14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Tak Bisa Menulis Puisi tentang Ibu

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Ida Bagus Pandit Parastu

 

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh lang…..

 

Sial! Deadline pengumpulan naskah puisi tinggal dua hari lagi. Namun, sampai sekarang aku belum berhasil membuat sebait puisi pun. Hari ini tepat dua bulan sudah sejak Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk lomba membaca puisi tingkat provinsi. Sebenarnya lagi, aku sudah mendengar kabar ini bahkan sejak enam bulan yang lalu. Bahwasanya sebagai gubernur baru, Pak Gubernur ingin menumbuhkan cinta di hati rakyatnya, terutama cinta kepada ibu.

Pesertanya adalah seluruh rakyat Pak Gubernur. Siapa saja boleh ikut asalkan bisa membaca. Anak-anak, dewasa, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua boleh ikut. Pak Gubernur ingin lomba ini menjadi lomba membaca puisi terakbar di provinsi bahkan di negeri ini. Nah! Jadilah aku, sejak saat itu juga, diwanti-wanti oleh dia, eh, beliau, untuk membuat satu puisi yang akan dibaca oleh para peserta lomba membaca puisi nanti.

Sebagai salah satu penyair yang sudah dikenal di seluruh negeri, sebenarnya aku tidak heran kalau Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk dibaca oleh para peserta lomba nantinya. Aku sudah menulis sejak belia. Saat masih belasan tahun aku sudah sering ikut lomba menulis puisi dan juga sering menang. Beranjak dewasa aku mulai mengirim tulisanku ke media-media ke koran-koran.

Mereka menyukai tulisanku dan sering memuatnya. Orang-orang mulai mengenalku. Lalu aku mengumpulkan puisi-puisiku dan menjadikannya buku. Orang-orang senang membaca bukuku. Aku terus menulis dan menulis. Sampai sekarang belasan buku puisi sudah aku tulis. Buku-bukuku juga disukai oleh orang asing. Mereka menerjemahkan buku-buku puisiku ke dalam bahasa mereka. Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Korea, Rusia, Italia, Jepang, Spanyol. Begitu banyak bahasa sampai-sampai aku lupa yang lainnya.

Aku terkenal dengan puisi-puisiku yang tajam, indah, dan berkarakter. Puisi-puisiku adalah perpaduan kekuatan imajinasi, keluwesan kata, dan kedalaman pengalaman hidupku. Aku meramunya dengan hati-hati. Meracik ketiga bahan itu dengan takaran yang tepat di dalam kepalaku. Baru-baru ini aku dipuji karena puisiku tentang koruptor di negeri ini begitu tajam dan menohok. Dengan puisi itu, orang-orang menganggapku bisa mewakili perasaan mereka kepada para koruptor yang tidak tahu malu itu.

Belum lama ini juga puisiku tentang iman mendapat sambutan yang begitu hangat. Orang-orang merasa perasaan mereka terwakili lagi. Terutama orang-orang yang merasa bingung karena akhir-akhir ini melihat iman lebih sering menjadi tontonan di televisi bukannya menjadi penuntun dari dalam hati.

Nah, mungkin karena puisi-puisiku itu akhirnya aku sering diminta menjadi juri lomba membaca dan menulis puisi di hampir semua tingkatan wilayah. Dari tingkat desa sampai tingkat nasional. Aku juga sering diminta membuat puisi untuk dibaca oleh peserta lomba membaca puisi. Salah satunya ya ini. Puisi tentang ibu, permintaan dari Pak Gubernur.

Tapi, alamak! Sulit sekali membuat puisi permintaan Pak Gubernur ini. Aku bahkan sudah berusaha menulisnya sejak enam bulan yang lalu, sejak kali pertama Pak Gubernur meminta dan mewanti-wantiku untuk membuat puisi tentang ibu. Sudah kubaca berbagai puisi tentang ibu yang dibuat oleh penyair dalam negeri hingga luar negeri. Sudah kusambangi tepian danau sampai muara sungai untuk mencari inspirasi. Aku juga sudah melakukan berbagai macam riset dan eksperimen, tapi hasilnya nihil. Aku tetap tidak bisa menulis tentang ibu.

…………………………….

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai………….

“Buuuddd…. Buuddiii…. Buudddiiiiii….” suara ibuku mengagetkanku.

“Iya, Buk! Ada apa?”

“Ayo makan! Ibuk baru saja selesai memasak.”

“Ah, aku kira apa. Iya, Buk. Sebentar lagi aku makan.”

“Buuuddddd….Buuddiiii……….Buuudddiiiiii……. Buuuudddiiiii….” suara ibuku kembali mengagetkanku.

“Iya ada apa lagi, Buk?”

“Ayo makan dulu. Masakannya sudah siap.”

“Iya, Buk. Aku pasti makan. Ibuk makan saja dulu,” sahutku jengkel.

“Buuudddd….. Buuudddiiiii….. Ayo makan dulu!”

“Iya, Buk. Iya!”

Begitulah ibuku. Belum genap satu helaan napas, ibuku sudah memanggilku lagi. Ibuku akan berhenti memanggilku jika aku sudah beranjak dan melakukan apa yang ia minta. Dan ini hanya satu dari sekian kebiasaannya yang kadang membuatku kesal. Pernah dulu ibuku menjual koran-koran yang memuat puisi-puisiku kepada tukang loak di sebelah rumah. Untung saja koran-koran itu belum sempat berpindah tangan lagi.

“Lumayan, kan kalau dijual? Daripada terbuang menjadi sampah yang tidak berguna,” ibuku berkata dengan begitu santai.

“Tapi, Buk. Di dalam koran itu ada puisi-puisiku. Susah payah aku mengumpulkannya.”

“Oohhh begitu. Lah kenapa kamu tidak bilang pada ibuk? Coba kamu ambil saja ke tukang loak sebelah rumah. Siapa tahu masih ada di sana. Sekalian bawa kardus-kardus ini, ya! Hitung-hitung sebagai pengganti koran yang akan kamu ambil. Syukur-syukur dapat uang lebih.”

Ah, ibuku! Saat puisi-puisiku terancam menjadi produk daur ulang, ibuku tetap santai bahkan masih sempat memikirkan uang lebih. Jadilah aku tergopoh-gopoh pergi ke tukang loak di sebelah rumahku tentu sambil membawa kardus-kardus titipan ibuku.

Pernah juga, baru-baru ini, selama hampir sebulan ibuku memperkenalkanku pada begitu banyak perempuan. Ia memperlihatkan foto perempuan-perempuan itu kepadaku. Setiap hari. Gila! Usiaku baru 26 tahun saja ibuku sudah bingung mencarikanku calon istri. Sebagai laki-laki aku merasa masih sangat muda dan aku belum berniat menikah. Namun, ibuku begitu khawatir kalau-kalau aku terlalu sibuk dengan kertas dan koran sampai-sampai lupa menikah.

“Bud, ini Maya. Anak teman ibuk waktu SMA. Cantik, kan? Orangnya juga baik. Umurnya 24 tahun. Yaa kalau kamu mau, kalian punya cukup waktu untuk berkenalan,” seperti biasa ibuku memulai pembicaraan gila ini.

“Yang ini namanya Gina. Anak teman arisan ibuk. Rumahnya di kampung sebelah. Anaknya sangat rajin. Dia juga pintar. Umurnya…. Hhhhmmm. Ibu lupa. Tapi sebentar lagi lulus kuliah.”

“Nah kalau ini namanya Asri. Anak teman kantor Bapakmu. Yaa usianya memang lebih tua daripada kamu. Tapi, ya kalau menurut ibu tidak apa-apa. Orangnya juga mandiri dan sangat telaten. Cocoklah untukmu, Bud.”

Pembicaraan gila ini akhirnya membuatku menyerah. Aku sudah sangat bosan mendengarnya. Lalu, aku memutuskan menginap di rumah temanku selama beberapa hari untuk menyelamatkan hari-hariku dari pembicaraan ini. Tepat di hari ketiga ibuku menelepon dan menanyakan keberadaanku. Akhirnya kami membuat kesepakatan. Ibuku tidak akan membicarakan tentang perempuan-perempuan itu dan aku akan kembali ke rumah.

Begitulah. Ibuku adalah ibu yang biasa-biasa saja, seperti ibu-ibu biasa lainnya. Cerewet, kadang membuatku jengkel, dan kadang bisa membuat sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Ibuku seperti ibu-ibu pada umumnya. Tidak ada yang istimewa dari ibuku. Dan inilah yang membuatku tidak pernah bisa menulis tentang ibu. Ibuku selayaknya ibu. Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada yang wow. Ibuku melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya. Ia memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus suami dan anak-anaknya. Setelah semua urusan rumah selesai, ibuku membuka warung kelontong kami. Ibuku mengajak dua sepupuku dari kampung sebelah untuk menjaga warung itu. Supaya ada teman ngobrol ketika sedang tidak ada pembeli, kata ibuku.

Masalah hobi, ibuku senang ikut arisan seperti ibu-ibu lainnya. Aku mengetahui hal ini karena ibuku selalu memasak makanan yang lebih enak dan lebih banyak daripada biasanya setiap ia mendapat arisan. Dalam setiap bulan, setidaknya satu atau dua kali kami merasakan masakan ibu yang enak dan banyak ini.

Ibuku sangat gemar mengoleksi peralatan dapur, terutama panci. Ini aku ketahui karena rak bukuku sempat menjadi korban panci-panci itu. Karena rak di dapur kami sudah penuh dengan perabotan, ibuku menaruh panci-panci itu di rak bukuku. Titip sebentar, kata ibuku. Tidak jarang juga ibuku rela menghemat uangnya demi mendapat panci keluaran terbaru.

…………………………………..

Ibu kau bagai rembulan

Di malam ge…………………

Ah! Semua hal tentang ibuku begitu biasa. Begitu sederhana. Begitu apa adanya seorang ibu. Tidak ada yang istimewa. Lalu, bagaimana aku bisa menulis puisi tentang ibu? Puisi macam apa yang bisa aku tulis tentang ibu? Kasih sayangnya? Itu bekal dari Tuhan untuknya. Kelembutannya? Kekuatannya? Perhatiannya? Begitulah ibu seharusnya. Melahirkan dan merawat anak? Karena itulah ia bernama.

Duh! Pak Gubernur ini memang ada-ada saja. Apa yang harus aku tulis? Aku tidak bisa menulis tentang ibu.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

Di malam gelapku………

Tidak. Tidak. Puisi macam apa ini?! Aku tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku adalah ibu biasa seperti ibu-ibu lainnya.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

………………………………….

Kenapa ini? Susah sekali! Aku tetap tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Tidak ada yang istimewa dari ibuku.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

…………………………………

………………………………….

Apa yang harus aku lakukan? Tidak bisa. Aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibuku ibu yang begitu sederhana.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

……………………………………

…………………………………..

………………………………….

Ini gila! Lebih gila dari kegemaran ibuku mengoleksi panci. Aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku sebagaimana ibu. Ia begitu apa adanya seorang ibu.

Ibu, …………………………….

……………………………………

……………………………………

……………………………………

…………………………………..

Sial! Cukup sudah. Aku putuskan untuk pergi ke rumah dinas Pak Gubernur saja. Lalu, akan kukatakan bahwa aku tidak ikut menulis puisi untuk lomba membaca puisi itu. Aku tidak peduli jika Pak Gubernur marah besar kepadaku. Akan kukatakan bahwa aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Akan kukatakan bahwa aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibu adalah puisi. Ibu sudah puisi. Bagaimana mungkin aku bisa menulis tentangnya? (T)

Kemenuh, Desember 2017

untuk Ibu Kendran dan Ibu Astrini

Tags: Cerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Sabda Palon I, Kisah yang Disembunyikan, Kisah Nusantara yang Dibuka

Next Post

Angga Wijaya# Puisi: Penyair Terluka, Kenangan di Rumah Sakit Jiwa

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post

Angga Wijaya# Puisi: Penyair Terluka, Kenangan di Rumah Sakit Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co