5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Zulkifli Songyanan by Zulkifli Songyanan
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan: Nyoman Erawan

LIRIK KASMARAN

Manakala kau sentuh jiwaku
pirus dan safir bertebaran di bawah kakiku
matahari menyingkap kegelapan hatiku
dan sebuah galaksi, dengan gugusan
planet biru mengitari, terbit
dari setiap debu yang kuinjak di bumi.

Jangan bertanya kenapa siulku lebih merdu
ketimbang siul bulbul Sulaiman
sedang napasku lebih lembut
ketimbang desir angin selatan.
Duduklah di sampingku dan saksikan
bagaimana rusa buruan mencari lindungan
di bawah belaian tanganku
bagaimana singa lapar terpejam
tiap kali kubisiki namamu.

Ya kuncup segar sajakku!
Bilamana sekejap saja kau lenyap
apalah artinya dunia dan keajaiban ini bagiku?

Manakala lengkung perahu senyumanmu
melayari sepasang sungai di mataku
darah dan madu tak henti-henti ngalir di situ
ikan-ikan melompat kegirangan
lalu bagai lumut pada permukaan batu
kening pualammu turut menghijau
lantaran lembutnya kecupanku.

Ya seruling bambu lagu-lagu kerianganku!
Bila kelak aku mati
lantas kau dapati gema suaraku—
pernyataan cintaku—
pada letusan gunung atau badai berapi
pahami, betapa segala yang terjadi
bermula dari napas penghabisan
penyair kasmaran ini.

PATAH HATI

Frasa sekaligus kecelakaan paling dominan
dalam sejarah panjang
kehidupan.

Kekecewaan paling nyata
kenyataan paling mengecewakan.

Jika dibandingkan dengan perempuan
laki-laki lebih dekat kepadanya.
Pernyataan di atas belum dibuktikan
namun aku yakin hal itu sepenuhnya benar.

Berapa banyak perang dan sajak-sajak timbul darinya?
Berapa banyak orang mendadak gila
atau bijak karenanya?
Pakar statistika lupa, menjawab hal itu
amat penting bagi perkembangan ilmu jiwa.

Jangan kau pikir ia tak akan hinggap
pada orang dungu atau orang alim.
Ia teman rahasia bagi mereka
yang memiliki hati dan alat kelamin.
Ia bisa datang kapan saja
bahkan lewat cara yang tak lazim.

Jauh di masa silam
aku pernah bersentuhan dengannya.
Jantungku kembang kempis
dihempas arusnya yang dahsyat.
Pikiranku tersayat
mencengkeram ujung pisaunya
berkilat-kilat.

Mereka yang memiliki kesamaan nasib denganku
setidaknya pernah punya alasan baik
menyalahkan takdir.

Dan saat kini kupandang dirinya
aku bagai memandang sebuah taman di kejauhan.
Taman dengan lampu-lampu temaram
bangku-bangku kusam
yang meski tak terawat
terus menjulurkan
mawar hitam.

Cukup rumit menjelaskan bagaimana waktu bekerja
mengajariku menertawakan dirinya.
Ia yang pernah membuatku murung
dan menderita
setelah benar-benar tak ada
nyatanya cuma lelucon kecil
dilempar Tuhan—dengan gembira
ke tengah kemegahan
kenangan muram
manusia.

Bahkan sangat mungkin dilempar Tuhan—dengan sengaja
demi mengembangkan senyum
kemanusiaan kita.


KUPANDANG MALAM YANG LENGANG

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Kukenang deru hujan gemuruh seharian.
Kukenang betapa basah sebuah ciuman.

Sungguh tak dapat kupejamkan mataku.
Tak dapat kuterima bahwa kau tak bersamaku.
Malam kian lengang. Bintang-bintang
tampak makin samar dan gemetar.

Kuraba dadaku hampa.
Kuremas-remas jemariku putus asa.
Bagai sulur-sulur kembang anggrek
kesunyian merambati dinginnya tembok jiwa.

Mengapa cinta sanggup
membuat hidup demikian menderita?
Mengapa rindu kerap
menghempas keras daun pintunya yang terbuka?

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Gumpalan kabut merayap pelan
menyelimuti lampu-lampu berkilauan.

Mengapa kenangan terasa dekat
justru saat aku dan dirinya berjauhan?
Mengapa masa lalu terlihat indah
manakala masa kini hancur berantakan?

Angin. Hanya angin.
Lalu kepak kelelawar di dahan pohonan.
Angin. Benar-benar hanya angin.
Lalu lolong anjing di simpang jalanan.

Dingin. Sungguh dingin
kutatap selembar potret dalam genggaman.
Dingin. Benar-benar dingin
hasrat pada sebuah dekapan melintasi malam.

Sendiri. Hatiku sebongkah batu karang
tampak tegar sekaligus putus asa.
Rinai gerimis ingatan
menjelma jadi guyuran lembing tajam seketika.

Ah, tusukan kilau mutiara matanya!
Busur alisnya!
Bening betis serta senyumannya yang bercahaya
cermin kelembutan alam semesta!

Sajak cinta. Ya, aku tengah menulis sajak cinta.
Aku menulis larik rayuan dan dukalara!
Tapi, apalah arti semuanya
jika kemudian aku malah terlihat menderita?

Apalah arti semuanya
jika aku tak kunjung bijak dan dewasa?
Apalah arti sajak cinta
jika aku terus mabuk dalam kemurungan tiada habisnya?

Kupandang malam yang lengang.
Sekali lagi, kupandang malam yang lengang.
Bintang-bintang kian gemetar umpama
baris-baris sajak sedih yang kutulis untuknya.

Tuhan dan malaikat tersenyum
melihat aku menangis untuk pertama kalinya.

Tags: Puisi
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Genteng di Tanah Pejaten – Dari Era Barter hingga Zaman Pariwisata

Next Post

Dua Pasang Mata

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Alumni program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia. Menulis puisi, esai, feature, dan berita. Kumpulan puisi pertamanya, Kartu Pos dari Banda Neira (Gambang Buku Budaya, 2017). Saat ini tinggal di Jakarta

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post

Dua Pasang Mata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co