14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu-Hantu Membalas Dendam

Lamia Putri Damayanti by Lamia Putri Damayanti
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Lamia Putri Damayanti

Kabarnya, pemuda yang mati di atas bukit itu, disebabkan oleh hantu lelaki tua yang dibunuhnya setahun silam. Mayat pemuda itu ditemukan tercabik-cabik oleh sebilah pedang yang konon digunakannya juga untuk membunuh lelaki tua yang adalah pamannya sendiri. Satu tahun lalu, keduanya memang bersitegang karena sengketa tanah yang tak usai-usai. Sebab sebidang tanah yang tak jelas sertifikatnya, mereka berdua bertikai hebat sampai pertumpahan darah tak bisa lagi terhindarkan.

            Sebilah pedang panjang itu menyayat punggung dan menyobek bagian belakang kepala si lelaki tua. Sebelum tewas, tubuh si lelaki tua sempat mengalami kejang-kejang. Matanya membeliak lebar. Lidahnya menjulur-julur karena kesakitan. Kedua tangannya mengais-ais udara – seolah-olah ingin menggapai sang pemuda yang tengah gemetaran menunggu ajal si lelaki tua.

            Sesaat setelah itu, si lelaki tua tewas dengan darah yang berceceran di mana-mana. Pemuda itu langsung kabur. Bergegas lenyap tanpa meninggalkan jejak. Jika pun ada yang ia tinggalkan, hanya jejak kaki terputus yang tak pernah bisa diikuti. Sebab, setahun kemudian, setelah pemuda itu dinyatakan hilang dan lelaki tua itu telah mampus, pemuda itu ditemukan tewas dengan keadaan mengerikan sambil dikelilingi babi hutan. Sebilah pedang yang dulu digunakannya untuk membunuh pamannya sendiri menancap di ulu hatinya.

            Tidak ada yang tahu siapa yang menancapkannya. Dan tak ada seorang pun warga yang berani mencabutnya. Mereka tahu itu kutukan dari si lelaki tua. Mereka tahu, hantu lelaki tua itu pasti tak akan tinggal diam, dia akan bergerilya memburu pembunuhnya. Dan membalaskan dendam kesumatnya akibat ruh yang dipaksa lepas dari jasadnya.

            Banyak orang bilang, hidup seorang pembunuh memang tidak akan pernah tenang. Orang yang mereka bunuh akan menjadi hantu penasaran dan terus menggentayangi hidup mereka. Ada hantu-hatu yang beringas – yang bisa membunuh dengan keji seperti pemuda yang mati di atas bukitt. Ada pula hantu yang membunuh dengan perantara kesialan-kesialan. Seolah-olah, kematian itu terjadi karena memang sedang sial saja. Yang jelas, para pembunuh – pasti akan mati; entah setahun, dua tahun, atau belasan tahun kemudian – dengan keadaan yang mengenaskan. Keadaan yang sama sekali tidak wajar.

            Seperti yang terjadi pada lima pemuda yang tiga tahun lalu memperkosa dan membunuh seorang gadis remaja di belakang pabrik bekas. Setelah memburaikan aurat gadis itu, mereka membuang tubuh tak bernyawanya di sumur bekas. Tidak ada orang yang tahu bahwa ada mayat dari seorang gadis malang di sana. Polisi tidak begitu pintar untuk mencium bau kebejatan yang menyengat. Semua aman terkendali… sampai akhirnya, satu persatu pemuda biadab itu mati mengenaskan. Mereka mampus dengan meninggalkan ketakutan mendalam akan gadis remaja itu. Mereka mati sembari membawa bukti  pembunuhan dan pemerkosaan. Semua orang meyakini, hantu gadis itulah yang membunuhnya.

            Hantu-hantu yang dikisahkan ingin membalas dendam pada pembunuh-pembunuhnya dianggap nyata dan abadi di semua tempat yang ada di muka bumi. Amarah hantu, katanya, sangat mengerikan. Mereka tidak akan membiarkan pembunuh mereka hidup dengan nyaman. Kemana pun mereka akan bersembunyi, di kolong tempat tidur, di celah-celah udara yang bahkan tak bisa ditelusupi atau bahkan sampai mengganti wajah, para pembunuh tak akan bisa lari dari amarah itu. Hantu-hantu itu pasti akan menemukan mereka. Suatu hari nanti, mereka akan datang, membunuh hati dan jiwa sekaligus…

            Braaak!

            “Cerita macam apa itu, Kun!” Jumadi menggebrak meja di depannya, sampai papan catur melonjak kecil bersama dengan pion-pionnya.

            “Takut, Kang?” Kunang tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jumadi seketika menjadi pias.

            “Siapa yang takut? Cerita yang kamu bikin itu ngawur!”

            “Ngawur bagaimana, Kang? Pemuda desa yang hilang setahunan ini dan ditemukan tewas di…” Kunang mengangkat tangannya, menunjuk bukit belakang desa yang lebat akan pohon-pohon pinus, “… itu kan nyata! Dan, toh, memang dia yang bunuh pamannya sendiri,”

            “Hantu itu tidak ada,” potong Jumadi cepat. “Tidak ada hantu,” kata-kata Jumadi terasa semakin cepat. Seolah-olah tidak akan membiarkan Kunang memotong ucapannya.

            “Tapi, Kang…”

            “Kamu kebanyakan nonton film!” Jumadi cepat-cepat mendorong kepala remaja tanggung itu. “Mana ada hantu membunuh manusia? Hantu tak bisa menyentuh kita, kamu tahu?”

            “Lho, siapa bilang, hantu itu membunuh manusia dengan tangan mereka sendiri?”

            “Sudah-sudah! Saya tidak mau dengar, saya mau pulang!”

            “Lho, Kang! Ya jangan tinggalkan saya sendiri di sini. Saya tidak mau ronda sendiri!” Kunang berteriak-teriak memanggil Jumadi. Kepalanya celingak-celinguk takut. Tentu saja, walaupun ia tertawa melihat wajah Jumadi pias. Dirinya sendiri juga takut akan ceritanya.

            Jumadi terlihat enggan kembali dan menghiraukan semua panggilan Kunang. Biar saja remaja itu meronda sendirian. Ia enggan mendengarkan cerita lebih banyak tentang hantu yang membalas dendam dari Kunang.

***

            Jumadi benar-benar pulang. Tidak melanjutkan ronda. Ia berjalan sendirian menembus semak-semak belukar di sepanjang jalan menuju rumahnya. Mulutnya berkomat-kamit – entah menggumamkan apa. Sejujurnya, ia kepikiran betul dengan cerita Kunang. Terutama, dengan hantu yang membalas dendam. Cerita itu tentu hanya karang-karangan Kunang saja. Cerita yang dibuat untuk anak-anak agar tidak pulang lebih dari maghrib. Tetapi, cerita itu terlalu mengerikan untuk anak-anak yang belum mengerti tentang kematian yang dipaksakan.

            Lagipula, mana ada hantu? Itu hanya mitos yang dibuat-buat oleh manusia saja. Jumadi seharusnya tidak terlalu memikirkan cerita itu. Apalagi sampai mempercayainya. Usianya sudah melebihi kepala tiga dan tidak ada lagi urusan baginya untuk hanya sekadar mendengarkan cerita Kunang. Seharusnya, tadi dia memang tidak perlu meminta Kunang bercerita apa saja untuk mengisi kekosongan meronda tadi.

            Hanya saja, apakah orang-orang yang terbunuh benar-benar akan datang sebagai hantu dan membalas dendam? Tubuh Jumadi seketika gemetaran. Rasanya seluruh bulu kuduknya meremang. Ia mempercepat langkahnya dan bahkan hampir setengah berlari. Sesampai di rumah, ia langsung mengunci rumah dan menutup semua jendela rapat-rapat. Jumadi bahkan memaku beberapa sisinya dengan kayu. Ia menutup semua celah rumahnya dengan benda apapun. Ia tak membiarkan ada lubang sekecil apapun di dinding-dinding rumahnya. Bahkan semut pun tak akan ia biarkan masuk.

            Jumadi menyelimuti dirinya dengan selimut tebal dan meringkuk di atas kasur. Semenjak ibunya mati empat tahun lalu, Jumadi jadi tinggal sendiri. Sementara istrinya terpaksa terbang ke Saudi Arabia menjadi TKI. Sebenarnya, dengan keadaan seperti itu, ia sudah terbiasa hidup sendiri. Suasana sepi sama sekali tidak menakutkan baginya. Tetapi, entah mengapa, malam ini semuanya terasa berbeda.

            Ia bisa mendengar semua aktivitas mendiang ibunya ketika masih hidup. Ia mendengar suara air yang mengalir, piring dan gelas yang berkelontang. Ia bisa mendengar air sumur yang ditimba. Ia bisa mendengar suara kompor yang dinyalakan dan minyak yang mendidih. Tubuhnya semakin gemetaran. Mulutnya hendak berteriak tetapi tidak bisa. Semua aktivitas yang dulu pernah dilakukan oleh ibunya, mendadak bisa dirasakannya kembali. Dan, bahkan, ia bisa melihat ibunya tepat di depan wajahnya. Yang seharusnya sudah mati empat tahun lalu…

***

            Jumadi ditemukan mampus di kamarnya sendiri. Setelah dua minggu tidak menampakkan diri. Tubuhnya dililit oleh selimut. Wajahnya terlihat ketakutan dengan mulut menganga dan mata membeliak yang sudah dipenuhi oleh belatung. Tidak ada yang tahu mengapa Jumadi bisa tewas seperti itu. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Rumahnya bahkan terkunci dari dalam. Saat diotopsi, para petugas hanya mengatakan bahwa Jumadi mati kelaparan dan stres berat

            Tersiar kabar, bahwa Jumadi mati karena hantu. Kabar ini menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok desa. Bahkan, terdengar sampai telinga istri Jumadi yang berada di Arab Saudi. Tetapi, hantu siapa membunuh Jumadi?

            “Tapi, Jumadi, kan orang baik-baik. Beda dengan pemuda yang mati di bukit itu. Dia jelas-jelas membunuh pamannya. Jadi, pasti hantu pamannya sendiri yang membunuh pemuda itu,”

            “Lho, siapa bilang pasti hantu yang membunuh pemuda itu,” Kunang tiba-tiba muncul dan menyela percakapan sekumpulan warga.

            “Lalu siapa lagi?”

            Kunang tiba-tiba tertawa. “Hantu itu tidak ada,” jawabnya kalem. “Tidak ada hantu,” ucapnya lagi – mengulang kalimat yang pernah dikatakan oleh Jumadi. Salah satu warga di sana mendorong kepala  Kunang dengan keras. “Bodoh! Kamu sendiri yang membikin cerita itu kemudian kamu bilang hantu itu tak ada?”

            “Saya kan belum selesai cerita. Begitu pula ketika saya bercerita dengan Kang Jumadi,”

            “Lalu, mengapa Jumadi mati?”

            “Ya tidak tahu, nasib orang, siapa yang bisa menerka?”

            “Jadi, yang membunuh Jumadi itu benar-benar hantu atau bukan?” mendengar itu Kunang hanya tertawa lagi. Tidak ada hantu. Jumadi benar, hantu itu tidak ada. Kalaupun hantu memang ada, mereka adalah manusia itu sendiri, metafora lain dari ketakutan-ketakutan mereka. Yang membunuh pemuda itu, kelima pemuda pemerkosa, dan juga Jumadi… adalah rasa takut dari sudut tergelap dari manusia.

            Hantu hanyalah metafora dari ketakutan terbesar manusia. Sisi tergelap yang menyeruak di saat yang tidak tepat. Dan Jumadi merasakannya. Rasa bersalahnya muncul kembali tatkala mengingat almarhum ibunya – yang malas dirawatnya karena sakit keras. Yang pada suatu hari tiba-tiba saja tak bergerak lagi, lalu dikiranya sudah mati. Yang kemudian dengan riang segera ia kafani karena kematian ibunya berarti pertanda kebebasan hidup bagi Jumadi. Dan ketika memasukkannya ke dalam keranda, tiba-tiba jantung ibunya kembali berdetak.

Jumadi tahu, sekaligus ikut merasakan, bahwa ibunya sebetulnya masih hidup. Tetapi Jumadi tak mau tahu. Ada kebebasan yang telah menantinya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kebebasan itu adalah dengan melepas Ibunya. Ia cukupkan waktu luang-waktu luang yang sebelumnya ia gunakan untuk mengurusi ibunya. Setelahnya, waktu luang-waktu luang itu akan ia pergunakan untuk hal lain, bersenang-senang misalnya.

Tanpa mengindahkan jatung yang masih berdetak, ia meminta beberapa warga untuk turut segera menguburkan ibunya dengan alasan takut hutan. Ibunya dikubur saat itu juga – hidup-hidup; dan mati dengan cara yang tak pernah bisa dibayangkan oleh siapapun di dalam tanah – dengan dililit kuat-kuat menggunakan kain kafan.

            “Sudah jangan ngomongin hantu lagi!” Kunang kembali menyela gosip warga. “Hantu itu tidak ada!” (T)

***

Tags: Cerpen
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Menata Hati Menemu Rasa dalam Alun Suling Gita Semara Peliatan

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tikus Sakti & Ludesnya Lumbung Pengetahuan

Lamia Putri Damayanti

Lamia Putri Damayanti

Lahir di Magelang dan berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi UGM Yogyakarta. Penerima Anugrah Sastra A.A Navis 2016 dengan cerpennya yang berjudul Hunian Ternyaman. Menerbitkan novel berjudul Dering Kematian dan kini aktif menghidupi bacasaja.com bersama dua rekannya.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tikus Sakti & Ludesnya Lumbung Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co