2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Putih dan Wanita di Luar Jendela

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Hidayat

AKU berada dalam kamar yang serba putih dengan kaos dan celana jins berwarna hitam. Pintu, dinding, langit-langit, meja, kursi, kasur, gorden, lemari, semua berwarna putih.Ya, semua serba putih. Bahkan cerminpun putih. Entah dicat atau bagaimana. Aku tak bisa melihat diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat ini. Tempat yang asing. Tak pernah kulihat di hari-hari sebelumnya, di bulan-bulan sebelumnya, di tahun-tahun sebelumnya.

Aku merasa ketidakadaan diriku. Aku tidak menghirup oksigen meskipun ada ventilasi udara. Mulutku terkunci .Apakah aku bisu? Kurasa, hari-hari lalu masih bisa meneriakkan nama. Nama siapa? Aku tidak ingat. Tak ada yang bisa kuingat dari hari-hari lalu. Ingatanku hanya mampu mengingat citra visual. Ada foto-foto perempuan melayang di ingatan. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Semakin banyak. Aku tidak bisa menghitung jumlahnya.

Aku memuta rtubuhku searah jarum jam. Memandang seisi ruangan yang serba putih dengan terheran-heran. Aku berhenti memutar tubuhku. Berhenti menghadappintu. Kupandang gagang pintu. Aku ingin segera keluar dari ruangan asing ini. Pintu tak bisa dibuka. Tidak terbuka. Aku putus asa. Kuhampiri jendela yang tertutup gorden. Kutarik gorden ke arah kanan. Dan, astaga, aku melihat pantai.

Tapi kenapa aku tidak bisa mendengar debur ombak? Pasir putih yang tak nampak satu sampah pun. Air berwarna biru muda yang segar. Buih ombak berwarna putih. Dan matahari terbenam yang aneh. Senja berwarna putih. Dunia macam apa ini? Kuputar lagi ingatan visual tentang senja. Semua senja yang pernah kulihat berwarna kuning kemerah-merahan. Tak ada senja putih dalam ingatan visualku.

Dengan penuh kekaguman sekaligus terheran-heran, kuambil kursi putih dan kuhadapkan ke jendela.Aku duduk. Kupandangi pantai dan senja yang aneh. Pandangku tertuju pada sesosok wanita berambut sebahu berwarna pirang, berkaos hitam. Ia sedang duduk di atas pasir berwarna putih. Di ujung bibir pantai. Ia tak memedulikan ombak yang mengenai tubuhnya. “Tenang sekali wanita itu” pikirku dalam hati.

Aku merasa nyaman berada di kamar ini. Aku merasa perlu membuka isi lemari. Aku berdiri dari kursi putih, melangkah ke lemari putih. Lemari setinggi peti mati. Kubuka. Kosong. Mataku tertuju ke bawah. Ada kotak kecil berwarna putih. Aku tak tahu ukurannya berapa. Dengan penuh rasa penasaran. Aku buka kotak itu. Aku terkejut. Isinya hanya satu benda sepanjang jari telunjuk, sebesar jari kelingking. Seperti kretek. Kuendus benda itu, tak berbau.

Kurasa ini bukan racun. Kuraba seluruh kantong jinsku. Mencari korek untuk menyulut benda tersebut. Tidak kutemukan apa-apa selain kunci. Ha kunci? Kunci berwarna hitam. Kunci siapa? Aku tak pernah membawa kunci kemana pun. Dengan rasa penassaran, aku melangkah ke arah pintu. Mencoba memasukkan kunci tersebut pada lubang pintu.Kurasa pas. Kuputar kunci tersebut. Ceklek, ceklek, dan pintu terbuka.

Aku keluar dari kamar aneh serba putih. Lega sekali. Di bawah kakiku pasir. Ya, ternyata di luar adalah pantai. Permadani biru yang mahaluas. Tanganku masih memegang benda serupa kretek. Aku ingin merokok tapi tidak ada api untuk menyulut.

Kupandangi pantai dari kiri ke kanan. Wanita yang kulihat dari jendela masih ada. Posisinya masih sama. Aku ingin menghampiri, tapi aku ragu. Aku tidak bernafas. Tapi aku tidak normal. Tidak, aku normal. Tapi aku tidak bisa bicara. Ingatanku kacau. Tak bisa mengingat nama, alamat, dan lain-lain. Ingatan hanya sebatas ingatan visual. Dalam ingatanku hanya ada foto-foto perempuan yang berputar tiada henti. Dan aku tidak bisa menghitung jumlahnya. 

Ah, aku tidak peduli. Kuberanikan diri menghampiri wanita di ujung pantai itu. Aku berjalan dengan langkah agak cepat. Saat aku sudah dekat dengannya,  ia menoleh ke belakang.

“Hai,” sapanya.

Aku yang tidak dapat bicara. Hanya menganggukkan kepala. Ia tersenyum ramah. “Aku sudah menunggumu sejak pagi tadi, seharusnya senja ini berwarna kuning kemerah-merahan seperti di duniamu jika kau bangun daritadi.” tambahnya.

Aku semakin bingung. Tiba-tiba berada dalam ruangan serba putih, melihat keluar jendela di luar pantai, membuka lemari hanya ada kotak berisi benda semacam kretek, meraba korek di kantong jins malah dapat kunci.

Sekarang bertemu wanita yang asing. Yang tidak pernah kukenal. Menyapaku lalu menyalahkanku atas fenomena senja berwarna putih. 

Ia berdiri, menghadapkan muka padaku lalu berkata:

“Semalam kita berada di ruang itu. Kau dan aku.Adam dan Vina. Akan aku ceritakan yang sesungguhnya. Semalam kau ingin menulis sebuah cerpen tentangku. Tapi kau bilang selalu tidak bisa. Kau kebingungan. Pertama, masalah muka. Kau terus berpikir tokoh vina seperti apa. Apakah dia berambut panjang, pendek, berwarna hitam atau pirang. Bermuka lonjong atau bulat. Bermata sipit atau hitam. Bermata biru atau hitam. Berkulit putih atau kuning langsat. Dan sebagainya.

Kedua, masalah sifat. Antagonis atau protagonis. Pendiam atau periang. Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang kaupikirkan. Aku yang terus terusan kaupikirkan merasa tidak tahan. Jengkel. Aku membentuk sendiri muka dan sifatku. Aku kacaukan pikiranmu hingga benar-benar kacau. Sampai lupa ingatan. Kemudian aku membawamu ke duniaku, ya inilah duniaku. Ruang putih dan pantai ini, sebuah dunia kecil yang kaulukis lewat tulisan-tulisanmu. Tapi kau tidak sadar.

Saat kau berada dalam ketidaksadaran, aku keluar ruangan. Aku mengunci pintu. Kebetulan kuncinya ada dua. Satu aku bawa, satunya aku selipkan di saku jinsmu. Menjelajahi dunia kecil yang kaulukiskan lewat tulisan-tulisanmu. Aku senang sekali, kulihat bintang-bintang tanggal. Bulan berwarna biru. Tapi sayang, aku sangat kesepian tak ada teman. Aku takut membangunkanmu.

Aku takut kau marah lalu menghapusku sebagai wanita khayalmu. Aku tidur di pasir ini, di sini. Hangat sekali. Aku tidak merasa dingin. Saat bulan sudah menghilang. Aku mau kembali ke ruangan putih. Tapi aku lebih baik menunggumu di sini. Diterpa sinar matahari dari pagi sampai sore. Matahari putih. Matahari yang dingin. Aku tidak merasa kepanasan. Sebenarnya aku ingin matahari hitam. Aku suka warna hitam”.

Kemudian ia memelukku. “Aku Vina, wanita khayalanmu. Dan kau tidak pernah berani menuliskan namaku dalam buku harian putihmu,” katanya.  (T)

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kritik Teater, Bukan Sekedar Hujatan-Pujian

Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co