14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Ambil Hatimu dengan Tanganku Sendiri

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Kadek Heny Sayukti

TAK tahukah kau bahwa aku sangat mencintaimu? Ya, aku mencintamu. Sangat mencintaimu. Dan apa kau tahu yang selama ini aku inginkan? Ya, aku ingin memiliki hatimu selamanya. Aku ingin kau menjadi milikku selamanya. Kau dengar? Selamanya. Ya. Selamanya.

Aku harus berterima kasih pada hujan yang membuat kita bertemu, dulu, setahun lalu. Bayangan itu masih sangat jelas. Ya, jelas sekali. Kenangan saat kita pertama kali bertemu, masih selalu tergambar, masih selalu tergambar nyata di mataku.

Malam itu, aku, seorang mahasiswa baru, merasa sangat bersyukur digiring oleh hujan untuk berteduh di beranda toko bunga. Karena, berteduh juga kau, seorang wanita cantik dan manis. Ah, maaf sebelumnya. Mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi jujur saja, kaulah wanita termanis dan tercantik yang pernah kutemui.

Aku memberanikan diri menyapamu. Kau tampak sedikit kedinginan. Kau balas menyapaku sambil tersenyum. Tak kuduga. Kau ternyata gadis ramah, ya? Ah, aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa kita berdua lupa membawa mantel malam itu? Apa memang jodohmu adalah aku, atau jodohku adalah kau? Mungkin keduanya, ha ha ha.

Sambil bertanya-tanya aku menikmati pertemuan kita saat itu. Kita bercakap-cakap sambil menunggu hujan reda. Percakapan itu, entah apa yang kita percakapkan, bagiku membuat suasana jadi hangat. Udara dingin yang dibawa hujan seperti hilang entah ke mana.

Seandainya saja toko bunga itu tidak tutup, aku akan membelikanmu bunga paling cantik, yang sama cantiknya dengan parasmu. Tapi, jika toko itu buka, tentu kita tak bisa berteduh berdua di berandanya.

Aku bahagia sekali, dan yang paling membuatku bahagia: kau memberiku nomor telepon. Kau memberikannya tanpa ragu. Pertemuan itu merupakan pertemuan paling indah untukku. Pertemuan singkat yang tentu saja tak bisa kulupakan. Apakah kau juga begitu?

Sejak hari itu, aku percaya diri mengirimimu pesan singkat. Kau membalasnya seperti yang aku harap. Ah, betapa senangnya.

Kau ingat, bukan? Awalnya hanya percakapan kita basa-basi, sampai akhirnya kita mulai membicarakan diri kita masing-masing. Ya, kita mencoba mengetahui diri masing-masing. Mengenal lebih dalam, dan lebih dalam lagi. Terkadang kita juga membicarakan hal konyol. Bergosip seperti pasangan lain. Terkadang juga aku meneleponmu sampai beratus-ratus ribu pulsa kuhabiskan. Aku benar-benar gila karenamu.

Aku juga tak akan lupa pertama kali kita jalan bersama. Saat itu, sungguh, aku sudah menganggapnya sebagai kencan pertama. Apa kau juga begitu? Semoga saja.

Kita pergi berdua ke pantai yang paling terkenal di kota itu. Tentu saja pantai itu adalah tempat yang indah untukku. Dan menjadi tambah indah karena hadirmu. Ya, karenamu, duniaku menjadi semakin indah. Indah sekali.

Aku ingat sekali, saat berjalan menyusuri pantai, debur ombak bersuara seperti bersorak riang untuk kebersamaan kita. Iya, aku merasa begitu. Apa kau juga sama?

Aku juga tak lupa dengan kepiting-kepiting kecil yang tiba-tiba keluar dari lubangnya saat kita berjalan. Mereka seperti menyambut dengan senang hati kebersamaan kita. Oh iya, aku harap kau juga merasa begitu. Pasti akan terasa sangat membahagiakan

Hidupku berubah karenamuu. Iya, karenamu. Aku tersenyum sepanjang waktu setiap teringat kau. Hari-hari pun terasa sangat singkat saat bersamamu. Kaulah motivasi bagiku untuk menjadi diri lebih baik. Ya karena aku ingin menjadi hati untukmu dan aku harus menjadi hati yang terbaik bagimu. Dan aku juga ingin memiliki hatimu selamanya.

Sekali lagi kukatakan, hari-hariku terasa saat singkat saat bersamamu. Setahun sudah tak terasa. Cepat sekali. Kita sudah sangat dekat dan mesra. Sama seperti pasangan-pasangan dimabuk asmara lainnya. Kita seperti sudah dalam status berpacaran saja, ya? Aahh, aku menganggapnya begitu, apa kau juga sama? Haha. Aku penasaran.

Kalau begitu aku harus “menembakmu”. Iya, memintamu menjadi pacarku. Ah, bukan pacar. Langsung saja menjadi pendamping hidupku. Aku sudah merasa sangat bahagia. Aku juga merasa kita sangat pantas. Setahun sudah cukup bagiku. Ahhh, aku benar-benar tak sabar untuk mendengar kau  menerima lamaranku.

Oh ya, kau harus tahu, suatu malam aku membeli bunga paling cantik di toko bunga yang pernah kita datangi untuk berteduh. Aku juga membeli sebuah cincin berlian lengkap dengan kotak kecil beludru warna merah. Seperti yang kerap kulihat di film-film drama romatis.

Kau pasti akan sangat kaget dan sedikit tidak percaya aku bisa romantis seperti itu. Tunggu dulu, tentu saja itu romatis bukan? Aku semakin tidak sabar menemuimu untuk mengucapkan kata-kata yang sudah kusiapkan dengan sangat sempurna.

Aku bergegas menuju rumahmu. Berjalan kaki. Tentu saja aku punya alasan kenapa aku berjalan kaki ketimbang naik sepeda motor. Supaya bunga-bunga cantik yang kubeli tidak rusak diterpa angin. Haha, aku pintar bukan? Tentu saja. Bunga-bunga untukmu harus masih terlihat segar, cantik, dan menawan.

Di sepanjang jalan menuju rumahmu aku selalu tersenyum. Aku tak henti-hentinya membayangkan masa depanku bersamamu. Berapa anak yang akan kita punya? Ke mana kita akan liburan setiap hari jadian kita? Ah, aku juga membayangkan setiap hari akan mengecup keningmu di setiap bangun tidurmu. Haha, aku benar-benar bahagia.

Nah, bagian ini kurasa harus kuceritakan dengan sedikit berbisik kepadamu. Kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan kau harus tahu aku ingin memiliki hatimu dan juga sebaliknya. Dan yang paling harus kau tahu, aku melihatmu bersama lelaki lain di teras rumahmu malam itu. Ya, saat aku sampai di depan rumahmu.

Kau pasti bertanya kenapa kau tak menyadari kedatanganku? Apa kau benar-benar tidak sadar? Ah, mungkinkah karena kau sibuk bercumbu dengannya. Aku bisa menyaksikan betapa lenturnya lidahmu beradu dengan lidahnya. Pasti nikmat sekali bukan?

Aku tak habis pikir, kenapa kau tega melakukan itu? Kebahagiaanku sirna tiba-tiba. Angan-angan indahku entah lari ke mana. Sekarang, kau malah mencari pembenaran bahwa kita tidak berada dalam hubungan yang resmi. Dan kau berkata bahwa aku terlalu mengharapkan sesuatu yang hanya ada dalam bayang-bayang.

Ah, maaf sekali, Sayangku, aku sudah terlanjur membunuh lelakimu kemarin. Pembunuhan ini sudah kurencanakan sejak malam itu. Apa? Kau berkata aku tak punya hati? Benar, hatiku sudah hilang. Hatiku sudah hancur ditikam dustamu. Apa kau tahu? Aku selalu ingin memiliki hatimu selamanya.

Aku ingin hatimu menjadi milikku selamanya. Dan sekarang, di tengah hujan yang pernah mempertemukan kita dulu, sebelum aku benar-benar mengambil hatimu dengan tanganku sendiri, apa ada yang ingin kau katakan? Jika tidak, aku bisa langsung mulai. Aku mulai, Sayang. Aku ambil hatimu, dengan tanganku sendiri. (T)

Tags: Cerpen
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Di Mana Kertha Gosa, Di Mana Pengadilan Agama dan Adat itu Kini?

Next Post

Muhammad Daffa# Pada Usia 17 Tahun, Menanti Musnah

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Muhammad Daffa# Pada Usia 17 Tahun, Menanti Musnah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co