22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ingin Gambar Arjuna di Uang RI, Agar Terkabul Cita-cita Punya “Pis Rejuna”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari berbagai sumber di google

MUNGKIN untuk pertamakali pergantian desain uang RI menuai keributan. Ada yang ribut-ribut mirip uang Cina.  Di Bali ada yang protes hilangnya gambar Ngurah Rai, dan “tak terima” pahlawan nasional Mr. Ketut Pudja ditaruh pada pecahan uang Rp.1000.

Seingat saya, dulu, berkali-kali desain uang diganti, tapi jarang ada ribut dan protes. Asal bisa dibelanjakan, apa pun gambarnya, ya diterima saja. Kini, di zaman  postmodern, simbol-simbol, seperti gambar dan huruf pada uang, seakan menjadi sangat penting, bahkan lebih penting dari nilai uang itu sendiri, bahkan juga lebih penting dari nilai tukar uang itu di dunia internasional.

Mungkin, bagi sebagian orang, bertengkar sudah masuk pada taraf ketagihan. Sehingga, uang yang harusnya diperjuangkan dengan kerja keras agar kebutuhan hidup bisa terbeli, justru digunjingkan. Eh, kata orang tua (entah orang tua siapa), jika bertengkar terus, uang pun bisa lari, rejeki bisa kabur.

Saya sendiri sih sebenarnya ingin ada gambar Arjuna pada uang RI. Sejak dulu saya punya cita-cita memiliki “pis rejuna” (uang bergambar Arjuna). Cita-cita yang hingga kini tak pernah kesampaian. Jika Bank Indonesia (BI) mengeluarkan uang bergambar tokoh paling Nyoman di keluarga Panca Pandawa itu, tentu cita-cita saya terkabul. Jika gambar Arjuna ditaruh pada pada pecahan uang Rp.1000, atau pecahan yang lebih kecil, tentu saya bisa memiliki pis rejuna dalam jumlah buanyaaaaak.

Kita tahu, Arjuna tokoh paling ganteng dalam dunia pewayangan. Dulu, orang yang mengantongi “pis rejuna” dipercaya gampang dikerubuti gadis-gadis. Lelaki bodo akan tampak rupawan, lelaki sial bisa tiba-tiba laris-manis.

Bagaimana kisahnya pis rejuna bisa diburu orang? Uang sebagai alat tukar dalam perdagangan dikenal pada masa Majapahit sekitar tahun 1293. Bentuknya adalah pis bolong, uang kepeng dengan lubang di tengahnya. Pis bolong dikenal saat terjadi arus perdagangan yang intens antara Majapahit dengan Cina. Pis bolong itu, salah satunya ya buatan Cina. Bukan hanya mirip, tapi memang berasal dari Cina.

Di Bali, pis bolong masih digunakan sebagai alat tukar perdagangan hingga tahun 1950-an. Bahkan, saat saya kecil, tahun 1970-an, pis bolong masih diterima oleh pedagang es lilin dan gula tumpung.  Jangan heran saat itu banyak orang tua marah-marah kehilangan pis bolong, meski uang kuno itu sudah disimpan di tempat paling sakral. tempat yang biasa digunakan untuk menyimpan alat-alat upacara. Pencurinya, ya, anak sendiri.

Dan hingga kini pis bolong masih beredar di Bali sebagai sarana upakara. Juga masih ada yang menggunakan pis bolong sebagai jimat. Banyak remaja punya cita-cita punya pis rejuna sebagai jimat, termasuk saya, dulu. Dulu lho, saat saya remaja.

Selain pis rejuna, ada pis bertuah lain dengan gambar tokoh pewayangan seperti pis kresna, pis tualen, pis sangut, pis bima, pis jaran, dan banyak lagi. Kegunaanya tentu sesuai karakter gambar pada uang itu. Pis rejuna untuk memikat gadis-gadis, pis sangut untuk lihai berdebat, pis jaran biar kuat berlari.

Dulu, pada saat Pordes (Pekan Olahraga Desa), pis jaran sangat laris diburu para atlet lari tingkat kampung. Saya tak tahu apakah pis jaran dianggap doping jika dipakai atlet lari di PON atau Olimpiade.

Jika lelaki mengidamkan pis rejuna, perempuan biasanya menginginkan pis bulan atau pis dewi ratih. Tentu saja agar tampak cantik dan jadi perhatian laki-laki idaman. Bulan memang masih dipercaya sebagai simbol kecantikan.

Ada tiga cara mendapatkan pis rejuna dan pis untuk jimat lain. Pertama, dengan bertapa atau semedi di tempat angker. Kedua, dapat warisan. Ketiga, dibuat sendiri (dibuat dukun/balian atau orang sakti lain) lalu dipasupati (“dihidupkan”).

Kini, apakah uang dengan gambar para pahlawan nasional tak bisa dipakai jimat? Apakah uang pecahan Rp. 1000 dengan gambar pahlawan kebanggaan Bali, Mr. Ketut Pudja, tak bisa dipakai untuk menarik hati para gadis seperti pis rejuna, atau dipakai agar lihai berdebat seperti pis sangut, atau digunakan agar perempuan tampak cantik seperti pis dewi ratih? Tentu saja.

Tentu saja. Tergantung cara kita menggunakannya. Jika memang digunakan untuk menarik hati gadis, pakailah uangmu untuk membeli hal-hal yang bisa membuat gadis tertarik. Jika beli mobil, maka gadis yang suka mobil yang akan kau dapatkan. Jika digunakan untuk “membeli” pengetahuan, maka gadis yang suka lelaki pintar yang akan kau dapatkan.

Cara mendapatkan uang di zaman modern ini rada mirip dengan cara mendapatkan uang jimat di masa kuno. Pertama dengan bertapa dan semedi. Bertapanya bukan di tempat angker semacam hutan lebat atau puncak gunung. Bertapanya di tempat angker juga sih, yaitu di sekolah atau perguruan tinggi. Jika “kuat”, maka paica atau anugerah akan datang berupa uang di tempat kerja.

Kedua, ya, mendapat warisan. Itu pun jika memang ada warisan. Cara ketiga, sangat tidak dianjurkan. Yakni membuat uang sendiri lalu dipasupati. Pada zaman sekarang uang hanya boleh dibuat dan “dipasupati” oleh BI, bukan dukun sakti. (T)

Tags: gaya hidupIndonesiakebudayaanuang
Share279TweetSendShareSend
Previous Post

“Psikologi Kenangan” – Lamunan Menjelang Hari-hari Akhir Tahun 2016

Next Post

Mengungkap Misteri “Suku Maya” di Mexiko atau di Layar Gadget

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails
Next Post

Mengungkap Misteri “Suku Maya” di Mexiko atau di Layar Gadget

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co