14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perahu Kertas dan Kapsul Harapan Anak-anak Donggala – Catatan Baksos Kapal Pemuda Nusantara 2018

Julio Saputra by Julio Saputra
November 7, 2018
in Khas
Perahu Kertas dan Kapsul Harapan Anak-anak Donggala – Catatan Baksos Kapal Pemuda Nusantara 2018

Anak-anak Doggala menghias perahu kertas untuk dimasukkan dalam kapal harapan

SEPANJANG perjalanan dari Palu menuju Donggala, puing-puing reruntuhan masih banyak terlihat di beberapa tempat. Sebagian sudah dibersihkan, sebagian lagi masih berserakan, mungkin sengaja dibiarkan berserakan untuk dijadikan monumen betapa dahsyatnya gempa dan tsunami yang terjadi sebulan yang lalu.

Meski hari masih pagi, tapi udara benar-benar panas. Makin panas lagi peserta Kapal Pemuda Nusantara (KPN) Tahun 2018 harus berjalan kaki menuju lokasi baksos di Desa Bale, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jembatan yang tersedia sepertinya tak memungkinkan untuk menahan beban kendaraan kami.

Sayup-sayup terdengar suara anak-anak SD Negeri 4 Tanantovea bersorak riang saat melihat kami dari kejauhan. Beberapa dari mereka juga berbaris di depan sekolahnya, barangkali untuk menyambut kedatangan kami.

Selama dua hari, tanggal 5 dan 6 November 2018, kami berencana memberikan bakti sosial berupa dukungan kesehatan mental di sana untuk seluruh anak-anak SD Negeri 4 Tanantovea dengan tajuk LOCATION (Love and Education).

Kegiatan tersebut merupakan proyek yang diinisiasi oleh peserta KPN Tahun 2018 dari seluruh provinsi di Indonesia. Kegiatan tersebut diikuti oleh 84 siswa-siswi SD Negeri 4 Tanantovea dari kelas I sampai dengan kelas VI, dan didampingi oleh 10 orang guru tetap di sana. Selain kami para peserta KPN Tahun 2018 dan anak-anak juga guru SD Negeri 4 Tanantovea, beberapa pendamping dari kepanitian acara KPN tahun 2018 juga hadir di sana.

Gerald Chrystovel Kayely (21), peserta KPN Tahun 2018 dari Provinsi Sulawesi Utara, selaku ketua kegiatan, mengatakan bahwa kegiatan kami ini diadakan dengan harapan dapat memulihkan anak-anak terhadap rasa takut yang menyelimuti psikis mereka pasca bencana gempa dan tsunami yang terjadi sebulan lalu.

“Gempa bumi dan tsunami dahsyat yang terjadi sebulan lalu tentu saja menyisakan pilu yang sangat mendalam bagi mereka yang selamat. Tak sedikit pula yang mengalami syok berat, terutama anak-anak. Tentu saja hal tesebut dapat mempengaruhi proses belajar mereka di sekolah. Mereka masih ketakutan. Fokus mereka juga akan terganggu. Maka dari itu kami bermaksud mengadakan kegiatan trauma healing untuk mereka,” ujarnya di sela-sela obrolan ringan bersama guru-guru SD Negeri 4 Tanantovea.

Kegiatan dukungan kesehatan mental tersebut pun disambut hangat oleh Kepala SD Negeri 4 Tanantovea, Tjenarlin, S.Pd. Beliau sangat mendukung kegiatan-kegiatan semacam itu terus dilakukan kepada anak-anak agar kondisinya benar-benar pulih kembali. Raut bahagia rasanya tak bisa beliau sembunyikan lagi. Senyumnya mengutarakan segala dukungannya terhadap kegiatan tersebut.

Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang guru tetap di sana, Indayati, S.Pd. Beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada peserta KPN Tahun 2018 yang sudah berkenan melakukan kegiatan trauma healing untuk anak didiknya. Beliau juga menuturkan bahwa sebagian besar anak-anak masih tidak dapat melupakan kesedihan mereka, terutama yang sanak keluarganya menjadi korban bencana.

“Anak-anak kelihatan sangat senang dengan kedatangan kakak-kakak peserta Kapal Pemuda Nusantara ini. Semoga dengan kegiatan ini anak-anak tak lagi takut, dan tentunya dapat belajar dengan fokus karena merekalah yang akan menjadi penerus bangsa nantinya. Terima kasih sudah datang untuk sedikit meredakan pilu yang kami alami,” imbuhnya sambil membendung air mata.

Saya sendiri hanya sambil berdoa dalam hati ketika beliau melanjutkan kronologi gempa yang terjadi, bagaimana rasanya tinggal di pengungsian selama satu bulan penuh, susahnya mencari makan dan minum, tak ada pencahayaan, sanak famili yang tak tahu apakah selamat atau tidak, dan segala pilu yang beliau alami.

Sungguh, tak terbayang oleh saya sendiri bagaimana rasanya jika saya harus berada dalam situasi tersebut. Air mata masih terlihat menggenang di bola matanya. Syukurlah, suara tawa canda anak-anak mengikuti kegiatan kami pun dapat membuatnya tersenyum.

Pada pelaksanaan kegiatan dukungan kesehatan mental yang disiapkan, peserta KPN Tahun 2018 dibagi menjadi 3 tim, yaitu Tim 1 yang bertanggung jawab terhadap anak-anak kelas I dan kelas II, Tim 2 yang bertanggung jawab terhadap anak-anak kelas III dan IV, dan Tim 3 yang bertanggung jawab terhadap anak-anak kelas V dan VI.

Kegiatan diawali dengan ice breaking berupa menyanyikan beberapa lagu kebangsaan, perkenalan peserta KPN Tahun 2018 dan anak-anak yang mengikuti kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti trauma healing yang menggunakan metode play and dance yang ceria. Anak-anak diajak menari dan bernyanyi bersama, serta belajar nilai-nilai edukasi tanggap bencana dan semangat belajar. Anak-anak pun terlihat sangat antusias dan senang.

Di tengah-tengah kegiatan, sebagian peserta KPN Tahun 2018 mendata skala trauma pada anak-anak melalui pendekatan khusus dan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sesuai dengan pola pikir anak terkait kondisi mereka pasca gempa dan tsunami.

Data tersebut nantinya digunakan untuk menyimpulkan seberapa banyak anak yang mengalami trauma Kesimpulan dari data tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu ‘tidak takut’, ‘sedang’, dan ‘sangat takut’. Hasil yang didapat kemudian dijadikan acuan untuk ditindaklanjuti.

Misalnya, anak yang berada pada level ‘sedang’ dan ‘sangat takut’ harus mendapat perawatan khusus di bagian psikis, atau dengan memperbaiki bangunan sekolah yang nantinya secara tidak langsung akan memulihkan kondisi psikis anak yang terbilang trauma. Dari hasil skala trauma yang didapat, dapat diintifikasi bahwa anak-anak merasa sangat takut untuk berkegiatan di dalam kelas.

Dari sanalah, kegiatan dukungan kesehatan mental kembali dilanjutkan dengan masih menggunakan metode play and dance. Metode ini dirasa efektif karena sasarannya merupakan anak-anak yang umumnya selalu aktif dan aktraktif. Kegiatan tersebut membuat anak-anak kembali ceria dan tidak takut lagi akan bencana. Mereka mampu dengan senantiasa menyanyikan lagu “Bila Gempa Terjadi” yang diajarkan oleh guru-guru mereka di sekolah, sambil bergerak dan bertepuk tangan dengan semangat.

Hal-hal menarik lainnya adalah kegiatan menghias perahu kertas dengan pensil warna, kemudian menuliskan nama dan harapan mereka yang dimasukan ke dalam kapal. Hal ini mengacu kepada konsep yang telah ditawarkan dari peserta KPN Tahun 2018 yaitu ikut mendukung cita-cita dari anak tersebut. Perahu kertas dipilih mengingat pada sebulan lalu selain terjadi gempa bumi yang disusul tsunami.

Metode perahu kertas ini dimaksudkan untuk menstimulus kembali keberanian anak-anak untuk menginjak pantai, sungai, atau tempat-tempat yang memiliki air yang cukup banyak. Sayangnya, melihat keadaan yang tidak memungkikan pada lokasi pelaksanaan kegiatan, maka konsep itu pun dialihkan menjadi kapal harapan. Kapal harapan tersebut diimajinasikan sebagai media penghantar kesuskesan dalam mencapai cita-cita anak-anak dan mereka pun sangat antusias untuk menempelkan kapal harapan tersebut di tembok kelas masing-masing. Tak hanya sampai di sana, peserta KPN Tahun 2018 juga memberikan hadiah tambahan bagi anak-anak yang menghias perahunya semenarik mungkin.

Selain Kapal Harapan, peserta KPN Tahun 2018 yang bertindak sebagai fasilitator juga mengajak mereka untuk menulis kembali nama, cita-cita, dan harapan sceara pribadi, harapan kepada lingkungan dan sekolah mereka, juga harapan kepada guru-guru mereka dalam sebuah kertas, kemudian memasukannya ke dalam Kapsul Harapan, sebuah kapsul dari botol air mineral yang nantinya akan menampung semua harapan dan cita-cita mereka.

Para guru dan peserta KPN Tahun 2018 juga turut menulis harapan-harapan mereka. Kapsul Harapan tersebut kemudian ditanam di halaman sekolah, di depan tiang bendera merah putih.

Kapsul Harapan tersebut dapat dapat dibuka 10 atau 20 tahun kemudian sehingga menjadi mementum pengingat mimpi-mimpi dan harapan mereka nanti. Tentu saja, seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut berharap dalam 10 atau 20 tahun ke depan, anak-anak sudah berhasil meraih mimpi mereka, tak terkecuali saya sendiri. Doa-doa pasti menyertai mimpi-mimpi mereka agar kelak bisa menjadi kenyataan. (T)

Tags: bencana alamgempaKota Paluperjalanan
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Kutub Selatan & Kutub Utara – Pentas Teater Angin & Galang Kangin di Parade Teater Canasta 2018

Next Post

Ketika Preman Menangis di Panti Jompo

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Preman Menangis di Panti Jompo

Ketika Preman Menangis di Panti Jompo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co