3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu-Hantu Membalas Dendam

Lamia Putri Damayanti by Lamia Putri Damayanti
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Lamia Putri Damayanti

Kabarnya, pemuda yang mati di atas bukit itu, disebabkan oleh hantu lelaki tua yang dibunuhnya setahun silam. Mayat pemuda itu ditemukan tercabik-cabik oleh sebilah pedang yang konon digunakannya juga untuk membunuh lelaki tua yang adalah pamannya sendiri. Satu tahun lalu, keduanya memang bersitegang karena sengketa tanah yang tak usai-usai. Sebab sebidang tanah yang tak jelas sertifikatnya, mereka berdua bertikai hebat sampai pertumpahan darah tak bisa lagi terhindarkan.

            Sebilah pedang panjang itu menyayat punggung dan menyobek bagian belakang kepala si lelaki tua. Sebelum tewas, tubuh si lelaki tua sempat mengalami kejang-kejang. Matanya membeliak lebar. Lidahnya menjulur-julur karena kesakitan. Kedua tangannya mengais-ais udara – seolah-olah ingin menggapai sang pemuda yang tengah gemetaran menunggu ajal si lelaki tua.

            Sesaat setelah itu, si lelaki tua tewas dengan darah yang berceceran di mana-mana. Pemuda itu langsung kabur. Bergegas lenyap tanpa meninggalkan jejak. Jika pun ada yang ia tinggalkan, hanya jejak kaki terputus yang tak pernah bisa diikuti. Sebab, setahun kemudian, setelah pemuda itu dinyatakan hilang dan lelaki tua itu telah mampus, pemuda itu ditemukan tewas dengan keadaan mengerikan sambil dikelilingi babi hutan. Sebilah pedang yang dulu digunakannya untuk membunuh pamannya sendiri menancap di ulu hatinya.

            Tidak ada yang tahu siapa yang menancapkannya. Dan tak ada seorang pun warga yang berani mencabutnya. Mereka tahu itu kutukan dari si lelaki tua. Mereka tahu, hantu lelaki tua itu pasti tak akan tinggal diam, dia akan bergerilya memburu pembunuhnya. Dan membalaskan dendam kesumatnya akibat ruh yang dipaksa lepas dari jasadnya.

            Banyak orang bilang, hidup seorang pembunuh memang tidak akan pernah tenang. Orang yang mereka bunuh akan menjadi hantu penasaran dan terus menggentayangi hidup mereka. Ada hantu-hatu yang beringas – yang bisa membunuh dengan keji seperti pemuda yang mati di atas bukitt. Ada pula hantu yang membunuh dengan perantara kesialan-kesialan. Seolah-olah, kematian itu terjadi karena memang sedang sial saja. Yang jelas, para pembunuh – pasti akan mati; entah setahun, dua tahun, atau belasan tahun kemudian – dengan keadaan yang mengenaskan. Keadaan yang sama sekali tidak wajar.

            Seperti yang terjadi pada lima pemuda yang tiga tahun lalu memperkosa dan membunuh seorang gadis remaja di belakang pabrik bekas. Setelah memburaikan aurat gadis itu, mereka membuang tubuh tak bernyawanya di sumur bekas. Tidak ada orang yang tahu bahwa ada mayat dari seorang gadis malang di sana. Polisi tidak begitu pintar untuk mencium bau kebejatan yang menyengat. Semua aman terkendali… sampai akhirnya, satu persatu pemuda biadab itu mati mengenaskan. Mereka mampus dengan meninggalkan ketakutan mendalam akan gadis remaja itu. Mereka mati sembari membawa bukti  pembunuhan dan pemerkosaan. Semua orang meyakini, hantu gadis itulah yang membunuhnya.

            Hantu-hantu yang dikisahkan ingin membalas dendam pada pembunuh-pembunuhnya dianggap nyata dan abadi di semua tempat yang ada di muka bumi. Amarah hantu, katanya, sangat mengerikan. Mereka tidak akan membiarkan pembunuh mereka hidup dengan nyaman. Kemana pun mereka akan bersembunyi, di kolong tempat tidur, di celah-celah udara yang bahkan tak bisa ditelusupi atau bahkan sampai mengganti wajah, para pembunuh tak akan bisa lari dari amarah itu. Hantu-hantu itu pasti akan menemukan mereka. Suatu hari nanti, mereka akan datang, membunuh hati dan jiwa sekaligus…

            Braaak!

            “Cerita macam apa itu, Kun!” Jumadi menggebrak meja di depannya, sampai papan catur melonjak kecil bersama dengan pion-pionnya.

            “Takut, Kang?” Kunang tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jumadi seketika menjadi pias.

            “Siapa yang takut? Cerita yang kamu bikin itu ngawur!”

            “Ngawur bagaimana, Kang? Pemuda desa yang hilang setahunan ini dan ditemukan tewas di…” Kunang mengangkat tangannya, menunjuk bukit belakang desa yang lebat akan pohon-pohon pinus, “… itu kan nyata! Dan, toh, memang dia yang bunuh pamannya sendiri,”

            “Hantu itu tidak ada,” potong Jumadi cepat. “Tidak ada hantu,” kata-kata Jumadi terasa semakin cepat. Seolah-olah tidak akan membiarkan Kunang memotong ucapannya.

            “Tapi, Kang…”

            “Kamu kebanyakan nonton film!” Jumadi cepat-cepat mendorong kepala remaja tanggung itu. “Mana ada hantu membunuh manusia? Hantu tak bisa menyentuh kita, kamu tahu?”

            “Lho, siapa bilang, hantu itu membunuh manusia dengan tangan mereka sendiri?”

            “Sudah-sudah! Saya tidak mau dengar, saya mau pulang!”

            “Lho, Kang! Ya jangan tinggalkan saya sendiri di sini. Saya tidak mau ronda sendiri!” Kunang berteriak-teriak memanggil Jumadi. Kepalanya celingak-celinguk takut. Tentu saja, walaupun ia tertawa melihat wajah Jumadi pias. Dirinya sendiri juga takut akan ceritanya.

            Jumadi terlihat enggan kembali dan menghiraukan semua panggilan Kunang. Biar saja remaja itu meronda sendirian. Ia enggan mendengarkan cerita lebih banyak tentang hantu yang membalas dendam dari Kunang.

***

            Jumadi benar-benar pulang. Tidak melanjutkan ronda. Ia berjalan sendirian menembus semak-semak belukar di sepanjang jalan menuju rumahnya. Mulutnya berkomat-kamit – entah menggumamkan apa. Sejujurnya, ia kepikiran betul dengan cerita Kunang. Terutama, dengan hantu yang membalas dendam. Cerita itu tentu hanya karang-karangan Kunang saja. Cerita yang dibuat untuk anak-anak agar tidak pulang lebih dari maghrib. Tetapi, cerita itu terlalu mengerikan untuk anak-anak yang belum mengerti tentang kematian yang dipaksakan.

            Lagipula, mana ada hantu? Itu hanya mitos yang dibuat-buat oleh manusia saja. Jumadi seharusnya tidak terlalu memikirkan cerita itu. Apalagi sampai mempercayainya. Usianya sudah melebihi kepala tiga dan tidak ada lagi urusan baginya untuk hanya sekadar mendengarkan cerita Kunang. Seharusnya, tadi dia memang tidak perlu meminta Kunang bercerita apa saja untuk mengisi kekosongan meronda tadi.

            Hanya saja, apakah orang-orang yang terbunuh benar-benar akan datang sebagai hantu dan membalas dendam? Tubuh Jumadi seketika gemetaran. Rasanya seluruh bulu kuduknya meremang. Ia mempercepat langkahnya dan bahkan hampir setengah berlari. Sesampai di rumah, ia langsung mengunci rumah dan menutup semua jendela rapat-rapat. Jumadi bahkan memaku beberapa sisinya dengan kayu. Ia menutup semua celah rumahnya dengan benda apapun. Ia tak membiarkan ada lubang sekecil apapun di dinding-dinding rumahnya. Bahkan semut pun tak akan ia biarkan masuk.

            Jumadi menyelimuti dirinya dengan selimut tebal dan meringkuk di atas kasur. Semenjak ibunya mati empat tahun lalu, Jumadi jadi tinggal sendiri. Sementara istrinya terpaksa terbang ke Saudi Arabia menjadi TKI. Sebenarnya, dengan keadaan seperti itu, ia sudah terbiasa hidup sendiri. Suasana sepi sama sekali tidak menakutkan baginya. Tetapi, entah mengapa, malam ini semuanya terasa berbeda.

            Ia bisa mendengar semua aktivitas mendiang ibunya ketika masih hidup. Ia mendengar suara air yang mengalir, piring dan gelas yang berkelontang. Ia bisa mendengar air sumur yang ditimba. Ia bisa mendengar suara kompor yang dinyalakan dan minyak yang mendidih. Tubuhnya semakin gemetaran. Mulutnya hendak berteriak tetapi tidak bisa. Semua aktivitas yang dulu pernah dilakukan oleh ibunya, mendadak bisa dirasakannya kembali. Dan, bahkan, ia bisa melihat ibunya tepat di depan wajahnya. Yang seharusnya sudah mati empat tahun lalu…

***

            Jumadi ditemukan mampus di kamarnya sendiri. Setelah dua minggu tidak menampakkan diri. Tubuhnya dililit oleh selimut. Wajahnya terlihat ketakutan dengan mulut menganga dan mata membeliak yang sudah dipenuhi oleh belatung. Tidak ada yang tahu mengapa Jumadi bisa tewas seperti itu. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Rumahnya bahkan terkunci dari dalam. Saat diotopsi, para petugas hanya mengatakan bahwa Jumadi mati kelaparan dan stres berat

            Tersiar kabar, bahwa Jumadi mati karena hantu. Kabar ini menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok desa. Bahkan, terdengar sampai telinga istri Jumadi yang berada di Arab Saudi. Tetapi, hantu siapa membunuh Jumadi?

            “Tapi, Jumadi, kan orang baik-baik. Beda dengan pemuda yang mati di bukit itu. Dia jelas-jelas membunuh pamannya. Jadi, pasti hantu pamannya sendiri yang membunuh pemuda itu,”

            “Lho, siapa bilang pasti hantu yang membunuh pemuda itu,” Kunang tiba-tiba muncul dan menyela percakapan sekumpulan warga.

            “Lalu siapa lagi?”

            Kunang tiba-tiba tertawa. “Hantu itu tidak ada,” jawabnya kalem. “Tidak ada hantu,” ucapnya lagi – mengulang kalimat yang pernah dikatakan oleh Jumadi. Salah satu warga di sana mendorong kepala  Kunang dengan keras. “Bodoh! Kamu sendiri yang membikin cerita itu kemudian kamu bilang hantu itu tak ada?”

            “Saya kan belum selesai cerita. Begitu pula ketika saya bercerita dengan Kang Jumadi,”

            “Lalu, mengapa Jumadi mati?”

            “Ya tidak tahu, nasib orang, siapa yang bisa menerka?”

            “Jadi, yang membunuh Jumadi itu benar-benar hantu atau bukan?” mendengar itu Kunang hanya tertawa lagi. Tidak ada hantu. Jumadi benar, hantu itu tidak ada. Kalaupun hantu memang ada, mereka adalah manusia itu sendiri, metafora lain dari ketakutan-ketakutan mereka. Yang membunuh pemuda itu, kelima pemuda pemerkosa, dan juga Jumadi… adalah rasa takut dari sudut tergelap dari manusia.

            Hantu hanyalah metafora dari ketakutan terbesar manusia. Sisi tergelap yang menyeruak di saat yang tidak tepat. Dan Jumadi merasakannya. Rasa bersalahnya muncul kembali tatkala mengingat almarhum ibunya – yang malas dirawatnya karena sakit keras. Yang pada suatu hari tiba-tiba saja tak bergerak lagi, lalu dikiranya sudah mati. Yang kemudian dengan riang segera ia kafani karena kematian ibunya berarti pertanda kebebasan hidup bagi Jumadi. Dan ketika memasukkannya ke dalam keranda, tiba-tiba jantung ibunya kembali berdetak.

Jumadi tahu, sekaligus ikut merasakan, bahwa ibunya sebetulnya masih hidup. Tetapi Jumadi tak mau tahu. Ada kebebasan yang telah menantinya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kebebasan itu adalah dengan melepas Ibunya. Ia cukupkan waktu luang-waktu luang yang sebelumnya ia gunakan untuk mengurusi ibunya. Setelahnya, waktu luang-waktu luang itu akan ia pergunakan untuk hal lain, bersenang-senang misalnya.

Tanpa mengindahkan jatung yang masih berdetak, ia meminta beberapa warga untuk turut segera menguburkan ibunya dengan alasan takut hutan. Ibunya dikubur saat itu juga – hidup-hidup; dan mati dengan cara yang tak pernah bisa dibayangkan oleh siapapun di dalam tanah – dengan dililit kuat-kuat menggunakan kain kafan.

            “Sudah jangan ngomongin hantu lagi!” Kunang kembali menyela gosip warga. “Hantu itu tidak ada!” (T)

***

Tags: Cerpen
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Menata Hati Menemu Rasa dalam Alun Suling Gita Semara Peliatan

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tikus Sakti & Ludesnya Lumbung Pengetahuan

Lamia Putri Damayanti

Lamia Putri Damayanti

Lahir di Magelang dan berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi UGM Yogyakarta. Penerima Anugrah Sastra A.A Navis 2016 dengan cerpennya yang berjudul Hunian Ternyaman. Menerbitkan novel berjudul Dering Kematian dan kini aktif menghidupi bacasaja.com bersama dua rekannya.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tikus Sakti & Ludesnya Lumbung Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co