12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta, Kutukan, dan Karam

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari

Perempuan itu kembali mencoba duduk dan berusaha menenangkan dirinya. Kembali ia harus menghadap jendela, mengarah pada dirinya, tiga pasang kaca jendela kosong. Tetapi perempuan itu bergumam dengan cara berbeda setiap kali menghadap dari satu kaca ke kaca lainnya.

Sungguh drama, dengan pakaian tidur seadaanya perempuan itu menerawang jauh, suara burung yang ramah menegur dari beranda rumah tak ia hiraukan. Dengan rambut sebagian terikat dan beberapa helai darinya menutupi mata, gadis usia kurang lebih dua puluh tiga tahun itu berjalan pelan mendekati ketiga kaca jendela satu persatu.

Sesekali ia tertawa, sesekali ia meringkik bersama tangisnya, dan sesekali ia seperti memaki. Suaranya tak terdengar. Memandangnya dari jauh seperti pertunjukan dalam botol kaca yang tak satupun bisa kita tangkap setiap kalimat dan lengkin suaranya. Perempuan itu rebah kembali pada kasurnya yang penuh potongan-potongan kertas warna.

Tepat sebelum hari genap malam, perempuan itu membuka pintu kamar dan seorang lelaki tengah duduk pada salah satu kursi di beranda kamarnya. Lelaki itu, tampak dingin namun berusaha menjadi hangat dengan sebatang rokok di tangan yang dihisapnya sebelum gadis itu muncul menemuinya.

Tak begitu peduli dengan pakaian tidur yang dikenakannya setengah terbuka. Perempuan itu melangkah duduk pada kursi satunya yang memberi mereka kesempatan saling bertatapan. Tajam dan dalam.

“Kita akan mulai dari mana?” Lelaki di hadapannya menghentikan hisapan rokoknya.

Perempuan itu memalingkan wajah, dengan gerakan lebih cepat kakinya segera ia naikkan dan ia tumpu di atas meja. “Dari manapun yang menjadi tujuan kita. itu akan lebih mudah.”

Itu Astuti, gadis lugu yang kukenal semasa kecil. Kami tumbuh bersama dalam satu kampung halaman yang kecil untuk sebuah desa. Ia tak begitu periang, masa kecilnya yang sunyi ia lalui dengan biasa-biasa bersama keluarga dari ayahnya.

Perceraian kedua orangtuanya sejak ia dilahirkan tak memberinya kesempatan untuk memilih. Kkeluarga ayah atau ibunya tinggal berseberangan jalan kecil di desa. Hubungan keseharian mereka sangat canggung, mencoba menjadi baik-baik saja, namun ego memberi mereka jarak yang jauh lrbih lebar untuk bisa menjalin hubungan yang baik.

Kami menghabiskan hampir setiap hari bersama, di sekolah dasar, tempat bermain, piodalan di pura, bangku sekolah menengah. Kami mulai jarang berbicara, ataupun bertemu setelah menginjak bangku sekolah menengah pertama. Keluargaku mulai berpindah-pindah tempat tinggal, menjauh dari perkampungan.

Ia, Astuti, setelah tamat sekolah menengah pertama juga mulai memilih sekolah berbeda denganku. Tentu kami menjadi sangat jarang bertemu atau mengetahui kabar masing-masing.

Tiga tahun berlalu, kini ia menjadi salah satu mahasiswa perguruan tinggi di kota kecil kami. Sebentar lagi akan menjadi calon sarjana cetakan kesekian yang jika untung akan bisa jadi guru kontrak dengan gaji sebulan sebesar uang sakunya seminggu. Ia tak terlalu dikenal, tapi cukup banyak dibicarakan orang-orang.

Namanya mulai tenar sejak ia berangkat dari satu panggung ke panggung lainnya sebagai penari. Dari hotel ke hotel, panggung-panggung pesta rakyat, hingga kemarin namanya kubaca di sebuah surat kabar yang membicarakan bakatnya sebagai wanita muda yang berbakat dan menginspirasi. Sedikit demi sedikit semua orang mulai tak asing dengan namanya, dengan wajahnya.

Tentu saja, ia bukannya tak menyadari dirinya mulai dikenal banyak orang. namun demikian, ia berusaha tetap menjaga agar ia tak nampak terlalu berbahagia lantaran ia menjadi primadona dari satu kota ke kota lainnya. Tapi lamat-laun, ia mulai jarang muncul di hadapan banyak orang.

Kabar yang beredar ia mencoba pergi dari atas pentas. Segala macam tetek bengek yang ada hubungannya dengan penonton dan pengagumnya ia tinggalkan. Alasannya klise. Lelaki yang dicintainya lebih suka ia jadi patung lilin di dalam kamar. Bisa dibentuk sesuka hati.

Pada waktunya ia hanya boleh menjadi cahaya kecil untuk ranjang kekasihnya. Habis gelap, ia akan diam dalam kamar, menunggu waktunya ia punya kesempatan menunjukan diri bahwa ia memiliki cahaya lebih besar. Begitu kurang lebih gosip murahan orang kampung membicarakannya.

Kini ia muncul lagi, tepat di hadapanku. Ia datang mengetuk pintu rumahku. Rumah masa kecilku, tempat kami menghabiskan hari-hari bermain bersama, menghabiskan waktu untuk bermain sandiwara menjadi seorang ibu atau menjadi hantu-hantu dan peri-perian.

Tanpa riasan wajah, rambutnya yang tidak tertata, baju yang seadanya. Masih sama seperti saat aku melihat ia bersama lelaki di beranda rumahnya. Ia memelukku erat, matanya yang sembab direndam airmata yang juga membasahi dadaku.

Aku tak ingin memeulai pembicaraan di depan pintu rumah. Astuti kuajak masuk, kami duduk bersama di teras dalam rumah. Ia memulai bicara, mengusap air matanya dengan segera dan memunculkan satu dua tawa ringan sambil menatap ke arah wajahku. Kami berbalas tawa dan saling memeluk. Percakapan sederhana seperti bagaimana kabarku atau kabarnya, mengenang bagaimana usangnya rumah tempat kami duduk sekarang ditinggalkan banyak kenangan yang menggelikan tetapi menyenangkan sekali.

Ia mengatakan, kini semua telah menjadi dewasa, tidak lagi hanya memikirkan masalah isi perut atau puasnya waktu yang kami habiskan untuk bermain, menghabiskan teguran orang-orang tua yang memanggil kami, mengingatkan untuk segera mandi, pulang segera mengerjakan tugas rumah.

“Sukakah kau pada kisah Mahabharata? Tahukah kau perempuan yang menebus perkataannya sendiri dengan kelima suami yang dinikahinya? Katakan padaku, jika Drupadi bisa tidur berganti setiap malam pada setiap lelakinya, menjadi istri dari kelima bersaudara Panca Pandawa, meski sekalipun ia tak pernah merasakan rahimnya terisi suara tangisan, ia tetap menjadi perempuan yang dikenang. Ia tetap tampak menjadi perempuan hebat yang memepertanggungjawabkan segala kewajibanya. Bukankah sebaiknya bangga aku bisa mempertanggungjawabkan segala yang bukan menjadi sumpah atau doaku? Senantiasa aku harus menerima juga. Aku bahkan tidak sempat menitipkan keinginanku pada doa yang kuterima dari bibir orang lain. Kini mereka pikir aku yang menginginkan adegan demi adegan dalam hidup ini tampak menjadi sangat drama.”

Kali ini aku mendengar senyatanya. Ia terus berdebat dengan segala macam pertanyaannya seharian itu. Astuti, gadis ini protes atas dirinya, Atas cinta yang diterimanya. Ia protes kenapa hidup dan cintanya menjadi terlalu segalanya. Terlalu penting untuk orang-orang kampung, untuk keluarganya, untuk keturunannya. Ia hanya ingin cinta yang bisa ia terima untuk dirinya utuh.

“Tidak bisakah cintaku hanya jadi milikku saja?”

Asmara yang mesti sembunyi-sembunyi, menjadi rahasia yang tiada sepasang mata bisa mengendus, sebab satu saja telinga atau mata menangkap cintanya seluruh dunia akan mengutuk dan menyalahkannya.

“Di mana hakku atas hidup yang kumiliki?”

Tentu saja ia protes. Aku masih mendengarkannya. Ia tak butuh jawaban atau pembelaan dariku. tentu saja. Aku tahu ia hanya butuh didengarkan.

Aku bukan tak tahu segala yang terjadi setelah perpisahan kami yang cukup lama. Selain ketenarannya, aku memang tak banyak tahu tentang kisah cintanya. Dalam percakapan kami ia bicara tentang pernikahan. Tentang meneruskan keturunan keluarganya.

Aku tahu, ia adalah anak tunggal dari ayahnya. Pernikahan ayahnya yang kedua tak menghasilkan apapun sebagai penerusnya. Sementara ia hanya anak peremuan yang dalam budaya kami akan memberi keturunan lain bagi keluarga baru yang meminangnya.

Lelaki yang bersamanya di beranda rumah adalah pamannya. Lelaki yang berhati, berjiwa, dan berdandan perempuan. Keluarga Astuti tak dapat menaruh harapan apapun padanya.

“Dua lelaki bersaudara yang tak bisa memberikan apapun pada dua orang tua yang menaruh harapan akan masa tua mereka.”

Ia masih hanya butuh didengarkan saja. Ya, orang-orang kampung memercayainya sebagai kutukan atas dosa yang dibuat kakek dan neneknya.

Kabarnya kutukan itu bukan dari Tuhan, tetapi dari pesugihan yang mereka tekuni selama ini. Orang-orang percaya tubuh kurus Astuti yang tak kunjung pernah berisi sejak kecil konon sari-sarinya terhisap oleh pesugihan mereka sebagai tumbal. Aku berusaha tak pernah menanyakan kebenaran itu pada Astuti atau mencoba memercayainya. Tetapi pernah suatu kali ia membenarkan hal itu dari apa yang pernah ia saksikan sendiri.

Kini ia mulai membanjiri setiap katanya dengan isak tangis. Keluarganya menuntut dirinya untuk segera menikah. Mencari lelaki yang siap dipinang sebagai suaminaya untuk diajak meneruskan garis keturunan di sanggah merajan-nya.

Ia mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang rumit. Kecuali ia mau membeli, membayar seorang lelaki untuk siap dikawini dengan imbalan tak hanya sanggah merajan tetapi juga seluruh harta yang dimilikinya. Hal itu tak pernah akan jadi masalah baginya. Ia bicara segalanya itu bisa ia cari dengan bakat yang mempuni dalam dirinya.

Tetapi jauh dari segala persyaratan itu, sanggah merajan-nya, orang-orang kampung, dan aku, kini harus mengerti bahwa Tuhan pun tak bisa menuntutnya untuk menikah bersama seorang lelaki. Ia, Astuti gadis lugu yang kukenal dengan segala kerendahan hatinya adalah seorang lesbian.

Tuhan telah mematahkan rasa hatinya, berhenti pada lelaki yang pernah menyayat hatinya dan ibunya. Meludahi mereka berdua dengan meninggalkan hak asuh atas dirinya pada neneknya.

“Dia ayahku.”

Ia telah meninggalkan segala ucapan terima aksihnya telah membiarkan dirinya lahir sebagai dirinya kini. Setidaknya untuk menoreh belati dari hati ibunya yang tak sempat memeberinya satu kecupan saja stelah persalinan atas kelahiran dirinya.

Dalam kedewasaannya kini ia telah dibesarkan oleh rasa jijik dan muak pada wajah lelaki. Setiap lelaki ia pandang buas, menakutkan, menyisakan darah dalam hati dan pikirannya.

“Aku tak memangkas rambutku, tak juga bercita-cita menjadi lelaki.”

Ia hanya memangkas hatinya untuk rasa cintanya pada seorang lelaki, bercita-cita menjadi perempuan utuh yang memperoleh hati perempuan lain dengan jiwa lelaki.

“Aku tahu ia tak akan menyetubuhiku lalu meninggalkan benih dalam tubuhku yang menjadi derita seperti kelahiranku.”

Ia hanya ingin menghentikan rasa sakitnya pada garis kehidupannya. Tak penting lagi baginya tuduhan bahwa segala apa yang diterimanaya dan keluarganya adalah kutukan, adalah dosa-dosa yang diterima. Baginya adalah pilihan, adalah rasa paham atas cara mengakhiri segala kesalahan.

Percakapan Astuti di beranda rumahnya dengan pamannya adalah perundingan bagi mereka berdua. Siapa yang harus berhenti dari segala hal ini. Hanya untuk melegakan hati neneknya sebelum ia benar-benar menghembuskan nafas terakhir.

Ini adalah keputusan yang rumit bagi mereka berdua. Hati, jiwa, dan pikiran antara Astuti dan pamannya telah tertukar. Mereka terjebak pada tubuh yang salah dengan bekal hati yang mereka bawa.

“Kami lantas tak mau saling mengalah, memberi penawaran, memikirkan resiko, memikirkan perasaan orang lain, sanggah merajan, keluarga, kami hanya tahu diri kami sendiri-sendiri.

Tangisannya mereda. Hari mulai menuju petang. Aku harus bergegas kembali ke kota untuk mempersiapkan segala macam persiapan kerjaku besok. Aku memeluknya sekali lagi, Astuti paham aku akan pergi, ia tak menahan, membiarkanku pergi dan mengakhiri pertemuan kami lebih dahulu.

Ia mengucapkan terima kasih telah mendengarkannya setelah sekian lama. melangkah perlahan keluar pintu rumah, menoleh sekali lagi menatap mataku dalam, melempar satu senyum yang manis. Manis sekali seperti masa kanaknya yang kami lewati saat berjalan menyusuri pantai setiap sore yang mengirim sebuah senja pada kami dan nelayan-nelayan membiarkan kami tinggal berdua, memiliki seluruh pantai yang luas di hadapan.

Setelah pertemuan itu, aku kembali beberapa kali ke rumah masa kecil di kampung. Astuti tak tampak di beranda rumahnya, atau di kaca jendela kamarnya.

Rumah itu sepi stelah neneknya meninggal beberapa minggu dari pertemuan kami. Satu bulan kemudian kakeknya menyusul. Orang-orang masih menikmati hangatnya keyakinan mereka bahwa keluarga itu telah dikutuk oleh Tuhan dan pesugihan yang dilakukan keluarga Astuti.

Sementara itu rumah itu makin sepi. Ayah bersama ibu tirinya dikabarkan telah melakukan transmigrasi ke kota lain. Hanya sesekali datang entah untuk membersihkan sanggah merajan atau hal lain.

Dua tahun setelah hari terakhir aku pulang ke kampung, sepulangku kerja seperti biasanya, pintu kubuka dan sebuah surat terdampar terinjak sepatuku. Amplop putih bersih seperti amplop terima gaji bulananku dari kantor.

Mereka selalu bicara memahami, tetapi mereka tak pernah bisa merasakan atas hatiku. Aku selalu melihat tiga hati pada kaca jendela kamarku yang mengurung masa kecil hingga kedewasaanku. Ibuku, Ayahku, Pamanku. Kami adalah kutukan yang kami ciptakan dan kami benarkan sendiri. Aku tak pernah berdoa seperti Drupadi, aku menerima yang tak pernah kudoakan dalam diriku. Aku hidup dewasa dari tiga bayangan cermin kamarku. Aku pergi dari segala panggung, menciptakan pertunjukan dan panggungku sendiri, memberi tepuk tangan dan menjadi penggemar untuk diriku sendiri.

Pawiwahan
Astuti dan Sasmita

Singaraja, 10 Desember 2016

Tags: Cerpen
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Juli Sastrawan# Hanyut, Menepi, Renik dan Pucuk Daun

Next Post

Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post

Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co