24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Foto-foto: koleksi penulis

SERING terjadi dua atau tiga komunitas etnis atau pemeluk agama menemukan hari baik yang sama untuk memperingati dan merayakan hari-hari suci dan tradisi mereka. Misalnya pada Rabu 5 April 2017 ini, pemeluk agama Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan, dan pada hari yang sama juga warga keturunan Tionghoa merayakan sebagai puncak persembahyangan tradisi Ceng Beng.

Apa itu Ceng Beng?

Dalam Kitab Anggutara Nikaya, tertulis pernyataan Sang Buddha bahwa di dunia dan dalam hidup ini, ada dua orang yang tidak bisa dibalas budinya. Siapakah mereka? Jawabannya sederhana, ayah dan ibu.

Ya, ayah dan ibu. Dua nama itulah yang sudah dikenal sejak dulu. Bahkan, jauh sebelum nama Tuhan dikenal oleh umat manusia. “Ayah” ditujukan kepada langit, sementara “ibu” ditujukan kepada bumi.

Begitulah, mengapa akhirnya ada istilah Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi yang kita kenal sampai sekarang. Ayah dan ibu adalah langit dan bumi. Ayah dan ibu adalah orang tua yang nantinya akan menjadi bagian dari leluhur bagi generasi selanjutnya.

Lalu, kenapa tidak bisa dibalas?

Begini lho. Cobalah diibaratkan seperti ini: Langit sudah memberikan udara, memberikan hujan, juga memberikan energi, dan Bumi sudah memberikan tempat tinggal, sumber daya alam, makanan dan minuman. Keduanya sudah memberikan kehidupan. Keduanya memberikan kebahagiaan. Itulah juga yang dilakukan oleh ayah dan ibu.

Keduanya sudah berkorban banyak. Mereka melahirkan, membesarkan dan kemudian menunjukan dunia kepada anaknya, kepada kita. Tentu sebuah pengorbanan hidup yang tidak akan bisa dibalas oleh apapun. Inilah yang diyakini oleh warga keturunan Tionghoa.

Kita, anak-anaknya, yakin bahwa satu-satunya cara untuk membalas budi adalah dengan berbakti kepada Ayah dan Ibu di dunia dan di akhirat. Lho, maksudnya apa?

Kita akan berbakti meski Ayah dan Ibu sudah meninggal dunia. Meskipun kita sebenarnya juga percaya bahwa dengan cara itu pun kita tidak akan bisa membalas budi baik ayah dan ibu secara sepenuhnya, secara lunas.

Berbakti

Warga keturunan Tionghoa memiliki sebuah tradisi yang bisa dikatakan khusus untuk menunjukkan bakti kepada ayah dan ibu dan leluhur yang sudah meninggal, atau bisa dikatakan untuk berbakti kepada mereka yang sudah berada di akhirat.

Tidak hanya ditujukan kepada leluhur, ayah dan ibu, atau kakek dan kenek, tetapi juga kepada anggota lain dalam keluarga, seperti kakak, adik, paman, dan sebagainya yang tentu juga sudah meninggal dunia. Tradisi ini dikenal sebagai sembahyang kubur dengan nama Ceng Beng yang memiliki arti cerah dan cermerlang. Dan pada saat tradisi ini dirayakan, maka areal pemakaman biasanya akan ramai oleh warga keturunan.

Sembahyang kubur Ceng Beng mungkin memang tidak seterkenal Imlek dan Cap Go Meh. Namun bagi warga keturunan, tradisi ini sangatlah penting. Tradisi sembahyang kubur ini biasanya dirayakan setiap tanggal 4 April atau tanggal 5 April pada penanggalan masehi. Namun yang dirayakan pada tanggal tersebut adalah puncak persembahyangan itu sendiri. Rangkaian acara Ceng Beng itu sesungguhnya sudah bisa dirayakan sejak seminggu sebelumnya.

Warga keturunan Tionghoa akan datang ke makam atau kuburan keluarganya, entah orang tua atau leluhur, kemudian melakukan pemebersihan. Semak-semak, gulma atau ilalang yang tumbuh akan dicabut, rumput yang sudah lebat juga dirapikan. Setelah rapi, makam dihias dengan berbagai macam bunga, sehingga makam akan terlihat sama seperti makna Ceng Beng itu sendiri, cerah dan cermerlang.

Jika makam sudah dibersihakan, warga keturunan biasanya akan menaruh kertas kuning di atas makam sebagai tanda bahwa makam telah dibersihkan. Setelah bersih, barulah persembahyangan dimulai.

Sarana persembahyangan yang digunakan masih sama seperti tradisi sembahyang warga keturunan lainnya, seperti dupa, bunga, masakan dan jajanan khas hari raya, dan uang kertas. Yang membedakan adalah biasanya warga keturunan juga menghaturkan berbagai jenis makanan, terutama makanan kesukaan orangtua atau leluhurnya. Ada pula yang terang-terangan menghaturkan sebungkus rokok jika orang tua atau leluhur yang bersangkutan adalah perokok berat.

Sejumlah Legenda

Ada beberapa lagenda yang melatarbelakangi adanya tradisi semabhyang kubur Ceng Beng ini, namun yang paling terkenal adalah cerita tentang seorang anak yang mencari makam orang tuanya yang sudah meninggal ketika ia dititipkan dan dibesarkan di kuil.

Ia meminta setiap warga untuk membersihkan dan berziarah ke makam keluarga mereka masing-masing dan menaruh kertas kuning di atasnya sebagai tanda bahwa makam telah dibersihkan. Kemudian ia menemukan ada beberapa makam yang tidak dibersihkan dan juga tidak ada kertas kuning di atasnya.

Anak itu pun meyakini bahwa makam-makam yang tak dibersihkan itu adalah makam orang tua dan kerabatnya. Dari cerita inilah tradisi sembahyang kubur Ceng Beng dimulai.

Tidak ada yang menyebutkan secara pasti dan tertulis bahwa tradisi sembahyang kubur Ceng Beng hanya dirayakan bagi warga keturunan yang beragama Budha atau Kong Hu Cu saja. Siapapun warga keturunan tentu boleh merayakan tradisi ini. Mengingat tujuannya adalah untuk menjaga silsilah keluarga, mengikat rasa kekeluargaan dan tentu saja yang paling utama adalah menghormati dan membalas jasa orang tua dan leluhur.

Hal ini tentu saja masih berkaitan dengan nilai-nilai dan ajaran yang diyakini dan ditanamkan oleh warga keturunan Tionghoa, yaitu penghormatan leluhur, bakti kepada orang tua, keharmonisan, dan kekeluargaan. (T)

Tags: leluhurTionghoaTradisi Ceng Beng
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Putih dan Wanita di Luar Jendela

Next Post

Kembalikan Babi Hitam itu Kepadaku – Harapan Kecil di Hari Galungan

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Kembalikan Babi Hitam itu Kepadaku – Harapan Kecil di Hari Galungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co