3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warna Warni Satu Tujuan – Pentas Teater Taksu di Parade Teater Canasta 2018

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
November 4, 2018
in Ulasan
Warna Warni Satu Tujuan – Pentas Teater Taksu di Parade Teater Canasta 2018

Personel Teater Taksu yang mentas di Parade Teater Canasta 2018

“APA yang kini terjadi diluar sana?” Kata itu terucap sebagai dialog pertama untuk memulai pertanda pementasan hari ketiga acara Parade Teater Canasta, 31 Oktober 2018. Saat itu, Teater Taksu SMAN 2 Semarapura membawakan naskah “Aku Bukan Perempuan Lagi” karya Cok Sawitri.

Ketika lampu nyala, menyiram sedikit demi sedikit tubuh para aktor, saya merasa seram sekali dengan pakaian yang dipakai, terutama oleh pemeran utama. Pakaiannya serba putih. Ah, sepertinya mereka akan mementaskan calonarang, pikir saya.

Perasaan seram ini semakin menjadi-jadi ditambah dengan lagu sinden atau kidung Bali yang dinyanyikan. Setelah mereka berjalan dan berdialog begitu lama akhirnya saya mengerti bahwa mereka sedang menceritakan tentang kerajaan zaman dulu yang kacau  balau. Naskah ini bercerita tentang seorang perempuan yang ingin menjaga keutuhan negara dan rakyatnya tapi dibantah atau tidak disetujui oleh bayangnya sendiri.

Saya tidak mengerti tokoh siapa yang sedang diperankan dalam pentas tersebut. Tujuh orang perempuan, dengan selendang warna-warni yang dibentangkan tiga dari arah kanan dan tiga dari arah kiri. Tengah liukan selendang yang digoyang-goyangkan, tampak satu perempuan lagi menjadi titik tumpu dari enam selendang itu. Di sampingnya, terlihat aktor pemeran utama mondar mandir dan berdialog di sekitar ketujuh perempuan itu. Sang pemeran utama itu hanya merespon satu orang perempuan di sebelah kanan saja. Itupun hanya sekali.

Saya jadi bertanya, sebenarnya mereka itu jadi apa? Apakah berperan sebagai rakyat atau mungkin ada wacana lain yang disusun sutradara. Saya tidak mengerti. Saya simpan ketidakmengertian itu untuk nanti saya tanyakan saat diskusi. Di tengah ketidakmengertian saya tentang pementasan tersebut, yang paling terlihat menonjol justru semangat, antusias dan keseriusan mereka berteater.

Saya lihat dari sebelum pementasan hingga pementasan berlangsung, terlihat kekompakan kerjasama mereka. Walaupun lelah dalam perjalanan dari Klungkung ke Denpasar, tak menjadi alasan bagi mereka untuk tetep bersemangat untuk mengikuti parade ini. Kenapa saya bilang begitu? Karena pembacaan saya belakangan ini tentang teater SMA adalah mereka cenderung akan sibuk jikalau ada kegiatan lomba saja.

“Berteater yen ade lomba mare jee megulet” mungkin gitu bahasa Bali-nya. Kalau sudah begitu segala aspek pun kadang mereka siapkan untuk lomba. Padahal, Parade Teater Canasta 2018 kali ini kan sebenarnya menjadi wadah laboratorium untuk mencari dan mengeluarkan imaji muda mereka masing-masing harus ada persaingan menang kalah.

 

BACA JUGA

  • Hal-hal Kecil yang Teater? – Pertanyaan di Parade Teater Canasta 2018
  • Tiga Lapis Kesedihan Teater Kalangan – Hari Pertama Parade Teater Canasta 2018
  • Melalui Kesunyian Suara Bisa Terdengar – Bersama Wanggi Hoed di Parade Teater Canasta 2018

 

Oke cuuuuut! Kembali lagi ke pementasan mereka, tiba-tiba saja aktor perempuan yang saya perhatikan tadi, berubah menjadi seorang lelaki. Bayangan dirinya yang tampak pada sepotong cermin mengatakan bahwa sang perempuan tersebut harus menjadi lelaki agar terlihat lebih dipercayai oleh rakyatnya. Ia barangkali akan terlihat gagah seperti pendekar agar tetap bisa menjaga keutuhan negara dan rakyatnya.

Tidak hanya sampai di sana. Setelah perempuan itu berubah menjadi seorang lelaki, bayangan itu tak henti-henti menghantuinya. Dalam cerita itu, saya simpulkan sebenarnya musuh terbesar itu bukanlah musuh yang berada diluar sana, musuh terbesar itu sebenarnya adalah diri kita sendiri kalau kita tidak bisa menangani dan memposisikan diri kita sendiri.

Akhirnya tiba saat yang saya nantikan yaitu diskusi. Kenapa saya nantikan? Agar rasa penasaran saya tentang perempuan pembawa selendang warna-warni itu yang saya katakan tadi, bisa saya ketahui apa maksud dan tujuannya.

Pertama saya kaget saat melihat semua aktor dan orang-orang di balik pementasan Teater Taksu kebanyakan adalah perempuan. Kurang lebih sekitar sembilan belas orang termasuk pemeran utama, pemeran bayangan, dalang, serta crew lain seperti penata musik dan lighting semua perempuan.

Hanya satu saya lihat lelaki, yaitu tokoh utama dalam cerita saat berubah menjadi sosok lelaki yang terlihat gagah sesuai keinginan sang bayangan di balik cermin tadi. KERENNNNN!!!

Belum sampai disana kekerenan mereka. Penataan konsep dan adegan itupun dilakukan melalui beberapa diskusi. Dalam prosesnya, sebenarnya mereka punya pembina tetapi pembina mereka pun membiarkan atau membebaskan ide mereka dalam menata konsep atau proses merespon naskah itu sendiri. Ini menarik sekali bagi saya. Bayangkan saja, anak-anak seumuran mereka sudah bisa membuat konsep yang menarik bagi saya karena diskusi kecil yang mereka lakukan secara mandiri.

Saya menjadi mendapat gambaran bagaiman teater ke depannya. Andai mereka terus seperti ini, pasti mereka akan menemukan bentuk mereka masing- masing.

Lalu kembali pada penasaran saya tentang selendang warna-warni itu, dijawablah oleh salah satu aktor begini katanya, “Gini kak, awalnya kami menyimbulkan itu sebagai cahaya yang beragam warna dalam naskah, yang ikut menghantui dan membisikan seruan pada pemeran utama, awalnya kami hanya ingin memakai beberpa lampu warna tetapi karena kami telah membaca ruang terlebih dahulu sepertinya tidak mungkin bisa memasang banyak lampu, jadi kami pakai simbol selendang warna-warni untuk menyimbulkanya” begitu jawabnya.

Kemudian saya hanya termenung karena jawabanya menarik, ini nih sebenarnya embrio muda yang mungkin orang tua harapakan pikirku “hahahaa”. Akhirnya saya mengerti maksud tentang selendang itu dan saya merasa lebih paham akan ceritanya.

Sayangnya saya tidak bisa berdiskusi lebih lama lagi untuk mempertanyakan proses kreatif mereka, karena kata mereka harus langsung pulang ke Semarapura untuk beristirahat karena besoknya mereka harus berkegiatan sekolah seperti biasanya. Padahal ada yang ingin saya tanyakan dari beberapa anak yang lain tentang pembagian tugas dan kesepakatanya.

Sepertinya itu menarik jika saya tuliskan disini, ya kan? Karena mungkin itu bisa menjadi sebuah panutan untuk anak-anak SMA yang lain agar memunculkan rasa kebebasan berekspresi mereka agar akhirnya tidak menjadi gila sendiri karena terlalu banyak pikiran seperti yang saya rasakan saat ini “hahahaa”.

Saya berharap nanti bertemu anak muda semangat lainya yang seperti mereka agar  mendapat pemblajaran baru. Agar saya merasa masih muda juga. Oia, setelah pentas Teater Taksu, ada pula pentas dari UKM Teater Kampus Seribu Jendela. Anak-anak muda bersemangat lainnya dari Undiksha, Singaraja. Namun apa daya, karena keterbatasan waktu, mungkin pentas mereka akan saya ulas di lain kesempatan. Pokoknya, salam anak muda! OYE!!! (T)

Tags: KlungkungParade Teater CanastasekolahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pelatihan Juru Bicara Pancasila (1): Merajut Kebhinekaan dalam Keberagaman

Next Post

Kenang Berulang Masa SMP – Menonton Sanggar Seni Kelakar di Parade Teater Canasta 2018

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kenang Berulang Masa SMP – Menonton Sanggar Seni Kelakar di Parade Teater Canasta 2018

Kenang Berulang Masa SMP – Menonton Sanggar Seni Kelakar di Parade Teater Canasta 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co