25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Zulkifli Songyanan by Zulkifli Songyanan
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan: Nyoman Erawan

LIRIK KASMARAN

Manakala kau sentuh jiwaku
pirus dan safir bertebaran di bawah kakiku
matahari menyingkap kegelapan hatiku
dan sebuah galaksi, dengan gugusan
planet biru mengitari, terbit
dari setiap debu yang kuinjak di bumi.

Jangan bertanya kenapa siulku lebih merdu
ketimbang siul bulbul Sulaiman
sedang napasku lebih lembut
ketimbang desir angin selatan.
Duduklah di sampingku dan saksikan
bagaimana rusa buruan mencari lindungan
di bawah belaian tanganku
bagaimana singa lapar terpejam
tiap kali kubisiki namamu.

Ya kuncup segar sajakku!
Bilamana sekejap saja kau lenyap
apalah artinya dunia dan keajaiban ini bagiku?

Manakala lengkung perahu senyumanmu
melayari sepasang sungai di mataku
darah dan madu tak henti-henti ngalir di situ
ikan-ikan melompat kegirangan
lalu bagai lumut pada permukaan batu
kening pualammu turut menghijau
lantaran lembutnya kecupanku.

Ya seruling bambu lagu-lagu kerianganku!
Bila kelak aku mati
lantas kau dapati gema suaraku—
pernyataan cintaku—
pada letusan gunung atau badai berapi
pahami, betapa segala yang terjadi
bermula dari napas penghabisan
penyair kasmaran ini.

PATAH HATI

Frasa sekaligus kecelakaan paling dominan
dalam sejarah panjang
kehidupan.

Kekecewaan paling nyata
kenyataan paling mengecewakan.

Jika dibandingkan dengan perempuan
laki-laki lebih dekat kepadanya.
Pernyataan di atas belum dibuktikan
namun aku yakin hal itu sepenuhnya benar.

Berapa banyak perang dan sajak-sajak timbul darinya?
Berapa banyak orang mendadak gila
atau bijak karenanya?
Pakar statistika lupa, menjawab hal itu
amat penting bagi perkembangan ilmu jiwa.

Jangan kau pikir ia tak akan hinggap
pada orang dungu atau orang alim.
Ia teman rahasia bagi mereka
yang memiliki hati dan alat kelamin.
Ia bisa datang kapan saja
bahkan lewat cara yang tak lazim.

Jauh di masa silam
aku pernah bersentuhan dengannya.
Jantungku kembang kempis
dihempas arusnya yang dahsyat.
Pikiranku tersayat
mencengkeram ujung pisaunya
berkilat-kilat.

Mereka yang memiliki kesamaan nasib denganku
setidaknya pernah punya alasan baik
menyalahkan takdir.

Dan saat kini kupandang dirinya
aku bagai memandang sebuah taman di kejauhan.
Taman dengan lampu-lampu temaram
bangku-bangku kusam
yang meski tak terawat
terus menjulurkan
mawar hitam.

Cukup rumit menjelaskan bagaimana waktu bekerja
mengajariku menertawakan dirinya.
Ia yang pernah membuatku murung
dan menderita
setelah benar-benar tak ada
nyatanya cuma lelucon kecil
dilempar Tuhan—dengan gembira
ke tengah kemegahan
kenangan muram
manusia.

Bahkan sangat mungkin dilempar Tuhan—dengan sengaja
demi mengembangkan senyum
kemanusiaan kita.


KUPANDANG MALAM YANG LENGANG

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Kukenang deru hujan gemuruh seharian.
Kukenang betapa basah sebuah ciuman.

Sungguh tak dapat kupejamkan mataku.
Tak dapat kuterima bahwa kau tak bersamaku.
Malam kian lengang. Bintang-bintang
tampak makin samar dan gemetar.

Kuraba dadaku hampa.
Kuremas-remas jemariku putus asa.
Bagai sulur-sulur kembang anggrek
kesunyian merambati dinginnya tembok jiwa.

Mengapa cinta sanggup
membuat hidup demikian menderita?
Mengapa rindu kerap
menghempas keras daun pintunya yang terbuka?

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Gumpalan kabut merayap pelan
menyelimuti lampu-lampu berkilauan.

Mengapa kenangan terasa dekat
justru saat aku dan dirinya berjauhan?
Mengapa masa lalu terlihat indah
manakala masa kini hancur berantakan?

Angin. Hanya angin.
Lalu kepak kelelawar di dahan pohonan.
Angin. Benar-benar hanya angin.
Lalu lolong anjing di simpang jalanan.

Dingin. Sungguh dingin
kutatap selembar potret dalam genggaman.
Dingin. Benar-benar dingin
hasrat pada sebuah dekapan melintasi malam.

Sendiri. Hatiku sebongkah batu karang
tampak tegar sekaligus putus asa.
Rinai gerimis ingatan
menjelma jadi guyuran lembing tajam seketika.

Ah, tusukan kilau mutiara matanya!
Busur alisnya!
Bening betis serta senyumannya yang bercahaya
cermin kelembutan alam semesta!

Sajak cinta. Ya, aku tengah menulis sajak cinta.
Aku menulis larik rayuan dan dukalara!
Tapi, apalah arti semuanya
jika kemudian aku malah terlihat menderita?

Apalah arti semuanya
jika aku tak kunjung bijak dan dewasa?
Apalah arti sajak cinta
jika aku terus mabuk dalam kemurungan tiada habisnya?

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Bintang-bintang kian gemetar umpama
baris-baris sajak sedih yang kutulis untuknya.

Tuhan dan malaikat tersenyum
melihat aku menangis untuk pertama kalinya.

Tags: Puisi
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Genteng di Tanah Pejaten – Dari Era Barter hingga Zaman Pariwisata

Next Post

Dua Pasang Mata

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Alumni program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia. Menulis puisi, esai, feature, dan berita. Kumpulan puisi pertamanya, Kartu Pos dari Banda Neira (Gambang Buku Budaya, 2017). Saat ini tinggal di Jakarta

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post

Dua Pasang Mata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co