14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Putih dan Wanita di Luar Jendela

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Hidayat

AKU berada dalam kamar yang serba putih dengan kaos dan celana jins berwarna hitam. Pintu, dinding, langit-langit, meja, kursi, kasur, gorden, lemari, semua berwarna putih.Ya, semua serba putih. Bahkan cerminpun putih. Entah dicat atau bagaimana. Aku tak bisa melihat diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat ini. Tempat yang asing. Tak pernah kulihat di hari-hari sebelumnya, di bulan-bulan sebelumnya, di tahun-tahun sebelumnya.

Aku merasa ketidakadaan diriku. Aku tidak menghirup oksigen meskipun ada ventilasi udara. Mulutku terkunci .Apakah aku bisu? Kurasa, hari-hari lalu masih bisa meneriakkan nama. Nama siapa? Aku tidak ingat. Tak ada yang bisa kuingat dari hari-hari lalu. Ingatanku hanya mampu mengingat citra visual. Ada foto-foto perempuan melayang di ingatan. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Semakin banyak. Aku tidak bisa menghitung jumlahnya.

Aku memuta rtubuhku searah jarum jam. Memandang seisi ruangan yang serba putih dengan terheran-heran. Aku berhenti memutar tubuhku. Berhenti menghadappintu. Kupandang gagang pintu. Aku ingin segera keluar dari ruangan asing ini. Pintu tak bisa dibuka. Tidak terbuka. Aku putus asa. Kuhampiri jendela yang tertutup gorden. Kutarik gorden ke arah kanan. Dan, astaga, aku melihat pantai.

Tapi kenapa aku tidak bisa mendengar debur ombak? Pasir putih yang tak nampak satu sampah pun. Air berwarna biru muda yang segar. Buih ombak berwarna putih. Dan matahari terbenam yang aneh. Senja berwarna putih. Dunia macam apa ini? Kuputar lagi ingatan visual tentang senja. Semua senja yang pernah kulihat berwarna kuning kemerah-merahan. Tak ada senja putih dalam ingatan visualku.

Dengan penuh kekaguman sekaligus terheran-heran, kuambil kursi putih dan kuhadapkan ke jendela.Aku duduk. Kupandangi pantai dan senja yang aneh. Pandangku tertuju pada sesosok wanita berambut sebahu berwarna pirang, berkaos hitam. Ia sedang duduk di atas pasir berwarna putih. Di ujung bibir pantai. Ia tak memedulikan ombak yang mengenai tubuhnya. “Tenang sekali wanita itu” pikirku dalam hati.

Aku merasa nyaman berada di kamar ini. Aku merasa perlu membuka isi lemari. Aku berdiri dari kursi putih, melangkah ke lemari putih. Lemari setinggi peti mati. Kubuka. Kosong. Mataku tertuju ke bawah. Ada kotak kecil berwarna putih. Aku tak tahu ukurannya berapa. Dengan penuh rasa penasaran. Aku buka kotak itu. Aku terkejut. Isinya hanya satu benda sepanjang jari telunjuk, sebesar jari kelingking. Seperti kretek. Kuendus benda itu, tak berbau.

Kurasa ini bukan racun. Kuraba seluruh kantong jinsku. Mencari korek untuk menyulut benda tersebut. Tidak kutemukan apa-apa selain kunci. Ha kunci? Kunci berwarna hitam. Kunci siapa? Aku tak pernah membawa kunci kemana pun. Dengan rasa penassaran, aku melangkah ke arah pintu. Mencoba memasukkan kunci tersebut pada lubang pintu.Kurasa pas. Kuputar kunci tersebut. Ceklek, ceklek, dan pintu terbuka.

Aku keluar dari kamar aneh serba putih. Lega sekali. Di bawah kakiku pasir. Ya, ternyata di luar adalah pantai. Permadani biru yang mahaluas. Tanganku masih memegang benda serupa kretek. Aku ingin merokok tapi tidak ada api untuk menyulut.

Kupandangi pantai dari kiri ke kanan. Wanita yang kulihat dari jendela masih ada. Posisinya masih sama. Aku ingin menghampiri, tapi aku ragu. Aku tidak bernafas. Tapi aku tidak normal. Tidak, aku normal. Tapi aku tidak bisa bicara. Ingatanku kacau. Tak bisa mengingat nama, alamat, dan lain-lain. Ingatan hanya sebatas ingatan visual. Dalam ingatanku hanya ada foto-foto perempuan yang berputar tiada henti. Dan aku tidak bisa menghitung jumlahnya. 

Ah, aku tidak peduli. Kuberanikan diri menghampiri wanita di ujung pantai itu. Aku berjalan dengan langkah agak cepat. Saat aku sudah dekat dengannya,  ia menoleh ke belakang.

“Hai,” sapanya.

Aku yang tidak dapat bicara. Hanya menganggukkan kepala. Ia tersenyum ramah. “Aku sudah menunggumu sejak pagi tadi, seharusnya senja ini berwarna kuning kemerah-merahan seperti di duniamu jika kau bangun daritadi.” tambahnya.

Aku semakin bingung. Tiba-tiba berada dalam ruangan serba putih, melihat keluar jendela di luar pantai, membuka lemari hanya ada kotak berisi benda semacam kretek, meraba korek di kantong jins malah dapat kunci.

Sekarang bertemu wanita yang asing. Yang tidak pernah kukenal. Menyapaku lalu menyalahkanku atas fenomena senja berwarna putih. 

Ia berdiri, menghadapkan muka padaku lalu berkata:

“Semalam kita berada di ruang itu. Kau dan aku.Adam dan Vina. Akan aku ceritakan yang sesungguhnya. Semalam kau ingin menulis sebuah cerpen tentangku. Tapi kau bilang selalu tidak bisa. Kau kebingungan. Pertama, masalah muka. Kau terus berpikir tokoh vina seperti apa. Apakah dia berambut panjang, pendek, berwarna hitam atau pirang. Bermuka lonjong atau bulat. Bermata sipit atau hitam. Bermata biru atau hitam. Berkulit putih atau kuning langsat. Dan sebagainya.

Kedua, masalah sifat. Antagonis atau protagonis. Pendiam atau periang. Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang kaupikirkan. Aku yang terus terusan kaupikirkan merasa tidak tahan. Jengkel. Aku membentuk sendiri muka dan sifatku. Aku kacaukan pikiranmu hingga benar-benar kacau. Sampai lupa ingatan. Kemudian aku membawamu ke duniaku, ya inilah duniaku. Ruang putih dan pantai ini, sebuah dunia kecil yang kaulukis lewat tulisan-tulisanmu. Tapi kau tidak sadar.

Saat kau berada dalam ketidaksadaran, aku keluar ruangan. Aku mengunci pintu. Kebetulan kuncinya ada dua. Satu aku bawa, satunya aku selipkan di saku jinsmu. Menjelajahi dunia kecil yang kaulukiskan lewat tulisan-tulisanmu. Aku senang sekali, kulihat bintang-bintang tanggal. Bulan berwarna biru. Tapi sayang, aku sangat kesepian tak ada teman. Aku takut membangunkanmu.

Aku takut kau marah lalu menghapusku sebagai wanita khayalmu. Aku tidur di pasir ini, di sini. Hangat sekali. Aku tidak merasa dingin. Saat bulan sudah menghilang. Aku mau kembali ke ruangan putih. Tapi aku lebih baik menunggumu di sini. Diterpa sinar matahari dari pagi sampai sore. Matahari putih. Matahari yang dingin. Aku tidak merasa kepanasan. Sebenarnya aku ingin matahari hitam. Aku suka warna hitam”.

Kemudian ia memelukku. “Aku Vina, wanita khayalanmu. Dan kau tidak pernah berani menuliskan namaku dalam buku harian putihmu,” katanya.  (T)

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kritik Teater, Bukan Sekedar Hujatan-Pujian

Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co