25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Tak Bisa Menulis Puisi tentang Ibu

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Ida Bagus Pandit Parastu

 

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh lang…..

 

Sial! Deadline pengumpulan naskah puisi tinggal dua hari lagi. Namun, sampai sekarang aku belum berhasil membuat sebait puisi pun. Hari ini tepat dua bulan sudah sejak Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk lomba membaca puisi tingkat provinsi. Sebenarnya lagi, aku sudah mendengar kabar ini bahkan sejak enam bulan yang lalu. Bahwasanya sebagai gubernur baru, Pak Gubernur ingin menumbuhkan cinta di hati rakyatnya, terutama cinta kepada ibu.

Pesertanya adalah seluruh rakyat Pak Gubernur. Siapa saja boleh ikut asalkan bisa membaca. Anak-anak, dewasa, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua boleh ikut. Pak Gubernur ingin lomba ini menjadi lomba membaca puisi terakbar di provinsi bahkan di negeri ini. Nah! Jadilah aku, sejak saat itu juga, diwanti-wanti oleh dia, eh, beliau, untuk membuat satu puisi yang akan dibaca oleh para peserta lomba membaca puisi nanti.

Sebagai salah satu penyair yang sudah dikenal di seluruh negeri, sebenarnya aku tidak heran kalau Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk dibaca oleh para peserta lomba nantinya. Aku sudah menulis sejak belia. Saat masih belasan tahun aku sudah sering ikut lomba menulis puisi dan juga sering menang. Beranjak dewasa aku mulai mengirim tulisanku ke media-media ke koran-koran.

Mereka menyukai tulisanku dan sering memuatnya. Orang-orang mulai mengenalku. Lalu aku mengumpulkan puisi-puisiku dan menjadikannya buku. Orang-orang senang membaca bukuku. Aku terus menulis dan menulis. Sampai sekarang belasan buku puisi sudah aku tulis. Buku-bukuku juga disukai oleh orang asing. Mereka menerjemahkan buku-buku puisiku ke dalam bahasa mereka. Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Korea, Rusia, Italia, Jepang, Spanyol. Begitu banyak bahasa sampai-sampai aku lupa yang lainnya.

Aku terkenal dengan puisi-puisiku yang tajam, indah, dan berkarakter. Puisi-puisiku adalah perpaduan kekuatan imajinasi, keluwesan kata, dan kedalaman pengalaman hidupku. Aku meramunya dengan hati-hati. Meracik ketiga bahan itu dengan takaran yang tepat di dalam kepalaku. Baru-baru ini aku dipuji karena puisiku tentang koruptor di negeri ini begitu tajam dan menohok. Dengan puisi itu, orang-orang menganggapku bisa mewakili perasaan mereka kepada para koruptor yang tidak tahu malu itu.

Belum lama ini juga puisiku tentang iman mendapat sambutan yang begitu hangat. Orang-orang merasa perasaan mereka terwakili lagi. Terutama orang-orang yang merasa bingung karena akhir-akhir ini melihat iman lebih sering menjadi tontonan di televisi bukannya menjadi penuntun dari dalam hati.

Nah, mungkin karena puisi-puisiku itu akhirnya aku sering diminta menjadi juri lomba membaca dan menulis puisi di hampir semua tingkatan wilayah. Dari tingkat desa sampai tingkat nasional. Aku juga sering diminta membuat puisi untuk dibaca oleh peserta lomba membaca puisi. Salah satunya ya ini. Puisi tentang ibu, permintaan dari Pak Gubernur.

Tapi, alamak! Sulit sekali membuat puisi permintaan Pak Gubernur ini. Aku bahkan sudah berusaha menulisnya sejak enam bulan yang lalu, sejak kali pertama Pak Gubernur meminta dan mewanti-wantiku untuk membuat puisi tentang ibu. Sudah kubaca berbagai puisi tentang ibu yang dibuat oleh penyair dalam negeri hingga luar negeri. Sudah kusambangi tepian danau sampai muara sungai untuk mencari inspirasi. Aku juga sudah melakukan berbagai macam riset dan eksperimen, tapi hasilnya nihil. Aku tetap tidak bisa menulis tentang ibu.

…………………………….

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai………….

“Buuuddd…. Buuddiii…. Buudddiiiiii….” suara ibuku mengagetkanku.

“Iya, Buk! Ada apa?”

“Ayo makan! Ibuk baru saja selesai memasak.”

“Ah, aku kira apa. Iya, Buk. Sebentar lagi aku makan.”

“Buuuddddd….Buuddiiii……….Buuudddiiiiii……. Buuuudddiiiii….” suara ibuku kembali mengagetkanku.

“Iya ada apa lagi, Buk?”

“Ayo makan dulu. Masakannya sudah siap.”

“Iya, Buk. Aku pasti makan. Ibuk makan saja dulu,” sahutku jengkel.

“Buuudddd….. Buuudddiiiii….. Ayo makan dulu!”

“Iya, Buk. Iya!”

Begitulah ibuku. Belum genap satu helaan napas, ibuku sudah memanggilku lagi. Ibuku akan berhenti memanggilku jika aku sudah beranjak dan melakukan apa yang ia minta. Dan ini hanya satu dari sekian kebiasaannya yang kadang membuatku kesal. Pernah dulu ibuku menjual koran-koran yang memuat puisi-puisiku kepada tukang loak di sebelah rumah. Untung saja koran-koran itu belum sempat berpindah tangan lagi.

“Lumayan, kan kalau dijual? Daripada terbuang menjadi sampah yang tidak berguna,” ibuku berkata dengan begitu santai.

“Tapi, Buk. Di dalam koran itu ada puisi-puisiku. Susah payah aku mengumpulkannya.”

“Oohhh begitu. Lah kenapa kamu tidak bilang pada ibuk? Coba kamu ambil saja ke tukang loak sebelah rumah. Siapa tahu masih ada di sana. Sekalian bawa kardus-kardus ini, ya! Hitung-hitung sebagai pengganti koran yang akan kamu ambil. Syukur-syukur dapat uang lebih.”

Ah, ibuku! Saat puisi-puisiku terancam menjadi produk daur ulang, ibuku tetap santai bahkan masih sempat memikirkan uang lebih. Jadilah aku tergopoh-gopoh pergi ke tukang loak di sebelah rumahku tentu sambil membawa kardus-kardus titipan ibuku.

Pernah juga, baru-baru ini, selama hampir sebulan ibuku memperkenalkanku pada begitu banyak perempuan. Ia memperlihatkan foto perempuan-perempuan itu kepadaku. Setiap hari. Gila! Usiaku baru 26 tahun saja ibuku sudah bingung mencarikanku calon istri. Sebagai laki-laki aku merasa masih sangat muda dan aku belum berniat menikah. Namun, ibuku begitu khawatir kalau-kalau aku terlalu sibuk dengan kertas dan koran sampai-sampai lupa menikah.

“Bud, ini Maya. Anak teman ibuk waktu SMA. Cantik, kan? Orangnya juga baik. Umurnya 24 tahun. Yaa kalau kamu mau, kalian punya cukup waktu untuk berkenalan,” seperti biasa ibuku memulai pembicaraan gila ini.

“Yang ini namanya Gina. Anak teman arisan ibuk. Rumahnya di kampung sebelah. Anaknya sangat rajin. Dia juga pintar. Umurnya…. Hhhhmmm. Ibu lupa. Tapi sebentar lagi lulus kuliah.”

“Nah kalau ini namanya Asri. Anak teman kantor Bapakmu. Yaa usianya memang lebih tua daripada kamu. Tapi, ya kalau menurut ibu tidak apa-apa. Orangnya juga mandiri dan sangat telaten. Cocoklah untukmu, Bud.”

Pembicaraan gila ini akhirnya membuatku menyerah. Aku sudah sangat bosan mendengarnya. Lalu, aku memutuskan menginap di rumah temanku selama beberapa hari untuk menyelamatkan hari-hariku dari pembicaraan ini. Tepat di hari ketiga ibuku menelepon dan menanyakan keberadaanku. Akhirnya kami membuat kesepakatan. Ibuku tidak akan membicarakan tentang perempuan-perempuan itu dan aku akan kembali ke rumah.

Begitulah. Ibuku adalah ibu yang biasa-biasa saja, seperti ibu-ibu biasa lainnya. Cerewet, kadang membuatku jengkel, dan kadang bisa membuat sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Ibuku seperti ibu-ibu pada umumnya. Tidak ada yang istimewa dari ibuku. Dan inilah yang membuatku tidak pernah bisa menulis tentang ibu. Ibuku selayaknya ibu. Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada yang wow. Ibuku melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya. Ia memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus suami dan anak-anaknya. Setelah semua urusan rumah selesai, ibuku membuka warung kelontong kami. Ibuku mengajak dua sepupuku dari kampung sebelah untuk menjaga warung itu. Supaya ada teman ngobrol ketika sedang tidak ada pembeli, kata ibuku.

Masalah hobi, ibuku senang ikut arisan seperti ibu-ibu lainnya. Aku mengetahui hal ini karena ibuku selalu memasak makanan yang lebih enak dan lebih banyak daripada biasanya setiap ia mendapat arisan. Dalam setiap bulan, setidaknya satu atau dua kali kami merasakan masakan ibu yang enak dan banyak ini.

Ibuku sangat gemar mengoleksi peralatan dapur, terutama panci. Ini aku ketahui karena rak bukuku sempat menjadi korban panci-panci itu. Karena rak di dapur kami sudah penuh dengan perabotan, ibuku menaruh panci-panci itu di rak bukuku. Titip sebentar, kata ibuku. Tidak jarang juga ibuku rela menghemat uangnya demi mendapat panci keluaran terbaru.

…………………………………..

Ibu kau bagai rembulan

Di malam ge…………………

Ah! Semua hal tentang ibuku begitu biasa. Begitu sederhana. Begitu apa adanya seorang ibu. Tidak ada yang istimewa. Lalu, bagaimana aku bisa menulis puisi tentang ibu? Puisi macam apa yang bisa aku tulis tentang ibu? Kasih sayangnya? Itu bekal dari Tuhan untuknya. Kelembutannya? Kekuatannya? Perhatiannya? Begitulah ibu seharusnya. Melahirkan dan merawat anak? Karena itulah ia bernama.

Duh! Pak Gubernur ini memang ada-ada saja. Apa yang harus aku tulis? Aku tidak bisa menulis tentang ibu.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

Di malam gelapku………

Tidak. Tidak. Puisi macam apa ini?! Aku tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku adalah ibu biasa seperti ibu-ibu lainnya.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

………………………………….

Kenapa ini? Susah sekali! Aku tetap tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Tidak ada yang istimewa dari ibuku.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

…………………………………

………………………………….

Apa yang harus aku lakukan? Tidak bisa. Aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibuku ibu yang begitu sederhana.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

……………………………………

…………………………………..

………………………………….

Ini gila! Lebih gila dari kegemaran ibuku mengoleksi panci. Aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku sebagaimana ibu. Ia begitu apa adanya seorang ibu.

Ibu, …………………………….

……………………………………

……………………………………

……………………………………

…………………………………..

Sial! Cukup sudah. Aku putuskan untuk pergi ke rumah dinas Pak Gubernur saja. Lalu, akan kukatakan bahwa aku tidak ikut menulis puisi untuk lomba membaca puisi itu. Aku tidak peduli jika Pak Gubernur marah besar kepadaku. Akan kukatakan bahwa aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Akan kukatakan bahwa aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibu adalah puisi. Ibu sudah puisi. Bagaimana mungkin aku bisa menulis tentangnya? (T)

Kemenuh, Desember 2017

untuk Ibu Kendran dan Ibu Astrini

Tags: Cerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Sabda Palon I, Kisah yang Disembunyikan, Kisah Nusantara yang Dibuka

Next Post

Angga Wijaya# Puisi: Penyair Terluka, Kenangan di Rumah Sakit Jiwa

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

Angga Wijaya# Puisi: Penyair Terluka, Kenangan di Rumah Sakit Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co