16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Zulkifli Songyanan by Zulkifli Songyanan
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan: Nyoman Erawan

LIRIK KASMARAN

Manakala kau sentuh jiwaku
pirus dan safir bertebaran di bawah kakiku
matahari menyingkap kegelapan hatiku
dan sebuah galaksi, dengan gugusan
planet biru mengitari, terbit
dari setiap debu yang kuinjak di bumi.

Jangan bertanya kenapa siulku lebih merdu
ketimbang siul bulbul Sulaiman
sedang napasku lebih lembut
ketimbang desir angin selatan.
Duduklah di sampingku dan saksikan
bagaimana rusa buruan mencari lindungan
di bawah belaian tanganku
bagaimana singa lapar terpejam
tiap kali kubisiki namamu.

Ya kuncup segar sajakku!
Bilamana sekejap saja kau lenyap
apalah artinya dunia dan keajaiban ini bagiku?

Manakala lengkung perahu senyumanmu
melayari sepasang sungai di mataku
darah dan madu tak henti-henti ngalir di situ
ikan-ikan melompat kegirangan
lalu bagai lumut pada permukaan batu
kening pualammu turut menghijau
lantaran lembutnya kecupanku.

Ya seruling bambu lagu-lagu kerianganku!
Bila kelak aku mati
lantas kau dapati gema suaraku—
pernyataan cintaku—
pada letusan gunung atau badai berapi
pahami, betapa segala yang terjadi
bermula dari napas penghabisan
penyair kasmaran ini.

PATAH HATI

Frasa sekaligus kecelakaan paling dominan
dalam sejarah panjang
kehidupan.

Kekecewaan paling nyata
kenyataan paling mengecewakan.

Jika dibandingkan dengan perempuan
laki-laki lebih dekat kepadanya.
Pernyataan di atas belum dibuktikan
namun aku yakin hal itu sepenuhnya benar.

Berapa banyak perang dan sajak-sajak timbul darinya?
Berapa banyak orang mendadak gila
atau bijak karenanya?
Pakar statistika lupa, menjawab hal itu
amat penting bagi perkembangan ilmu jiwa.

Jangan kau pikir ia tak akan hinggap
pada orang dungu atau orang alim.
Ia teman rahasia bagi mereka
yang memiliki hati dan alat kelamin.
Ia bisa datang kapan saja
bahkan lewat cara yang tak lazim.

Jauh di masa silam
aku pernah bersentuhan dengannya.
Jantungku kembang kempis
dihempas arusnya yang dahsyat.
Pikiranku tersayat
mencengkeram ujung pisaunya
berkilat-kilat.

Mereka yang memiliki kesamaan nasib denganku
setidaknya pernah punya alasan baik
menyalahkan takdir.

Dan saat kini kupandang dirinya
aku bagai memandang sebuah taman di kejauhan.
Taman dengan lampu-lampu temaram
bangku-bangku kusam
yang meski tak terawat
terus menjulurkan
mawar hitam.

Cukup rumit menjelaskan bagaimana waktu bekerja
mengajariku menertawakan dirinya.
Ia yang pernah membuatku murung
dan menderita
setelah benar-benar tak ada
nyatanya cuma lelucon kecil
dilempar Tuhan—dengan gembira
ke tengah kemegahan
kenangan muram
manusia.

Bahkan sangat mungkin dilempar Tuhan—dengan sengaja
demi mengembangkan senyum
kemanusiaan kita.


KUPANDANG MALAM YANG LENGANG

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Kukenang deru hujan gemuruh seharian.
Kukenang betapa basah sebuah ciuman.

Sungguh tak dapat kupejamkan mataku.
Tak dapat kuterima bahwa kau tak bersamaku.
Malam kian lengang. Bintang-bintang
tampak makin samar dan gemetar.

Kuraba dadaku hampa.
Kuremas-remas jemariku putus asa.
Bagai sulur-sulur kembang anggrek
kesunyian merambati dinginnya tembok jiwa.

Mengapa cinta sanggup
membuat hidup demikian menderita?
Mengapa rindu kerap
menghempas keras daun pintunya yang terbuka?

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Gumpalan kabut merayap pelan
menyelimuti lampu-lampu berkilauan.

Mengapa kenangan terasa dekat
justru saat aku dan dirinya berjauhan?
Mengapa masa lalu terlihat indah
manakala masa kini hancur berantakan?

Angin. Hanya angin.
Lalu kepak kelelawar di dahan pohonan.
Angin. Benar-benar hanya angin.
Lalu lolong anjing di simpang jalanan.

Dingin. Sungguh dingin
kutatap selembar potret dalam genggaman.
Dingin. Benar-benar dingin
hasrat pada sebuah dekapan melintasi malam.

Sendiri. Hatiku sebongkah batu karang
tampak tegar sekaligus putus asa.
Rinai gerimis ingatan
menjelma jadi guyuran lembing tajam seketika.

Ah, tusukan kilau mutiara matanya!
Busur alisnya!
Bening betis serta senyumannya yang bercahaya
cermin kelembutan alam semesta!

Sajak cinta. Ya, aku tengah menulis sajak cinta.
Aku menulis larik rayuan dan dukalara!
Tapi, apalah arti semuanya
jika kemudian aku malah terlihat menderita?

Apalah arti semuanya
jika aku tak kunjung bijak dan dewasa?
Apalah arti sajak cinta
jika aku terus mabuk dalam kemurungan tiada habisnya?

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Bintang-bintang kian gemetar umpama
baris-baris sajak sedih yang kutulis untuknya.

Tuhan dan malaikat tersenyum
melihat aku menangis untuk pertama kalinya.

Tags: Puisi
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Genteng di Tanah Pejaten – Dari Era Barter hingga Zaman Pariwisata

Next Post

Dua Pasang Mata

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Alumni program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia. Menulis puisi, esai, feature, dan berita. Kumpulan puisi pertamanya, Kartu Pos dari Banda Neira (Gambang Buku Budaya, 2017). Saat ini tinggal di Jakarta

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Dua Pasang Mata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co