14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Papuk, Cucu dan Puisi

DG Kumarsana by DG Kumarsana
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: DG Kumarsana

Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja sewenang-wenang, apalagi yang salah………….(Iwan Fals)

***

SATU buah puisi sudah rampung ditulis. Garis kalimat yang demikian rapi. Semula arahnya lebih banyak melintang dan condong ke kiri. Namun atas bimbinganku dia mulai membenahi dengan gaya khas yang selanjutnya, ketika beranjak dewasa nanti sudah menjadi karakter tulisan puisi. Dengan melihat sepintas saja gaya bahasanya, orang akan mengenal penulisnya. Hari ini nampak dia tengah duduk santai di ruang belajar. Matanya asyik tertuju pada sebuah judul berita koran.

 “Papuk, coba baca berita ini,“ ujarnya sembari menyodorkan koran kepadaku.

Koran terbitan daerah. Tertulis sebuah judul berita pada halaman 2 : Kecewa Putusan Hakim, DS Ajukan Banding.

Aku baca tentang kasus hukum seorang mantan guru SDN di Kecamatan Cakramakmur. Apanya yang aneh. Kupikir semua kasus hukum yang menyangkut rakyat kecil tidak menjadi sorotan yang berarti di mata masyarakat. Karena semua mata saat ini lebih tertuju pada kasus Hambalang, kasus prahara Demokrat, kasus daging sapi, kasus banjir Jakarta dan berita tentang Jokowi sampai melongok-longok ke selokan.

Bukan kasus di daerah terpencil, terlebih lagi mengenai kasus pencabulan seorang guru. Kasus ini kurang penting dibaca, menurutku. Kasus pencabulan bukan suatu berita heboh. Itu manusiawi. Kasus umum. Kasus yang tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Apalagi sampai melibatkan LSM, masyarakat bahkan melibatkan media massa.

Ini kasus sederhana. Dan penanganannyapun mesti sesederhana mungkin. Tidak perlu rumit-rumit. Apalagi ada kesepakatan MOU antara PGRI dengan kepolisian yang mengatur tentang guru yang terlibat tindak pidana. Sudah ada pedoman yang mengatur.

 “Apa anehnya, Cu? Ini kan peristiwa biasa,” aku letakkan koran itu di atas meja dengan rasa kurang begitu greget membaca sebuah berita. Kurang seru kupikir berita seorang guru.

 “Badaaaah, Papuk ini ketinggalan jaman. Papuk rupanya tidak mengikuti kasus ini dari awal. Ini kasus tentang dugaan pencabulan seorang guru pada siswinya namun menurut pembelaan diri guru tersebut, bahwa ia sama sekali tidak pernah merasa melakukan perbuatan seperti itu. Makanya Papuk rajin-rajinlah baca berita. Jangan hanya nonton sinetron saja.”

Aku terkekeh geli mendengar cucuku yang dulu sering aku gendong kini berbalik sudah bisa menguliahi aku. Entah kapan dewasanya sehingga tanpa aku sadari dia sudah demikian fasihnya bertutur tentang peristiwa sebuah berita di koran. Terkadang memang mutu sebuah bacaan mampu mematangkan usia seorang anak.

 “Kalau saja hanya menyenggol seorang siswi kena vonis 5 tahun penjara berarti kalau meremas, memerkosa dan sejenisnya yang termasuk perbuatan biadab akan kena hukuman 5 kali lipat dong, Puk. Itu artinya diakumulasikan menjadi 25 tahun harus mendekam di penjara. Kalau dakwaan yang dipaksa-paksa para saksi dan kenyataannya saksi korban sendiri malah meragukan tindakan guru ini, atau ragu-ragu memberi kesaksian kalau sesungguhnya yang dianggap korban tidak memperoleh perlakuan sebagaimana yang dimaksud. Berarti kesaksian ini berdasar hanya cerita yang dikarang-karang sendiri alias rekayasa, Puk. Aku heran Papuk. Dan semakin sangat heran. Kok yang direkayasa bukti dan saksi macam begini bisa kena hukuman 5 tahun. BAP dari kepolisian jauh berbeda dengan keterangan saksi dan hakim begitu saja memvonis 5 tahun. Ini hukuman macam apa, Puk? Hanya berdasarkan kesaksian sebuah cerita yang belum jelas datanya. Bukti yang demikian lemah mampu membuat hakim ketok palu menjatuhkan hukuman. Dimana letak keadilan itu, Puk?”

“Hush! Jangan terlalu mendalami sebuah berita, Cu, Anak kecil belum pantas bicara soal keadilan,” Aku mengingatkan.

“Sekarang coba kita maknai kata-kata menyenggol itu sendiri. Menyenggol itu kalau kita artikan sebagai sebuah benturan yang tidak sengaja. Beberapa ibu-ibu di pasar menjerit kaget karena ‘tersenggol’ ibu-ibu yang lain di lokasi pasar yang penuh sesak itu. Nah ibu yang menjerit itupun tak terima karena kena senggol, akhirnya melaporkan ibu yang menyenggol itu ke kantor polisi. Hahahaha kalau hanya kasus menyenggol saja di laporkan ke polisi dan di mejahijaukan, akan berapa banyak lagi kasus-kasus serupa, Puk. Betapa bingungnya pengadilan menangani kasus senggol-menyenggol? Apalagi kalau pelapor tidak disertai dengan bukti dan saksi yang kuat, maka mulailah dia mengupayakan alur media massa, membuat opini serupa kasus mantan guru SDN ini sebagai sebuah pembenaran pencabulan. Lalu mengerahkan massa dan menggunakan cara menyusun kekuatan lewat LSM dan beberapa pejabat penting di kota ini. Wow…wow…menggelikan, Puk.”

Seperti tidak mampu direm cucuku semakin nyeroscos saja. Kalau sudah demikian aku jadi teringat mendiang ibunya sebagai calon pengacara yang sedang sibuk-sibuk menyiapkan disertasi pengajuan dengan mengklaim beberapa peristiwa hukum. Bila perlu yang sulit diklaimpun akan di’peristiwakan’ sehingga menjadi sebuah pertimbangan untuk meraih gelar doktoral yang terhormat di mata khalayak. Sepertinya semangat yang berapi-api dari sosok ibu itu mengalir pada jiwa anak ini.

Aku geleng-geleng kepala. Demikian tajamnya dia merunut sebuah pemberitaan pada media massa di usianya yang masih belia. Tak habis pikir aku mendengar kata-katanya yang bagai peluru berdesing keluar tanpa terkendali sembari nyiprat-nyiprat berbaur dengan air liurnya. Sebagian ada membasahi wajahku yang peyot.

 “Iya…iya terus apa yang kamu peroleh dari berita itu, Cu?” akhirnya aku bertanya setelah lelah mendengar ocehannya.

 “Aku salut, mantan guru ini mau ajukan banding, Papuk,” ujarnya dengan mata berpijar.

 “Terus?”

 “Ya semoga saja keadilan berpihak padanya, kalau sesungguhnya apa yang dituduhkan padanya itu sejatinya tidak pernah dia lakukan. Anehnya tidak pernah melakukan perbuatan yang dituduhkan dipaksa untuk mengakui. Coba Papuk baca nih, apa kata guru itu, ia merasa demikian shock. Kasihan dia. Masak di vonis bersalah atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Hukum macam apa ini?”

 “Iya…iya terus?”

 “Iya Papuk aku mendapatkan inspirasi sebuah puisi dari peristiwa ini.”

 “Hmmmm…………” Aku hanya berdehem. Kulihat cucuku kian bersemangat. Sepertinya semangatnya susah untuk dipadamkan.

 “Papuk ndak pingin tahu apa puisi saya itu?”

Aku menggeleng.

 “Sama sekali Papuk tidak tertarik dengan puisi saya ini?”

 “Apa?”

 “Papuk ndak pingin tahu judul puisi saya ini, puisi yang saya tulis semalaman, puk?”

Kulihat cucuku menyodorkan sebuah kertas tulisan tangannya sendiri, tulisan yang demikian indah kulihat sepintas lalu. Hmmm cucuku pintar menulis puisi.

 “Apa judulnya, Cu?” akhirnya aku bertanya. Semoga seusai menanyakan ini, dia mau menutup pembicaraan ini, karena aku sudah ngantuk berat mendengar ocehannya yang tidak karuan.

 “Ini menyiratkan tentang ketidak-adilan, Puk. Tentang hukum yang tidak pernah mau berpihak pada rakyat kecil. Hukum telah jadi komoditi di negeri ini. Pasal-pasal bisa menjadi sebuah tender dalam sebuah proyek. Dan pasal dalam hukum itu bisa dimistik maknanya. Hukum hanya milik penguasa, kaum berduit dan orang-orang terkenal. Keadilan dalam hukum bukan milik rakyat kecil Papuk, karena….”

 “Iya apa judulnya?!!” aku memotong omongannya yang kian berapi-api.

 “Judulnya: Keadilan palsu di negeri palsu….”

 “…..!!!???”

 “Gimana, Papuk? Cocok judulnya dengan peristiwa hukum yang menimpa tenaga seorang guru SD itu?”

 “……….!!!???”

 “Sementara sang korban terlihat tenang-tenang saja. Direkayasa untuk mengalami shock mental, padahal tidak ada kekerasan, bekas-bekas perlakuan kekerasan ataupun bekas tanda-tanda kekerasan. Kenapa tidak divisum saja ya, kak. Biar lebih jelas buktinya. Atau barangkali kulitnya mengalami trauma akibat perlakuan pelecehan dalam bentuk ‘menyenggol’ itu sehingga implikasi ke anak itu malah sebaliknya: menunjukkan ekspresi keriangan. Mungkin ini yang dikehendaki ibu anak tersebut namun mengundang tanda tanya yang aneh bagi yang dianggap pelaku yang sesungguhnya gurunya sendiri. Kalau menurut Papuk gimana? Apa benar ini disebut pencabulan sementara tidak ada tanda-tanda kecemasan dalam ekpresi wajah anak itu? Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang menyisa pada tubuh anak itu. Sisa-sisa karena akibat pencabulanpun tidak ada membekas di sekujur tubuh anak itu. Wajahnya Nampak biasa-biasa saja. Jangan-jangan ini hanya mengada-ada saja ya, Puk?”

 “…..!!!???”

 “Bagus ya, Puk, kalau kupaparkan dari tema sebuah puisi tentang kritik sosial yang tengah terjadi di negeri ini. Ketika peristiwa hukum terlalu banyak direkayasa, maka puisi memiliki keadilan sendiri memposisikan kebenaran untuk mengungkap. Dan puisiku adalah kebenaran mutlak yang sesungguhnya tengah terjadi di negeri ini. Negeri yang mandul cahaya kebenaran serta mengaburkan fakta yang sesungguhnya terjadi.”

 “….!!!???”

 “Papuuuuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkk!!!!!!”

Aku terkaget dan bangun dari mimpi.

Sayup-sayup di sebuah radio buatan tahun 1960 yang masih kumiliki terdengar alunan suara Iwan Fals. Aku tidak ingat entah apa judulnya, kurang lebih nadanya seperti ini:

Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja sewenang-wenang, apalagi yang salah/Sebenarnya ini cerita lama tapi nyatanya sampai kini masih sama//Banyak pengacara berjaya karenanya/Pengangguran banyak acara, itulah dia/Tekak tekuk hukum sudah menahun/Pengadilan bagai sarang para penyamun/Hukum mudah dipermainkan/Pasal- pasalnya mulur mungkret/Sampai kapan ini berjalan/Kok semakin hari bertambah ruwet//Kalau mau menang harus punya uang yang bokek tak masuk hitungan/Ada hakim dilempar sepatu itu artinya tak mau dimadu/Yang gila lagi orang gila masuk persidangan/Punya pengacara yang juga gila/Hakimnya gila, jaksanya gila/Jangan-jangan semuanya sudah gila termasuk dokternya/ termasuk saya/Mungkin……….// (T)

Catatan:

Papuk = kakek

Lereng Pengsong, 2016

Tags: Cerpen
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

AAN Anggara Surya# Bercerita, Jalan, dan Rindu

Next Post

Berabad-abad jadi Ciri Manusia Bali, “Subak” Bakal Punah?

DG Kumarsana

DG Kumarsana

Menulis puisi dan cerita pendek, dimuat di berbagai media massa daerah maupun nasional dan tersebar di berbagai buku antologi. Bukunya yang telah terbit ”Komedi Birokrat” (2010), ”Senggeger” (2010) dan ”Kabinet Ngejengit” (2012). Mata Dadu (2014). Kini tinggal di Desa Telagawaru Labuapi Lombok Barat.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Berabad-abad jadi Ciri Manusia Bali, “Subak” Bakal Punah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co