23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi, Reuni Puitik, Institusi Sunyi, dan Pendidikan Berjiwa

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Esai

MALAM itu, 22 Desember 2017, melewati titik nol Kota Denpasar – patung Catur Muka – aneka kenangan masa lalu mulai menjalar di sekujur waktu tua saya. Meski lirih, masih saya dengar langkah-langkah kultural yang terjalin oleh perjalanan matahari. Saya tak mampu menghitung gerak edar rembulan di garis waktu. Tapi saya mampu meng-‘eja’-nya, di bilik jiwa. Beberapa langkah dari sana adalah Pura Jaganatha, yang menyimpan kenangan masa, berlaksa-laksa purnama.

Gerimis memperdingin malam, saya mulai menaiki tangga di aula gedung serba guna Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Denpasar. Tertoreh di sana, kenangan yang sangat dalam, sedalam lautan tak bernama. Kenangan terdekat, ketika putrid saya studi di sekolah favorit ini, dan dibina oleh pak guru GM Sukawidana yang acap mendapat penghargaan guru favorit pula. Secara khusus, saya hadiri beberapa kali acara sastra di aula kenangan ini. Hal itu, untuk memberikan sebuah sikap (menghargai) pada putrid saya.

Saya menghargainya, karena ia mau berapresiasi pada seni susastra. Yang bagi saya, pendidikan susastra adalah landasan pendidikan humanistik. Dan diam-diam, betapa bangganya saya ketika selama 3 tahun dia menjadi pianis di sekolah ini setiap upacara bendera. Meski saat itu kemampuannya bermain piano masih standar. Dengan diam-diam pula, saya pernah mengintip catatannya ketika menginjak kelas 2 SMP. Ia menuliskan, I study art not because i want to be an artist, but because Iam a part of human being.

Kuote ini, kelak ia pergunakan sebagai text line pada konser amal yang bertajuk  “Loved for Our Beloved Teacher” pada tahun 2013. Konser yang digagasnya bersama teman-teman SD-nya ini merupakan penggalian dana untuk guru SD-nya ibu Peria Renta Silitonga yang menderita penyakit lupus dan gagal ginjal. Sayang, setahun kemudian ibu guru tercintanya mesti berpulang. Sebelumnya, sekelompok anak-anak ini juga menggelar konser musik ‘Mind Concert’ untuk membantu sekolah teman-teman mereka di nun, yang rubuh akibat gempa bumi di Padang.

Kenangan saya buyar, ketika bersua ‘Rsi Puisi’ Umbu Landu Paranggi yang duduk di sudut aula. Saya rindu berbincang panjang dengannya. Tapi situasi jasmani menghambatnya. Saya hanya kuatir tak bisa membatasi waktu berbincang dengannya. Kelak, ingin saya atur waktu yang tepat melepas rindu pada Umbu. Agar kerinduan sirna di perbincangan bermakna. Mengenang kembali format pendidikan informal yang diciptakanya, yang mengandung makna kedalaman pertumbuhan jiwa-jiwa, yang diwakili para penampil, dan hadirin malam itu. Meski banyak nama-nama yang tak saya kenal — tapi amat jelas terbaca — ada yang bermakna di dalam jiwa mereka.

Monologia dan Musikalisasi di SMPN 1 Denpasar malam itu, tidak hanya unjuk ketrampilan monolog 3 dokter, Sahadewa, Ary Duarsa, Eka Kusmawan dan musikalisasi penyair Tan Lioe Ie. Atau penampilan anak-anak SMPN 1, pembacaan puisi dokter Shintya Setiawan, dan teman-teman penyair lainnya. Lebih dari itu. Menurut saya, perhelatan malam itu adalah reuni puitik, dan unjuk pembuktian tentang pendidikan yang berjiwa. Entah, apakah saya sedang terlena oleh kenangan dan anganan ke-lalu-an, yang jelas saya ingin membiarkan pikiran ini mengembara semau-maunya.

Kenangan saya yang mengembara ini, tidaklah menelisik soal kehidupan sosial, atawa pencapaian prestasi kehidupan, juga bukan soal kehebatan ke-impresario-an Putu Satria Kusuma yang begitu tekun menggelar 100 monolog Putu Wijaya. Melainkan soal jiwa yang tertempa lewat pendidikan awal yang bernama seni susastra.

Saya tidak sedang melakukan riset kualitatif maupun kuantitatif, tentang hasil pendidikan informal — dari rubrik Pos Remaja, Pos Budaya di Harian Umum Bali Post yang diasuh Umbu Landu Paranggi, Sanggar Cipta Budaya, Teater Angin, Teater Hippocrates, Sanggar Minum Kopi, Teater Kebun Bayam, Teater Purbacaraka, dan lain-lain (yang saya sebut dalam imaji sebagai institusi sunyi). Melainkan, saya sedang membaca suatu hasil dari gerakan dan sikap kultural, buah hasil institusi sunyi, yang sudah berjalan panjang.

Saya tak hendak mengkaji pementasan monolog ketiga dokter yang luar biasa itu, karena saya datang terlambat. Hanya penampilan dokter Eka Kusmawan yang sempat saya nikmati secara utuh. Eka, memang aktor yang baik sejak dulu. Pembacaan sajak oleh dokter Sahadewa, juga masih membuktikan bahwa beliau pernah menjadi pembaca puisi terbaik se-Bali beberapa puluh tahun yang lalu. Ketika Sahadewa masih menjadi siswa SMAN 1 Denpasar.

Sayang, saya hanya sepenggal menikmati pementasan dokter Ary Duarsa, sehingga saya tak berani komentar pada pementasan dokter yang mantan pengajar teater pada sebuah sekolah swasta, di bilangan jalan Kartini-Denpasar ini. Repertoar Tan Lioe Ie, juga menyuguhkan ‘puisi yang bernyayi’ secara luar biasa. Saya tak mempedulikan apakah Lioe Ie sedang mengetengahkan genre musik pop, klasik, RnB, jazz, blues, hiphop, atau jenis yang lain. Yang jelas, ia mampu menyajikan secara musikal tentang makna harmoni pada setiap puisi yang dinyanyikannya.

Suasana malam itu, seperti sebuah reuni yang puitik beberapa institusi sunyi. Saya jadi ingat sekitar 30 tahun yang lalu, ditempat yang sama, namun ketika itu aula masih berada di lantai 1, guru sastra berambut gondrong yang bernama GM Sukawidana menggelar apresiasi sastra. Kegiatan itu dilaksanakan pada hari minggu, saat kegiatan sekolah libur. Sekolah ini juga pernah membuat sejarah, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan merekomendasi terbitnya antologi puisi beberapa muridnya. ‘Rindu Anak Mendulang Kasih’, begitu tajuk antologi puisi yang diterbitkan oleh penerbit bersejarah di tanah air, Balai Pustaka.

Berkumpulnya beberapa pribadi dengan berbagai latar belakang yang berbeda malam itu, adalah suatu kelanjutan gerakan/strategi kebudayaan yang terhimpun dari muara yang sama, institusi sunyi. Lantas apa yang menjadi kesamaan gerakan kebudayaan dari institusi sunyi tersebut ? yang menjadi kesamaan adalah ‘pendidikan yang berjiwa’ dari seni sastra. Pendidikan humanistik yang didapat dari susastra, telah menumbuhkan pribadi dan sikap kultural yang beragam.

Maka yang berkumpul malam itu tidaklah semua sastrawan, ada dokter, penulis, pegawai negeri, pekerja laboraturium kesehatan, dosen, fotografer, guru, penggiat LSM, petani, redaktur. Satu sama lain, mampu saling mengaktualisasikan potensi masing-masing sebagai pribadi/individu yang utuh. Dan, hikmah yang bisa saya petik malam itu, bahwa seni menjadi sarana tiap individu mengenyam pendidikan humanistik dan ber-kebudaya-an. Lalu, ingatan pada kuote anakku menggugah lamunanku akan perjalanan kenangan masa lalu yang indah itu ; I study art not because i want to be an artist, but because Iam a part of human being. (T)

Tags: baliMonologPendidikansastraUmbu Landu Paranggi
Share298TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Panjang Menuju Ada

Next Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co