23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi, Reuni Puitik, Institusi Sunyi, dan Pendidikan Berjiwa

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Esai

MALAM itu, 22 Desember 2017, melewati titik nol Kota Denpasar – patung Catur Muka – aneka kenangan masa lalu mulai menjalar di sekujur waktu tua saya. Meski lirih, masih saya dengar langkah-langkah kultural yang terjalin oleh perjalanan matahari. Saya tak mampu menghitung gerak edar rembulan di garis waktu. Tapi saya mampu meng-‘eja’-nya, di bilik jiwa. Beberapa langkah dari sana adalah Pura Jaganatha, yang menyimpan kenangan masa, berlaksa-laksa purnama.

Gerimis memperdingin malam, saya mulai menaiki tangga di aula gedung serba guna Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Denpasar. Tertoreh di sana, kenangan yang sangat dalam, sedalam lautan tak bernama. Kenangan terdekat, ketika putrid saya studi di sekolah favorit ini, dan dibina oleh pak guru GM Sukawidana yang acap mendapat penghargaan guru favorit pula. Secara khusus, saya hadiri beberapa kali acara sastra di aula kenangan ini. Hal itu, untuk memberikan sebuah sikap (menghargai) pada putrid saya.

Saya menghargainya, karena ia mau berapresiasi pada seni susastra. Yang bagi saya, pendidikan susastra adalah landasan pendidikan humanistik. Dan diam-diam, betapa bangganya saya ketika selama 3 tahun dia menjadi pianis di sekolah ini setiap upacara bendera. Meski saat itu kemampuannya bermain piano masih standar. Dengan diam-diam pula, saya pernah mengintip catatannya ketika menginjak kelas 2 SMP. Ia menuliskan, I study art not because i want to be an artist, but because Iam a part of human being.

Kuote ini, kelak ia pergunakan sebagai text line pada konser amal yang bertajuk  “Loved for Our Beloved Teacher” pada tahun 2013. Konser yang digagasnya bersama teman-teman SD-nya ini merupakan penggalian dana untuk guru SD-nya ibu Peria Renta Silitonga yang menderita penyakit lupus dan gagal ginjal. Sayang, setahun kemudian ibu guru tercintanya mesti berpulang. Sebelumnya, sekelompok anak-anak ini juga menggelar konser musik ‘Mind Concert’ untuk membantu sekolah teman-teman mereka di nun, yang rubuh akibat gempa bumi di Padang.

Kenangan saya buyar, ketika bersua ‘Rsi Puisi’ Umbu Landu Paranggi yang duduk di sudut aula. Saya rindu berbincang panjang dengannya. Tapi situasi jasmani menghambatnya. Saya hanya kuatir tak bisa membatasi waktu berbincang dengannya. Kelak, ingin saya atur waktu yang tepat melepas rindu pada Umbu. Agar kerinduan sirna di perbincangan bermakna. Mengenang kembali format pendidikan informal yang diciptakanya, yang mengandung makna kedalaman pertumbuhan jiwa-jiwa, yang diwakili para penampil, dan hadirin malam itu. Meski banyak nama-nama yang tak saya kenal — tapi amat jelas terbaca — ada yang bermakna di dalam jiwa mereka.

Monologia dan Musikalisasi di SMPN 1 Denpasar malam itu, tidak hanya unjuk ketrampilan monolog 3 dokter, Sahadewa, Ary Duarsa, Eka Kusmawan dan musikalisasi penyair Tan Lioe Ie. Atau penampilan anak-anak SMPN 1, pembacaan puisi dokter Shintya Setiawan, dan teman-teman penyair lainnya. Lebih dari itu. Menurut saya, perhelatan malam itu adalah reuni puitik, dan unjuk pembuktian tentang pendidikan yang berjiwa. Entah, apakah saya sedang terlena oleh kenangan dan anganan ke-lalu-an, yang jelas saya ingin membiarkan pikiran ini mengembara semau-maunya.

Kenangan saya yang mengembara ini, tidaklah menelisik soal kehidupan sosial, atawa pencapaian prestasi kehidupan, juga bukan soal kehebatan ke-impresario-an Putu Satria Kusuma yang begitu tekun menggelar 100 monolog Putu Wijaya. Melainkan soal jiwa yang tertempa lewat pendidikan awal yang bernama seni susastra.

Saya tidak sedang melakukan riset kualitatif maupun kuantitatif, tentang hasil pendidikan informal — dari rubrik Pos Remaja, Pos Budaya di Harian Umum Bali Post yang diasuh Umbu Landu Paranggi, Sanggar Cipta Budaya, Teater Angin, Teater Hippocrates, Sanggar Minum Kopi, Teater Kebun Bayam, Teater Purbacaraka, dan lain-lain (yang saya sebut dalam imaji sebagai institusi sunyi). Melainkan, saya sedang membaca suatu hasil dari gerakan dan sikap kultural, buah hasil institusi sunyi, yang sudah berjalan panjang.

Saya tak hendak mengkaji pementasan monolog ketiga dokter yang luar biasa itu, karena saya datang terlambat. Hanya penampilan dokter Eka Kusmawan yang sempat saya nikmati secara utuh. Eka, memang aktor yang baik sejak dulu. Pembacaan sajak oleh dokter Sahadewa, juga masih membuktikan bahwa beliau pernah menjadi pembaca puisi terbaik se-Bali beberapa puluh tahun yang lalu. Ketika Sahadewa masih menjadi siswa SMAN 1 Denpasar.

Sayang, saya hanya sepenggal menikmati pementasan dokter Ary Duarsa, sehingga saya tak berani komentar pada pementasan dokter yang mantan pengajar teater pada sebuah sekolah swasta, di bilangan jalan Kartini-Denpasar ini. Repertoar Tan Lioe Ie, juga menyuguhkan ‘puisi yang bernyayi’ secara luar biasa. Saya tak mempedulikan apakah Lioe Ie sedang mengetengahkan genre musik pop, klasik, RnB, jazz, blues, hiphop, atau jenis yang lain. Yang jelas, ia mampu menyajikan secara musikal tentang makna harmoni pada setiap puisi yang dinyanyikannya.

Suasana malam itu, seperti sebuah reuni yang puitik beberapa institusi sunyi. Saya jadi ingat sekitar 30 tahun yang lalu, ditempat yang sama, namun ketika itu aula masih berada di lantai 1, guru sastra berambut gondrong yang bernama GM Sukawidana menggelar apresiasi sastra. Kegiatan itu dilaksanakan pada hari minggu, saat kegiatan sekolah libur. Sekolah ini juga pernah membuat sejarah, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan merekomendasi terbitnya antologi puisi beberapa muridnya. ‘Rindu Anak Mendulang Kasih’, begitu tajuk antologi puisi yang diterbitkan oleh penerbit bersejarah di tanah air, Balai Pustaka.

Berkumpulnya beberapa pribadi dengan berbagai latar belakang yang berbeda malam itu, adalah suatu kelanjutan gerakan/strategi kebudayaan yang terhimpun dari muara yang sama, institusi sunyi. Lantas apa yang menjadi kesamaan gerakan kebudayaan dari institusi sunyi tersebut ? yang menjadi kesamaan adalah ‘pendidikan yang berjiwa’ dari seni sastra. Pendidikan humanistik yang didapat dari susastra, telah menumbuhkan pribadi dan sikap kultural yang beragam.

Maka yang berkumpul malam itu tidaklah semua sastrawan, ada dokter, penulis, pegawai negeri, pekerja laboraturium kesehatan, dosen, fotografer, guru, penggiat LSM, petani, redaktur. Satu sama lain, mampu saling mengaktualisasikan potensi masing-masing sebagai pribadi/individu yang utuh. Dan, hikmah yang bisa saya petik malam itu, bahwa seni menjadi sarana tiap individu mengenyam pendidikan humanistik dan ber-kebudaya-an. Lalu, ingatan pada kuote anakku menggugah lamunanku akan perjalanan kenangan masa lalu yang indah itu ; I study art not because i want to be an artist, but because Iam a part of human being. (T)

Tags: baliMonologPendidikansastraUmbu Landu Paranggi
Share298TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Panjang Menuju Ada

Next Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co