2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kreatif? Masa, Sih? – Sing Pules Ake Gara-Gara Ngae Tulisan Ne!

Komang Tress by Komang Tress
February 2, 2018
in Esai

“Nulis cai nae!” kata salah satu anggota Teater Kalangan kepadaku. Sedikit pemberitahuan, tulisan ini dibuat pada dini hari pukul 04.00 am, Kamis 04 Januari 2018. Pagi amat dah.. wkwk.. “Sing Pules ake gara2 ngae tulisan ne! Ckck!” mungkin itu ungkapan dari diriku. Hehe..

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan. Bingung. Harus memulai dari mana, ya? Apalagi dengan penyakit yang kuderita “Short Tender Memory”, begitu temen-teman menyebutnya. Gampang kali melupakan sesuatu, cepet kali lupa. Ingatan singkat. Tulisan ini merupakan tulisan seadanya dan seingatnya. Jadi, mari kita mulai catatannya, mumpung masih ingat.

Teater Kalangan, entah kapan aku mendengar. Aku lupa. Seingatku, kenapa bisa berproses dengan mereka diawali dari bantu-bantu persiapan pementasan monolog Damai dan Dor di Taman Baca Kesiman. Sedikit cerita, pada saat pementasan, aku cuma membantu masang kabel dan lampu untuk proses dan segala macamnya. Peranku cuman sampai di sana. Masang kabel dan lampu!

Seiring waktu berjalan, mulailah aku ikut berproses pada pementasan selanjutnya, seperti garapan Membaca Pagi, Pentas Puisi, Bebunyian, Aku Dimana?, Buah Tangan Dari Utara, dan yang terakhir Wisata Monolog. Banyak hal yang didapat baik  informasi, temen, cewek, pengalaman, ini, itu dan macam-macam.

Entah kenapa aku bisa ikut berproses dengan mereka. Mungkin ini yang namanya jodoh. Seingatku pertama kali diajak untuk berproses dengan mereka ketika ada latihan rutin yang dilakukan oleh Tetater Kalangan khususnya Jong. Aku diajak saat itu. Oh iya, latihan rutin itu dilakukan di Taman Baca Kesiman. Yang ikut latihan juga tidak seberapa. Kira-kira 10 orang. Aku diajak latihan fisik seperti tentara. Selain itu juga ada latihan seperti yoga yang pada saat itu dipandu oleh Jack.

Kalau boleh memberikan pesan dan kesan pada saat latihan perdana dengan mereka, pastinya sangat asik. Banyak ilmu yang bisa aku curi lalu menerapkannya di lingkungan sekitar. Tapi sayangnya proses latihan itu tidak menjadi rutin lagi. Mungkin karena kesibukan dari masing masing anggota atau karena ada proses yang lebih penting. Entahlah. Hanya mereka yang tau. hehe… Saranku, mungkin latihan-latihan seperti itu harus dilakukan lagi. Yaa… Minimal seminggu sekali atau sebulan sekali. Sayang kalau proses latihan seperti itu ditiadakan lagi.

Bicara tentang Teater Kalangan, proses garapan dari Teater Kalangan sangat kreatif dan mungkin mengerikan.

Kreatif? Masak sih, kreatif? Sok kali kreatif, qe!

Yaiyalah! Proses yang diberikan oleh Teater Kalangan cukup kreatif dan unik dari segi bentuk garapannya, proses latihannya, emm.. apa lagi yaa… (sambil mikir) Ah! Cuman itu deh yang kreatif seingatku. Hehe… Proses latihan biasanya dibimbing oleh Jong menggunakan metode-metode yang unik dan kreatif. Tidak membuat bosan apalagi ngantuk. Kalimat yang aku ingat adalah, “Pemanasan ape to? Tuk wa, ga pat, tuk wa ga pat. Pemanasan SD to!”

Pemanasan yang diberikan sangat menguras energi. Dari mengikuti partitur ruangan, suara, musik, mengikuti irama music, loncat-loncat gak jelas, lari-lari gak jelas, kadang lari pelan, kadang lari cepat, jalan inilah, jalan itulah. Ya, intinya seperti itu.

Bayangkan nae, masa cuman pemanasan saja capeknya bukan main. Gimana? Kreatif, bukan? Kreatif membuat kita capek dengan cepat. Seseorang yang awalnya gendut bisa menjadi kurus. Ya turunlah beran badannya. Teknik latihan seperti ini aku rasa cocok untuk seseorang yang mau diet. Hehe.. Ya begitulah sekiranya proses kreatif dari latihannya.

Bentuk garapan yang kreatif? Yang ada sih bingung menontonnya. Gak jelas! Gaje banget! Mungkin ada beberapa orang berkata seperti itu. Termasuk aku. Awal-awal memang,  pertanyaan itulah yang muncul. “Ape sih ne? Garapan ape sih?”. Tapi seiring proses berjalan, aku mulai memahami maksud dari garapan tersebut.

Terus, kenapa unik? Menurut aku sih iya unik. Teater kalangan sudah berhasil membawakan pementasan sesuai dengan namanya, “Kalangan : Ruang”. Banyak garapan yang selalu merespon ruang, baik gedung, tembok pohon, sampai semak-semak. Selain itu proses garapan dari merespon hal tersebut tidak asal respon.

Banyak pertimbangan yang dilakukan untuk merespon hal tersebut, baik dengan riset, wawancara, informasi, pengetahuan, dsb. Ada subtext yang dibicarakan di sana. Kata-kata yang selalu aku ingat adalah “Ruangan ini merupakan text. Bunyi adalah text, gerakan itu text. Text itu bukan hanya kata-kata. Ini text, itu text, semua text”.

Proses Garapan

Beberapa garapan dari Teater Kalangan memang mengerikan. Dari hal yang dibicarakan, subtext yang terdapat di dalamnya, bentuk garapannya, proses garapannya memang mengerikan. Kenapa mengerikan? Garapan dari Teater Kalangan tidak sekedar garapan. Beberapa garapan mengambil isu-isu yang terkait saat itu, baik isu yang mendalam sampai isu yang sudah lama.

Pernah kami menggarap suatu pementasan “Buah Tangan Dari Utara” yang menurutku, ini merupakan garapan yang mengerikan. Proses garapannya pun tidak main-main. Dimulai dari mencari informasi tentang masalah isu-isu terkait, riset, dan wawancara. Setelah informasi didapatkan, akhirnya kami melakukan diskusi tentang permasalahan tersebut.

Seperti biasa, sebelum memulai latihan, proses latihan selalu diawali dengan merusak mental dan fisik pemain. Bukan hanya pemain, para crew artistic, music juga digodok mental dan fisiknya. Gimana tidak digodok, ketika kalian tidak bisa mengikuti lari kami, yaudah kami tinggal. Simple, Bukan? Heehe.. Secara tidak langsung pemain dan crew harus mengimbangi hal tersebut. Sulit? Ya, sulitlah.. Tapi ini bisa dibilang proses mendewasakan diri. Secara kasarnya, “Ketika terbiasa tidur di jalan dan tempat tempat kumuh, dan ketika disuguhi oleh tempat yang mewah, kita jadi terbiasa”.

Proses Diskusi

Diskusi kami bisa dibilang sangat intim dan hangat. Mungkin itu cara anggota Teater Kalangan mempererat kami. Atau ini caranya mencari informasi lebih dalam lagi tentang diri kami masing-masing? Entahlah. Setiap diskusi yang kami lakukan bukan hanya membahas diskusi tentang dunia perteateran. Diskusi tentang music, tarian, tulisan, pementasan, sampai stage desainer-pun kami diskusikan.

Hal yang menjadi menarik saat diskusi adalah kita menjadi tau. Ternyata cocoknya di sini nok! Menjadi lebih fokus mendalami bidang-bidang yang harus kita dalami. Diskusi yang kuingat awal-awal yaitu ketika kita sedang mendiskusikan pementasan dari kawan-kawan Sadewa Theater. Biasanya sebelum diskusi dimulai kami berbondong-bondong menonton pementasan tersebut. Tidak lupa kami merekamnya, kemudian memutar rekaman itu kembali, menontonnya, dan akhirnya mendiskusikannya.

Diskusi ini bukan hanya sekedar diskusi. Habis diskusi selesai, terdapat tulisan mengenai pementasan yang kami diskusikan dan pastinya dimuat di social media. Ini menjadi menarik bukan hanya menambah pengetahuan tentang hal yang kurang di pementasan tersebut, tetapi mungkin juga akan membuat geram kawan-kawan yang menganggapnya sebagai kritikan. Mungkin saja. Tapi, yaaa.. Kami harus melakukannya. Supaya tulisan tentang teater terus berkembang.  Masak nulis teater patuhange cara berita HUT sekolah?

Proses Jalan-Jalan

Kenapa jalan-jalan? Iya, kita selalu jalan-jalan kesana kemari hanya sekedar untuk menonton sebuah pementasan ketika kami tidak sangat sibuk. Ke Ubud, Gianyar, Bangli, Singaraja, Negara. Kami bela-belain ke sana hanya untuk nonton sebuah pementasan. Gak penting banget.

Selain bensin habis, tenaga juga habis di jalan. Pantat sakit duduk terus. Daripada gitu, kan mending tidur di.rumah. Hehe.. Tapi menurutku, kesakitan itu bisa terobati oleh sebuah pementasan yang kami kunjungi. Kita dapat mengetahui teknik pementasan yang baru, yang unik, yang bisa kita adaptasi untuk pementasan berikutnya. Menarik bukan? Kita dapat mencuri ilmu.

Mungkin itu sekiranya catatan dariku yang masih menempel di ingatan. Jika ada yang kurang atau berlebihan, gak enak buat dibaca, atau apalah.. Ya udah… maafinlahh… gak usah diperpanjang lagi… Salam hangat buat kalian semua, khususnya buat cewek-cewek.  Mungkin aja, kita bisa berproses bareng, kenalan, mengetahui satu sama lain lebih jauh. Siapa tahu aja kita bisa jadi jodoh. Hehee… (T)

Tags: Kreativitasproses kreatifTeaterTeater Kalangan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Napoleon, Lady Diana, dan Ahok

Next Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Komang Tress

Komang Tress

Namanya Tress. Panggilannya I Komang Widhi Trisnayasa. Ketua Teater Orok periode 2016-2017. Sejak 2017 aktif di Teater Kalangan sebagai set desaigner, penata artistik dan actor. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Lansekap Unud ini punya tertarik pada desain, stage desainer, musik, game, dan cewek (semok).

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co