28 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budi Baik Ayah dan Ibu tak akan Bisa Dibalas Lunas – Tentang Tradisi Ceng Beng

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Foto-foto: koleksi penulis

SERING terjadi dua atau tiga komunitas etnis atau pemeluk agama menemukan hari baik yang sama untuk memperingati dan merayakan hari-hari suci dan tradisi mereka. Misalnya pada Rabu 5 April 2017 ini, pemeluk agama Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan, dan pada hari yang sama juga warga keturunan Tionghoa merayakan sebagai puncak persembahyangan tradisi Ceng Beng.

Apa itu Ceng Beng?

Dalam Kitab Anggutara Nikaya, tertulis pernyataan Sang Buddha bahwa di dunia dan dalam hidup ini, ada dua orang yang tidak bisa dibalas budinya. Siapakah mereka? Jawabannya sederhana, ayah dan ibu.

Ya, ayah dan ibu. Dua nama itulah yang sudah dikenal sejak dulu. Bahkan, jauh sebelum nama Tuhan dikenal oleh umat manusia. “Ayah” ditujukan kepada langit, sementara “ibu” ditujukan kepada bumi.

Begitulah, mengapa akhirnya ada istilah Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi yang kita kenal sampai sekarang. Ayah dan ibu adalah langit dan bumi. Ayah dan ibu adalah orang tua yang nantinya akan menjadi bagian dari leluhur bagi generasi selanjutnya.

Lalu, kenapa tidak bisa dibalas?

Begini lho. Cobalah diibaratkan seperti ini: Langit sudah memberikan udara, memberikan hujan, juga memberikan energi, dan Bumi sudah memberikan tempat tinggal, sumber daya alam, makanan dan minuman. Keduanya sudah memberikan kehidupan. Keduanya memberikan kebahagiaan. Itulah juga yang dilakukan oleh ayah dan ibu.

Keduanya sudah berkorban banyak. Mereka melahirkan, membesarkan dan kemudian menunjukan dunia kepada anaknya, kepada kita. Tentu sebuah pengorbanan hidup yang tidak akan bisa dibalas oleh apapun. Inilah yang diyakini oleh warga keturunan Tionghoa.

Kita, anak-anaknya, yakin bahwa satu-satunya cara untuk membalas budi adalah dengan berbakti kepada Ayah dan Ibu di dunia dan di akhirat. Lho, maksudnya apa?

Kita akan berbakti meski Ayah dan Ibu sudah meninggal dunia. Meskipun kita sebenarnya juga percaya bahwa dengan cara itu pun kita tidak akan bisa membalas budi baik ayah dan ibu secara sepenuhnya, secara lunas.

Berbakti

Warga keturunan Tionghoa memiliki sebuah tradisi yang bisa dikatakan khusus untuk menunjukkan bakti kepada ayah dan ibu dan leluhur yang sudah meninggal, atau bisa dikatakan untuk berbakti kepada mereka yang sudah berada di akhirat.

Tidak hanya ditujukan kepada leluhur, ayah dan ibu, atau kakek dan kenek, tetapi juga kepada anggota lain dalam keluarga, seperti kakak, adik, paman, dan sebagainya yang tentu juga sudah meninggal dunia. Tradisi ini dikenal sebagai sembahyang kubur dengan nama Ceng Beng yang memiliki arti cerah dan cermerlang. Dan pada saat tradisi ini dirayakan, maka areal pemakaman biasanya akan ramai oleh warga keturunan.

Sembahyang kubur Ceng Beng mungkin memang tidak seterkenal Imlek dan Cap Go Meh. Namun bagi warga keturunan, tradisi ini sangatlah penting. Tradisi sembahyang kubur ini biasanya dirayakan setiap tanggal 4 April atau tanggal 5 April pada penanggalan masehi. Namun yang dirayakan pada tanggal tersebut adalah puncak persembahyangan itu sendiri. Rangkaian acara Ceng Beng itu sesungguhnya sudah bisa dirayakan sejak seminggu sebelumnya.

Warga keturunan Tionghoa akan datang ke makam atau kuburan keluarganya, entah orang tua atau leluhur, kemudian melakukan pemebersihan. Semak-semak, gulma atau ilalang yang tumbuh akan dicabut, rumput yang sudah lebat juga dirapikan. Setelah rapi, makam dihias dengan berbagai macam bunga, sehingga makam akan terlihat sama seperti makna Ceng Beng itu sendiri, cerah dan cermerlang.

Jika makam sudah dibersihakan, warga keturunan biasanya akan menaruh kertas kuning di atas makam sebagai tanda bahwa makam telah dibersihkan. Setelah bersih, barulah persembahyangan dimulai.

Sarana persembahyangan yang digunakan masih sama seperti tradisi sembahyang warga keturunan lainnya, seperti dupa, bunga, masakan dan jajanan khas hari raya, dan uang kertas. Yang membedakan adalah biasanya warga keturunan juga menghaturkan berbagai jenis makanan, terutama makanan kesukaan orangtua atau leluhurnya. Ada pula yang terang-terangan menghaturkan sebungkus rokok jika orang tua atau leluhur yang bersangkutan adalah perokok berat.

Sejumlah Legenda

Ada beberapa lagenda yang melatarbelakangi adanya tradisi semabhyang kubur Ceng Beng ini, namun yang paling terkenal adalah cerita tentang seorang anak yang mencari makam orang tuanya yang sudah meninggal ketika ia dititipkan dan dibesarkan di kuil.

Ia meminta setiap warga untuk membersihkan dan berziarah ke makam keluarga mereka masing-masing dan menaruh kertas kuning di atasnya sebagai tanda bahwa makam telah dibersihkan. Kemudian ia menemukan ada beberapa makam yang tidak dibersihkan dan juga tidak ada kertas kuning di atasnya.

Anak itu pun meyakini bahwa makam-makam yang tak dibersihkan itu adalah makam orang tua dan kerabatnya. Dari cerita inilah tradisi sembahyang kubur Ceng Beng dimulai.

Tidak ada yang menyebutkan secara pasti dan tertulis bahwa tradisi sembahyang kubur Ceng Beng hanya dirayakan bagi warga keturunan yang beragama Budha atau Kong Hu Cu saja. Siapapun warga keturunan tentu boleh merayakan tradisi ini. Mengingat tujuannya adalah untuk menjaga silsilah keluarga, mengikat rasa kekeluargaan dan tentu saja yang paling utama adalah menghormati dan membalas jasa orang tua dan leluhur.

Hal ini tentu saja masih berkaitan dengan nilai-nilai dan ajaran yang diyakini dan ditanamkan oleh warga keturunan Tionghoa, yaitu penghormatan leluhur, bakti kepada orang tua, keharmonisan, dan kekeluargaan. (T)

Tags: leluhurTionghoaTradisi Ceng Beng
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Putih dan Wanita di Luar Jendela

Next Post

Kembalikan Babi Hitam itu Kepadaku – Harapan Kecil di Hari Galungan

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails
Next Post

Kembalikan Babi Hitam itu Kepadaku – Harapan Kecil di Hari Galungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

by Isran Kamal
April 27, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

by Sugi Lanus
April 27, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co