15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Tak Bisa Menulis Puisi tentang Ibu

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Ida Bagus Pandit Parastu

 

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh lang…..

 

Sial! Deadline pengumpulan naskah puisi tinggal dua hari lagi. Namun, sampai sekarang aku belum berhasil membuat sebait puisi pun. Hari ini tepat dua bulan sudah sejak Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk lomba membaca puisi tingkat provinsi. Sebenarnya lagi, aku sudah mendengar kabar ini bahkan sejak enam bulan yang lalu. Bahwasanya sebagai gubernur baru, Pak Gubernur ingin menumbuhkan cinta di hati rakyatnya, terutama cinta kepada ibu.

Pesertanya adalah seluruh rakyat Pak Gubernur. Siapa saja boleh ikut asalkan bisa membaca. Anak-anak, dewasa, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua boleh ikut. Pak Gubernur ingin lomba ini menjadi lomba membaca puisi terakbar di provinsi bahkan di negeri ini. Nah! Jadilah aku, sejak saat itu juga, diwanti-wanti oleh dia, eh, beliau, untuk membuat satu puisi yang akan dibaca oleh para peserta lomba membaca puisi nanti.

Sebagai salah satu penyair yang sudah dikenal di seluruh negeri, sebenarnya aku tidak heran kalau Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk dibaca oleh para peserta lomba nantinya. Aku sudah menulis sejak belia. Saat masih belasan tahun aku sudah sering ikut lomba menulis puisi dan juga sering menang. Beranjak dewasa aku mulai mengirim tulisanku ke media-media ke koran-koran.

Mereka menyukai tulisanku dan sering memuatnya. Orang-orang mulai mengenalku. Lalu aku mengumpulkan puisi-puisiku dan menjadikannya buku. Orang-orang senang membaca bukuku. Aku terus menulis dan menulis. Sampai sekarang belasan buku puisi sudah aku tulis. Buku-bukuku juga disukai oleh orang asing. Mereka menerjemahkan buku-buku puisiku ke dalam bahasa mereka. Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Korea, Rusia, Italia, Jepang, Spanyol. Begitu banyak bahasa sampai-sampai aku lupa yang lainnya.

Aku terkenal dengan puisi-puisiku yang tajam, indah, dan berkarakter. Puisi-puisiku adalah perpaduan kekuatan imajinasi, keluwesan kata, dan kedalaman pengalaman hidupku. Aku meramunya dengan hati-hati. Meracik ketiga bahan itu dengan takaran yang tepat di dalam kepalaku. Baru-baru ini aku dipuji karena puisiku tentang koruptor di negeri ini begitu tajam dan menohok. Dengan puisi itu, orang-orang menganggapku bisa mewakili perasaan mereka kepada para koruptor yang tidak tahu malu itu.

Belum lama ini juga puisiku tentang iman mendapat sambutan yang begitu hangat. Orang-orang merasa perasaan mereka terwakili lagi. Terutama orang-orang yang merasa bingung karena akhir-akhir ini melihat iman lebih sering menjadi tontonan di televisi bukannya menjadi penuntun dari dalam hati.

Nah, mungkin karena puisi-puisiku itu akhirnya aku sering diminta menjadi juri lomba membaca dan menulis puisi di hampir semua tingkatan wilayah. Dari tingkat desa sampai tingkat nasional. Aku juga sering diminta membuat puisi untuk dibaca oleh peserta lomba membaca puisi. Salah satunya ya ini. Puisi tentang ibu, permintaan dari Pak Gubernur.

Tapi, alamak! Sulit sekali membuat puisi permintaan Pak Gubernur ini. Aku bahkan sudah berusaha menulisnya sejak enam bulan yang lalu, sejak kali pertama Pak Gubernur meminta dan mewanti-wantiku untuk membuat puisi tentang ibu. Sudah kubaca berbagai puisi tentang ibu yang dibuat oleh penyair dalam negeri hingga luar negeri. Sudah kusambangi tepian danau sampai muara sungai untuk mencari inspirasi. Aku juga sudah melakukan berbagai macam riset dan eksperimen, tapi hasilnya nihil. Aku tetap tidak bisa menulis tentang ibu.

…………………………….

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai………….

“Buuuddd…. Buuddiii…. Buudddiiiiii….” suara ibuku mengagetkanku.

“Iya, Buk! Ada apa?”

“Ayo makan! Ibuk baru saja selesai memasak.”

“Ah, aku kira apa. Iya, Buk. Sebentar lagi aku makan.”

“Buuuddddd….Buuddiiii……….Buuudddiiiiii……. Buuuudddiiiii….” suara ibuku kembali mengagetkanku.

“Iya ada apa lagi, Buk?”

“Ayo makan dulu. Masakannya sudah siap.”

“Iya, Buk. Aku pasti makan. Ibuk makan saja dulu,” sahutku jengkel.

“Buuudddd….. Buuudddiiiii….. Ayo makan dulu!”

“Iya, Buk. Iya!”

Begitulah ibuku. Belum genap satu helaan napas, ibuku sudah memanggilku lagi. Ibuku akan berhenti memanggilku jika aku sudah beranjak dan melakukan apa yang ia minta. Dan ini hanya satu dari sekian kebiasaannya yang kadang membuatku kesal. Pernah dulu ibuku menjual koran-koran yang memuat puisi-puisiku kepada tukang loak di sebelah rumah. Untung saja koran-koran itu belum sempat berpindah tangan lagi.

“Lumayan, kan kalau dijual? Daripada terbuang menjadi sampah yang tidak berguna,” ibuku berkata dengan begitu santai.

“Tapi, Buk. Di dalam koran itu ada puisi-puisiku. Susah payah aku mengumpulkannya.”

“Oohhh begitu. Lah kenapa kamu tidak bilang pada ibuk? Coba kamu ambil saja ke tukang loak sebelah rumah. Siapa tahu masih ada di sana. Sekalian bawa kardus-kardus ini, ya! Hitung-hitung sebagai pengganti koran yang akan kamu ambil. Syukur-syukur dapat uang lebih.”

Ah, ibuku! Saat puisi-puisiku terancam menjadi produk daur ulang, ibuku tetap santai bahkan masih sempat memikirkan uang lebih. Jadilah aku tergopoh-gopoh pergi ke tukang loak di sebelah rumahku tentu sambil membawa kardus-kardus titipan ibuku.

Pernah juga, baru-baru ini, selama hampir sebulan ibuku memperkenalkanku pada begitu banyak perempuan. Ia memperlihatkan foto perempuan-perempuan itu kepadaku. Setiap hari. Gila! Usiaku baru 26 tahun saja ibuku sudah bingung mencarikanku calon istri. Sebagai laki-laki aku merasa masih sangat muda dan aku belum berniat menikah. Namun, ibuku begitu khawatir kalau-kalau aku terlalu sibuk dengan kertas dan koran sampai-sampai lupa menikah.

“Bud, ini Maya. Anak teman ibuk waktu SMA. Cantik, kan? Orangnya juga baik. Umurnya 24 tahun. Yaa kalau kamu mau, kalian punya cukup waktu untuk berkenalan,” seperti biasa ibuku memulai pembicaraan gila ini.

“Yang ini namanya Gina. Anak teman arisan ibuk. Rumahnya di kampung sebelah. Anaknya sangat rajin. Dia juga pintar. Umurnya…. Hhhhmmm. Ibu lupa. Tapi sebentar lagi lulus kuliah.”

“Nah kalau ini namanya Asri. Anak teman kantor Bapakmu. Yaa usianya memang lebih tua daripada kamu. Tapi, ya kalau menurut ibu tidak apa-apa. Orangnya juga mandiri dan sangat telaten. Cocoklah untukmu, Bud.”

Pembicaraan gila ini akhirnya membuatku menyerah. Aku sudah sangat bosan mendengarnya. Lalu, aku memutuskan menginap di rumah temanku selama beberapa hari untuk menyelamatkan hari-hariku dari pembicaraan ini. Tepat di hari ketiga ibuku menelepon dan menanyakan keberadaanku. Akhirnya kami membuat kesepakatan. Ibuku tidak akan membicarakan tentang perempuan-perempuan itu dan aku akan kembali ke rumah.

Begitulah. Ibuku adalah ibu yang biasa-biasa saja, seperti ibu-ibu biasa lainnya. Cerewet, kadang membuatku jengkel, dan kadang bisa membuat sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Ibuku seperti ibu-ibu pada umumnya. Tidak ada yang istimewa dari ibuku. Dan inilah yang membuatku tidak pernah bisa menulis tentang ibu. Ibuku selayaknya ibu. Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada yang wow. Ibuku melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya. Ia memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus suami dan anak-anaknya. Setelah semua urusan rumah selesai, ibuku membuka warung kelontong kami. Ibuku mengajak dua sepupuku dari kampung sebelah untuk menjaga warung itu. Supaya ada teman ngobrol ketika sedang tidak ada pembeli, kata ibuku.

Masalah hobi, ibuku senang ikut arisan seperti ibu-ibu lainnya. Aku mengetahui hal ini karena ibuku selalu memasak makanan yang lebih enak dan lebih banyak daripada biasanya setiap ia mendapat arisan. Dalam setiap bulan, setidaknya satu atau dua kali kami merasakan masakan ibu yang enak dan banyak ini.

Ibuku sangat gemar mengoleksi peralatan dapur, terutama panci. Ini aku ketahui karena rak bukuku sempat menjadi korban panci-panci itu. Karena rak di dapur kami sudah penuh dengan perabotan, ibuku menaruh panci-panci itu di rak bukuku. Titip sebentar, kata ibuku. Tidak jarang juga ibuku rela menghemat uangnya demi mendapat panci keluaran terbaru.

…………………………………..

Ibu kau bagai rembulan

Di malam ge…………………

Ah! Semua hal tentang ibuku begitu biasa. Begitu sederhana. Begitu apa adanya seorang ibu. Tidak ada yang istimewa. Lalu, bagaimana aku bisa menulis puisi tentang ibu? Puisi macam apa yang bisa aku tulis tentang ibu? Kasih sayangnya? Itu bekal dari Tuhan untuknya. Kelembutannya? Kekuatannya? Perhatiannya? Begitulah ibu seharusnya. Melahirkan dan merawat anak? Karena itulah ia bernama.

Duh! Pak Gubernur ini memang ada-ada saja. Apa yang harus aku tulis? Aku tidak bisa menulis tentang ibu.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

Di malam gelapku………

Tidak. Tidak. Puisi macam apa ini?! Aku tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku adalah ibu biasa seperti ibu-ibu lainnya.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

………………………………….

Kenapa ini? Susah sekali! Aku tetap tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Tidak ada yang istimewa dari ibuku.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

…………………………………

………………………………….

Apa yang harus aku lakukan? Tidak bisa. Aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibuku ibu yang begitu sederhana.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

……………………………………

…………………………………..

………………………………….

Ini gila! Lebih gila dari kegemaran ibuku mengoleksi panci. Aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku sebagaimana ibu. Ia begitu apa adanya seorang ibu.

Ibu, …………………………….

……………………………………

……………………………………

……………………………………

…………………………………..

Sial! Cukup sudah. Aku putuskan untuk pergi ke rumah dinas Pak Gubernur saja. Lalu, akan kukatakan bahwa aku tidak ikut menulis puisi untuk lomba membaca puisi itu. Aku tidak peduli jika Pak Gubernur marah besar kepadaku. Akan kukatakan bahwa aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Akan kukatakan bahwa aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibu adalah puisi. Ibu sudah puisi. Bagaimana mungkin aku bisa menulis tentangnya? (T)

Kemenuh, Desember 2017

untuk Ibu Kendran dan Ibu Astrini

Tags: Cerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Sabda Palon I, Kisah yang Disembunyikan, Kisah Nusantara yang Dibuka

Next Post

Angga Wijaya# Puisi: Penyair Terluka, Kenangan di Rumah Sakit Jiwa

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Angga Wijaya# Puisi: Penyair Terluka, Kenangan di Rumah Sakit Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co