24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kreatif? Masa, Sih? – Sing Pules Ake Gara-Gara Ngae Tulisan Ne!

Komang Tress by Komang Tress
February 2, 2018
in Esai

“Nulis cai nae!” kata salah satu anggota Teater Kalangan kepadaku. Sedikit pemberitahuan, tulisan ini dibuat pada dini hari pukul 04.00 am, Kamis 04 Januari 2018. Pagi amat dah.. wkwk.. “Sing Pules ake gara2 ngae tulisan ne! Ckck!” mungkin itu ungkapan dari diriku. Hehe..

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan. Bingung. Harus memulai dari mana, ya? Apalagi dengan penyakit yang kuderita “Short Tender Memory”, begitu temen-teman menyebutnya. Gampang kali melupakan sesuatu, cepet kali lupa. Ingatan singkat. Tulisan ini merupakan tulisan seadanya dan seingatnya. Jadi, mari kita mulai catatannya, mumpung masih ingat.

Teater Kalangan, entah kapan aku mendengar. Aku lupa. Seingatku, kenapa bisa berproses dengan mereka diawali dari bantu-bantu persiapan pementasan monolog Damai dan Dor di Taman Baca Kesiman. Sedikit cerita, pada saat pementasan, aku cuma membantu masang kabel dan lampu untuk proses dan segala macamnya. Peranku cuman sampai di sana. Masang kabel dan lampu!

Seiring waktu berjalan, mulailah aku ikut berproses pada pementasan selanjutnya, seperti garapan Membaca Pagi, Pentas Puisi, Bebunyian, Aku Dimana?, Buah Tangan Dari Utara, dan yang terakhir Wisata Monolog. Banyak hal yang didapat baik  informasi, temen, cewek, pengalaman, ini, itu dan macam-macam.

Entah kenapa aku bisa ikut berproses dengan mereka. Mungkin ini yang namanya jodoh. Seingatku pertama kali diajak untuk berproses dengan mereka ketika ada latihan rutin yang dilakukan oleh Tetater Kalangan khususnya Jong. Aku diajak saat itu. Oh iya, latihan rutin itu dilakukan di Taman Baca Kesiman. Yang ikut latihan juga tidak seberapa. Kira-kira 10 orang. Aku diajak latihan fisik seperti tentara. Selain itu juga ada latihan seperti yoga yang pada saat itu dipandu oleh Jack.

Kalau boleh memberikan pesan dan kesan pada saat latihan perdana dengan mereka, pastinya sangat asik. Banyak ilmu yang bisa aku curi lalu menerapkannya di lingkungan sekitar. Tapi sayangnya proses latihan itu tidak menjadi rutin lagi. Mungkin karena kesibukan dari masing masing anggota atau karena ada proses yang lebih penting. Entahlah. Hanya mereka yang tau. hehe… Saranku, mungkin latihan-latihan seperti itu harus dilakukan lagi. Yaa… Minimal seminggu sekali atau sebulan sekali. Sayang kalau proses latihan seperti itu ditiadakan lagi.

Bicara tentang Teater Kalangan, proses garapan dari Teater Kalangan sangat kreatif dan mungkin mengerikan.

Kreatif? Masak sih, kreatif? Sok kali kreatif, qe!

Yaiyalah! Proses yang diberikan oleh Teater Kalangan cukup kreatif dan unik dari segi bentuk garapannya, proses latihannya, emm.. apa lagi yaa… (sambil mikir) Ah! Cuman itu deh yang kreatif seingatku. Hehe… Proses latihan biasanya dibimbing oleh Jong menggunakan metode-metode yang unik dan kreatif. Tidak membuat bosan apalagi ngantuk. Kalimat yang aku ingat adalah, “Pemanasan ape to? Tuk wa, ga pat, tuk wa ga pat. Pemanasan SD to!”

Pemanasan yang diberikan sangat menguras energi. Dari mengikuti partitur ruangan, suara, musik, mengikuti irama music, loncat-loncat gak jelas, lari-lari gak jelas, kadang lari pelan, kadang lari cepat, jalan inilah, jalan itulah. Ya, intinya seperti itu.

Bayangkan nae, masa cuman pemanasan saja capeknya bukan main. Gimana? Kreatif, bukan? Kreatif membuat kita capek dengan cepat. Seseorang yang awalnya gendut bisa menjadi kurus. Ya turunlah beran badannya. Teknik latihan seperti ini aku rasa cocok untuk seseorang yang mau diet. Hehe.. Ya begitulah sekiranya proses kreatif dari latihannya.

Bentuk garapan yang kreatif? Yang ada sih bingung menontonnya. Gak jelas! Gaje banget! Mungkin ada beberapa orang berkata seperti itu. Termasuk aku. Awal-awal memang,  pertanyaan itulah yang muncul. “Ape sih ne? Garapan ape sih?”. Tapi seiring proses berjalan, aku mulai memahami maksud dari garapan tersebut.

Terus, kenapa unik? Menurut aku sih iya unik. Teater kalangan sudah berhasil membawakan pementasan sesuai dengan namanya, “Kalangan : Ruang”. Banyak garapan yang selalu merespon ruang, baik gedung, tembok pohon, sampai semak-semak. Selain itu proses garapan dari merespon hal tersebut tidak asal respon.

Banyak pertimbangan yang dilakukan untuk merespon hal tersebut, baik dengan riset, wawancara, informasi, pengetahuan, dsb. Ada subtext yang dibicarakan di sana. Kata-kata yang selalu aku ingat adalah “Ruangan ini merupakan text. Bunyi adalah text, gerakan itu text. Text itu bukan hanya kata-kata. Ini text, itu text, semua text”.

Proses Garapan

Beberapa garapan dari Teater Kalangan memang mengerikan. Dari hal yang dibicarakan, subtext yang terdapat di dalamnya, bentuk garapannya, proses garapannya memang mengerikan. Kenapa mengerikan? Garapan dari Teater Kalangan tidak sekedar garapan. Beberapa garapan mengambil isu-isu yang terkait saat itu, baik isu yang mendalam sampai isu yang sudah lama.

Pernah kami menggarap suatu pementasan “Buah Tangan Dari Utara” yang menurutku, ini merupakan garapan yang mengerikan. Proses garapannya pun tidak main-main. Dimulai dari mencari informasi tentang masalah isu-isu terkait, riset, dan wawancara. Setelah informasi didapatkan, akhirnya kami melakukan diskusi tentang permasalahan tersebut.

Seperti biasa, sebelum memulai latihan, proses latihan selalu diawali dengan merusak mental dan fisik pemain. Bukan hanya pemain, para crew artistic, music juga digodok mental dan fisiknya. Gimana tidak digodok, ketika kalian tidak bisa mengikuti lari kami, yaudah kami tinggal. Simple, Bukan? Heehe.. Secara tidak langsung pemain dan crew harus mengimbangi hal tersebut. Sulit? Ya, sulitlah.. Tapi ini bisa dibilang proses mendewasakan diri. Secara kasarnya, “Ketika terbiasa tidur di jalan dan tempat tempat kumuh, dan ketika disuguhi oleh tempat yang mewah, kita jadi terbiasa”.

Proses Diskusi

Diskusi kami bisa dibilang sangat intim dan hangat. Mungkin itu cara anggota Teater Kalangan mempererat kami. Atau ini caranya mencari informasi lebih dalam lagi tentang diri kami masing-masing? Entahlah. Setiap diskusi yang kami lakukan bukan hanya membahas diskusi tentang dunia perteateran. Diskusi tentang music, tarian, tulisan, pementasan, sampai stage desainer-pun kami diskusikan.

Hal yang menjadi menarik saat diskusi adalah kita menjadi tau. Ternyata cocoknya di sini nok! Menjadi lebih fokus mendalami bidang-bidang yang harus kita dalami. Diskusi yang kuingat awal-awal yaitu ketika kita sedang mendiskusikan pementasan dari kawan-kawan Sadewa Theater. Biasanya sebelum diskusi dimulai kami berbondong-bondong menonton pementasan tersebut. Tidak lupa kami merekamnya, kemudian memutar rekaman itu kembali, menontonnya, dan akhirnya mendiskusikannya.

Diskusi ini bukan hanya sekedar diskusi. Habis diskusi selesai, terdapat tulisan mengenai pementasan yang kami diskusikan dan pastinya dimuat di social media. Ini menjadi menarik bukan hanya menambah pengetahuan tentang hal yang kurang di pementasan tersebut, tetapi mungkin juga akan membuat geram kawan-kawan yang menganggapnya sebagai kritikan. Mungkin saja. Tapi, yaaa.. Kami harus melakukannya. Supaya tulisan tentang teater terus berkembang.  Masak nulis teater patuhange cara berita HUT sekolah?

Proses Jalan-Jalan

Kenapa jalan-jalan? Iya, kita selalu jalan-jalan kesana kemari hanya sekedar untuk menonton sebuah pementasan ketika kami tidak sangat sibuk. Ke Ubud, Gianyar, Bangli, Singaraja, Negara. Kami bela-belain ke sana hanya untuk nonton sebuah pementasan. Gak penting banget.

Selain bensin habis, tenaga juga habis di jalan. Pantat sakit duduk terus. Daripada gitu, kan mending tidur di.rumah. Hehe.. Tapi menurutku, kesakitan itu bisa terobati oleh sebuah pementasan yang kami kunjungi. Kita dapat mengetahui teknik pementasan yang baru, yang unik, yang bisa kita adaptasi untuk pementasan berikutnya. Menarik bukan? Kita dapat mencuri ilmu.

Mungkin itu sekiranya catatan dariku yang masih menempel di ingatan. Jika ada yang kurang atau berlebihan, gak enak buat dibaca, atau apalah.. Ya udah… maafinlahh… gak usah diperpanjang lagi… Salam hangat buat kalian semua, khususnya buat cewek-cewek.  Mungkin aja, kita bisa berproses bareng, kenalan, mengetahui satu sama lain lebih jauh. Siapa tahu aja kita bisa jadi jodoh. Hehee… (T)

Tags: Kreativitasproses kreatifTeaterTeater Kalangan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Napoleon, Lady Diana, dan Ahok

Next Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Komang Tress

Komang Tress

Namanya Tress. Panggilannya I Komang Widhi Trisnayasa. Ketua Teater Orok periode 2016-2017. Sejak 2017 aktif di Teater Kalangan sebagai set desaigner, penata artistik dan actor. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Lansekap Unud ini punya tertarik pada desain, stage desainer, musik, game, dan cewek (semok).

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co