudah mendownload beberapa aplikasi ojek online sebelum berangkat, aku tidak kebingungan untuk pergi ke terminal demi melanjutkan ke perjalanan.

“Bus ke Pacitan adanya jam lima sore, Mbak,” ucap seorang petugas terminal.

“Jam lima sore?” kulirik jam di tanganku, masih pukul dua siang dan aku tidak mungkin menyia-nyiakan tiga jam untuk menunggu.

“Ada bus Ponorogo di pojok timur mbak.”

Aku masih mengingat pesan salah satu panitia lokal, jika tidak ada bus jurusan Surabaya-Pacitan maka aku harus mengambil jalan pintas untuk pergi ke terminal Ponorogo, lalu mencari bus jurusan Pacitan. Aku masih dalam trauma masa kecil dimana ditanamkan tentang penculik atau orang-orang jahat di terminal bus. Aaah untuk apa, segera aku berlari menuju bus Ponorogo. Aku harus segera sampai agar bisa beristirahat lebih lama.

Aku sangat bersyukur karena Tuhan mempermudah perjalananku, dimulai dari mencari bus Ponorogo, hingga sampai di terminal dan menemukan bus Pacitan tanpa harus menunggu lama. Memberi kabar kepada panitia agar mereka tidak terlalu khawatir. Rika, salah satu panitia yang ditugaskan untuk mendampingi rombel (rombongan belajar) ku berjanji akan menjemputku di stasiun Pacitan.

Satu jam, dua jam, sampai aku enggan melirik detak jam tanganku. Mengapa tidak sampai-sampai. Aku baru meng-iyakan kata temanku bahwa jalan menuju kota pesisir itu berkelok-kelok. Lama dan aku merasa mengapa tidak kunjung selesai. Sungguh, benar yang dicuapkan bahwa Pacitan adalah surga dibalik gunung.

“Terminal ya mbak? 10 menit lagi sampai,” kondektur memberi harapan.

Aku bisa membayangkan perjalanan yang dimulai pukul 06.00 WIB tadi akan segera berakhir. Pukul 20.00 aku sampai di terminal. Hari ini aku menghabiskan waktu 14 jam untuk perjalanan, cukup lama. Rika, seorang panitia lokal datang menjemputku, mengarungi jalanan malam kota menuju basecamp yang berdampingan dengan alun-alun.

Aku masih belum mengenal siapapun, merasa asing. Ahirnya aku memutuskan untuk membasuh diri kemudian menikmati keramaian alun-alun kota, beruntung sekali di malam minggu itu terdapat pementasan wayang di tengah pusat alun-alun.

Aku tidak tahu harus membalas apa atas semua kebaikan. Malam itu, masih belum ada relawan putri yang datang. Aku yang semula berniat akan tidur di basecamp ternyata diberikan tawaran untuk beristirahat saja di rumah Rika. Keberuntungan, wkwkwk.

***

Selamat pagi Pacitan, aku tidak pernah membayangkan akan berada di kota ini sebelumnya. Bersemangat untuk mengikuti brefing. Bergegas untuk kembali ke basecamp. Hari itu aku mulai mengenal beberapa teman panitia dan relawan.

Sebelumnya aku sudah sarapan, apa boleh buat Om Arie, relawan dari Madiun mengajakku untuk jalan-jalan dan membeli nasi jotos. Sarapan lagi bukanlah suatu masalah. Siapa yang tahu kalau pagi itu aku sarapan dua kali. Hehe…

Brefing dimulai di Aula Kantor Bupati Pacitan. Bisa dibilang formal dibandingkan dengan yang lain. Aku mulai tahu siapa teman yang akan bersamaku di rombel sembilan, SDN 5 Kalikuning, Kecamatan Tulakan. Beberapa belum datang dan sebagian sudah mulai menyusun rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan besok pada Hari Inspirasi.

Sebelum lebih lanjut, akan ku kenalkan sedikit tentang kegiatanku kali ini. Namanya Kelas Inspirasi Pacitan #4. Kali ini, kegiatan diadakan di Kecamatan Tulakan dengan mencakup 10 sekolah, yaitu SDN 6 Ketro, SDN 3 Ngumbul, SDN 2 Gasang, SDN 3 Padi, SDN 5 Wonosidi, SDN 1 Ketro, SDN 4 Kalikuning, SDN 2 Jatigunung, SDN 5 Kalikuning, dan SDN 4 Losari. Terdata sebanyak 99 relawan pengajar dan 57 relawan dokumentator yang lolos, juga 40 panitia lokal. Dengan jumlah sebanyak itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keseruan refleksi setelah kami terpisah di sepuluh sekolah untuk menginspirasi. Tentu akan banyak cerita yang di dapatkan.

Aku berniat untuk menikmati pantai seusai brefing bersama Om Arie dan kawan-kawan yang lain. Berhubung kami pergi ke rumah Om Wid (salah satu relawan Pacitan) dengan berjalan kaki bersama rombongan, Om Arie, Mbak Sansan relawan Bali, Fariz relawan Jember, dan Mas Galih relawan Bekasi.  Kami memutuskan untuk menteparkan diri saja setelah bersilaturahmi, yang tujuan lainnya adalah makan nasi berkat gratis, nasi khas yang dibungkus daun jati.

Yang semula direncanakan akan berangkat pukul 15.00 WIB menuju SDN 5 Kalikuning, kami terpaksa berangkat pukul 16.00 WIB karena beberapa alasan. Mbak Rika bersama Pak Gatot (Babinkamtibnas/relawan Pacitan), aku dengan Mas Galih, Mas Toifur (relawan fotograver Pacitan) dengan Mas Kusyuliqan (relawan vidiografer Jogja) berangkat terlebih dahulu. Sedangkan Mbak Rosi (panlok), Mas Hery (relawan Jogja), Mas Sugeng (panlok) akan menyusul karena menunggu Mbak Dini (relawan Cirebon). Dan Mas Sugeng (seorang relawan Blitar) akan menyusul esok pagi.

Jalan yang kami lewati begitu mulus sehingga aku harus minta ampun. Berkali-kali turun dari sepeda motor dan memilih berjalan kaki karena tidak bisa dilewati. Harus ekstra berhati-hati. Dengan keadaanku dan Mas Galih yang bisa disimbolkan sebagai angaka 1 dan 0, tidak bisa dibayangkan bagaimana jika kami jatuh. Beberapa diberi semangat karena pada saat brefing aku berkata mantap untuk rute, melihat realita aku malah angkat tangan.

Kami tiba menjelang maghrib disambut dengan lampu yang belum menyala. Kami harus membenahi aliran listrik sebelum beristirahat. Malam yang nikmat, kupat tahu tersedia sebagai makan malam bersama kepala sekolah dan beberapa siswa yang memang diminta untuk menemani kami di sekolah. Bukan hanya itu, kami juga ditemani dua ekor tikus membuat gaduh seisi perpustakaan yang saat itu menjadi tempat istirahat.

***

Selamat Hari Inspirasi. Pagi-pagi buta semua bersiap-siap untuk mandi. Bersemangat antri dan ternyata makan prasmanan telah tersaji di kantor guru. Betapa nikmatnya, namun aku menyadari. Sebentar lagi perpisahan akan aku alami. Fokus saja dulu pada kegiatan menginspirasi anak negeri, urusan pulang urusan nanti.

Kegiatan dimulai dengan upacara bendera. Kami harus ekstra menjadi petugas dadakan dengan semua rancangan pada malam hari, dan latihan pada keesokan pagi. Tidak lebih dari 45 menit sebelum upacara dimulai. Memberikan sambutan dan perkenalan, memberikan kesan pertama yang mengusahakan mereka akan jatuh cinta kepada kami.

Lalu dilanjut dengan senam ‘Kreasi Sirpong’ bersama yang dipimpin oleh Mas Sugeng dan Mbak Rika. Satu kesan yang aku dapat, tidak hanya siswa yang mengikuti senam, melainkan semua guru. Sangat terasa bahwa mereka sangat senang dengan kehadiran kami.

Setelah selesai, semua relawan pegajar masuk ke dalam kelas yang sudah dijadwalkan. Menerapkan sistem rooling dengan setiap relawan pengajar mendapat tugas masuk ke tiga kelas.

Pertama aku masuk ke kelas 6, kelas 5 dan yang terakhir ke kelas 3.di penghujung acara terdapat penempelan pelangi cita-cita, dengan keluar kelas seperti kereta api. Lalu membentuk lingkaran besar untuk closing. Closing di isi dengan permainan, lalu penyampaian ucapan terimkasih dan kesan pesan, baik dari Kelas Inspirasi Pacitan maupun dari pihak sekolah.

Kami mengikuti kegiatan yang telah di rancang hingga selesai. Untukku, semua biaya yang dikeluarkan baik olehku, teman-teman relawan dan panitia lokal sudah terbayarkan dengan senyum tulus dan keceriaan anak-anak pedalaman SDN 5 Kalikuning. Aku tidak merasa sia-sia harus pergi sejauh ini.

Pukul 11.30 WIB semua kegiatan telah selesai. Kami berkemas untuk pulang dan menyelesaikan administrasi. Dan mendapat makan siang nasi soto. Tanpa repot memasak. Mendapat pesan jika ada kesempatan bisa mengadakan acara lagi di SDN 5 Kalikuning, karena mereka merasa bahagia kami datang.

Lain denganku kali ini, aku masih pusing harus pulang bagaimana. Modal nekat seorang diri hingga sampai ke kota ini, apa yang akan aku lakukan dengan perjalanan pulang. Rasanya tidak sanggup untuk naik bus Pacitan – Ponorogo, Ponorogo – Surabaya, lalu Surabaya – Jember. Sedangkan jadwal kereta api masih ada esok hari. Keberuntungan, lagi-lagi ku dapatkan. Aku mendapat tawaran untuk ikut Mas Kusyuliqan ke Jogja ditambah diantar naik kereta dari stasiun lempuyangan esok hari.

Kami kembali ke balai Desa Jatigunung untuk melakukan relfeksi. Setelah menunggu lama, setelah semua rombongan dari sepuluh sekolah lengkap relfeksipun dimulai. Dari semua yang terdata lolos, hanya 76 relawan pengajar dan 47 relawan dokumntator yang hadir. Sebelum pulang, kami masih diberi tugas untuk menggambarkan bagaimana perjalanan dan keadaan di tempat kami masing-masing lalu mempresentasikan hasilnya di depan bersama rombongan belajar.

Di luar ekspektasi, aku mengira bahwa mereka adalah orang-orang pendiam dan cool. Tercermin dari rombonganku yang bisa dibilang sedikit kocak dan usil, ternyata mereka semua seperti itu. Kegiatan refleksi berlangsung sangat seru dan ramai dengan kegaduhan dan kekocakan mereka. Seakan melepaskan semua kepuasan karena telah melewati Hari Inspirasi. Lalu memberikan kehangatan terakhir sebelum berpisah ke kota dan daerah masing-masing.

Seusai refleksi, aku bersama rombongan balik ke Jogja (sebenarnya bukan balik, tetapi nyasar lebih jauh lagi dibandingkan Pacitan. Wkwkwk). Awalnya 8 orang, di alun-alun Pacitan berkurang 1 orang. Hingga terakhir di Jogja hanya tersisa 4 orang setelah mengantar Mas Galih dan Mbak Dini ke stasiun Jogjakarta. Mas Kus, Mbak Tiwul dan Mas Dito domisili Bantul. Aku? Setelah ini akan pergi kemana?

Mulai terjadi perdebatan panjang di dalam diriku. Teman satu desa yang saat ini kuliah di UIN Surakarta sedari aku berangkat sulit sekali dihubungi. Setelah ku hubungi, ternyata aku sudah melewati UIN Surakarta, tidak mungkin meminta mereka untuk mengantarku kesana. Perihal aku tidur dimana, biarlah menjadi rahasia. Yang pasti, aku baik-baik saja. Jika ingin tahu, hubungi aku langsung. Wkwk…

Paginya, pukul 06.00 WIB aku keluar dari rumah. Semalam Mas Kus berkata untuk mengajakku jalan-jalan sebelum ke stasiun kereta. Sampailah kami di makam Sultan Agung, Bantul. Olahraga pagi karena harus menaiki 450 anak tangga. Dan buru-buru turun karena takut ketinggalan kereta.

Mas Dito yang saat itu menyetir mobil bisa kulihat risau. Lampu merah sebentar-sebentar berubah warna. Sedangkan waktu semakin mepet dengan jadwal kereta. Lima menit tepat sebelum jadwal kereta datang, aku sampai di depan stasiun dan berlari, mencetak tiket lalu bergegas masuk. Astaga, keretanya belum datang. Untuk apa aku terburu-buru. Ampuuun.

Kereta mulai meninggalkan stasiun Lempuyangan. Itu artinya aku dalam perjalanan pulang. Semakin jauh meninggalkan Pacitan. Tapi aku yakin, masih ada yang tertinggal disana. Rindu, rinduku selalu tertinggal disana. Di Kota Pacitan, di Kelas Inspirasi. Untuk relawan, panitia dan seluruh penjuru anak negeri.

Kisahku di Kelas Inspirasi Pacitan #4 memang sudah usai hari itu. Tapi semangat inspirasiku masih belum usai. Inginku, semoga kita masih bisa bertemu di kegiatan inspirasi lainnya. Dan semoga Tuhan masih memberiku kesempatan untuk mengikuti Kelas Inpirasi – Kelas Inspirasi selanjutnya…

Salam Inspirasi…

Dariku, gadis desa yang ingin menginspirasi di seluruh penjuru negeri. [T]

Tags: PacitanPendidikanperjalanansekolah
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Alzhaeimer

Next Post

Malam Minggu Bersama “Beruang Penagih Hutang” di Kampus Bawah Undiksha

Ilari Dawashy

Ilari Dawashy

Nama pena dari Ika Wulandari. Lahir di Bondowoso, 14 Nopember 1997. Anak pertama dari pasangan Muhamad Eksan dan Ria Farida. Kakak dari Retno Dwi Yanti dan Muhamad Nizar Zakaria.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Malam Minggu Bersama “Beruang Penagih Hutang” di Kampus Bawah Undiksha

Malam Minggu Bersama “Beruang Penagih Hutang” di Kampus Bawah Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co