12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Putih dan Wanita di Luar Jendela

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Hidayat

AKU berada dalam kamar yang serba putih dengan kaos dan celana jins berwarna hitam. Pintu, dinding, langit-langit, meja, kursi, kasur, gorden, lemari, semua berwarna putih.Ya, semua serba putih. Bahkan cerminpun putih. Entah dicat atau bagaimana. Aku tak bisa melihat diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat ini. Tempat yang asing. Tak pernah kulihat di hari-hari sebelumnya, di bulan-bulan sebelumnya, di tahun-tahun sebelumnya.

Aku merasa ketidakadaan diriku. Aku tidak menghirup oksigen meskipun ada ventilasi udara. Mulutku terkunci .Apakah aku bisu? Kurasa, hari-hari lalu masih bisa meneriakkan nama. Nama siapa? Aku tidak ingat. Tak ada yang bisa kuingat dari hari-hari lalu. Ingatanku hanya mampu mengingat citra visual. Ada foto-foto perempuan melayang di ingatan. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Semakin banyak. Aku tidak bisa menghitung jumlahnya.

Aku memuta rtubuhku searah jarum jam. Memandang seisi ruangan yang serba putih dengan terheran-heran. Aku berhenti memutar tubuhku. Berhenti menghadappintu. Kupandang gagang pintu. Aku ingin segera keluar dari ruangan asing ini. Pintu tak bisa dibuka. Tidak terbuka. Aku putus asa. Kuhampiri jendela yang tertutup gorden. Kutarik gorden ke arah kanan. Dan, astaga, aku melihat pantai.

Tapi kenapa aku tidak bisa mendengar debur ombak? Pasir putih yang tak nampak satu sampah pun. Air berwarna biru muda yang segar. Buih ombak berwarna putih. Dan matahari terbenam yang aneh. Senja berwarna putih. Dunia macam apa ini? Kuputar lagi ingatan visual tentang senja. Semua senja yang pernah kulihat berwarna kuning kemerah-merahan. Tak ada senja putih dalam ingatan visualku.

Dengan penuh kekaguman sekaligus terheran-heran, kuambil kursi putih dan kuhadapkan ke jendela.Aku duduk. Kupandangi pantai dan senja yang aneh. Pandangku tertuju pada sesosok wanita berambut sebahu berwarna pirang, berkaos hitam. Ia sedang duduk di atas pasir berwarna putih. Di ujung bibir pantai. Ia tak memedulikan ombak yang mengenai tubuhnya. “Tenang sekali wanita itu” pikirku dalam hati.

Aku merasa nyaman berada di kamar ini. Aku merasa perlu membuka isi lemari. Aku berdiri dari kursi putih, melangkah ke lemari putih. Lemari setinggi peti mati. Kubuka. Kosong. Mataku tertuju ke bawah. Ada kotak kecil berwarna putih. Aku tak tahu ukurannya berapa. Dengan penuh rasa penasaran. Aku buka kotak itu. Aku terkejut. Isinya hanya satu benda sepanjang jari telunjuk, sebesar jari kelingking. Seperti kretek. Kuendus benda itu, tak berbau.

Kurasa ini bukan racun. Kuraba seluruh kantong jinsku. Mencari korek untuk menyulut benda tersebut. Tidak kutemukan apa-apa selain kunci. Ha kunci? Kunci berwarna hitam. Kunci siapa? Aku tak pernah membawa kunci kemana pun. Dengan rasa penassaran, aku melangkah ke arah pintu. Mencoba memasukkan kunci tersebut pada lubang pintu.Kurasa pas. Kuputar kunci tersebut. Ceklek, ceklek, dan pintu terbuka.

Aku keluar dari kamar aneh serba putih. Lega sekali. Di bawah kakiku pasir. Ya, ternyata di luar adalah pantai. Permadani biru yang mahaluas. Tanganku masih memegang benda serupa kretek. Aku ingin merokok tapi tidak ada api untuk menyulut.

Kupandangi pantai dari kiri ke kanan. Wanita yang kulihat dari jendela masih ada. Posisinya masih sama. Aku ingin menghampiri, tapi aku ragu. Aku tidak bernafas. Tapi aku tidak normal. Tidak, aku normal. Tapi aku tidak bisa bicara. Ingatanku kacau. Tak bisa mengingat nama, alamat, dan lain-lain. Ingatan hanya sebatas ingatan visual. Dalam ingatanku hanya ada foto-foto perempuan yang berputar tiada henti. Dan aku tidak bisa menghitung jumlahnya. 

Ah, aku tidak peduli. Kuberanikan diri menghampiri wanita di ujung pantai itu. Aku berjalan dengan langkah agak cepat. Saat aku sudah dekat dengannya,  ia menoleh ke belakang.

“Hai,” sapanya.

Aku yang tidak dapat bicara. Hanya menganggukkan kepala. Ia tersenyum ramah. “Aku sudah menunggumu sejak pagi tadi, seharusnya senja ini berwarna kuning kemerah-merahan seperti di duniamu jika kau bangun daritadi.” tambahnya.

Aku semakin bingung. Tiba-tiba berada dalam ruangan serba putih, melihat keluar jendela di luar pantai, membuka lemari hanya ada kotak berisi benda semacam kretek, meraba korek di kantong jins malah dapat kunci.

Sekarang bertemu wanita yang asing. Yang tidak pernah kukenal. Menyapaku lalu menyalahkanku atas fenomena senja berwarna putih. 

Ia berdiri, menghadapkan muka padaku lalu berkata:

“Semalam kita berada di ruang itu. Kau dan aku.Adam dan Vina. Akan aku ceritakan yang sesungguhnya. Semalam kau ingin menulis sebuah cerpen tentangku. Tapi kau bilang selalu tidak bisa. Kau kebingungan. Pertama, masalah muka. Kau terus berpikir tokoh vina seperti apa. Apakah dia berambut panjang, pendek, berwarna hitam atau pirang. Bermuka lonjong atau bulat. Bermata sipit atau hitam. Bermata biru atau hitam. Berkulit putih atau kuning langsat. Dan sebagainya.

Kedua, masalah sifat. Antagonis atau protagonis. Pendiam atau periang. Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang kaupikirkan. Aku yang terus terusan kaupikirkan merasa tidak tahan. Jengkel. Aku membentuk sendiri muka dan sifatku. Aku kacaukan pikiranmu hingga benar-benar kacau. Sampai lupa ingatan. Kemudian aku membawamu ke duniaku, ya inilah duniaku. Ruang putih dan pantai ini, sebuah dunia kecil yang kaulukis lewat tulisan-tulisanmu. Tapi kau tidak sadar.

Saat kau berada dalam ketidaksadaran, aku keluar ruangan. Aku mengunci pintu. Kebetulan kuncinya ada dua. Satu aku bawa, satunya aku selipkan di saku jinsmu. Menjelajahi dunia kecil yang kaulukiskan lewat tulisan-tulisanmu. Aku senang sekali, kulihat bintang-bintang tanggal. Bulan berwarna biru. Tapi sayang, aku sangat kesepian tak ada teman. Aku takut membangunkanmu.

Aku takut kau marah lalu menghapusku sebagai wanita khayalmu. Aku tidur di pasir ini, di sini. Hangat sekali. Aku tidak merasa dingin. Saat bulan sudah menghilang. Aku mau kembali ke ruangan putih. Tapi aku lebih baik menunggumu di sini. Diterpa sinar matahari dari pagi sampai sore. Matahari putih. Matahari yang dingin. Aku tidak merasa kepanasan. Sebenarnya aku ingin matahari hitam. Aku suka warna hitam”.

Kemudian ia memelukku. “Aku Vina, wanita khayalanmu. Dan kau tidak pernah berani menuliskan namaku dalam buku harian putihmu,” katanya.  (T)

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kritik Teater, Bukan Sekedar Hujatan-Pujian

Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co