16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Putih dan Wanita di Luar Jendela

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Hidayat

AKU berada dalam kamar yang serba putih dengan kaos dan celana jins berwarna hitam. Pintu, dinding, langit-langit, meja, kursi, kasur, gorden, lemari, semua berwarna putih.Ya, semua serba putih. Bahkan cerminpun putih. Entah dicat atau bagaimana. Aku tak bisa melihat diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat ini. Tempat yang asing. Tak pernah kulihat di hari-hari sebelumnya, di bulan-bulan sebelumnya, di tahun-tahun sebelumnya.

Aku merasa ketidakadaan diriku. Aku tidak menghirup oksigen meskipun ada ventilasi udara. Mulutku terkunci .Apakah aku bisu? Kurasa, hari-hari lalu masih bisa meneriakkan nama. Nama siapa? Aku tidak ingat. Tak ada yang bisa kuingat dari hari-hari lalu. Ingatanku hanya mampu mengingat citra visual. Ada foto-foto perempuan melayang di ingatan. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Semakin banyak. Aku tidak bisa menghitung jumlahnya.

Aku memuta rtubuhku searah jarum jam. Memandang seisi ruangan yang serba putih dengan terheran-heran. Aku berhenti memutar tubuhku. Berhenti menghadappintu. Kupandang gagang pintu. Aku ingin segera keluar dari ruangan asing ini. Pintu tak bisa dibuka. Tidak terbuka. Aku putus asa. Kuhampiri jendela yang tertutup gorden. Kutarik gorden ke arah kanan. Dan, astaga, aku melihat pantai.

Tapi kenapa aku tidak bisa mendengar debur ombak? Pasir putih yang tak nampak satu sampah pun. Air berwarna biru muda yang segar. Buih ombak berwarna putih. Dan matahari terbenam yang aneh. Senja berwarna putih. Dunia macam apa ini? Kuputar lagi ingatan visual tentang senja. Semua senja yang pernah kulihat berwarna kuning kemerah-merahan. Tak ada senja putih dalam ingatan visualku.

Dengan penuh kekaguman sekaligus terheran-heran, kuambil kursi putih dan kuhadapkan ke jendela.Aku duduk. Kupandangi pantai dan senja yang aneh. Pandangku tertuju pada sesosok wanita berambut sebahu berwarna pirang, berkaos hitam. Ia sedang duduk di atas pasir berwarna putih. Di ujung bibir pantai. Ia tak memedulikan ombak yang mengenai tubuhnya. “Tenang sekali wanita itu” pikirku dalam hati.

Aku merasa nyaman berada di kamar ini. Aku merasa perlu membuka isi lemari. Aku berdiri dari kursi putih, melangkah ke lemari putih. Lemari setinggi peti mati. Kubuka. Kosong. Mataku tertuju ke bawah. Ada kotak kecil berwarna putih. Aku tak tahu ukurannya berapa. Dengan penuh rasa penasaran. Aku buka kotak itu. Aku terkejut. Isinya hanya satu benda sepanjang jari telunjuk, sebesar jari kelingking. Seperti kretek. Kuendus benda itu, tak berbau.

Kurasa ini bukan racun. Kuraba seluruh kantong jinsku. Mencari korek untuk menyulut benda tersebut. Tidak kutemukan apa-apa selain kunci. Ha kunci? Kunci berwarna hitam. Kunci siapa? Aku tak pernah membawa kunci kemana pun. Dengan rasa penassaran, aku melangkah ke arah pintu. Mencoba memasukkan kunci tersebut pada lubang pintu.Kurasa pas. Kuputar kunci tersebut. Ceklek, ceklek, dan pintu terbuka.

Aku keluar dari kamar aneh serba putih. Lega sekali. Di bawah kakiku pasir. Ya, ternyata di luar adalah pantai. Permadani biru yang mahaluas. Tanganku masih memegang benda serupa kretek. Aku ingin merokok tapi tidak ada api untuk menyulut.

Kupandangi pantai dari kiri ke kanan. Wanita yang kulihat dari jendela masih ada. Posisinya masih sama. Aku ingin menghampiri, tapi aku ragu. Aku tidak bernafas. Tapi aku tidak normal. Tidak, aku normal. Tapi aku tidak bisa bicara. Ingatanku kacau. Tak bisa mengingat nama, alamat, dan lain-lain. Ingatan hanya sebatas ingatan visual. Dalam ingatanku hanya ada foto-foto perempuan yang berputar tiada henti. Dan aku tidak bisa menghitung jumlahnya. 

Ah, aku tidak peduli. Kuberanikan diri menghampiri wanita di ujung pantai itu. Aku berjalan dengan langkah agak cepat. Saat aku sudah dekat dengannya,  ia menoleh ke belakang.

“Hai,” sapanya.

Aku yang tidak dapat bicara. Hanya menganggukkan kepala. Ia tersenyum ramah. “Aku sudah menunggumu sejak pagi tadi, seharusnya senja ini berwarna kuning kemerah-merahan seperti di duniamu jika kau bangun daritadi.” tambahnya.

Aku semakin bingung. Tiba-tiba berada dalam ruangan serba putih, melihat keluar jendela di luar pantai, membuka lemari hanya ada kotak berisi benda semacam kretek, meraba korek di kantong jins malah dapat kunci.

Sekarang bertemu wanita yang asing. Yang tidak pernah kukenal. Menyapaku lalu menyalahkanku atas fenomena senja berwarna putih. 

Ia berdiri, menghadapkan muka padaku lalu berkata:

“Semalam kita berada di ruang itu. Kau dan aku.Adam dan Vina. Akan aku ceritakan yang sesungguhnya. Semalam kau ingin menulis sebuah cerpen tentangku. Tapi kau bilang selalu tidak bisa. Kau kebingungan. Pertama, masalah muka. Kau terus berpikir tokoh vina seperti apa. Apakah dia berambut panjang, pendek, berwarna hitam atau pirang. Bermuka lonjong atau bulat. Bermata sipit atau hitam. Bermata biru atau hitam. Berkulit putih atau kuning langsat. Dan sebagainya.

Kedua, masalah sifat. Antagonis atau protagonis. Pendiam atau periang. Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang kaupikirkan. Aku yang terus terusan kaupikirkan merasa tidak tahan. Jengkel. Aku membentuk sendiri muka dan sifatku. Aku kacaukan pikiranmu hingga benar-benar kacau. Sampai lupa ingatan. Kemudian aku membawamu ke duniaku, ya inilah duniaku. Ruang putih dan pantai ini, sebuah dunia kecil yang kaulukis lewat tulisan-tulisanmu. Tapi kau tidak sadar.

Saat kau berada dalam ketidaksadaran, aku keluar ruangan. Aku mengunci pintu. Kebetulan kuncinya ada dua. Satu aku bawa, satunya aku selipkan di saku jinsmu. Menjelajahi dunia kecil yang kaulukiskan lewat tulisan-tulisanmu. Aku senang sekali, kulihat bintang-bintang tanggal. Bulan berwarna biru. Tapi sayang, aku sangat kesepian tak ada teman. Aku takut membangunkanmu.

Aku takut kau marah lalu menghapusku sebagai wanita khayalmu. Aku tidur di pasir ini, di sini. Hangat sekali. Aku tidak merasa dingin. Saat bulan sudah menghilang. Aku mau kembali ke ruangan putih. Tapi aku lebih baik menunggumu di sini. Diterpa sinar matahari dari pagi sampai sore. Matahari putih. Matahari yang dingin. Aku tidak merasa kepanasan. Sebenarnya aku ingin matahari hitam. Aku suka warna hitam”.

Kemudian ia memelukku. “Aku Vina, wanita khayalanmu. Dan kau tidak pernah berani menuliskan namaku dalam buku harian putihmu,” katanya.  (T)

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kritik Teater, Bukan Sekedar Hujatan-Pujian

Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co