12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Pasang Mata

I Putu Supartika by I Putu Supartika
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: potongan lukisan Nyoman Wirata, Rohingya, akrelik dan kanvas, 2017

Cerpen: Putu Supartika

DI kamar tamu yang pengap. Udara begitu panas. Tak ada desir angin yang menyusup lewat celah pintu ataupun celah jendela. Tak ada AC. Tak ada pula kipas angin. Hanya suara nyamuk yang malu-malu yang masih terdengar, dan seekor cicak yang keheranan mengintip sesuatu.

Di sana ada dua pasang mata yang saling bertatapan. Terlihat serius. Sangat serius. Sepasang mata menatap ke arah sepasang mata yang satunya dengan ragu. Mata itu tidak terlalu besar. Namun, bisa dikatakan mata itu sipit. Hampir mirip dengan mata sebagai besar orang Cina. Tetapi, itu bukan mata orang Cina. Itu mata orang Indonesia. Namun sayang agak sipit. Mata itu berwarna buram. Buram, persis seperti warna langit mendung. Terlihat pula bulu-bulu matanya yang tipis ditetesi embun. Perlahan-lahan embun itu merembes lewat kelopak bawah matanya, lalu menciptakan sungai kecil yang bercabang di pipinya.

Lain lagi dengan sepasang mata yang lagi satunya. Mata itu terlihat seperti mata raksasa. Melotot. Bola matanya besar. Bahkan seperti mau jatuh. Bagi kita mungkin mata itu teralu besar untuk ukuran mata orang Indonesia. Tapi itu memang mata orang Indonesia, karena mata itu lahir di Indonesia, dan dari darah ayah dan ibu orang Indonesia. Bulu-bulu matanya agak tebal. Warna mata itu agak merah. Merah seperti memendam api. Terlihat dari tatapan mata itu, api menjilat-jilat dan ingin membakar seisi ruang tamu.

Beberapa menit kamar tamu itu hening. Mata sipit itu menunduk. Sementara mata besar itu terus menatap dengan tajam mata sipit itu. Bahkan dari tatapan mata besar itu, terlihat api besar yang menjilat-jilat. Api itu semakin membesar. Mungkin api itu ingin membakar mata sipit.

Beberapa saat kemudian si mata besar itu membentak.

“Laksmi, aku sudah mendengar semua apa yang dikatakan orang-orang di luar sana tentang dirimu. Tentang hubunganmu dengan lelaki bujang tua bangka itu. Sungguh-sungguh laknat dirimu!”

“Itu semua tidak benar. Itu cuma fitnah belaka,” si mata sipit menjawab dengan suara berat. Embun yang tadi membasahi matanya, berubah menjadi tetes-tetes air hujan yang deras.

Mata besar itu berbalik arah. Ia membelakangi mata sipit.

“Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan, bila ada orang yang mengatakan tentang tindakan kurang ajarmu itu lagi!”

Mata besar itu beranjak perlahan meninggalkan mata sipit mendekati pintu keluar. Sampai di depan pintu, mata besar itu menendang daun pintu dengan keras. Lalu ia menutup pintu dengan kasar. Suara pintu itu memecah keheningan di kamar tamu.

Di luar terdengar suara-suara yang riuh. Seperti suara kaleng yang dilempar atau mungkin ditendang. Seperti suara pukulan, dan tendangan. Dan suara-suara lain yang tidak mengenakkan, termasuk suara cacian.

Tak lama kemudian, suara-suara itu hilang entah kemana. Mata sipit berjalan pelan-pelan menuju ke jendela kamar tamu. Sedikit demi sedikit disingkapkannya korden penutup jendela itu. Lalu mata sipit mengintip di mana dan kemana suara itu. Tetapi, ia tidak mendapati suara itu lagi. Memang suara itu telah pergi.

Diusapnya embun yang merembes dari mata sipitnya. Kemudian mata sipit itu meninggalkan jendela kamar tamu, dan menuju ke sebuah kamar yang berada di samping kiri kamar tamu. Pelan-pelan pintu kamar itu dibukanya. Mata sipit itu bergegas ke dalam kamar lalu, dengan sigap menutup pintu kamar dengan keras hingga suaranya terdengar sangat menyakitkan telinga.

Sepi datang bertamu ke kamar si mata sipit. Tak ada suara yang terdengar. Hening. Sunyi. Senyap. Begitulah keadaan sekarang. Nyamuk pun tak ada yang berani datang. Cicak yang tadinya menempel di tembok, semuanya pergi entah ke mana. Mungkin ia sembunyi, atau ia pergi karena di sana tak ada nyamuk lagi.

Sementara itu si mata sipit terus mengusap matanya. Embun itu merembes lagi. Malah semakin deras. Seperti hujan. Matanya pun mulai memerah. Ia terisak sambil memeluk bantal.

Lima menit berselang, ia masih saja mengalirkan embun dari matanya. Embun yang deras. Mungkin jika embun itu terus mengalir, bisa jadi habis. Dan tak akan ada lagi aliran embun di matanya. Mungkin hanya akan menimbulkan warna merah di matanya.

Kemudian diraihnya selimut yang terlipat rapi di pojok kiri tempat tidur. Ia membuka sedikit demi sedikit selimut itu. Ia rebahkan dirinya di atas tempat tidur. Lalu digulungnya tubuhnya itu dengan selimut.

Tiba-tiba ia terperanjak dari tempat tidur. Selimut yang menggulungnya dilemparkan ke lantai. Ia kembali teringat dengan perkataan si mata besar. Ia teringat dengan ancamannya. Terbesit dalam ingatannya ancaman itu.

”Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan, bila ada orang yang mengatakan tentang tindakan kurang ajarmu itu lagi!”

Ia terdiam. Aliran embun dari kelopak matanya tiba-tiba terhenti. Udara di kamar itu terasa membeku. Detik jarum jam terasa terhenti. Putaran bumi pun tersa terhenti.

“Brengsekkk….!” Tiba-tiba mata sipit mengumpat. Bantal yang tadi ia peluk di lemparkannya ke tembok. Kebekuan udara di kamar itu pecah. Detik jarum jam berjalan lebih cepat. Putaran bumi pun semakin cepat. Kini udara di kamar semakin panas. Suhunya meningkat lagi sekian derajat. Terasa gerah.

Mata sipit beranjak dari tempat tidurnya. Lalu ia mendekati pintu. Membuka pintu itu dengan kasar. Ia berjalan melewati pintu menuju ke pintu keluar. Kembali dengan kasar dibukanya pintu itu. Lalu ditutupnya pintu itu dengan keras.

“Laki-laki sialan!”

Kemudian ia duduk di lantai, sambil bersandar di tembok. Dadanya naik turun. Nafasnya semakin tak beraturan. Kepalanya penuh dengan suara ancaman si mata besar. Apa yang ia mesti lakukan untuk menghapus ancaman itu dari kepalanya? Bisakah ia membalikkan keadaan biar mata besar menarik ancamannya itu? Pikirannya penuh sesak. Ia menggaruk-garuk kepalanya.

Ia menoleh ke arah meja yang ada di depan pintu. Sebongkos rokok yang masih utuh tergeletak di atas meja. Ia mendekati meja lalu mengambil rokok itu. Dibukanya bungkus rokok itu pelan. Isinya penuh. Mungkin baru dibeli. Tapi siapa yang membeli rokok itu? Mengapa ia menaruhnya di sana? Tapi bodoh sekali jika terus-terusan menerka siapa pemilik rokok itu.

Ditariknya satu batang. Kemudian digelantingkannya di bibir merahnya. Tangan kirinya merogoh saku depan celana jeansnya. Dengan korek api yang ia rogoh dari sakunya, ia nyalakan rokok itu. Hembusan pertama melepas sedikit beban pikirannya.

Ia kembali duduk di tempat yang tadi sambil menikmati setiap hembusan asap tembakau yang keluar dari mulut dan hidungnya. Sesekali ia meludah, lalu menghisap kembali rokok yang ada di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.

Tak lama berselang, rokok itu habis. Hanya tersisa puntungnya yang pendek. Dilemparkannya puntung rokok itu ke halaman rumahnya. Lalu ia menoleh ke arah meja, kemudian menghampiri meja itu dan mengambil satu batang rokok lagi.

Rokok yang kedua, ia nikmati dengan penuh perasaan. Dengan setiap hembusan asap rokok itu ia berikan kenikmatan pada dirinya. Bahkan kini ia mulai bermain-main dengan asap rokok itu. Sedikit demi sedikit, ia mulai tenang. Pikirannya mulai plong. Ancaman si mata besar sedikit demi sedikit mulai hilang.

Tak berselang lama pula, rokok itu juga habis. Hanya tinggal puntungnya yang pendek. Ia berdiri kemudian mengambil sendal dan menjatuhkan puntung rokok itu. Diinjaknya puntung rokok itu dengan kasar.

“Laki-laki sialan! Brengsek!”

Pikirannya mulai penuh lagi dengan ancaman si mata besar. Ia tak bisa menghindar. Suara ancaman si mata besar semakin menjejal di pikirannya. Rokok itu masih banyak tersimpan di atas meja. Tapi ia enggan mengambilnya lagi. Ia memilih melangkahkan kakinya ke arah taman yang ada di belakang rumah.

Sampai di taman, pikirannya malah semakin penuh sesak. Terasa berat sekali ia menopang kepalanya dengan pikiran yang penuh sesak. Mata sipit mencoba memalingkan pikirannya pada setangkai bunga mawar yang mekar. Berjalan perlahan ia mendekati mawar itu. Menciumnya, lalu tangan kanannya memetik mawar itu. Ia mencium semakin dalam. Mencium lagi berkali-kali dengan dalam. Ia ingin mendapat kedamaian dari bau mawar itu. Ia berharap pikirirannya plong dengan mencium mawar itu.

Mungkin karena habis. Mungkin karena mata sipit terlalu serakah. Bau harum dari mawar itu hilang. Lalu mata sipit merasakan bau aneh dari mawar itu. Seperti bau yang ia kenal. Ya itu bau yang ia kenal. Bau itu adalah bau si mata besar.

“Gila! Ini sangat gila!” ia berteriak lalu menginjak mawar itu.

Seketika pikirannya terasa sesak kembali. Suara ancaman si mata besar kembali memenuhi setiap ruang di pikirannya. Itu sangat gila. Gila sekali. Mata sipit merasa tak kuat menahan suara ancaman itu. Rasanya kepalanya mau pecah memuntahkan semua isinya. Termasuk suara ancaman si mata besar.

Dengan tergesa-gesa, mata sipit meninggalkan taman dan menuju ke kamar tamu. Ia merebahkan dirinya di sofa kamar tamu. Ia mencoba memalingkan pikirannya dengan bernyanyi. Namun, tetap saja itu semua gagal.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara yang mengagetkan si mata sipit. Ia terperanjak dari sofa. Lalu ia mendekati jendela dan menyingkapkan korden. Terlihat si mata besar datang dengan langkah yang tak biasa. Langkah yang cepat dengan raut muka yang menyeramkan.

Mata besar berjalan mendekati pintu kamar tamu. Kaki mata sipit terlihat bergetar.

“Laksmi…Laksmi…Laksmi…! Di mana kamu?”

Mata besar semakin mendekat dengan pintu kamar tamu. Lalu kakinya yang mengenakan sepatu pantopel menendang pintu kamar tamu hingga pintu tersebut terbuka.

“Laksmi, kamu memang kurang ajar! Apa yang selama ini telah kamu lakukan dengan lelaki sialan itu?”

“Aku tidak melakukan apa-apa dengannya!” Mata sipit menjawab dengan terbata-bata.

“Kamu biadab. Beraninya kamu membohongi suamimu sendiri!”

Mata besar lalu mendekati si mata sipit. Ditariknya rambut si mata sipit hingga ia meringis kesakitan.

Seketika udara di kamar tamu menjadi pengap. Panas. Keringat dingin mengucur dari tubuh mata sipit. Sementara tangan mata besar semakin erat mencengkram rambut mata sipit. Mata sipit tidak berani melawan.

“Ayo, katakan yang sebenarnya! Ada hubungan kamu dengan lelaki bujang tua bangka itu?”

Mata sipit terdiam. Mulutnya bungkam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Bibir mata sipit terlihat bergetar, begitupula dengan kakinya terlihat semakin bergetar. Sementara mata besar itu berwarna merah. Merah yang benar-benar merah. Seperti api yang berkobar dan menjilat-jilat dengan ganas. Didekatkannya mata sipit itu dengan mata besar. Mata besar menatap mata sipit dengan garang.

Tiba-tiba mata besar merogoh sesuatu dari lipatan bajunya. Tanpa basa-basi, mata besar menghujamkan benda itu ke dada mata sipit berkali-kali. Mata sipit tidak menghindar sedikitpun. Ia menerima hujaman benda itu tanpa perlawanan.

Mata besar melihat ada air yang berwarna merah pekat muncrat dan menetes dari dada mata sipit.

“Aku memang ada hubungan dengan lelaki itu.”

Tags: Cerpen
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Next Post

Membidik Peristiwa Menelisik Makna – Catatan Lomba Puisi Festra Basindo Undiksha

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post

Membidik Peristiwa Menelisik Makna – Catatan Lomba Puisi Festra Basindo Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co