12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bekas Tamparan Bapak

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

SORE ini kami ada janji untuk bermain sepak bola kampung. Bermain di lapangan yang dilingkari pohon bambu, cukup sejuk dan rindang untuk bermain sepak bola dengan teman-teman. Dengan gawang yang terbuat dari bambu, maka kita akan bermain sepak bola kampung.

Aku mengayuh sepedaku dengan cepat menuju lapangan, teman-teman sudah menunggu di sana. Kami mulai bermain pukul 17.00 sore.

Tak terasa sudah 2 jam kami bermain, kami bisa merasakannya karena petang sudah mulai menjelang, lapangan sudah mulai berangsur gelap. Teman-teman sudah samar-samar kulihat. Karena keadaan seperti ini, kami pun memutuskan untuk pulang. Tak lupa pula aku menghitung semua teman-temanku agar tak ada yang hilang ataupun mungkin ada yang lebih.

Karena konon kalau anak kecil bermain hingga petang menjelang di area pohon bambu ini akan diculik oleh memedi. Memedi sering menculik dan memakan anak-anak kecil. Mereka biasanya bersembunyi di balik bambu. Maka dari itu kami pulang dengan berlari, agak takut tapi menyenangkan juga, agar tak bertemu memedi dan tak diculik.

Sesampainya di rumah, Bapak sudah berdiri di depan gerbang, dengan kerutan dahi yang kutahu itu bukan pertanda bagus. Aku memutar balik haluan sepedaku hendak melarikan diri dari amukan Bapak. Sekonyong-konyong bulu kudukku merinding, dan terdengar dengan lantang Bapak memanggilku seperti gemuruh yang datang menyambar telingaku, teriakan yang seperti auman singa itu mampu membangunkan seluruh penghuni rumah.

Petang itu aku mendapat tamparan lagi. Kali ini tamparan bolak-balik sebanyak enam kali, aku harus mengulum darah yang harus senantiasa kutelan agar Bapak tak mengira aku laki-laki lemah.

Malam memayungi rumah kami, dingin yang dihantarkan nafas pohon kamboja masuk ke celah-celah kamarku. Meja belajar sudah dipenuhi dengan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah. Sesekali aku menengok televisi agar aku merasa sedikit terhibur, tapi aku harus mengintip dan mengintai seperti tim S.W.A.T karena bapak juga mengintaiku saat belajar.

Saat belajar, aku merasa seperti di penjara, sementara Bapak menjadi mantrinya. Aku merasakan di dalam ruangan hampa yang hanya dipenuhi oleh tumpukan buku dan keputusasaan. Jam 19.00 malam, Mamak memanggilku, dengan suara khasnya. Memekik hingga sampai ke ruang belajar.

Saatnya makan malam. Makan malam adalah hal paling menjengkelkan yang kurasakan. Di mana Bapak akan mengintrogasiku, menanyai segala macam keseharianku, tentang sekolah, temanku, sampai hal-hal sepele seperti berdoa sebelum tidur.

Ia terlalu cerewet, berisik, dan sangat senang mencari kesalahan orang. Malam itu ia memulai percakapan di meja makan. Ia mengatakan kalau anak temannya ikut olimpiade SAINS keluar negeri, dan itu sangat membanggakan orang tua.

Ia memang suka begitu, menyindirku dengan bijaksana, dengan senyum dan mimik yang elegan, hingga pada akhirnya aku akan patah hati ketika aku hanya terdiam dan mengunyah nasi pahit yang ia taruh di piring kecilku. Aku benar-benar benci Bapak.

Aku adalah anak Bapak satu-satunya, penerus keluarga, tulang punggung, citra keluarga, ah apalah, aku masih kecil. Tapi Bapak tetap melanjutkan ceritanya, melanjutkan berbagai eksperimen untuk robotnya ini. Robot yang ia ciptakan agar sesuai dengan keingininannya. Agar sesuai dengan idealismenya.

Bapak suka bercerita, ia bisa bercerita dari fajar hingga senja. Ia sering bercerita tentang masa lalunya dan masa laluku. Tatkala ia bercerita tentang masa kanakku, rasa benciku hilang dengan sendirinya. Ia membiusku dengan dongeng lakon seorang Bapak yang sangat menyayangi anaknya.

Ia tak pernah absen memelukku sebelum tertidur saat aku masih belum mengenal beratnya langit dan ringannya tanah. Ia mengajariku cara menjadi lelaki, yang tak boleh menangis kalau terjatuh dan terjatuh lagi. Karena lelaki tak pernah menangis. Lelaki adalah mahluk yang tegar dan tak akan tumbang walau badai menerjang.
Tapi aku hanyalah manusia biasa. Lelaki yang juga punya rasa. Kecewa. Dengki. Iri dan sedih tentunya. Aku masih mengingatnya. Ya, aku masih mengingatnya.

Pertama kali aku menangis saat nilai ulanganku buruk dan Bapak mengetahuinya. Aku menangis sejadi-jadinya, menangis seperti singa yang kehilangan jati diri. Air mataku keluar begitu derasnya, mataku sudah seperti bendungan. Dan perkataan Bapak membuat bendungan itu jebol, dan aku tak dapat membendungnya lagi. Aku merasa lega bisa menangis, tapi takut Bapak marah.

Aku menangis dengan dahsyat, aku ingin menghentikan tangisanku. Tapi tak bisa, air mata ini seolah-olah tak mau berhenti mengalir, aku bisa tersenyum tapi air mataku tak mau selaras dengan itu, suasana hatiku sudah membaik tapi aku masih tetap menangis sampai aku kehabisan tenaga.

Aku pingsan, aku merasakan tangan Bapak menggendongku, samar-samar aku melihat Bapak juga ikut menangis. Walaupun ia berusaha menepisnya. Aku melihat kemilau air mata yang terpantul cahaya di matanya. Aku lega Bapak ternyata masih bisa menangis. Aku kira Bapak memang sudah tak punya air mata lagi.

Tapi ia masih menyimpan persediaan air matanya untukku, untuk Mamak mungkin sudah ia habiskan separuh. Sekarang ia sedang menutup bendungan air mata di matanya. Mungkin, ini hanyalah firasatku, ia masih ingin menangis lagi, di hari-hariku selanjutnya, tangis sedih sudah pasti, tapi mungkin ia akan menyisakan air mata yang banyak untuk melihatku bahagia, ya, air mata bahagia.

Saat aku tersadar dari pingsanku, Bapak mendekatiku, lalu membisiskkan sesuatu di telingaku. “Maafkan Bapak ya, Bapak janji tidak akan melukai perasaanmu lagi.”
perkataan Bapak tak masuk akal. Aku melihat sisi yang berbeda dari Bapak. Bapak yang selalu terlihat tegar dan tegas, kini meringkuh ketakutan saat ia tahu aku sudah sampai batasnya.

Kenangan itu masih terngiang di ingatanku ditambah lagi bekas luka di sekujur tubuh. Mungkin perlu kuceritakan pula, mengapa Bapak mengatakan untuk tidak menyakitiku lagi. Jelas memang sebelum aku pingsan. Di berbagai musim, sakit yang kuterima bukan perasaan sakit yang biasa.

Aku disakiti secara mental dan fisik. Digantung di bawah pohon kamboja lalu dicambuki dengan belt polisi di tangan Bapak, lalu air di dalam bak mandi sudah kucicipi setiap minggu, tamparan, tendangan, sikuan, langkah bebek, push up sebanyak 50 kali, semua pendidikan militer itu sudah kucicipi dengan darah terkulum di dalam mulut.

Kalau mental jangan ditanya lagi, mentalku sudah keras, sekeras karang di lautan. Aku mengingat ketika aku tidur siang yang terlalu lama, Bapak membangunkanku lalu berkata “Bangun, jangan tidur terus, nanti saja tidur sekali kalau sudah mati!”

Aku ingin sekali meminta maaf kepada Tuhan, karena Bapak yang dikirimkan Tuhan sangat kubenci. Ia memainkan ilmu kemiliterannya kepadaku. Mendidikku sama seperti mendidik siswa sekolah militer. Aku benci menjadi anak seorang aparat.

Kalau disuruh menceritakan bagaimana Bapak, aku bisa menceritakannya sampai ke akar-akarnya. Tapi ketika aku beranjak dari SMP ke SMA. Tingkah polah Bapak berubah. Aksi kemiliternya berubah. Ia tak lagi memberikan tendangan atau tamparan yang membuatku harus menundukan kepala.

Ia justru membimbingku, mengajakku untuk menjadi temannnya. Menjadi pelindungnya. Karena ia berkata ini sudah masanya untukku. Bukan lagi tentang ketegangan fisik. Tapi tentang olah rasa dan pemikiran. Aku masih membenci Bapak. Membenci semua kenangan yang telah ia bangun bersama ideologinya. Tapi aku tidak pernah membenci air matanya.

Air matanyalah yang paling tulus kurasakan semenjak aku di lahirkan ke dunia ini. Aku jadi rindu tamparannya. Aku pula baru mengingat. Saat-saat tamparan terakhir Bapak aku melihat raut wajahnya. Raut wajah kesedihan yang tampak. Tangannya memang keras saat menampar, tapi air matanya selalu saja menggenang di dalam kelopak matanya. Bapak ingin mengajarkanku rasa sakit. Karena rasa sakit yang bukan berasal dari tamparan Bapak. Tapi dari diri sendiri.

Hingga tiba aku jadi dewasa. Setamat kuliah, saat wisuda, Bapak datang. Turun dari panggung pengukuhan sarjana, aku diserang pelukan. Bapak memelukku erat. Aku tegang. Apalagi tangannya kemudian mengusap-usap pipiku. Lama, lama sekali, seakan-akan mencari bekas tamparan tanggannya yang menggumpal di pipiku. (T)

Singaraja, Februari 2016

Tags: Cerpen
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Rahasia Keluarga

Next Post

Menakar Kadar Ke-Bali-an* Orang Bali

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Menakar Kadar Ke-Bali-an* Orang Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co