6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Intuisi

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Kadek Heny Sayukti

 

Cerpen: Devy Gita

“Menurutku, hanya lelaki pengecut yang mendekati wanita yang sudah menjalani prosesi sakramen pranikah di gereja.”

Bram mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, alis tebalnya tertaut, napasnya pun tak teratur.

“Kau pun seharusnya sadar akan dirimu, kita sudah bersama selama 6 tahun, Seruni!” tatapan mata Bram menghujam seperti sepasang kilat.

Aku hanya terdiam, menunduk saat ini bukan pilihan yang tepat. Bram paling tidak suka saat lawan bicaranya menunduk tak berdaya. Dia butuh argumen balasan, dia laki-laki yang tidak pernah puas hanya dengan jawaban seadanya. Dengannya, bicara harus jelas dan bisa diterima logika. Dia bisa mempertanyakan hal yang sama berkali-kali hanya untuk meyakinkan jawaban yang didapatnya sama dengan sebelumnya. Semacam lie detector alami.

Saat ini laki-laki itu duduk dengan dada naik turun menahan emosi yang dia pendam selama perjalanan 3 jam dari Singaraja. Jaket belum terlepas dari tubuhnya. Sesuatu sedang mengamuk dalam pikirannya. Dia berkali-kali menutup wajahnya dan menghela napas. Menatapku lurus tak berkedip, dengan keraguan dan rasa tidak percaya berputar di setiap sudut wajah lelaki muda tampan ini.

Seseorang telah menghianati kepercayaannya, meremukkan komitmen yang telah dibangun selama 6 tahun. Dalam waktu kurang dari satu jam, dunia Bram seperti terbalik dan pikiranku tiba-tiba dipenuhi berupa-rupa angin kencang. Tornado, puting beliung, topan silih berganti menari.

Rasa bersalah menyergap seperti hansip dan aku malingnya. Sesaat aku kehilangan sadarku, jika saja satu bulan bisa dikatakan sekejap. Setidaknya satu bulan tidak lebih lama dari 6 tahun. Sadarku memutuskan untuk kembali saat melihat Bram duduk di atas motornya di depan kamar kos yang kutempati di Denpasar. Menelanjangiku dengan pandangan terkejut yang sekuat tenaga dia sembunyikan pada waktu melihatku berboncengan dengan Teguh, lelaki yang memasuki celah komitmen kami. Semua rambut di tubuhku terasa ditarik dan ingin melepaskan diri. Perutku mual, darahku seperti berhenti mengalir.

Bram menatap Teguh penuh selidik, kedua lelaki itu beradu pandang dan aku bisa mendengar gemertak rahang Bram. Mereka hanya saling menatap tanpa bicara, ini menyeramkan. Aku sedikit takut mereka akan saling jatuh cinta bukannya saling mengadu kepalan tangan. Kupikir lelaki dewasa memang lebih bisa mengontrol emosi, mereka masih punya malu untuk berkelahi di depan umum atau membuat keributan. Jika mereka perempuan, kurasa mereka sekarang sudah bergelut di tanah saling cakar dan tampar.

“Apakah kau tahu Seruni akan segera kunikahi?” tanya Bram memecah kebekuan mereka

“Akan segera bukan berarti sudah menikah bukan? Seruni masih berhak memilih.” Teguh melihat ke arahku.

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Bahkan airmata pun tidak. Hanya lambaian tanganku yang memintanya untuk segera meninggalkanku dan Bram. Tatapan Teguh selalu bisa mengaduk emosiku. Hanya dia yang mampu menggoyahkanku, pas menutup celah yang menganga antara aku dan Bram yang terpisah jarak. Masihkah aku bisa memilih? Bagaimana dan siapa yang harus kupilih?

Malam itu, kesunyian mendekap lebih erat. Membawa aku dan Bram dalam diam yang mencekam. Pertanyaan-pertanyaan meluncur dari Bram, dan membutuhkan jawabanku segera. Sedangkan aku masih bergumul dengan pikiranku sendiri. Sakramen prapernikahan yang sudah kujalani di Gereja selama sebulan belakangan. Prosesi sakral yang harus dilewati sebelum menikah secara Katolik.

Aku menjalani setiap prosesnya dengan sadar, sesadar-sadarnya. Tidak ada yang memaksaku menikah dengan Bram. Aku mencintainya dengan penuh. Berpindah keyakinan atas kemauanku sendiri. Pastor berulang kali menanyakan keputusanku, orang tuaku mencecarku, mencoba menemukan ragu dalam setiap kata dan argumen yang kuungkap. Ragu telah tiada, aku sudah melangkah mantap memasuki Gereja, mencari damai dalam pelukan Maria.

Kemudian, Teguh datang. Awalnya, aku hanya menganggap dia teman biasa, teman mengobrol ringan. Seperti kapas yang tertiup angin, melayang tanpa sadar. Entah bagaimana kami menjadi semakin dekat. Dia tampan, muda, pandai bermain musik.  Hanya sekadar suka tidak akan membuatku begitu nelangsa saat dia tidak ada.  Aku merasa goyah. Aku mempertanyakan arti Bram dan juga Teguh dalam hidupku. Jika mencintai dua orang di saat yang bersamaan, siapa yang harus dipilih? Apa mungkin bisa jatuh cinta pada orang kedua kalau memang benar-benar mencintai orang pertama?

“Seruni, apakah dia berarti untukmu?” Bram mengusap rambutku pelan. Tangannya bergetar. Emosi masih mengalir deras dalam setiap selnya, tapi dia tetap membuat dirinya tenang. Apakah cinta yang membuatnya begitu tegar, tidak sekalipun dia meledak atau berusaha menumpahkan rasa kesalnya. Dia menahannya hampir sempurna. Senyum masih bisa dia sunggingkan padaku. Senyum yang 6 tahun lalu membawaku jatuh dalam tulusnya. Kumis dan jenggot mengelilingi senyum pedih itu. Sebelumnya, wajah itu selalu bersih. Ah, Bram.. Bagaimana bisa aku mengorbankan perasaan laki-laki ini?

“Bram, aku baru mengenalnya. Apakah dia bisa menjadi lebih berarti darimu?” jawabku parau. Jujur saja, saat ini hanya jawaban seperti itu yang bisa kuberikan karena aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi di dalam hati dan otakku. Mereka sedang berperang maha dahsyat. Otakku menentang dengan keras apa yang sudah kuperbuat. Hatiku? Sentimentil, dia bersedih untuk Teguh yang berjinjit pelan memasuki kehidupanku.

Komitmen mengikat bagai rantai di leher seekor anjing  yang tak membiarkannya berkeliaran. Saat dua orang memutuskan untuk bersama terikat dalam rantai yang bernama komitmen. Tanpa adanya aturan tertulis, kedua orang tersebut mesti saling menjaga hati. Orang ketiga yang merangsek paksa atau dituntun dengan sengaja membinasakan sulur-sulur kepercayaan yang terpilin rapi.. Saling memberi cinta dan perhatian dalam porsi seimbang layaknya makanan 4 sehat 5 sempurna. Jika bagian yang diberikan salah satu terlalu besar, pasangannya akan begah karena cinta, menyakitkan. Begitu pula jika terlalu sedikit porsi yang disuguhkan, akan ada hati yang busung lapar. Tak kalah pilu. Apa yang terjadi jika diberi makanan yang sama selama bertahun-tahun?

Teman-temanku berkata aku sedang mengalami kejenuhan akut, ketakutan dan kegelisahan sebelum pernikahan yang juga dialami banyak orang yang kukenal. Pernikahan terdengar indah seperti dalam dongeng. Cinta bersatu, lonceng Gereja merdu berdentang, begitu berbunga-bunga.

Namun, dalam realita yang aku saksikan, sahabatku berpisah dari suaminya. Lalu, temanku yang lain selalu mengeluh pasal mertua yang terlalu ikut campur. Mereka membuat cerita pernikahan yang merona menjadi seperti mimpi buruk. Aku tidak merasa khawatir, namun alam bawah sadarku mempunyai ceritanya sendiri. Dia diam-diam memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah aku dan Bram menikah.

Hati kecilku juga merasa bosan akan hubungan jarak jauh. Jembrana – Denpasar, sama-sama sibuk dengan kegiatan sendiri, komunikasi seadanya. Kepercayaan memang di atas segalanya, tidak pernah ada rasa ragu dan curiga. Entah percaya atau pasrah, mungkin usia hubungan yang tidak lagi seumur jagung membuat semuanya berjalan lurus. Sangat lurus bahkan, tidak ada lubang ataupun kelokan. Membosankan..

Aku merasa bosan, begitu juga Bram. Kebosanan yang dilampiaskan Bram dengan lebih banyak mengajar anak-anak di Gereja dekat tempat tinggalnya, mencari kesibukan dan memberdayakan dirinya untuk membantu orang lain. Sementara aku, membiarkan kebosananku membuka celah bagi hiburan lain untuk pentas. Aku kalah pada rasa jenuh yang membelah diri dengan cepat dalam sel darahku.

“Apa yang membuatmu datang tanpa kabar?” tanyaku pada Bram yang sedang bersandar lelah pada lemari kayu di belakangnya.

“Intuisi, Seruni. Sesuatu mengatakan padaku, aku harus segera menemuimu.” Jawabnya pelan. Hanya karena sebuah intuisi. Seorang Bram meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menemuiku tanpa mengabari terlebih dahulu. Intuisi yang begitu jujur. Tidak ada kebohongan dalam setiap ucapan yang dia bisikkan pada Bram.

Begitu hebatnya sebuah intuisi dari hubungan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Intuisi seorang Bram yang menyeretku kembali dalam ikatan. Menyeretku kembali pada dekapan dada bidangnya. Mengingatkanku akan sakramen yang harus kuhadiri esok hari. (T)

Denpasar, 19 Agustus 2017

Tags: Cerpen
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Pakaian Serba Putih, Laku “Ngiring”, dan Pemberontakan Kultural

Next Post

Mursal Buyung, Dosen Antik-Nyentrik: Tak Ada Spidol, Ia Mencoret Tembok Kelas

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post

Mursal Buyung, Dosen Antik-Nyentrik: Tak Ada Spidol, Ia Mencoret Tembok Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co