15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Mungkin Istriku Dewi Sri?

Fatah Anshori by Fatah Anshori
February 2, 2018
in Cerpen

Tini Wahyuni, Hunger Moon

Cerpen: Fatah Anshori

HARI ini ia mengirimiku pesan lagi agar aku segera ke Surabaya dan meninggalkan istriku yang sedang hamil di desa. Ia mengatakan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan segera, namun sebenarnya aku mengerti itu hanya akal-akalan Marni saja, agar ia bisa berbuat seperti yang ia lakukan pada malam itu, seminggu yang lalu.

Di teras rumah aku duduk tercenung sambil memikirkan kejadian pada malam itu. Harjono sejak tadi berbicara banyak tentang hutan di selatan kampung yang pernah terbakar. Ia terlalu bersemangat dengan ceritanya, sampai-sampai ia tak memperhatikan masih ada orang yang menyimaknya atau tidak.

Memang seperti itulah Harjono, ia asli orang desa sini yang beberapa saat lalu menawarkan diri bekerja padaku sebagai pengelola kebun pisangku dan sekaligus orang yang siap membantu kapan saja keluargaku meminta tolong. Meskipun itu perintah bekerja pada tengah malam, ia akan dengan segera bangun dan melakukan apa saja yang kami suruh. Dia adalah tipe orang desa yang polos dan selalu menurut. Maka rasanya tidak ada salahnya jika aku menerimanya sebagai pembantu purnawaktu keluargaku.

Hari ini saat hujan rintik-rintik mengguyur desa sejak sore tadi, ia berkunjung ke rumahku karena tahu aku sedang di rumah dan tidak sedang berada di luar kota.

Beberapa saat yang lalu, ketika orang-orang di mushola yang berada tepat di depan rumahku pulang. Istriku baru tahu jika Harjono berkunjung dan mengobrol banyak denganku di teras rumah. Istriku lantas masuk untuk keluar sambil membawa dua cangkir kopi. Ketika itu aku melihat wajahnya yang entah mengapa tampak sangat berbeda, ia lebih cantik dua kali atau bahkan tiga empat kali lipat dari biasanya. Gadis desa itu seolah bunga yang baru saja merekah. Indah dan baunya semerbak.

Namun ada yang berbeda dengan sikapnya kali ini.

*

Aku masih ingat ketika dua tahun yang lalu ibuku memilihkan Dewi Sri untuk menjadi pendampingku setelah aku lulus kuliah sarjana dari salah satu universitas swasta yang berada di Surabaya. Saat itu minggu pagi, ibuku mengetuk pintu kamarku amat keras seolah sedang ada kebakaran di dalam rumah. Setelah pintu kubuka, ibu lantas menggelendengku ke kamar mandi, tanpa memberi kesempatan pada nyawaku untuk kembali seutuhnya. Maka pagi itu mau tak mau aku menuruti ibu. Segera masuk kamar mandi, membuka baju, dan keluar kamar mandi dengan keadaan tubuh yang menggigil kedinginan. Dan aku masih tidak mengerti apa mau ibu.

Ibu segera memilihkan baju untukku. Sebuah kemeja batik dan celana rapi berwarna hitam, seperti yang sering di kenakan petugas kantor kecamatan. Setelah aku mengenakan semua, ibu mengajakku berjalan ke sebuah rumah. Rumah itu berada di sebelah tenggara desa. Selama perjalanan orang-orang desa selalu ramah, mereka mengangguk dan tak jarang saling menyapa ketika sedang berpapasan dengan kami, memang seperti itulah orang desa. Ibu masih berjalan di depanku dan berbicara banyak tentang perkembangan desa selama aku pergi.

Ternyata banyak yang telah terjadi ketika aku pergi, masjid desa di bangun menjadi lebih besar namun jamaahnya tetap tetap saja, malah berkurang menjadi segelintir orang. Jalanan desa menjadi semakin hancur, karena konon kepala desanya hanya pandai berjanji dan tak pandai mematuhi, namun orang-orang desa hanya diam-diam saja tak menuntut apa-apa.

Pak Maejan pemilik sawah terluas di desaku baru saja menjual seluruh sawahnya untuk mendaftarkan anaknya agar di terima menjadi polisi, namun sayang anaknya masih tak menjadi polisi. Toro kawan kelasku dulu, yang kini suka nongkrong di warung kopi, sudah jadi seorang bapak, karena pada suatu malam ia tidur dengan anak perempuan Pak RT di kebun tebu. Ibu masih saja terus bercerita di depanku sambil sesekali menghindari jalan-jalan yang becek.

Selama perjalanan itu, aku lebih suka memandangi capung-capung yang seolah mengambang di udara, di atas ladang padi yang telah menguning. Sementara suara ricik air kali terdengar beriringan dengan cerita-cerita ibu yang seolah tak ada habisnya, barangkali cerita-cerita itu bisa menjadi satu buku jika ada yang menulisnya. Pada minggu itu langit tampak cerah, dan aku tidak tahu ibu mau mengajakku ke rumah siapa.

Di ujung jalan setapak yang becek dan sesekali mau menjatuhkan ibu, nampak sebuah rumah kecil yang entah itu bisa kusebut rumah atau tidak.

*

Sebelumnya aku mengira tempat ini hanyalah sebuah kandang sapi. Lihat saja, rumah yang di bangun dengan papan kayu jati yang telah lapuk dan beberapa bagian lainnya tersusun atas anyaman bambu. Tidak memiliki sebuah jendela, maksudnya lubang jendelanya selalu menganga dan daun jendelanya minggat entah kemana. Hal ini berlaku juga pada pintu rumahnya, daunnya minggat digantikan sebuah papan triplek yang tidak utuh.

Ketika memasuki ruang tamu, seluruh kain kusut kumal dan kehitam-hitaman menggenang di mana-mana. di kursi kayu yang busanya telah kempes, di meja panjang yang warnanya menghitam, barangkali karena si penghuni rumah terlalu sibuk dengan urusan lain hingga tak sempat mengelap mejanya. Sementara kawanan ayam dari tadi mengokok tidak jelas—seperti hendak kawin—dan mondar-mandir ke sana kemari seolah resah dengan kedatangan kami berdua.

Ketika masuk ke dalamnya bau-bau menyengat segera menyeruak  ke rongga hidungku. Entah bau apa saja itu, yang jelas semuanya yang terhirup di rumah itu sangat busuk. Di dinding ruang depan tergantung beberapa foto, salah satu yang membuatku tertarik adalah foto seorang perempuan kecil, yang nantinya aku akan mengenalnya dengan amat baik. Dan sangat merindukannya.

“Nduk…. Nduk…. Nduk!”

Sejak tadi ibu tak henti-hentinya memanggil seseorang.

Semakin aku masuk ke dalam rumah suara kokok ayam kian keras. Suara itu berasal dari belakang rumah. Di ruang tengah nampak ada dua kamar yang kondisinya juga serupa dengan ruang depan tadi, carut-marut. Sebelumnya aku ragu tempat ini dapat ditinggali manusia. Dan ketika sampai di pintu belakang mataku terbelalak. Bersamaan dengan itu, handphone Nokia-ku berbunyi, sebuah pesan dari Marni—pacarku yang berada di Surabaya—masuk.

Itulah pertamakali aku melihat Istriku, seorang perempuan desa yang tinggal di sebuah rumah yang hampir roboh. Tepat berada di tengah sawah. Aku sebetulnya ragu ia seorang perempuan desa atau seorang bidadari yang turun dari langit untuk mandi di sebuah kali, dan karena kelalainnya, ia lupa menaruh selendangnya di mana. Akhirnya ia tak bisa naik lagi ke langit, dan mau tidak mau harus menetap di situ untuk mengurus ayam-ayam yang sering buat onar itu. Tapi itu hanya asumsiku saja.

Kemudian Ibu mengenalkanku dengan Dewi Sri. Meski tinggal di desa sekaligus di tengah sawah. Dan hanya sesekali ia pergi ke desa untuk membeli kebutuhan pokok, itu tidak mengurangi kecantikannya, jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan kampusku, Dewi Sri tak kalah rupawannya. Bahkan menurutku ia dua tiga kali lebih cantik dari mereka.

Waktu itu, ketika pertama kali menatapku. Ia tersipu, pipinya memerah. Ia tidak banyak berbicara. Dan akhirnya kami menikah pada hari yang telah ditentukan. Aku mengajak Dewi Sri untuk tinggal di tengah desa, di rumah yang telah aku beli dengan angsuran per tahun.

Sementara itu Marni, pacarku yang berada di Surabaya dan sempat kujanjikan menikah belum tahu jika aku telah memiliki istri di desa.

*

Setahun yang lalu seusai menamatkan kuliahku di jurusan Teknik Informasi, Marni memberikanku pekerjaan di kantor ayahnya. Ayahnya, memberikan kepercayaan penuh padaku setelah anaknya, Marni mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya. Di perusahaan ayahnya itu aku masuk semudah membalikkan tangan, atau bahkan semudah mengedipkan mata. Aku masuk tanpa tes. Dan langsung bekerja sebagai pengelola web perusahaan. Setiap harinya aku mengurusi pelanggan yang mengunjungi web untuk memulai kerjasama.

Tapi kebanyakan aku malas bekerja meski hanya untuk akses internet, komen para pelanggan di web itu. Jika Ayah Marni datang menegurku, entah dari mana Marni juga akan datang membelaku mati-matian. Dan ayah Marni dengan segera akan pergi meninggalkan kami. Pada saat itu di kepalaku hanya ada Dewi Sri. Aku yakin Marni juga mulai merasa hubungan kami semakin dingin dari hari ke hari. Maka pada saat itu ketika semua pekerja sudah pulang semua, dan di perusahaan hanya tinggal kami berdua, dari lantai tiga kulihat beberapa pekerja berjalan pulang di pelataran perusahaan.

“Sudah jangan terlalu dipikirkan, ayahku tadi. Semuanya akan baik-baik saja, kau akan tetap di sini Marno, dan selanjutnya kita akan menikah. Lalu hidup di Surabaya, bukankah kau suka hidup di kota ketimbang di desa yang selalu sepi, bukan begitu, Sayang?”.

Sambil membawa dua minuman dingin Marni duduk di atas meja kerjaku. Ia duduk sambil memperlihatkan pahanya yang hanya mengenakan rok pendek. Sesekali ia juga mengusap pipiku, sebagaimana yang biasa ia lakukan padaku. Namun saat itu aku merasa ada yang berjalan tidak seperti biasanya. Aku merasa tatapan mata Marni sedang menyiratkan sesuatu. Dan setelah aku meminum minuman itu tiba-tiba semuanya menjadi remang-remang untuk beberapa detik kemudian menjadi gelap. Aku sudah tidak sadarkan diri.

*

Beberapa hari setelah aku dan Dewi Sri resmi menjadi pasangan suami istri. Entah kenapa sawah-sawah di desaku menjadi semakin subur. Padi-padi menguning dengan cepat, dan beberapa warga mengaku, hasil panen tahun ini jauh lebih banyak dari tahun kemarin. Begitu juga dengan sawah kedua orang tuaku. Tahun ini sawah keluargaku yang berada tepat di sebelah timur desa, mendapat hasil jauh dari perkiraan. Dan entah mengapa tidak ada hama perusak, seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini warga desa tampak bahagia dengan hasil panennya.”

Malam itu kami telah resmi menjadi pasangan suami istri, namun aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. sementara di teras rumah, Dewi Sri tampak tak tertarik dengan topik pembicaraan yang kumulai tadi. Ia sejak tadi hanya memerhatikan bulan penuh yang menggantung di antara awan-awan mendung.

“Mar, apa kau percaya bulan bisa memerah?”

“Mana mungkin, Sayang, sejak aku kecil hingga sekarang aku tak pernah melihat bulan bisa menjadi merah. Meski hanya semerah mata yang sedang marah.” Aku tertawa kecil untuk sesaat kemudian geming.

Dewi Sri, istriku entah kenapa ia hanya diam dan sejak tadi hanya memandang bulan saja.

Kemudian aku meraih tangannya dan mendekapnya dari belakang. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sayang. Meskipun bulan bisa menjadi merah aku akan tetap di sampingmu.”

Karena dingin semakin terasa, akhirnya kami masuk ke rumah. Dan melakukan hal-hal menyenangkan sebagaimana yang semestinya dilakukan pasangan baru pada tengah malam.

Ketika mataku terbuka, aku sedikit terkejut aku tengah berada di sebuah sofa ruang kerjaku, tepat didepanku Marni duduk di di sofa sambil membaca buku, namun pakaian yang ia kenakan hanyalah piyama. Sementara itu di sofa aku terbaring lemas, dengan hanya berselimut, sementara baju dan celanaku entah berada di mana. Aku tidak menyangka dengan kelakuan Marni.

Tubuhku rasanya masih sulit digerakkan. Dan entah mengapa selama tidak sadar tadi aku teringat akan bulan merah, seperti yang dikatakan istriku beberapa bulan yang lalu.

*

Malam sudah terlalu larut, setelah Harjono pulang sekitar jam dua belas malam. Aku lantas masuk ke rumah. Rasanya telingaku panas, mendengar ocehan Harjono yang tidak ada habis-habisnya. Ia bercerita banyak tentang apapun yang ia ketahui. Ia tadi juga menyinggung Dewi Sri, dewi padi yang mempunyai kuasa terhadap bulan juga dunia bawah tanah. Harjono bilang, ia juga mampu mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi, entah perkataan Harjono ini bisa dipercaya atau tidak. Dari sekian ocehannya bagiku yang menarik hanya ketika Harjono menceritakan kisah tentang Dewi Sri, sebab namanya serupa dengan nama istriku.

Sejak kepulanganku siang tadi, entah mengapa istriku bersikap tidak seperti biasanya. Ia terlalu dingin bahkan tak sempat tersenyum sama sekali. Saat menghidangkan dua cangkir kopi tadi, ia juga nampak terlalu dingin, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Setelah aku masuk aku tak menemukan istriku di kamar tidur, aku tak menemukannya di dapur, dan di manapun di rumah ini. Ia seolah raib ditelan bumi. Rumah menjadi semakin hening hanya terdengar suaraku saja yang memanggil-manggil istriku. Namun tidak ada jawaban. Apa mungkin istriku marah, dan ia tahu apa yang diperbuat Marni padaku pada malam itu.

Dan ketika aku keluar rumah, aku terkejut memandangi langit. Bulan yang penuh tadi, berubah menjadi merah, seperti mata yang sedang marah. (T)

Tags: Cerpen
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Khayal Pilu Hari Valentine dari Pekerja Pemula di Restoran Romantis

Next Post

Betapa Kaya Jagat Raya Naya – Ulasan Buku Puisi “Resep Membuat Jagat Raya”

Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, juga Majalah Suluk (DK Jatim), Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra dan Songgolangit Creative Space.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Betapa Kaya Jagat Raya Naya – Ulasan Buku Puisi “Resep Membuat Jagat Raya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co