4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Panjang Menuju Ada

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Esai

SEJATINYA, amat bingung saya pribadi menulis perihal resolusi tahun 2018. Sebagaimana anak teater zaman now, ke-now-an ini kami sepakati untuk membuat catatan awal tahun Teater Kalangan. Atas produksi yang sudah berlangsung selama kurang lebih satu setengah tahun ini, tentu semuanya tak bisa menempel begitu saja sebagai buah pikiran. Akan sangat terbata kiranya jika ingin menjelaskan proses dan capaian yang diperoleh. Keberjarakan atas itu semua, saya rasa sangat diperlukan untuk membuat pandangan terhadap proses dan capaian yang kami lakukan menjadi lebih objektif. Jika demikian adanya, perlukah lagi untuk menuliskannya?

Kalau boleh memilih, hal-hal tersebut lebih enak untuk diendapkan, dilupakan sampai kami benar-benar merasa tak pernah melakukannya. Hingga tiba suatu hari ada kenangan yang terciprat keluar. Di saat itulah! Kami akan bicara, diskusikan dan kritisi demikian rupa. Maka, apa saja yang terasa lekat hari ini, akan dicatat sebagai pemantik untuk menyongsong kenangan bersama tahun-tahun yang kelak, mungkin akan kami lupakan.

Saya awali tulisan ini dengan memperkenalkan nama-nama yang tanpanya, Kalangan tak mungkin bisa disebut sebagai sebuah kelompok teater. Adalah Gede Gita Wiastra dan Iin Valentine, dua orang yang selalu siaga untuk menggenapi segala kekurangan pentas. Mereka bisa jadi apa saja. Penulis, aktor, pimpinan produksi, penata musik, setting, properti, kostum dan sebagainya. Merekalah yang menjadi poros utama pelaksana pertunjukan sebenarnya. Saya pribadi tak akan bisa membayangkan, bagaimana proses produksi tanpa kehadiran dua kawan kami ini.

Di samping mereka adalah Tress. Anak muda harapan Bangli yang berperawakan kecil, kurus, namun punya tenaga sebesar gajah. Bisa dibayangkan, saat mata semua anggota sudah ngelenteng, won, kepingin istirahat, mahasiswa jurusan arsitektur lansekap ini masih juga prima naik turun, meloncat kesana kemari tak kenal lelah untuk mengurusi set, dekorasi dan properti pentas yang belum rampung dikerjakan.

Ada pula beberapa kawan belakang panggung seperti Putu Deoris, pemuda tampan nan ramah pada segala makhluk ciptaan Tuhan. Di tengah kesibukkannya, ia merelakan diri untuk ngayah mendesain poster Kalangan dengan suka cita. Juga Manik Sukadana, pemuda pendiam dan malu-malu kucing yang kami genjot dalam hal pembuatan video teaser dan mapping pentas. Untuk Nindya Nabillah, Wisnu Negara, Anang Duta, dan Yogi Periawan, terima kasih setulus hati atas karyanya yang beberapa kali kami gunakan mengisi komposisi musik pementasan.

Pada deretan depan panggung, adalah Julio Saputra, Anggara Surya, Novy Rainy, Reni Layon, dan De Ogi sebagai aktor. Pun Candra Tantri, Jacko, dan Desi Nurani yang merangkap sebagai penata gerak. Tak lupa kepada Agus Wiratama, pemuda romantis melankolis yang bercita-cita jadi cerpenis dan Wulan Dewi Saraswati dengan kumpulan puisinya “Seribu Pagi, Secangkir Cinta”, yang senantiasa membagi waktu kuliah dan kerjanya untuk mendukung pentas.

Terakhir, adalah Santiasa Putu Putra. Pengusaha ayam betutu yang kerap jadi penulis, sutradara, aktor, atau pimpinan produksi dengan ide-ide liarnya. Membuat Kalangan yang dulunya pentas di situ-situ saja menjadi lebih dinamis dan produktif. Bagi saya, ia adalah dinamo yang lahap bergerak memanajemen Kalangan hingga sampai pada batas ruang dan tempat yang belum pernah terpikirkan untuk kami kunjungi sebelumnya.

Tulisan ini adalah persembahan saya pada kawan-kawan di atas yang jarang disebut namanya usai pertunjukan, namun tetap optimis dengan perjalanan Kalangan. Saya pribadi juga agak terganggu ketika sebuah kelompok hanya mengenal-diperkenalkan sutradara atau salah satu yang dianggap tokohnya saja. Bukankah kehadiran anggota semestinya tak kalah penting adanya? Begitu pula dengan nama kawan-kawan kami ini. Mereka adalah kawan-kawan senasib sepenanggungan yang berjuang dengan caranya masing-masing untuk keber-ada-an Teater Kalangan.

 

Menjadi Kolektif

Kalangan sebagai sebuah kelompok teater bukanlah milik individu dengan kepentingan dan idealisme pribadi seorang. Anggota awalnya yang kebanyakan berasal dari komunitas teater di Singaraja seperti Komunitas Mahima, Teater Kampung Seni Banyuning, UKM Teater Kampus Seribu Jendela, Komunitas Cemara Angin, Teater Ilalang SMA Lab Undiksha Singaraja, dan Teater Galang Kangin SMA N 4 Singaraja, kini telah berkembang bahkan lebih banyak disinggahi oleh kawan-kawan Denpasar seperti Komunitas Sahaja, Teater Orok, Teater 108, Kini Berseri, Teater Angin SMA N 1 Denpasar, dan Teater Kangin Kauh SMK N 4 Denpasar.

Kami katakan singgah, sebab sampai saat ini pada setiap produksi, kami masih ‘meminjam’ kawan-kawan dari kelompok teater lain, entah karena keinginan mereka sendiri atau ajakan kami pribadi. Oleh karena itu, kami serahkan sepenuhnya hak menggunakan tanda pengenal Kalangan pada kawan-kawan. Hal ini juga menjadi salah satu PR yang harus segera diselesaikan, entah kemudian meneguhkan anggota sendiri, atau mendefinisikan ulang tentang konsep keanggotaan Kalangan.

Adapun proses kreatif kami dipengaruhi oleh pembacaan atas teater lain seperti Kalanari Theatre Movement, Creamer Box, Bengkel Mime Theatre, Teater Satu Lampung, Main Teater Bandung, Kelompok Teater Kami, Teater Garasi, dan Papermoon Puppet Theatre. Kawan-kawan di atas sempat berkunjung ke Bali meluangkan waktu untuk bercakap dan memotivasi kami yang papa ini. Sementara teater-teater lainnya nyempil di kepala saat diskusi, membaca buku, search google atau youtube-an.

Kami juga tak menampik silahturahmi yang terjadi dengan kawan-kawan di Cata Odata, Taman Baca Kesiman, Bentara Budaya Bali,  Littletalks Ubud, Bale Bengong, LBH Bali, Cushcush Gallery, Tatkala.co, Bali Sastra Komala, Komunitas Kertas Budaya, Ruang Singgah, Kelompok Sekali Pentas, Sanggar Siap Selem, Jatijagat Kampung Puisi, Sanggar Purbacaraka, Komunitas Senja, Komunitas Puntung Rokok dan lain sebagainya. Semuanya itu telah membawa pengaruh tersendiri bagi proses berkesenian kami di Teater Kalangan. Dari hal tersebut, bagian manakah yang sejatinya paling bisa mewakili keber-ada-an kami?

Akan sangat durhaka kiranya jika meniadakan kawan-kawan yang menginspirasi dan memotivasi sampai saat ini. Pun akan ada yang mengganjal jika mengamini semua sebagai bayang-bayang yang mendikte seluruh gerak keber-ada-an kami. Sebab, selain saling taut-bertauan, semua hal tersebut sekaligus juga saling tentang-bertentangan. Oleh sebab itu, kami meyakini, bukanlah di mana diri berasal yang menjadikan Kalangan ada, melainkan pertemuan!

Kalangan dalam pemahaman kami bukan hanya hadir sebagai sebuah tempat. Meski banyak yang menghubungkannya dengan konsep pementasan kami yang cenderung bermain dalam panggung nonkonvensional, kami tak menampiknya, pun tak juga menyetujuinya. Kami persilakan penonton memaknai interaksi antara ruang, tempat, waktu, peristiwa, aktor dan artistik pentas sebagai teks-teks yang berserakan, yang kemudian dipertemukan. Sebagaimana kami bertemu dengan kawan-kawan, sebagaimana kawan-kawan menemukan pentas kami.  Pertemuan; entah dari mana datangnya, bagaimana terjadinya, dan sampai mana ia mengiringi perjalanan adalah yang membuat kami, paling tidak merasa ada sebagai sebuah kelompok sekaligus individu yang tak mampu lepas dari usaha memaknai kehidupan.

 

Banjar Imajinatif

Sampai saat tulisan ini dibuat, kami memaknai teater sebagai ruang pertemuan bagi orang-orang yang takut akan kesepian. Kami sendiri adalah salah satu diantaranya. Begitu cepatnya realitas bergerak. Saking cepatnya bahkan imajinasi sudah tak sanggup lagi mengejarnya. Apalagi dengan diri yang fana ini. Tak cukup bagi kami hanya lari menguber zaman sendirian. Layaknya superhero single fighter dengan logo atau nama terpampang besar di dada, berikrar pada semua bahwa ialah penyelamat dunia. Sendirian! Sungguh, betapa sepinya hidup seperti itu!

Melihat realitas yang hadir demikianlah, pada akhirnya kami “dipaksa” memandang kembali bagaimana kehidupan dan pertumbuhan pribadi yang sejatinya tak bisa lepas dari lingkungan budaya Bali sebagai pembentuk karakter tubuh dan pikiran. Konsep banjar dalam hal ini menjadi titik perhatian kami. Bagaimana awalnya banjar berkembang? Bagaimana banjar mampu menginisiasi keber-ada-an masyarakatnya? Sampai sejauh mana banjar mampu ajeg untuk menantang zaman? Pertanyaan-pertanyaan ini, kami adapatasi kemudian dalam diri Kalangan. Sejauh mana tubuh dan pikiran kami yang berada pada sesilangan zaman antara tradisi dan modern bahkan budaya posmo, mampu memaknai dan meresponnya.

Banjar bagi kami adalah cermin sikap kolektif masyarakat sekaligus ruang untuk menempa dan menata diri sebagai individu merdeka. Orang-orang zaman dulu yang tak cukup mengisi diri dengan pergi ke sawah, membangun rumah, menimang anak cucu, menjadikan banjar sebagai tempat nongkrong, berkumpul dan berproses. Menariknya, segala bentuk ritual, upacara adat dan agama tak hanya habis dirayakan bersama di Bale Banjar, melainkan dibawa pulang ke rumah diri masing-masin. Walhasil, pilihan bentuk, metode, dan penyikapan Teater Kalangan kami jalankan dengan pola serupa. Kalangan adalah gerakan kolektif anggotanya. Tak ada lagi sutradara ataupun tokoh tunggal. Semua layak dicatat. Semua dapat tempat. Semua boleh jadi apa saja. Pun jika tak ingin jadi apa saja, bahkan jika tak berteater sekalipun!

Perihal territorial? Itu tak jadi soal. Namanya juga “banjar imajinatif”. Persoalan fisik, seperti letak banjar, administrasi dan sebagainya itu urusan nomor dua. Yang terpenting adalah kesadaran kami untuk memaknai teater sebagai medium buat meneguhkan cita-cita. Entah dimana, kapan, dan bagaimana itu terjadinya, tak masalah. Keinginan-keinginan pribadi, entah apapun bentuknya diinisiasi sebisa mungkin. Ia boleh tinggal terus bersama kami. Pun tak pernah ada niat buat mengekang jika ingin meninggalkannya. Yang jelas, kami tak ingin menjadikan Teater Kalangan sebagai tujuan. Melainkan sebagai sebab yang membuat kawan-kawan kami mencapai impian dan keinginannya.

Jalan Panjang

Barangkali, bagi kawan-kawan tulisan ini tentu begitu naif. Memang. Saya secara pribadi sengaja menuliskan kenaifan ini untuk mereka yang apatis dan senantiasa menginterpretasi semaunya sendiri atas segala pembacaan, pernyataan dan pertanyaannya terhadap kami. Sebab teater Bali hari ini cenderung begitu pesimis. Ia berada pada jelajah ruang yang senantiasa terdistorsi dimana semua saling baur, sekaligus saling pukul tanpa adanya pretensi untuk mengukur, mengevaluasi, atau paling tidak mengkategorikan secara objektif apa dan bagaimana teater masing-masing. Kita sudah terlampau sibuk untuk membaca teater lain sampai lupa bagaimana rupa teater sendiri. Tulisan ini, di sisi lain untuk menjaga kesadaran akan sikap teater kami hari ini. Entah akan terjebak sebagai pembenaran, pembelaan, atau gembar-gembor, tentu waktulah yang kelak akan membuktikannya.

Kami sadar, jalan teater begitu panjang, terjal terbentang. Meski ingin teguh meniatkan semua anggota untuk ‘menjadi’ apa yang diinginkan masing-masing, serta begitu indah dan berbunga-bunga usaha buat mendefinisikan Teater Kalangan, ada berbagai persoalan yang akan, sedang, atau malah sudah mengintai diam-diam. Masalah umur yang belum genap dewasa, kepentingan, idealisme, masalah pribadi masing-masing, dan sebagainya, mau tak mau, siap tak siap mesti kami hadapi. Begitu pula jika sewaktu-waktu ada kawan-kawan yang pergi, membuat Kalangan jadi vakum, bahkan bubar-membukarkan diri, misalnya. Setidaknya, dalam kebingungan tersebut, kami siap memaknainya sebagai sebuah saat, dimana pertemuan Kalangan sudah waktunya dirayakan dengan cara yang berbeda.

Maka, agar tak makin dalam terjebak menjadi curhatan melankolis atau mimpi anak-anak siang bolong, saya sudahi saja catatan ini dengan menghaturkan terima kasih pada berbagai pihak yang mendukung Teater Kalangan selama satu setengah tahun ini. Mohon maaf atas segala kekurangan kami. Tahun 2018 adalah tahun panjang bagi Kalangan. Tentunya tahun ini takkan punya arti tanpa kehadiran kawan-kawan. Dengan segala kerendahan hati, kami mohon bimbingan dan dukungan kawan sekalian. Akhir kata kami ucapkan, Selamat tahun baru! Selamat menyaksikan produksi Kalangan selanjutnya! (T)

Singaraja, 2018

Tags: tahun baruTeaterTeater Kalangan
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Prejengane Kutho Suroboyo: Cintailah Tradisi Surabaya

Next Post

Umbu Landu Paranggi, Reuni Puitik, Institusi Sunyi, dan Pendidikan Berjiwa

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post

Umbu Landu Paranggi, Reuni Puitik, Institusi Sunyi, dan Pendidikan Berjiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co