2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bekas Tamparan Bapak

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

SORE ini kami ada janji untuk bermain sepak bola kampung. Bermain di lapangan yang dilingkari pohon bambu, cukup sejuk dan rindang untuk bermain sepak bola dengan teman-teman. Dengan gawang yang terbuat dari bambu, maka kita akan bermain sepak bola kampung.

Aku mengayuh sepedaku dengan cepat menuju lapangan, teman-teman sudah menunggu di sana. Kami mulai bermain pukul 17.00 sore.

Tak terasa sudah 2 jam kami bermain, kami bisa merasakannya karena petang sudah mulai menjelang, lapangan sudah mulai berangsur gelap. Teman-teman sudah samar-samar kulihat. Karena keadaan seperti ini, kami pun memutuskan untuk pulang. Tak lupa pula aku menghitung semua teman-temanku agar tak ada yang hilang ataupun mungkin ada yang lebih.

Karena konon kalau anak kecil bermain hingga petang menjelang di area pohon bambu ini akan diculik oleh memedi. Memedi sering menculik dan memakan anak-anak kecil. Mereka biasanya bersembunyi di balik bambu. Maka dari itu kami pulang dengan berlari, agak takut tapi menyenangkan juga, agar tak bertemu memedi dan tak diculik.

Sesampainya di rumah, Bapak sudah berdiri di depan gerbang, dengan kerutan dahi yang kutahu itu bukan pertanda bagus. Aku memutar balik haluan sepedaku hendak melarikan diri dari amukan Bapak. Sekonyong-konyong bulu kudukku merinding, dan terdengar dengan lantang Bapak memanggilku seperti gemuruh yang datang menyambar telingaku, teriakan yang seperti auman singa itu mampu membangunkan seluruh penghuni rumah.

Petang itu aku mendapat tamparan lagi. Kali ini tamparan bolak-balik sebanyak enam kali, aku harus mengulum darah yang harus senantiasa kutelan agar Bapak tak mengira aku laki-laki lemah.

Malam memayungi rumah kami, dingin yang dihantarkan nafas pohon kamboja masuk ke celah-celah kamarku. Meja belajar sudah dipenuhi dengan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah. Sesekali aku menengok televisi agar aku merasa sedikit terhibur, tapi aku harus mengintip dan mengintai seperti tim S.W.A.T karena bapak juga mengintaiku saat belajar.

Saat belajar, aku merasa seperti di penjara, sementara Bapak menjadi mantrinya. Aku merasakan di dalam ruangan hampa yang hanya dipenuhi oleh tumpukan buku dan keputusasaan. Jam 19.00 malam, Mamak memanggilku, dengan suara khasnya. Memekik hingga sampai ke ruang belajar.

Saatnya makan malam. Makan malam adalah hal paling menjengkelkan yang kurasakan. Di mana Bapak akan mengintrogasiku, menanyai segala macam keseharianku, tentang sekolah, temanku, sampai hal-hal sepele seperti berdoa sebelum tidur.

Ia terlalu cerewet, berisik, dan sangat senang mencari kesalahan orang. Malam itu ia memulai percakapan di meja makan. Ia mengatakan kalau anak temannya ikut olimpiade SAINS keluar negeri, dan itu sangat membanggakan orang tua.

Ia memang suka begitu, menyindirku dengan bijaksana, dengan senyum dan mimik yang elegan, hingga pada akhirnya aku akan patah hati ketika aku hanya terdiam dan mengunyah nasi pahit yang ia taruh di piring kecilku. Aku benar-benar benci Bapak.

Aku adalah anak Bapak satu-satunya, penerus keluarga, tulang punggung, citra keluarga, ah apalah, aku masih kecil. Tapi Bapak tetap melanjutkan ceritanya, melanjutkan berbagai eksperimen untuk robotnya ini. Robot yang ia ciptakan agar sesuai dengan keingininannya. Agar sesuai dengan idealismenya.

Bapak suka bercerita, ia bisa bercerita dari fajar hingga senja. Ia sering bercerita tentang masa lalunya dan masa laluku. Tatkala ia bercerita tentang masa kanakku, rasa benciku hilang dengan sendirinya. Ia membiusku dengan dongeng lakon seorang Bapak yang sangat menyayangi anaknya.

Ia tak pernah absen memelukku sebelum tertidur saat aku masih belum mengenal beratnya langit dan ringannya tanah. Ia mengajariku cara menjadi lelaki, yang tak boleh menangis kalau terjatuh dan terjatuh lagi. Karena lelaki tak pernah menangis. Lelaki adalah mahluk yang tegar dan tak akan tumbang walau badai menerjang.
Tapi aku hanyalah manusia biasa. Lelaki yang juga punya rasa. Kecewa. Dengki. Iri dan sedih tentunya. Aku masih mengingatnya. Ya, aku masih mengingatnya.

Pertama kali aku menangis saat nilai ulanganku buruk dan Bapak mengetahuinya. Aku menangis sejadi-jadinya, menangis seperti singa yang kehilangan jati diri. Air mataku keluar begitu derasnya, mataku sudah seperti bendungan. Dan perkataan Bapak membuat bendungan itu jebol, dan aku tak dapat membendungnya lagi. Aku merasa lega bisa menangis, tapi takut Bapak marah.

Aku menangis dengan dahsyat, aku ingin menghentikan tangisanku. Tapi tak bisa, air mata ini seolah-olah tak mau berhenti mengalir, aku bisa tersenyum tapi air mataku tak mau selaras dengan itu, suasana hatiku sudah membaik tapi aku masih tetap menangis sampai aku kehabisan tenaga.

Aku pingsan, aku merasakan tangan Bapak menggendongku, samar-samar aku melihat Bapak juga ikut menangis. Walaupun ia berusaha menepisnya. Aku melihat kemilau air mata yang terpantul cahaya di matanya. Aku lega Bapak ternyata masih bisa menangis. Aku kira Bapak memang sudah tak punya air mata lagi.

Tapi ia masih menyimpan persediaan air matanya untukku, untuk Mamak mungkin sudah ia habiskan separuh. Sekarang ia sedang menutup bendungan air mata di matanya. Mungkin, ini hanyalah firasatku, ia masih ingin menangis lagi, di hari-hariku selanjutnya, tangis sedih sudah pasti, tapi mungkin ia akan menyisakan air mata yang banyak untuk melihatku bahagia, ya, air mata bahagia.

Saat aku tersadar dari pingsanku, Bapak mendekatiku, lalu membisiskkan sesuatu di telingaku. “Maafkan Bapak ya, Bapak janji tidak akan melukai perasaanmu lagi.”
perkataan Bapak tak masuk akal. Aku melihat sisi yang berbeda dari Bapak. Bapak yang selalu terlihat tegar dan tegas, kini meringkuh ketakutan saat ia tahu aku sudah sampai batasnya.

Kenangan itu masih terngiang di ingatanku ditambah lagi bekas luka di sekujur tubuh. Mungkin perlu kuceritakan pula, mengapa Bapak mengatakan untuk tidak menyakitiku lagi. Jelas memang sebelum aku pingsan. Di berbagai musim, sakit yang kuterima bukan perasaan sakit yang biasa.

Aku disakiti secara mental dan fisik. Digantung di bawah pohon kamboja lalu dicambuki dengan belt polisi di tangan Bapak, lalu air di dalam bak mandi sudah kucicipi setiap minggu, tamparan, tendangan, sikuan, langkah bebek, push up sebanyak 50 kali, semua pendidikan militer itu sudah kucicipi dengan darah terkulum di dalam mulut.

Kalau mental jangan ditanya lagi, mentalku sudah keras, sekeras karang di lautan. Aku mengingat ketika aku tidur siang yang terlalu lama, Bapak membangunkanku lalu berkata “Bangun, jangan tidur terus, nanti saja tidur sekali kalau sudah mati!”

Aku ingin sekali meminta maaf kepada Tuhan, karena Bapak yang dikirimkan Tuhan sangat kubenci. Ia memainkan ilmu kemiliterannya kepadaku. Mendidikku sama seperti mendidik siswa sekolah militer. Aku benci menjadi anak seorang aparat.

Kalau disuruh menceritakan bagaimana Bapak, aku bisa menceritakannya sampai ke akar-akarnya. Tapi ketika aku beranjak dari SMP ke SMA. Tingkah polah Bapak berubah. Aksi kemiliternya berubah. Ia tak lagi memberikan tendangan atau tamparan yang membuatku harus menundukan kepala.

Ia justru membimbingku, mengajakku untuk menjadi temannnya. Menjadi pelindungnya. Karena ia berkata ini sudah masanya untukku. Bukan lagi tentang ketegangan fisik. Tapi tentang olah rasa dan pemikiran. Aku masih membenci Bapak. Membenci semua kenangan yang telah ia bangun bersama ideologinya. Tapi aku tidak pernah membenci air matanya.

Air matanyalah yang paling tulus kurasakan semenjak aku di lahirkan ke dunia ini. Aku jadi rindu tamparannya. Aku pula baru mengingat. Saat-saat tamparan terakhir Bapak aku melihat raut wajahnya. Raut wajah kesedihan yang tampak. Tangannya memang keras saat menampar, tapi air matanya selalu saja menggenang di dalam kelopak matanya. Bapak ingin mengajarkanku rasa sakit. Karena rasa sakit yang bukan berasal dari tamparan Bapak. Tapi dari diri sendiri.

Hingga tiba aku jadi dewasa. Setamat kuliah, saat wisuda, Bapak datang. Turun dari panggung pengukuhan sarjana, aku diserang pelukan. Bapak memelukku erat. Aku tegang. Apalagi tangannya kemudian mengusap-usap pipiku. Lama, lama sekali, seakan-akan mencari bekas tamparan tanggannya yang menggumpal di pipiku. (T)

Singaraja, Februari 2016

Tags: Cerpen
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Rahasia Keluarga

Next Post

Menakar Kadar Ke-Bali-an* Orang Bali

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Menakar Kadar Ke-Bali-an* Orang Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co