3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taufikur Rahman Al-Habsyi: Puisi Adalah Rumah Tempat Saya Menemui Ibu

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
March 16, 2019
in Khas
Taufikur Rahman Al-Habsyi: Puisi Adalah Rumah Tempat Saya Menemui Ibu

Taufik baju hijau saat diskusi puisi Compok Basi, Singaraja

“Puisi adalah rumah tempat saya menemui ibu. Karena di dalam rumah itu saya bangun segenap rasa, maka bergetarlah saya menuliskannya. Setelah ibu saya pergi, Tuhan telah menitipkan kesedihan, dan saat itulah saya membangun kesedihan di dalam puisi,”

.

Itulah jawaban dari Taufikur Rahman Al-Habsyi ketika ada seorang sahabat bertanya apa itu puisi dan kenapa dia menulis puisi. Entah itu jawabannya adalah puisi lisan tersendiri atau hanya sekadar rancauan belaka saja, saya tidak berani untuk menundukkan perkara itu secara pasti. Namun, secara subjektif, saya dapat mengatakan kalau perkataan dia itu adalah puisi.

***

Sebelumnya, izinkanlah saya terlebih dahulu untuk mengatakan kepada saudara-saudara sekalian bahwa tulisan ini saya tulis karena adanya kegiatan diskusi dari sebuah perkumpulan kecil bernama Compok Basi sebuah perkumpulan kecil-kecilan yang dirancang oleh seorang mahasiswa aktivis dari Probolinggo bernama Ahmad Nur Amin.

Pada 15 Maret 2019, Jumaat malam kemarin, Compok Basi melakukan kegiatan diskusi dengan tema Bincang Puisi di sebuah kafe di Singaraja. Kegiatan tersebut dimoderatori langsung oleh Ahmad Fanani alias Karni Ilyas muda alias moderator tetap di Compok Basi, dan diisi oleh dua orang pemantik keren.

Pemantik pertama adalah B.B. Soegiono, penulis buku kumpulan puisi Saga Mentari, dan pemantik kedua adalah Taufikur Rahman Al-Habsyi, seorang penyair muda yang sudah menebar puisinya ke beberapa media, serta penulis puisi Irlya dalam ontologi puisi Sabda Palon, sebuah buku yang mana banyak tercatat nama-nama penyair besar Indonesia di dalamnya.

Kegiatan Bincang Puisi itu, pertama-tama dibuka oleh pemoderator dengan membacakan puisi Aku Berlindung Kepada Rindu karya Taufikur Rahman Al-Habsyi, dengan suara yang sedikit gagap tapi menarik sekali bagi kami ketika mendengarkan. Pembacaan puisi tersebut dilakukan oleh Ahmad Fanani dengan sangat serius. Setelah itu, tepuk tangan kami, sahabat-sahabat Compok Basi, serentak heboh sebagai tanda telah berakhirnya pemoderator membacakan puisi.

Setelah usai membacakan puisi, kemudian pemoderator mengemukakan beberapa kata pengantar, seperti pengenalan pemantik walaupun sebenarnya kami di sana sudah pada kenal, pengenalan karya-karya pemantik, serta pengenalan karya-karya pemantik yang ada di media sosial. Ini tidak berlangsung dengan lama, karena waktu dan kesempatan menyampaikan materi pun kemudian diserahkannya kepada pemantik sebelum dilakukan sesi diskusi bersama.

Pemantik pertama, B.B. Soegiono, dia menyampaikan tentang konsep puisi berdasarkan ajaran-ajaran di dalam pendidikan tidak sepenuhnya dapat menyimpulkan hakikat puisi itu sendiri,

“Hakikat dan arti puisi itu sendiri tidak dapat saya paripurnakan di dalam pendidikan. Puisi itu bukan sekadar bahasa yang indah-indah, meskipun bahasa puisi itu indah. Puisi tidak sekadar bahasa, tapi dia adalah kemisteriusan,”

B.B. Soegiono tidak setuju kalau arti puisi itu hanya dipandang sebagai bahasa yang indah saja, karena menurut dia sendiri arti dari puisi itu adalah kemisteriusan. Arti puisi itu lebih bisa dimengerti dengan rasa karena puisi itu sendiri merupakan persoalan rasa.

Sedangkan pemantik kedua, Taufikur Rahman Al-Habsyi, dia lebih kepada pengalaman apa yang sudah dia alami. Berkenaan dengan itu, Taufikur Rahman Al-Habsyi mengartikan puisi seperti ini,

“Puisi adalah rumah tempat saya menemui ibu. Karena di dalam rumah itu saya bangun segenap rasa, maka bergetarlah saya menuliskannya. Setelah ibu saya pergi, Tuhan telah menitipkan kesedihan, dan saat itulah saya membangun kesedihan di dalam puisi,”

—–

Tulisan Taufik tentang Ibu:

  • Harapan 2018: Kuajak Ibu ke Bali, Lihat Kos dan Kampusku, Tapi Tuhan Mengambilnya

—–

Ini adalah jawaban Taufikur Rahman Al-Habsyi atas pertanyaan seorang sahabat Compok Basi tentang bagaimana pendapat dia mengenai arti puisi dan kenapa dia menulis puisi.

Jawaban tersebut kemudian disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Entah kenapa, saya sendiri terpaku dengan jawaban ini, saya pun mencatatnya di dalam buku catatan, dan sekarang ini saya tulis ucapan itu di dalam tulisan saya yang tidak apik ini.

Taufikur Rahman Al-Habsyi juga menceritakan kalau puisinya terlahir karena seorang ibu. Kekuatan puisinya itu bukanlah karena dia yang menuliskan, tapi karena ada seorang ibu di balik puisi-puisi itu, ialah ibu yang sudah pergi. Ia merasa Tuhan menitipkan kesedihan sehingga sampai pada akhirnya dia mampu membangun kesedihan itu menjadi puisi-puisi.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Compok Basi bisa berjalan dengan baik. Banyak sahabat-sahabat Compok Basi yang membacakan puisi-puisi di kafe tempat kegiatan diskusi itu dilakukan. Bahkan ada juga yang membacakan statusnya sendiri yang dia anggap sebagai puisi untuk sementara saja.

Akhirnya kegiatan diskusi usai. Pembicaraan itu ditutup oleh masing-masing pemantik. B.B. Soegiono menutup dengan cara membacakan satu puisinya. Sedangkan Taufikur Rahman Al-Habsyi menutup dengan membagikan pengalamannya ketika menulis puisi. [T]

Tags: Compok BasiibuPuisiSingarajaUndiksha
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Wayan Sumahardika# Elegi Koper Tua

Next Post

Menikah Saat Kuliah: Pupuslah Mimpi Masa Muda, tapi Kini Aku Punya Tujuan

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Menikah Saat Kuliah: Pupuslah Mimpi Masa Muda, tapi Kini Aku Punya Tujuan

Menikah Saat Kuliah: Pupuslah Mimpi Masa Muda, tapi Kini Aku Punya Tujuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co