12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sang Presiden dan Jalan Rusak di Negeri Xiao Zhu

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Julio Saputra

SELURUH rakyat Negeri Xiao Zhu berdemo di depan Istana Presiden di samping alun-alun kota. Ratusan ribu pelajar dari berbagai universitas dengan jas almamater warna-warni mengibar bendera. Bapak-bapak ibu-ibu dari berbagai profesi menulis segala caci dan maki di atas ratusan meter lembar kain putih. Anak-anak terlihat membawa poster yang menyala-nyala. Mereka menuntut Presiden Baozhi turun dari jabatannya dan pergi untuk selamanya.

Baozhi dianggap presiden paling buruk dalam sejarah kepemimpinan Negeri Xiao Zhu. Janjinya untuk memperbaiki 20.000 kilometer jalan yang rusak tak ditepati. Anggaran 700 Milliar  untuk rencana pembangunan kota entah ke mana. Selama 25 tahun lebih menjabat, Baozhi tidak pernah melakukan apa-apa lagi selain tanda tangan surat ini-itu dan kunjungan dinas serta upacara bendera sana-sini sambil berpidato manis. Tak heran masyarakat terlarut dalam kekecewaan.

Gelombang massa bertambah dalam hitungan menit. Alun-alun kota yang luasnya hampir 10 hektar itu tak ubahnya lautan manusia. Segera, orang-orang berseragam suruhan menteri pertahanan dan keamanan datang membubarkan para demonstran. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba terjadi baku hantam di antara mereka. Banyak yang terluka. Banyak yang berdarah. Seorang petugas menyemprotkan gas air mata, berharap para demonstran bubar dan lari tunggang langgang, namun mereka tetap bertahan. Mereka tak akan menyerah sebelum tuntutan mereka dikabulkan.

“Turun sekarang atau mati!” teriak salah seorang mahasiswa dalam balutan jas merah sambil mengibarkan bendera yang juga berwarna merah.

“Negeri ini merugi karena ulah presiden koruptor penuh janji. Pergi sekarang juga atau menyesal selamanya!” teriak salah seorang pedagang kecil yang merasa rugi membayar pajak secara rutin, berharap dapat membantu perbaikan jalan.

“Bunuh, bunuh saja presiden busuk itu. Basmi tanpa ampun!” Kali ini seorang pendeta yang berteriak lantang tak bisa lagi membendung amarah dan kecewanya dalam hati, tak peduli dengan bekas tinju dan rasa sakit di pipinya.

Di dalam istana, lewat siaran langsung beberapa kamera televisi, Presiden Baozhi menonton kejadian di alun-alun kota bersama Nyonya Chang Ke, istrinya yang cantik itu dengan usia 40 tahun. Ia melihat sendiri wajah-wajah yang menuntutnya mundur dan pergi. Ia mendengar sendiri hujatan, makian, hinaan, dan protes yang terlontar dari mulut para demonstran.

“Sayang, ayo kita temui mereka sekarang!” Presiden Baozhi berkata dengan senyum yang tenang, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Istrinya hanya menggangguk, ikut tersenyum, lalu mengecup pipi kiri Presiden Baozhi. Ia selalu menuruti suami tercinta yang 10 tahun lebih tua darinya. Mereka berjalan menuju balkon istana sambil berpegangan mesra. Kemudian Presiden Baozhi menyapa masyarakatnya, atau lebih tepatnya para demonstran, dengan suara lantang.

“Selamat siang masyarakatku semuanya, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik, kakak-kakak, yang berdemo di sini. Senang bisa bertemu dengan kalian!”

Masyarakat menoleh ke sumber suara, menengadah, dan melihat Presiden Baozhi berdiri di balkon istana. Segera mereka berbondong-bondong menuju depan istana sambil tetap melontarkan hujatan, makian, dan protes. Pagar betis dari orang-orang berseragam sudah berbaris, menghadang para demonstran yang mencoba menerobos masuk. Lagi-lagi, terjadi baku hantam di antara mereka.

“Dengar, kalian semua tidak perlu berdemo lebih lama lagi. Sesuai yang kalian inginkan, saya dan istri saya akan pergi dari negeri ini dan tidak akan pernah lagi menapak kaki. Terima kasih atas kepercayaannya selama 25 tahun ini. Mohon maaf jika saya dan istri saya mengecewakan kalian semua. Akhir kata, kami undur diri!” kata Presiden Baozhi yang tetap dengan suara lantang

Hujatan, hinaan, makian dan segala protes seketika berubah menjadi sorak sorai dan tepuk tangan. Para demonstran bahagia. Masyarakat gembira.Tak ada yang lebih membahagiakan selain tuntutan yang dikabulkan dengan cepat.

Kebahagian mereka masih terasa sampai keesokan harinya, saat kamera televisi menyorot kepergian Baozhi dan istrinya ke negeri seberang. Mereka hanya berbekal tas kecil dan telepon seluler kecil untuk menelepon kerabatnya. Seluruh kekayaannya di Negeri Xiao Zhu disita aparat tertentu atas desakan masyarakat. Masyarakat bahagia melihat Baozhi, sumber kepahitan mereka, berada dalam ambang penderitaan.

***

SEBULAN setelah kepergian Baozhi, masyarakat Negeri Xiao Zhu sibuk membicarakan calon presiden selanjutnya. Sebuah konferensi besar diadakan di auditorium paling megah di sebuah hotel yang juga paling megah di negeri itu. Banyak tokoh hadir di sana, mulai dari pejabat-pejabat tinggi, menteri-menteri, para konglomerat, para pemuka agama, politisi, akedemisi, aktivis, pengamat, mahasiswa dan lain-lain.

Satu per satu mulai memberi pilihan. Ada yang merekomendasikan orang lain. Ada juga yang mengajukan diri sendiri, seperti yang dilakukan seorang mantan jenderal militer bintang 5, namun tak ada yang percaya karena masa lalunya yang pernah membantai masyarakat sipil secara kejam dengan alasan reformasi.

Ada juga seorang tokoh agama mencalonkan dirinya, tapi semua ragu karena ia dikenal rasis dan ingin membuat Negeri Xiao Zhu menjadi negeri mono agama. Ada juga seorang pengusaha kaya merekomendasikan dirinya, tapi semua seperti tidak sudi dengannya karena beredar  kabar bahwa karyawan perusahaannya sudah tidak digaji selama 6 bulan. Selanjutnya, satu-satu peserta mengajukan diri, namun ada saja alasan yang membuat mereka dijatuhkan.

Di tengah-tengah diskusi yang alot dan perdebatan yang sengit, mendadak Yi Hua, seorang wanita muda dan cantik, dengan rambut pendek sebahu dan bulu mata yang lentik, juga kulit yang putih dan tubuh yang ramping, mengangkat tangannya, meminta semua peserta konferensi untuk memilihnya menjadi presiden selanjutnya. Semua peserta konferensi kaget. Tak pernah ada wanita yang berani mengajukan diri menjadi seorang presiden.

Wanita muda berusia 25 tahun itu menyebut dirinya seorang aktivis lingkungan. Ia baru saja resmi menjadi warga negeri Xiao Zhu sebulan yang lalu, setelah kepergian Baozhi dan istrinya. Ia juga menyebut segala prestasi tentang perencanaan dan pembangunan kota yang pernah diraihnya dulu, saat masih menjadi mahasiswa jurusan teknik sipil dan perencanaan, merangkap arsitektur pertamanan di sebuah universitas ternama di luar negeri. Semua peserta konferensi semakin kaget.

Tak hanya itu, ia juga menceritakan pengalamannya memimpin dan berpolitik di negara asalnya sebelum menjadi warga Negeri Xiao Zhu, mulai dari menjadi ketua organisasi kemahasiswaan, tokoh oposisi, sekretaris partai, ketua tim sukses sampai wakil ketua partai.

Semua peserta konferensi kagum. Semuanya terkesima. Semuanya juga langsung jatuh hati dan sepakat untuk menjadikannya presiden negeri Xiao Zhu selanjutnya. Mereka percaya Yi Hua mampu mengatasi kerusakan jalan raya yang menjadi masalah utama negeri Xiao Zhu. Surat persetujuan pun segera ditandatangani. Yi Hua adalah presiden wanita pertama dalam sejarah kepemimpinan negeri Xiao Zhu

***

ALUN-ALUN kota yang luasnya 10 hektar itu kembali menjadi lautan manusia. Kali ini, saat malam hari. Sebuah pesta meriah diadakan untuk menyambut Nyonya Yi Hua, Presiden Negeri Xiao Zhu yang baru. Baliho-baliho besar berisi gambar wajah Presiden Yi Hua yang cantik itu dipasang di sepanjang ruas jalan menuju alun-alun. Lampu kerlap-kerlip digantung di setiap batang pohon yang tumbuh. Sebuah konser musik juga disiapkan. Pengisi acaranya pun bukan seniman abal-abal. Mereka adalah penyanyi dengan suara paling emas. Pemusik paling mumpuni. Komposer paling terkenal, dan masih banyak lagi. Semua masyarakat terlarut dalam kemeriahan acara.

Saat itu juga, Presiden Yi Hua berkesempatan memberikan pidato perdananya.

“Terima kasih banyak atas cinta dan kasih yang nyata saya rasakan dari kalian semua. Kalian adalah kekuatan bagi saya. Saya akan berusaha keras menjadi pemimpin terbaik bangsa. Anggaran ntuk pembangunan negeri yang lebih baik sudah disiapkan. Mari bersama-sama wujudkan Negeri Xiao Zhu yang sejahtera dan makmur.” katanya dengan senyum manis yang merekah dari kedua bibir merahnya. Tepuk tangan dan sorak sorai yang meriah dari masyarakat menutup pidatonya.

Setahun memimpin, Presiden Yi Hua menorehkan prestasi gemilang. Untuk pertama kalinya negeri Xiao Zhu meraih penghargaan perencanaan tata kota terbaik tingkat internasional. Presiden Yi Hua pun diundang ke Amerika untuk menjadi pembicara dalam seminar internasional tentang kepemimpinan dan pembangunan negara.

Masyarakat Negeri Xiao Zhu terkagum-kagum dibuatnya. Beberapa dari mereka menulis status di facebook, seperti “Presidenku Kebanggaanku.”. Ada juga yang menulis menggunakan bahasa Inggris “You did a great job, president.”.Ada pula yang sedikit berlebihan “Satu-satunya presiden terbaik di dunia adalah presidenku. Maju terus.”

Tahun kedua, ketiga dan keempat, Presiden Yi Hua lagi-lagi membuat banyak prestasi. Mulai dari menjadi presiden inovatif se-Asia, sampai masuk daftar 10 besar presiden terbaik dunia. Kabar tentangnya dimuat di seluruh media kabar.

Namanya diukir di sebuah prasasti milik negara. Beberapa maestro terkenal melukis wajahnya, kemudian memamerkan karyanya dalam hall of fame istana negara. Masyarakat juga semakin bangga, semakin terkesima, namun mereka mempertanyakan kapan pembangunan akan dijalankan, terutama kerusakan jalan yang terasa semakin parah.

“Tahun kelima, di tahun terakhir saya memimpin, semua pembangunan sesuai perencanaan tata kota yang saya buat akan dituntaskan,” jawabnya tegas dalam sebuah konferensi pers. Masyarakat hanya mengangguk percaya. Mereka berpikir bahwa pembangunan yang tepat memang butuh perencanaan dan persiapan yang matang.

***

PADA suatu hari, saban pagi, Presiden Yi Hua ditemani seorang ajudan pribadi dan pengawalnya yang setia melesat menuju negeri seberang menggunakan jet pribadi. Ia mengaku berencana untuk berdiskusi dengan seorang investor di kawasan Citra Land, tempat orang-orang kaya di negara tersebut bermukim. Presiden Yi Hua segera masuk ke dalam rumah mewah itu, sementara ajudan dan pengawalnya diminta menunggu di luar.

Di tengah ruang tamu, seorang laki-laki paruh baya yang sedikit tambun sudah menunggu. Ia duduk di atas sofa yang sangat empuk dan nyaman. Presiden Yi Hua juga duduk di sana, berhadapan dengan laki-laki paruh baya itu. Kemudian mereka saling berpelukan.

“Selamat datang di rumah, Presiden,” ucap laki-laki itu lirih sambil tersenyum

“Ah, tidak usah seformal ini, Tuan Baozhi”

“Hahaha, kau seharusnya memanggilku Papa”

“Aku hanya bercanda, Pa. Di mana Mama?”

“Mama sedang arisan. Bagaimana keadaan Negeri Xiao Zhu?”

“Baik-baik saja. Tidak ada masalah. Tidak ada yang tahu bahwa aku adalah putri tunggalmu. Dunia ini memang panggung sandiwara.”

Tuan Baozhi tersenyum “Baguslah kalau begitu. Ini benar-benar sesuai rencana. Ada untungnya juga aku menyembunyikan kehamilanmu dulu dan mengirimmu ke luar negeri segera setelah kau dilahirkan. Papa bisa mewariskan Negeri Xiao Zhu padamu. Papa berterima kasih atas milliaran yuan uang yang sudah kau kirimkan. Jika bukan karenamu, Papa tidak akan bisa hidup seperti sekarang ini.”

“Ah, tidak usah berterima kasih. Lalu, bagaimana dengan Papa sendiri? Tidak ada yang tahu?”

“Tentu saja tidak ada. Segala identitas tentang Papa dan Mama sudah diubah. Nanti, setelah kau selesai menjabat, kau juga harus operasi plastik, sama seperti kita. Tak ada yang mengenali kita sama sekali. Bahkan, dengan operasi plastik, kau bisa membuat wajahmu tambah cantik dan tambah sempurna.”

“Pasti akan kulakukan. Tapi, aku sedang bingung, tahun depan adalah tahun terakhirku menjabat, aku sudah berjanji akan menuntaskan pembangunan, terutama kerusakan jalan.”

“Kau memang pintar mengambil hati rakyat. Tapi tak usah kau ambil pusing. Di mana-mana yang namanya pemimpin memang harus menebar janji. Ditepati atau tidak, bukan masalah penting, dan yang harus kau ingat, rakyat memang sudah wajibnya dibohongi. Sekarang Papa tanya satu hal, kau masih putri kecilku, bukan?”

Kali in, Presiden Yi Hua yang tersenyum. “Tentu saja Papa. Memangnya kenapa?”

“Bagus, kalau begitu sekarang kau ikuti saranku!” Tuan Baozhi mendekatkan mulutnya ke telinga kanan Presiden Yi Hua. Ia membisikkan sesuatu. Presiden Yi Hua hanya mengangguk pelan.

***

SELURUH rakyat Negeri Xiao Zhu lagi-lagi berdemo di depan istana presiden di samping alun-alun kota. Ratusan ribu mahasiswa yang sama dari berbagai universitas yang sama dengan jas almamater warna-warni yang sama mengibar bendera yang sama. Bapak-bapak ibu-ibu dari berbagai profesi menulis segala caci dan maki yang sama di atas ratusan meter lembar kain putih. Anak-anak terlihat membawa poster menyala-nyala yang juga sama. Mereka menuntut Presiden Yi Hua turun dari jabatannya dan pergi untuk selamanya.

Yi Hua dianggap presiden yang gagal membenahi negara dengan segala perencanaan tata kota yang dibuatnya. Sama seperti Baozhi, janjinya untuk memperbaiki 20.000 kilometer jalan rusak di tahun terkahir kepemimpinan tak ditepati. Anggaran 700 Milliar lebih untuk rencana pembangunan kota entah ke mana. Selama 5 tahun menjabat, Yi Hua tidak pernah melakukan apa-apa lagi, selain penorehan prestasi di sana-sini. Tak heran masyarakat terlarut dalam kekecewaan. Mereka juga kecewa karena pernah mengangumi sosok Yi Hua.

Di tengah-tengah demo tersebut, seorang laki-laki tampan, berumur sekitar 35 tahun, berbadan kekar dengan hidung mancung dan kulit sawo matang, terlihat berorasi lantang menggunakan pengeras suara.“Kita tidak butuh prestasi, kita butuh aksi nyata. Kita butuh makan, hidup yang sejahtera, hidup yang bahagia. Kita tidak butuh pemimpin koruptor. Kita butuh pemimpin yang jujur dan adil. Kita tidak butuh Yi Hua yang cantik tapi busuk saatnya warga negari Xaio Zhu yang asli memimpin. Saatnya pribumi bertindak!”

Masyarakat tertegun dengan pernyataannya. Mereka sadar memang bukan pemimpin pintar yang diperlukan, melainkan pemimpin yang berani jujur, dan cara laki-laki itu berorasi merupakan cikal bakal keberanian sesungguhnya. Segera, mereka setuju menjadikan laki-laki itu presiden selanjutnya. Sayangnya, tak ada yang tahu, laki-laki itu adalah calon suami Yi Hua. Tentu saja, sesuai saran Tuan Baozhi, pernikahannya akan dirahasiakan. (T)

Tags: Cerpen
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

“Kulkul” vs Media Sosial: Bukan Soal Info Cepat, tapi Soal Gerak Cepat

Next Post

Mangurupa di Mangupura – Geliat Seni Rupa Kabupaten Badung

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post

Mangurupa di Mangupura - Geliat Seni Rupa Kabupaten Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co