2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi, Reuni Puitik, Institusi Sunyi, dan Pendidikan Berjiwa

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Esai

MALAM itu, 22 Desember 2017, melewati titik nol Kota Denpasar – patung Catur Muka – aneka kenangan masa lalu mulai menjalar di sekujur waktu tua saya. Meski lirih, masih saya dengar langkah-langkah kultural yang terjalin oleh perjalanan matahari. Saya tak mampu menghitung gerak edar rembulan di garis waktu. Tapi saya mampu meng-‘eja’-nya, di bilik jiwa. Beberapa langkah dari sana adalah Pura Jaganatha, yang menyimpan kenangan masa, berlaksa-laksa purnama.

Gerimis memperdingin malam, saya mulai menaiki tangga di aula gedung serba guna Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Denpasar. Tertoreh di sana, kenangan yang sangat dalam, sedalam lautan tak bernama. Kenangan terdekat, ketika putrid saya studi di sekolah favorit ini, dan dibina oleh pak guru GM Sukawidana yang acap mendapat penghargaan guru favorit pula. Secara khusus, saya hadiri beberapa kali acara sastra di aula kenangan ini. Hal itu, untuk memberikan sebuah sikap (menghargai) pada putrid saya.

Saya menghargainya, karena ia mau berapresiasi pada seni susastra. Yang bagi saya, pendidikan susastra adalah landasan pendidikan humanistik. Dan diam-diam, betapa bangganya saya ketika selama 3 tahun dia menjadi pianis di sekolah ini setiap upacara bendera. Meski saat itu kemampuannya bermain piano masih standar. Dengan diam-diam pula, saya pernah mengintip catatannya ketika menginjak kelas 2 SMP. Ia menuliskan, I study art not because i want to be an artist, but because Iam a part of human being.

Kuote ini, kelak ia pergunakan sebagai text line pada konser amal yang bertajuk  “Loved for Our Beloved Teacher” pada tahun 2013. Konser yang digagasnya bersama teman-teman SD-nya ini merupakan penggalian dana untuk guru SD-nya ibu Peria Renta Silitonga yang menderita penyakit lupus dan gagal ginjal. Sayang, setahun kemudian ibu guru tercintanya mesti berpulang. Sebelumnya, sekelompok anak-anak ini juga menggelar konser musik ‘Mind Concert’ untuk membantu sekolah teman-teman mereka di nun, yang rubuh akibat gempa bumi di Padang.

Kenangan saya buyar, ketika bersua ‘Rsi Puisi’ Umbu Landu Paranggi yang duduk di sudut aula. Saya rindu berbincang panjang dengannya. Tapi situasi jasmani menghambatnya. Saya hanya kuatir tak bisa membatasi waktu berbincang dengannya. Kelak, ingin saya atur waktu yang tepat melepas rindu pada Umbu. Agar kerinduan sirna di perbincangan bermakna. Mengenang kembali format pendidikan informal yang diciptakanya, yang mengandung makna kedalaman pertumbuhan jiwa-jiwa, yang diwakili para penampil, dan hadirin malam itu. Meski banyak nama-nama yang tak saya kenal — tapi amat jelas terbaca — ada yang bermakna di dalam jiwa mereka.

Monologia dan Musikalisasi di SMPN 1 Denpasar malam itu, tidak hanya unjuk ketrampilan monolog 3 dokter, Sahadewa, Ary Duarsa, Eka Kusmawan dan musikalisasi penyair Tan Lioe Ie. Atau penampilan anak-anak SMPN 1, pembacaan puisi dokter Shintya Setiawan, dan teman-teman penyair lainnya. Lebih dari itu. Menurut saya, perhelatan malam itu adalah reuni puitik, dan unjuk pembuktian tentang pendidikan yang berjiwa. Entah, apakah saya sedang terlena oleh kenangan dan anganan ke-lalu-an, yang jelas saya ingin membiarkan pikiran ini mengembara semau-maunya.

Kenangan saya yang mengembara ini, tidaklah menelisik soal kehidupan sosial, atawa pencapaian prestasi kehidupan, juga bukan soal kehebatan ke-impresario-an Putu Satria Kusuma yang begitu tekun menggelar 100 monolog Putu Wijaya. Melainkan soal jiwa yang tertempa lewat pendidikan awal yang bernama seni susastra.

Saya tidak sedang melakukan riset kualitatif maupun kuantitatif, tentang hasil pendidikan informal — dari rubrik Pos Remaja, Pos Budaya di Harian Umum Bali Post yang diasuh Umbu Landu Paranggi, Sanggar Cipta Budaya, Teater Angin, Teater Hippocrates, Sanggar Minum Kopi, Teater Kebun Bayam, Teater Purbacaraka, dan lain-lain (yang saya sebut dalam imaji sebagai institusi sunyi). Melainkan, saya sedang membaca suatu hasil dari gerakan dan sikap kultural, buah hasil institusi sunyi, yang sudah berjalan panjang.

Saya tak hendak mengkaji pementasan monolog ketiga dokter yang luar biasa itu, karena saya datang terlambat. Hanya penampilan dokter Eka Kusmawan yang sempat saya nikmati secara utuh. Eka, memang aktor yang baik sejak dulu. Pembacaan sajak oleh dokter Sahadewa, juga masih membuktikan bahwa beliau pernah menjadi pembaca puisi terbaik se-Bali beberapa puluh tahun yang lalu. Ketika Sahadewa masih menjadi siswa SMAN 1 Denpasar.

Sayang, saya hanya sepenggal menikmati pementasan dokter Ary Duarsa, sehingga saya tak berani komentar pada pementasan dokter yang mantan pengajar teater pada sebuah sekolah swasta, di bilangan jalan Kartini-Denpasar ini. Repertoar Tan Lioe Ie, juga menyuguhkan ‘puisi yang bernyayi’ secara luar biasa. Saya tak mempedulikan apakah Lioe Ie sedang mengetengahkan genre musik pop, klasik, RnB, jazz, blues, hiphop, atau jenis yang lain. Yang jelas, ia mampu menyajikan secara musikal tentang makna harmoni pada setiap puisi yang dinyanyikannya.

Suasana malam itu, seperti sebuah reuni yang puitik beberapa institusi sunyi. Saya jadi ingat sekitar 30 tahun yang lalu, ditempat yang sama, namun ketika itu aula masih berada di lantai 1, guru sastra berambut gondrong yang bernama GM Sukawidana menggelar apresiasi sastra. Kegiatan itu dilaksanakan pada hari minggu, saat kegiatan sekolah libur. Sekolah ini juga pernah membuat sejarah, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan merekomendasi terbitnya antologi puisi beberapa muridnya. ‘Rindu Anak Mendulang Kasih’, begitu tajuk antologi puisi yang diterbitkan oleh penerbit bersejarah di tanah air, Balai Pustaka.

Berkumpulnya beberapa pribadi dengan berbagai latar belakang yang berbeda malam itu, adalah suatu kelanjutan gerakan/strategi kebudayaan yang terhimpun dari muara yang sama, institusi sunyi. Lantas apa yang menjadi kesamaan gerakan kebudayaan dari institusi sunyi tersebut ? yang menjadi kesamaan adalah ‘pendidikan yang berjiwa’ dari seni sastra. Pendidikan humanistik yang didapat dari susastra, telah menumbuhkan pribadi dan sikap kultural yang beragam.

Maka yang berkumpul malam itu tidaklah semua sastrawan, ada dokter, penulis, pegawai negeri, pekerja laboraturium kesehatan, dosen, fotografer, guru, penggiat LSM, petani, redaktur. Satu sama lain, mampu saling mengaktualisasikan potensi masing-masing sebagai pribadi/individu yang utuh. Dan, hikmah yang bisa saya petik malam itu, bahwa seni menjadi sarana tiap individu mengenyam pendidikan humanistik dan ber-kebudaya-an. Lalu, ingatan pada kuote anakku menggugah lamunanku akan perjalanan kenangan masa lalu yang indah itu ; I study art not because i want to be an artist, but because Iam a part of human being. (T)

Tags: baliMonologPendidikansastraUmbu Landu Paranggi
Share298TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Panjang Menuju Ada

Next Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co