23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kreatif? Masa, Sih? – Sing Pules Ake Gara-Gara Ngae Tulisan Ne!

Komang Tress by Komang Tress
February 2, 2018
in Esai

“Nulis cai nae!” kata salah satu anggota Teater Kalangan kepadaku. Sedikit pemberitahuan, tulisan ini dibuat pada dini hari pukul 04.00 am, Kamis 04 Januari 2018. Pagi amat dah.. wkwk.. “Sing Pules ake gara2 ngae tulisan ne! Ckck!” mungkin itu ungkapan dari diriku. Hehe..

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan. Bingung. Harus memulai dari mana, ya? Apalagi dengan penyakit yang kuderita “Short Tender Memory”, begitu temen-teman menyebutnya. Gampang kali melupakan sesuatu, cepet kali lupa. Ingatan singkat. Tulisan ini merupakan tulisan seadanya dan seingatnya. Jadi, mari kita mulai catatannya, mumpung masih ingat.

Teater Kalangan, entah kapan aku mendengar. Aku lupa. Seingatku, kenapa bisa berproses dengan mereka diawali dari bantu-bantu persiapan pementasan monolog Damai dan Dor di Taman Baca Kesiman. Sedikit cerita, pada saat pementasan, aku cuma membantu masang kabel dan lampu untuk proses dan segala macamnya. Peranku cuman sampai di sana. Masang kabel dan lampu!

Seiring waktu berjalan, mulailah aku ikut berproses pada pementasan selanjutnya, seperti garapan Membaca Pagi, Pentas Puisi, Bebunyian, Aku Dimana?, Buah Tangan Dari Utara, dan yang terakhir Wisata Monolog. Banyak hal yang didapat baik  informasi, temen, cewek, pengalaman, ini, itu dan macam-macam.

Entah kenapa aku bisa ikut berproses dengan mereka. Mungkin ini yang namanya jodoh. Seingatku pertama kali diajak untuk berproses dengan mereka ketika ada latihan rutin yang dilakukan oleh Tetater Kalangan khususnya Jong. Aku diajak saat itu. Oh iya, latihan rutin itu dilakukan di Taman Baca Kesiman. Yang ikut latihan juga tidak seberapa. Kira-kira 10 orang. Aku diajak latihan fisik seperti tentara. Selain itu juga ada latihan seperti yoga yang pada saat itu dipandu oleh Jack.

Kalau boleh memberikan pesan dan kesan pada saat latihan perdana dengan mereka, pastinya sangat asik. Banyak ilmu yang bisa aku curi lalu menerapkannya di lingkungan sekitar. Tapi sayangnya proses latihan itu tidak menjadi rutin lagi. Mungkin karena kesibukan dari masing masing anggota atau karena ada proses yang lebih penting. Entahlah. Hanya mereka yang tau. hehe… Saranku, mungkin latihan-latihan seperti itu harus dilakukan lagi. Yaa… Minimal seminggu sekali atau sebulan sekali. Sayang kalau proses latihan seperti itu ditiadakan lagi.

Bicara tentang Teater Kalangan, proses garapan dari Teater Kalangan sangat kreatif dan mungkin mengerikan.

Kreatif? Masak sih, kreatif? Sok kali kreatif, qe!

Yaiyalah! Proses yang diberikan oleh Teater Kalangan cukup kreatif dan unik dari segi bentuk garapannya, proses latihannya, emm.. apa lagi yaa… (sambil mikir) Ah! Cuman itu deh yang kreatif seingatku. Hehe… Proses latihan biasanya dibimbing oleh Jong menggunakan metode-metode yang unik dan kreatif. Tidak membuat bosan apalagi ngantuk. Kalimat yang aku ingat adalah, “Pemanasan ape to? Tuk wa, ga pat, tuk wa ga pat. Pemanasan SD to!”

Pemanasan yang diberikan sangat menguras energi. Dari mengikuti partitur ruangan, suara, musik, mengikuti irama music, loncat-loncat gak jelas, lari-lari gak jelas, kadang lari pelan, kadang lari cepat, jalan inilah, jalan itulah. Ya, intinya seperti itu.

Bayangkan nae, masa cuman pemanasan saja capeknya bukan main. Gimana? Kreatif, bukan? Kreatif membuat kita capek dengan cepat. Seseorang yang awalnya gendut bisa menjadi kurus. Ya turunlah beran badannya. Teknik latihan seperti ini aku rasa cocok untuk seseorang yang mau diet. Hehe.. Ya begitulah sekiranya proses kreatif dari latihannya.

Bentuk garapan yang kreatif? Yang ada sih bingung menontonnya. Gak jelas! Gaje banget! Mungkin ada beberapa orang berkata seperti itu. Termasuk aku. Awal-awal memang,  pertanyaan itulah yang muncul. “Ape sih ne? Garapan ape sih?”. Tapi seiring proses berjalan, aku mulai memahami maksud dari garapan tersebut.

Terus, kenapa unik? Menurut aku sih iya unik. Teater kalangan sudah berhasil membawakan pementasan sesuai dengan namanya, “Kalangan : Ruang”. Banyak garapan yang selalu merespon ruang, baik gedung, tembok pohon, sampai semak-semak. Selain itu proses garapan dari merespon hal tersebut tidak asal respon.

Banyak pertimbangan yang dilakukan untuk merespon hal tersebut, baik dengan riset, wawancara, informasi, pengetahuan, dsb. Ada subtext yang dibicarakan di sana. Kata-kata yang selalu aku ingat adalah “Ruangan ini merupakan text. Bunyi adalah text, gerakan itu text. Text itu bukan hanya kata-kata. Ini text, itu text, semua text”.

Proses Garapan

Beberapa garapan dari Teater Kalangan memang mengerikan. Dari hal yang dibicarakan, subtext yang terdapat di dalamnya, bentuk garapannya, proses garapannya memang mengerikan. Kenapa mengerikan? Garapan dari Teater Kalangan tidak sekedar garapan. Beberapa garapan mengambil isu-isu yang terkait saat itu, baik isu yang mendalam sampai isu yang sudah lama.

Pernah kami menggarap suatu pementasan “Buah Tangan Dari Utara” yang menurutku, ini merupakan garapan yang mengerikan. Proses garapannya pun tidak main-main. Dimulai dari mencari informasi tentang masalah isu-isu terkait, riset, dan wawancara. Setelah informasi didapatkan, akhirnya kami melakukan diskusi tentang permasalahan tersebut.

Seperti biasa, sebelum memulai latihan, proses latihan selalu diawali dengan merusak mental dan fisik pemain. Bukan hanya pemain, para crew artistic, music juga digodok mental dan fisiknya. Gimana tidak digodok, ketika kalian tidak bisa mengikuti lari kami, yaudah kami tinggal. Simple, Bukan? Heehe.. Secara tidak langsung pemain dan crew harus mengimbangi hal tersebut. Sulit? Ya, sulitlah.. Tapi ini bisa dibilang proses mendewasakan diri. Secara kasarnya, “Ketika terbiasa tidur di jalan dan tempat tempat kumuh, dan ketika disuguhi oleh tempat yang mewah, kita jadi terbiasa”.

Proses Diskusi

Diskusi kami bisa dibilang sangat intim dan hangat. Mungkin itu cara anggota Teater Kalangan mempererat kami. Atau ini caranya mencari informasi lebih dalam lagi tentang diri kami masing-masing? Entahlah. Setiap diskusi yang kami lakukan bukan hanya membahas diskusi tentang dunia perteateran. Diskusi tentang music, tarian, tulisan, pementasan, sampai stage desainer-pun kami diskusikan.

Hal yang menjadi menarik saat diskusi adalah kita menjadi tau. Ternyata cocoknya di sini nok! Menjadi lebih fokus mendalami bidang-bidang yang harus kita dalami. Diskusi yang kuingat awal-awal yaitu ketika kita sedang mendiskusikan pementasan dari kawan-kawan Sadewa Theater. Biasanya sebelum diskusi dimulai kami berbondong-bondong menonton pementasan tersebut. Tidak lupa kami merekamnya, kemudian memutar rekaman itu kembali, menontonnya, dan akhirnya mendiskusikannya.

Diskusi ini bukan hanya sekedar diskusi. Habis diskusi selesai, terdapat tulisan mengenai pementasan yang kami diskusikan dan pastinya dimuat di social media. Ini menjadi menarik bukan hanya menambah pengetahuan tentang hal yang kurang di pementasan tersebut, tetapi mungkin juga akan membuat geram kawan-kawan yang menganggapnya sebagai kritikan. Mungkin saja. Tapi, yaaa.. Kami harus melakukannya. Supaya tulisan tentang teater terus berkembang.  Masak nulis teater patuhange cara berita HUT sekolah?

Proses Jalan-Jalan

Kenapa jalan-jalan? Iya, kita selalu jalan-jalan kesana kemari hanya sekedar untuk menonton sebuah pementasan ketika kami tidak sangat sibuk. Ke Ubud, Gianyar, Bangli, Singaraja, Negara. Kami bela-belain ke sana hanya untuk nonton sebuah pementasan. Gak penting banget.

Selain bensin habis, tenaga juga habis di jalan. Pantat sakit duduk terus. Daripada gitu, kan mending tidur di.rumah. Hehe.. Tapi menurutku, kesakitan itu bisa terobati oleh sebuah pementasan yang kami kunjungi. Kita dapat mengetahui teknik pementasan yang baru, yang unik, yang bisa kita adaptasi untuk pementasan berikutnya. Menarik bukan? Kita dapat mencuri ilmu.

Mungkin itu sekiranya catatan dariku yang masih menempel di ingatan. Jika ada yang kurang atau berlebihan, gak enak buat dibaca, atau apalah.. Ya udah… maafinlahh… gak usah diperpanjang lagi… Salam hangat buat kalian semua, khususnya buat cewek-cewek.  Mungkin aja, kita bisa berproses bareng, kenalan, mengetahui satu sama lain lebih jauh. Siapa tahu aja kita bisa jadi jodoh. Hehee… (T)

Tags: Kreativitasproses kreatifTeaterTeater Kalangan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Napoleon, Lady Diana, dan Ahok

Next Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Komang Tress

Komang Tress

Namanya Tress. Panggilannya I Komang Widhi Trisnayasa. Ketua Teater Orok periode 2016-2017. Sejak 2017 aktif di Teater Kalangan sebagai set desaigner, penata artistik dan actor. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Lansekap Unud ini punya tertarik pada desain, stage desainer, musik, game, dan cewek (semok).

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co