24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bebunyian: Berangkat dari Mana, Berhenti Entah di Mana – Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Esai

 

SETIAP pementasan memiliki pesan, nilai, misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Setiap pementasan memiliki ruang interpretasinya masing-masing: seluas apa, sesempit apa, itu haknya sang penikmat/penonton, entah suka atau tidak suka itu urusan kesekian. Begitulah salah seorang kawan menasihati saya pada suatu kesempatan di bulan Juni waktu lalu.Atas dalil itu, saya berusaha menjawabnya melalui pementasan yang tidak pada jalur kereta pada umumnya (setidaknya di Bali).

Bersama 8 pemain inti (termasuk saya), yakni Iin Velentine (Teater Orok), Trees (Teater Orok), Damar (Teater Orok),  Anang (Teater Orok), Jecko (Teater Kini Berseri), Novy Rainy (Teater Angin), Wisnu Negara (Teater Kalangan) dan saya. Hampir sebulan terakhir ini kami berdiskusi, di warung kopi, di warung lalapan, di tempat latihan, usai menonton pementasan, saat membuat panggung bahkan sampai di rumah kami tetap berpikir, menggodok ide, konsep, adegan, bunyi apa saja yang ingin dimasukan, pada produksi pementasan yang kami beri judul “Bebunyian”. Bisa dikatakan hampir 70% waktu kami gunakan untuk berdiskusi pada berbagai kesempatan.

Akhirnya kami sepakat untuk mengusung Bali dengan segala kegelisahannya sebagai lini utama pementasan.“Bebunyian” ingin menyampaikan pendapatnya tentang Bali, menerka Bali, mengisahkan Bali, bahkan lebih jauh meramal Bali melalui jejeran fakta, fenomena yang saat ini sedang bergolak. Terutama hal-hal yang menyangkut tentang ikatan manusia terhadap alam sekitarnya. Menjadi topik hangat yang sedang dibicarakan di mana-mana, bolehlah kami para pencinta teater juga membawanya ke ranah  pemanggungan. Namun dengan pendekatan yang berbeda, tidak melalui tata logika narasi yang teratur dan harmonis.Melainkan dengan keliaran bahasa bunyi, bahasa gerak, bunyi tubuh dan bunyi tak bernada, namun sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Lompatan-lompatan peritiwa tentang Bali, kami hadirkan dalam adegan yang terkesan sedang berlompatan dari waktu ke waktu. Benang merahnya mungkin samaratau sama sekali tidak terlihat, namun kami berusaha untuk merajutnya agar (terasa) terlihat hangat. Terlebih lagi sebagian besar dari kami dibesarkan di Bali, tentu akan menjadi sah-sah saja saat kritik disampaikan kepada saudara sendiri (autokritik) untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Di tengah latihan kami sering berbincang tentang gerakan Bali Tolak Reklamasi; petani garam tradisional  Amed yang terhimpit pembangunan pariwisata; pedagang arak yang sering masuk penjara padahal dia menjaga kearifan lokal Bali; tentang gebogan buah yang didominasi minuman kaleng; tentang tumpek bubuh, tumpek kandang, tumpek wayang yang semakin hari kehilangan esensinya dan seterusnya.

Proses Kreatif

Satu hal yang penting pada pementasan kali ini  adalah  keberadaan naskah. Kami sama sekali tidak berangkat dari naskah utuh. Kami berdelapan membangunnya di tengah proses latihan, sembari menimbang kemungkinan-kemungkinan estetika di atas panggung. Naskah hanya berupa coretan-coretan di atas kertas nasi, catatan di ponsel pintar, buku sketsanya Rizky Wahyu yang kebetulan suka menggambar. Lalu coretan-coretan itu kami satukan perlahan  (diketik ulang) agar mudah diingat dan dipahami.

Ketidakberadaan naskah memberi ruang luas untuk berdebat antar pelaku. Metode ini melatih kami dalam mengambil keputusan agar tidak menyakiti satu sama lain. Jika salah satu orang tidak setuju dengan adegan (gerakan) yang diajukan, ia bisa menyampaikan keberatannya dengan segala alasan yang masuk akal, bukan hanya berdasarkan perasaan kurang “sreg” saja.

Secara tidak langsung kami melatih teater sistematis berdasarkan logika peristiwa, bukan bertumpu berat pada adegan improvisasi.Yang sering terjadi, misalnya satu adegan dianggap kurang, yang lain ikut menambahkan, yang satu menginterpretasi, yang satu mencari respon gerak, yang satu mencari respon bunyinya. Kerja kolektif seperti ini memang membutuhkan kesabaran, keikhlasan serta  keberanian untuk mengatakan cukup, sebab kita berangkat dari nol, kapan berhenti pun kadang kita tidak pahami secara sadar. Mengerikan!

Dalam produksi kali ini saya cukup banyak berbincang dengan Rizky Wahyu (Jecko) seorang penari dubstep di Denpasar.Ia memberikan banyak masukan kamus gerakan dan tarian kepada kami. Hampir seluruh gerakan di setiap adegan merupakan cikal bakal dari idenya, kemudian kami “goreng” bersama untuk mencapai energi yang diinginkan.Selain Jecko saya sendiri banyak terpengaruh dari sejumlah pementasan teatar eksperimental seperti Payung Hitam, Teater Garasi, Creamer Box yang saya tonton secara berulang di cannel Youtube.Kendati referensi dari luar Bali, wacana ke-Bali-an tetap kami junjung tinggi sebagai pondasi bangunan pementasan.

Sementara komposisi bunyi banyak mendapat asupan gizi dari Wisnu Negara yang saat ini menempuh studi musik di Amerika. Dari Wisnu, kami belajar banyak tentang musik klasik, komposisi harmonis, atonal dan segala macam teknik-teknik yang tidak kami pahami sebelumnya. Ini menjadi tantangan bagi saya selaku sutradara (hanya formalitas) untuk menyatukan segala macam komponen menjadi satu genggaman pukulan yang baik. Ramuan antara bunyi  dan gerak agar tidak saling menonjol, tapi berjalan beriringan, namun juga  menghadirkan kejutan-kejutan  yang tak terduga bagi penikmatnya.

Terus terang garapan ini masih sangat muda, tapi menarik menjadi variasi tontonan di tengah jagat perteateran di Bali, Denpasar khususnya.Saya mencoba menggarap pementasan di ruang-ruang yang kurang lazim. Konsep tersebut terinspirasi dari pertunjukan musik grup Band Sigurros dari Islandia yang sering pentas musik di gedung tua, di perbukitan, di café kecil, dan lain sebagainya.Kalau di Denpasar biasanya ada Dramawan Abu Bakar yang menyajikan pentas teater rumahan.Pak Abu mengeksplorasi bagian rumah sebagai panggung pementasan.

Memilih lahan pentas secara acak seperti yang kami lakukan tentu memiliki resiko yang cukup tinggi, terutama kami harus observasi lebih dalam atas faktor eksternal tempat pementasan, seperti meminta izin tetangga, kepala dinas, kelian adat, serta pecalang. Selain itu di lahan pentas pun kami mesti melakukan adaptasi ruang dari awal, membuat setting dengan penuh kesadaran agar tidak terlalu banyak mengubah lahan yang sudah ada. Alih-alih membuat bangunan  baru, lebih baik mendayakan alam yang sudah ada. Lahan pentas “Bebunyian” adalah tanah milik salah seorang sahabat saya, rencananya di lahan tersebut akan dibangun gudang untuk usaha properti miliknya. Kami memerawani tanahnya terlebih dahulu sebelum dipakai pemiliknya.

Pementasan “Bebunyian” ini, belum utuh sepenuhnya, saya sendiri agak enggan mengatakan pementasan ini adalah akhir, melainkan awa untuk pementasan yang lebih matang, mungkin satu-dua-lima bulan, bahkan setahun lagi.Bagi kami, itu sah sah saja.setiap adegannya masih dapat dikembangkan sampai titik batas tertentu. Untuk itu, perlu masukan dari penonton/undangan yang hadir. Kemudian kami jadikan ramuan untuk pentas berikutnya. Entah kapan, tapi PASTI! Selamat  menikmati.

Teater Kalangan 2017

Baca juga: Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Tags: musikTeaterTeater Kalangan
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

“Kekuatan Mata Hati” – Ketika Penyandang Tunanetra Bermain Drama

Next Post

Bebunyian: Apa yang Harus Dibunyikan? – Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Bebunyian: Apa yang Harus Dibunyikan? – Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co