23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Genteng di Tanah Pejaten – Dari Era Barter hingga Zaman Pariwisata

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Khas

Suasana Desa Pejaten, Tabanan, dengan bangunan tungku dan jemuran genteng di tepi jalan. /Foto: Nurbawa

SAYA masuk kawasan Desa Pejaten di wilayah Kecamatan Kediri, Tabanan, ketika udara agak panas. Saya masuk lewat tikungan Jalan Raya Tanah Lot, dan di kiri-kanan masih tampak sedikit-sedikit ruang hijau seperti semak, namun sebagain besar sudah diisi bangunan. Mari memasuki desa legendaris, pikir saya.

Setelah melihat bangunan-bangunan khas dan genteng mentah yang dijemur di tepi jalan, tahulah saya sudah tiba di Desa Pejaten, sebuah desa yang namanya di telinga saya sudah sangat akrab. Tembok bangunan yang tinggi, dengan atap yang bertumpang, dan bekas asap yang melekat di sebagian besar sisi bangunan – itulah bangunan tungku pembakaran genteng.

Agak takjub saya lewat dengan laju kendaraan yang amat pelan, pandangan saya mungkin terheran-heran, tampak menyelidik, dan terkesan ingin banyak tahu. Saat itulah sejumlah orang langsung mendekati saya. “Cari genteng, Pak? Cari genteng?”

Saya menggeleng, dan di tempat lain, saya kembali mendapat pertanyaan yang sama dari orang-orang yang berbeda.

Desa Pejaten memang dikenal sebagai sentra industri cetakan berbahan baku tanah terlengkap dan terbesar di Bali, seperti; genteng, gerabah, bata dan keramik. Jika kita lewat di desa itu, dengan laju kendaraan yang pelan, apalagi dengan pandangan ingin tahu, orang-orang akan mengira kita mencari genteng. Jika tak mencari genteng atau gerabah atau keramik, kenapa harus bergerak pelan sambil memandang-mandang sekeliling?

Sebagian besar warga Bali, meski pun banyak orang tak tahu di mana persisnya Desa Pejaten, namun mereka pasti ingat Pejaten jika ingat atau ketemu genteng. Sejak bertahun-tahun lalu genteng produksi Desa Pejaten ikut andil dalam pembangunan rumah, kantor, dan warung-warung, bukan hanya di sekitar Tabanan, melainkan juga ke seluruh Bali, bahkan menyebar hingga ke Lombok dan Banyuwangi.

Jadi, sejak bertahun-tahun, Pejaten sudah mengatapi ribuan atau mungkin ratusan ribu rumah di Bali, juga di beberapa kota besar di Jawa, Lombok hingga ke negera-negara di Eropa.

Walau sudah banyak yang menggunakan genteng produksi Desa Pejaten untuk atap rumah, tetapi mungkin tidak banyak yang bertanya, mengapa genteng lahir, besar dan terkenal, itu berasal dari Desa Pejaten? Seakan menjadi branding, genteng Pejaten adalah jaminan mutu yang tak perlu diragukan. Lalu siapa sebenarnya warga Desa Pejaten yang punya pikiran sekaligus usaha membuat genteng untuk pertama kalinya?

Sejak Pendudukan Jepang

Desa Pejaten tidak jauh dari Pusat Kota Tabanan, kurang lebih 8 Km menuju arah selatan, atau sekitar 4 Km dari Kota Kecamatan Kediri. Sebelum tiba terlebih dahulu  kita memasuki wilayah Desa Nyit Dah. Secara wilayah adat, Desa Pejaten juga merupakan satu kesatuan wilayah dengan Desa Adat Nyit Dah. Tetapi secara kedinasan Desa Nyit Dah dan Desa Pejaten masing-masing berdiri sendiri.

Saya datang ke Pejaten Sabtu 23/7/2016, Saniscara Wage Kulantir. Setelah mendapat informasi dari berbagai sumber, saya menemui Wayan Raun (60 tahun). Ia disebut-sebut sebagai generasi ketiga perintis pertama usaha genteng di Desa Pejaten.

Siang itu saya berhasil menemui Wayan Raun di tempat usahanya yang baru,“Warung Andy”yang berlokasi di jalan utama Banjar Dalem perbatasan Desa Pejaten dengan Nyit Dah.

Wayan Raun menuturkan saat masa pendudukan Jepang di Bali pada tahun 1942 kakeknya (leluhurnya) yang bernama Pekak Rena adalah orang yang pertama kali membuat genteng di desanya. Saat itu belum ada yang lain. Baru beberapa tahun kemudian muncul perintis  kedua bernama Kiang Muder, selanjutnya muncul lagi perintis ketiga bernama Nang Kinia. Begitu seterusnya sehingga kini desa Pejaten berkembang menjadi sentra industri genteng, gerabah, bata dan keramik,  jelas Wayan Raun.

Wayan Raun

Pekak Rena memiliki anak kandung bernama I Ketut Bugel, Ia melanjutkan usaha genteng milik orang tuanya Pekak Rena. Kemudian anak kandung I Ketut Bugel yaitu Wayan Raun (cucunya Pekak Rena) hingga kini juga masih melanjutkan usaha orang tua dan kakeknya membuat genteng.

Jadi beruntung saya ketemu langsung dengan Wayan Raun, cucu Pekak Rena atau generasi ketiga yang sampai saat ini masih setia melanjutkan usaha genteng secara turun temurun yang pernah dirintis oleh Pekak Rena sejak tahun 1942 silam.

Saat masih muda, Wayan Raun pernah lama bergelut di usaha garmen, setelah menikah pada tahun 1977, usaha garmen tidak lagi ia lanjutkan, Wayan Raun memilih melanjutkan usaha orang tuanya I Ketut Bogel, membuat genteng hingga kini.

Diceritakan oleh Wayan Raun, di jaman Pekak Rena, genteng yang dibuat pertama kali adalah jenis genteng “BW” lalu muncul genteng model “S” yang agak tebal. Waktu jaman pemerintahan Perbekel I Made Tanteri tahun 1978 muncul lagi genteng model Kelungkung.

Waktu itu semua genteng masih dibuat manual. Tahun 1982  Balai Pembinaan Industri Kecil (BPIK) Provinsi Bali  (di era Gubernur Bali Ida Bagus Mantra) datang ke Pejaten memberi pembinaan dan bantuan peralatan berupa mesin pres.  “Sejak itu diproduksi genteng pres dengan design baru yang diberi nama genteng Plentong, Kodok dan terakhir sekarang ada genteng Plentong Mini,” ucap Wayan Raun.

Awalnya bahan baku genteng berupa tanah semua diambil dari lingkungan Desa Pejaten saja. Sekitar 20 tahun lalu (mulai tahun 1996) bahan baku tanah mulai diambil dari luar Pejaten. Pertama kali bahan baku tanah didatangkan dari Desa Bantas Selemadeg, kemudian ada juga dari Desa Banyuning Singaraja.

Usaha yang Tetap Eksis

Rasa penasaran saya terus muncul, mengapa usaha genteng di Desa Pejaten mampu eksis begitu lama. Bahkan saat ini 80% atau sekitar 800 KK masih bergelut dengan usaha genteng.  Tidak hanya di desa Pejaten juga warga di Desa Nyit Dah.

Desa Pejaten secara adat menjadi satu dengan Desa Nyit Dah, pada tahun 1955 desa Pejaten mulai dipersiapan menjadi desa dinas yang berdiri sendiri sesuai kondisi pemerintahan NKRI saat itu. Desa Pejaten terdiri dari 8 banjar/dusun.  Seiring dengan perjalanan waktu dua banjar kini berdiri sendiri secara adat dan enam banjar lagi masih bergabung dengan desa adat Nyit Dah.

“Di Desa Pejaten tidak ada “carik” (sawah), penduduknya lumayan padat. Kalaupun ada yang punya sawah semua lokasinya berada di luar Desa Pejaten,” kata Wayan Raun.

Di desanya, Wayan Raun saat ini menjabat sebagai Kelian Adat, dan sudah merupakan jabatan yang kedua sejak empat tahun lalu. Sebelumnya pada tahun 1978 Wayan Raun pernah menjabat menjadi Kadus di Banjar Dalem.  Pada tahun 1976 ia ikut mendirikan koperasi yaitu; “KUD Pejaten” yang hingga kini masih eksis.

Dijelaskan oleh Wayan Raun, KUD Pejaten awalnya hanya bergerak di dua unit bisnis yaitu: unit bangunan dan unit simpan pinjam. Kini sudah berkembang menjadi lima unit yaitu: unit pangan, industri dan pasar. Di desa Pejaten juga ada pasar tradisional yang bernama Pasar Kresek  yang mulai ada sejak tahun 1980 an. Disebut Pasar Kresek karena hanya buka beberapa jam saja, pagi hingga pukul 09.00 Wita.

Dijamannya Pasar Kresek menjadi tujuan ibu-ibu untuk berjualan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari dan terkenal hingga Desa Sudimara dan Gubug yang lokasinya di barat Desa Pejatan-sudah termasuk wilayah Kecamatan Tabanan.

Dulu Dibeli secara Barter

Kembali ke soal genteng, Wayan Raun menambahkan, usaha genteng leluhurnya Pekak Rena tahun 1942 sempat menjadi perhatian pemerintah Jepang. “Jaman itu Kakek saya sudah biasa pergi ke berbagai wilayah mengirim genteng, kakek saya banyak punya kenalan saudagar di kota, salah satunya adalah pemilik Restourant Hongkong yang ada di jalan Gajah Mada Denpasar, persahabatan dari jaman kakeknya berlanjut hingga sekarang,” kenang Wayan Raun.

Dulu orang membeli genteng jauh-jauh hari, setahun sebelumnya. Tidak dengan uang seperti sekarang, tetapi ditukar (barter) dengan barang lain seperti padi dan bahan pokok lainnya. “Waktu itu berapa yang matang segitu dikirim,”imbuhnya.

Hingga tahun 1950 warga Pejaten masih berjalan kaki, negen (memikul) genteng, gerabah, payuk dan sebagainya  ke berbagai pelosok desa di Tabanan bahkan hingga ke wilayah Denbukit-Singaraja di utara Pulau Bali. Saat itu belum banyak ada kendaraan seperti sekarang.  Adanya budaya barter  dalam perdagangan genteng, gerabah, payuk, coblong dan perlengkapan upacara lainnya di jaman dulu membuat antara penjual dengan pembeli begitu dekat. Meraka saling kenal satu sama lain seperti keluarga.

Setelah produk genteng  di Pejaten juga berkembang kelompok pengerajin gerabah, paso, coblong dan batu bata. Pada tahun 1985 mulai muncul industri keramik.  Seiring terbatasnya bahan baku tanah dan demi pengurangan dampak lingkungan yang terjadi di Pejaten, maka atas prakarsa dan sikap tangap para tokoh masyarakat waktu itu kemudian muncul gagasan mengembangakan Pejaten sebagai pusat Industri keramik.

Perkembangan keramik maju pesat di era Kepala Desa Pejaten I Made Tanteri pada tahun 1991. Kemudian industri keramik Pejaten terus diperkenalkan ke mancanegara ketika pada tahun 1995 berdiri  CV. Tanteri”s Ceramic pimpinan I Putu Oka Mahendra. Perusahaan ini diharapkan mampu menjembatani produksi dan pemasaran keramik asal Pejaten sekaligus bisa melibatkan warga dan tenaga kerja lokal.

Industri bata juga mengalami perkembangan, kadang ada pasang surutnya. Untuk batu bata pres, lima tahun terakhir kembali mengalami peningkatan.  Wayan Raun juga salah satu pelopor yang memproduksi batu bata pres di Desa Pejaten.

Tidak terasa, sekian lama sudah genteng, gerabah, batubata dan keramik produksi warga Pajaten menyapa berbagai wilayah di Bali, Indonesia  bahkan luar negeri. Tanpa pernah disadari dari “mengolah tanah” warga di Desa Pejaten turut mem-branding Bali hingga ke Manca Negara. Dari zaman barter ketika pembangunan masih kembang-kempis, hingga zaman pariwisata ketika pembangunan sedang pesat-pesatnya, terutama pembangunan sarana wisata dan perumahan.

Hal tersebut membuat Desa Pejaten dikenal oleh banyak orang, banyak dikunjungi oleh peneliti dan wisatawan manca negara, Desa Pejaten pun diharapkan dapat mejadi salah satu destinasi desa wisata di Bali. (T)

Tags: balidesaIndustriKerajinantabanan
Share2974TweetSendShareSend
Previous Post

Masa Depan Menunggumu, Ketut! – Berjalan 2 Jam ke Sekolah Lintasi Hutan itu Soal Kecil

Next Post

Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post

Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co