24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napoleon, Lady Diana, dan Ahok

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari sumber-sumber gambar di Google

SALAH satu karya musik Ludwig van Beethoven yang saya sukai, selain Moonlight Sonata – adalah Eroica, symphony No.3 in E flat major (op, 55). Karya yang diselesaikan Beethoven pada Agustus 1804 ini — menurut Ferdinand Ries, sahabat Beethoven – semula bertajuk Sinfonia Grande Intitolata Bonaparte del Sigre. Ia, kata Reis, sangat kagum pada Napoleon Bonaparte. Oleh karenanya, tambah Reis, Beethoven khusus mencipta Eroika untuk ‘hero’ kebanggaannya.

Memang, sebelumnya, karya ini hendak didedikasikan pada Napoleon Bonaparte. Namun, Beethoven kecewa karena Napoleon mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar Perancis. Ia, lantas merobek judul tersebut dan menggantinya menjadi  “Sinfonia Eroica composta per festiggiare il sovvenire de un grand uomo”. (Simfoni Eroika ini ditulis untuk mengenang seseorang yang agung). Eroica, pertama diperdengarkan ke publik pada 7 April 1805 di Theater an der Wiendi, Wina.

Saat merobek judul pada partitur itu, Beethoven berkata ; “Ternyata Napoleon Bonaparte hanyalah manusia biasa”. Kemarahan Beethoven tidaklah lama, ia kemudian menulis surat pada Breitkopf & Härtel – penerbit musik yang berbasis di Wiesbaden (kantor pusat), Leipzig dan Paris – bahwa karyanya itu sebenarnya bertajuk “Bonaparte”. Beethoven akhirnya menyadari, bagaimanapun juga Napoleon tetaplah manusia biasa. Maka, ambisi yang mewarnai prestasi Napoleon adalah hal yang wajar saja. Namun, bagaimanapun juga, saya tetap mengaggumi sikap kritis Beethoven terhadap ambisi kekuasaan Napoleon.

Kekecewaan Beethoven terhadap tokoh idolanya, tentu tak jauh berbeda dengan perasaan tiap individu yang mengidolakan Ahok saat ini. Ahok, mantan gubernur DKI –‘petarung politik’ ulung yang acap sendirian — juga menjadi idola banyak orang. Tokoh yang tegas dan jujur ini, semula juga dikagumi keharmonisan hubungannya dengan istrinya Veronika Tan, Meski Ahok, terlihat jelas waktunya banyak tersita oleh kesibukannya sebagai gubernur.

Selama menjadi pejabat, ia betul-betul menjadi pelayan masyarakat. Jarang sekali terlihat Ahok berkumpul bersama keluarga. Saat liburan hari raya pun, ia memilih pulang kampung dengan penerbangan kelas ekonomi. Bukan rekreasi ke luar negeri bersama keluarga, seperti kebanyakan pejabat di ‘negeri sebelah’. Saya kurang paham, apakah dengan kegiatannya menjadi pelayan rakyat, membuat perhatiannya pada keluarga sedikit terganggu? Tentu adalah kurang sopan jika saya ingin tahu hal itu.

Demikian juga dengan berita gugatan cerai Basuki Cahaya Purnama pada Veronika Tan, adalah kurang sopan jika saya ingin menelisik lebih dalam. Pasalnya, perceraian itu adalah wilayah privat. Bagi saya, berita tentang gugatan cerai itu memang mengagetkan. Sama mengagetkan ketika Lady Diana Princess of Wales meninggal dalam suatu kecelakaan yang tragis 31 Agustus 1997. Putri Diana dan pacarnya Dodi Al Fayed tewas dalam kecelakaan mobil di sebuah terowongan di ibukota Prancis itu. Putri Diana akhirnya dimakamkan dalam sebuah upacara pemakaman di Westminster Abbey pada 6 September, 1997.

Saat Lady Diana menikah dengan Pangeran Charles pada 29 Juli 1981, gaun putih dengan trail panjang megah mungkin yang menjadi fokus jutaan mata yang menyaksikan pernikahan Diana dan Charles kala itu via televisi yang disiarkan di 74 negara. Perkawinan megah abad itu, menjadi fokus seluruh dunia. Diana Spencer yang merupakan guru TK dianggap sebagai sosok ideal untuk mendampingi Charles karena sosoknya sebagai perempuan yang baik hati.

Lebih lanjut, berbagai aktifitas kehidupan Lady Diana kemudian menjadi mode yang di-copy tanpa seleksi. Gaya potongan rambut Princess of Wales ini pun selanjutnya menjadi model yang cukup populer di seluruh dunia saat itu. Gaun panjang juga menjadi mode bagi pengantin yang hendak melaksanakan upacara pernikahan. Lady Di lantas menjadi idola bagi masyarakat dunia, sebagai putri kerajaan yang fantastis seperti bayangan kita tentang Cinderela atau cerita-cerita 1001 malam. Kisah kasih kedua mempelai, tentu saja membuat muda-mudi dan calon pasutri di seluruh dunia terpana.

Namun, anganan bahwa Pangeran Charles dan Lady Diana sebagai pasangan yang harmonis, akhirnya runtuh juga. Banyak pihak menyesalkan peristiwa perceraian itu. Dunia dikagetkan dengan perceraian Lady Diana dan pangeran Charles pada 28 Agustus 1996. Usia pernikahan mereka hanya berusia 15 tahun. Publik ikut bersedih. Diduga, Pangeran Charles lebih mencintai pacar lamanya Camilla Parker Bowles dibanding Lady Diana yang memberinya 2 orang putra, Pangeran Wiliam dan Pangeran Harry. Pangeran Charles akhirnya menikahi Camilla 9 April 2005.

Beethoven kecewa pada Napoleon, penggemar pasangan Lady Diana dan Pangeran Charles yang kecewa pada akhir kisah pasangan kerajaan Ingrris ini, juga penggemar Ahok yang kecewa dengan berita yang sedang merebak tentang gugatan cerainya – adalah bukti kegaguman mereka yang luar biasa terhadap tokoh-tokoh di atas. Kekaguman yang berlebihan itu, membuat para penggemar menuntut kesempurnaan berlebihan pula. Sebaiknya, mari kita biarkan Ahok dan Bu Vero berproses dalam penyelesaian problem rumah tangga mereka. Saya percaya, baik Ahok maupun Bu Vero sudah punya pilihan yang terbaik bagi kedua belah pihak, dan anak-anak mereka. Kita tak bisa menuntut lebih dari batas-batas kemampuan mereka.

Kendatipun demikian, apapun yang menjadi keputusan mereka berdua – hal itu tak akan mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya pada sosok Basuki Cahaya Purnama. Bagi saya, dia tetap salah satu putra terbaik yang dimiliki bangsa ini. Oleh karenanya, saya ingin menyitir kata-kata Beethoven saat merobek judul partitur Eroika tersebut. “Bagaimanapun juga, Ahok tetap manusia biasa”. Ah….dari pada saya berharap dan menuntut hal-hal yang berlebihan dari pasangan Ahok dan Vero, sebaiknya saya nikmati saja karya Beethoven, Eroika. (T)

Tags: AhokKeluargakemanusiaantokoh
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Jomblo Jangan Resah, Perayu Ulung pun Bisa Tak Laku-laku

Next Post

Kreatif? Masa, Sih? – Sing Pules Ake Gara-Gara Ngae Tulisan Ne!

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Kreatif? Masa, Sih? - Sing Pules Ake Gara-Gara Ngae Tulisan Ne!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co