24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Kardian Narayana by Kardian Narayana
April 23, 2019
in Ulasan
Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Personel 3akebuleleng

Belum tau ya? Band #akebuleleng telah meluncurkan album kedua yang diberi judul “Semangat Berkarya”. Oh, sudah tahu? Hahahaha, tulisan ini memang telat.

Album kedua ini diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2019. Dalam albumnya terdapat sembilan lagu. Album kedua #akebuleleng diluncurkan dalam bentuk fisik CD audio. Penggarapan album kali ini membutuhkan waktu satu tahun.

Begitu kutipan yang diambil dari siaran pers yang dibagikan saat peluncuran album, yang bertempat di Rumah Musik Demores, Pantai Penimbangan, yang menjadi basecam #akebuleleng. 

Jujur saja, saya sangat senang ketika mendengar #akebuleleng akan meluncurkan album kembali. Sebagai penikmat musik lokal buleleng, saya selalu bergembira ketika mendengar ada grup band lokal yang berani meluncurkan single lagu meraka bahkan jika sampai meluncurkan album. Hal Ini menandakan bahwa kehidupan kreatif musisi-musisi Buleleng masih memiliki nyawa. Sebagai sebuah band dan musisi, mempunyai album merupakan salah satu tonggak kekhidupan mereka, bukti dari kesenimanan yang dimiliki. 

Terlepas dari hal positif yang dilakukan oleh #akebuleleng yang telah menghasilkan dua buat album, saya yakin diluar sana (masih disekitaran Buleleng) pasti ada musisi yang nyinyir kepada #akebuleleng. “Pantas aja bisa bikin dua album, mereka punya studio rekaman toh!!!” (sekedar informasi bahwa Demores Rumah Musik adalah studio rekaman yang dimiliki oleh Gde Kurniawan, pentolan #akebuleleng”).

Walau punya studio musik sendiri, mari kita coba hitung secara ekonomi, berapa kisaran dana yang dikelurkan oleh #akebuleleng untuk album keduanya. Biaya rekaman di Buleleng satu lagu hingga mixing, ada pada kisaran satu juta rupiah. Dalam album #akebuleleng ada sembilan lagu, jadi totalnya sembilan juta rupiah. Biaya pembuatan keping cd audio lengkap dengan covernya, kita perkirakan harganya dua puluh ribu rupiah, dengan minimal cektak 100 keping jadi harganya sekitar dua juta rupiah.

#akebulleeng saat launching album kedua

Untuk rekaman dan membuat keping CD saja dana yang dihabiskan sudah Rp. 11.000.000. Ditambah dengan pembuatan satu video klip sekitar empat juta rupiah, totalnya menjadi Rp. 15.000.000 setara dengan gaji satu tahun seorang guru kontrak di Buleleng. Pantas saja jika banyak musisi yang sedikit nyinyir dengan #akebuleleng. Segitu saja membahasnya ya…

Setelah melakukan peluncuran album, saya diberikan satu CD album #akebuleleng, ada sembilan lagu, 1. Semangart Berkarya, 2. IKAKU, 3. Depang Anake Ngadanin 4.Sahabat Sejati 5. Paedah 6. Lagu Luu 7. Suksma Meme Bapa, 8. Rasa Cinta Pertama 9.Perbedaan Bukan Alasan. Semua lagunya sudah saya dengarkan, sebagai teman perjalanan di dalam mobil (jika lagi bawa mobil karena pemutar CD cuma ada di mobil hehehe).

Saat mendengarkan lagu #akebuleleng seluruhnya, saya langsung terbayang dengan ES ANCRUK. Es Ancruk adalah salah satu varian es campur yang cukup melegenda di Buleleng. Kata ancruk sama dengan hancur, jadi bisa dibayangkan tampilan esnya. Penjual Es Ancruk yang melegenda di Buleleng, dulu ada di pasar senggol sebelah barat kantor Telkom Singaraja. Sudah lama tidak beli es ancruk semoga masih ada dagangnya.

Isian dari Es Ancruk cukup banyak, saking banyaknya jadi terlihat hancur. Didalam es ancruk, seperti es campur yang didalamnya, isi bubur sagu, ongkoe, agar-agar, kolang paling, kolek, susu, kolek mutiara, dan masih ada isi lainnya yang tidak jelas saya tau namanya. Seperti itulah isian dalam lagu dan musik #akebuleleng di album “Semangat Berkarya” 

Sekarang #akebuleleng beranggotakan lima orang personil awalnya tujuh orang, dua orang mengundurkan diri. Dengan berlima, materi lagunya menjadi Ancruk, padahal mereka #akebuleleng mengaku dalam album kedua kali ini, materi lagu dibuat lebih sederhana dan easy listening dan lebih real saat dibawakan saat live perfomance.

Pengabungan berbagai genre musik dalam album kedua ini, benar-benar dilakukan secara ancruk. Lagu yang paling saya suka, adalah lakgu ke 5 yang berjudul paedah. Sentuhan gendang pantura dalam lagu paedah bikin sangat menyenangkan, maklum saya orang indonesia dangdut is my life, dangdut is the music of my country. 

Kekhasan yang ada dalam lirik lagu dialbum kedua #akebuleleng, mereka mencoba memperkanalkan kata-kata lokal yang familiar di Buleleng, seperti kata gocingan yang artily Rp. 5.000,- kata yang populer karena pengaruh warga cina yang ada di Buleleng. Kata paedah menurut orang Buleleng dapat diartikan sedanga dalam keadaan banyak uang. Dalam bahasa Indonesia kata paedah di tulis dengan huruf F “Faedah”. Penggunaan huruf E dalam kata “Faedah” merupakan proses pengenalan dari bahasa daerah. Kata Faedah merupaka serapan dari bahasa Arab. Wah malah jadi bahasa kata nihhh…

Seperti itulah lagu #akebuleleng yang benar-benar superit es ancruk. Berantakan hancur namun nikmat untuk didengarkan. 

Setelah meluncurkan album kedua, saya yakin #akebuleleng akan banyak mengisi di panggung-panggung musik yang ada di Buleleng, bain diacara Pemerintah maupun acara swasta. Dengan bukti keseriusan dalam berkarya di dunia musik wajar #akebuleleng mendapatkan banyak panggung, walau event di Buleleng lebih banyak diselenggarakan oleh Pemerintah bukan berarti #akebuleleng adalag musisi plat merah.

Dengan biaya produksi yang cukup banyak yang dikeluarkan oleh #akebuleleng untuk menjaga eksistensinya, banyak job manggung menjadi saluki satu usaha untuk balik modal. Jadi para musisi di Buleleng jangan nyinyir ya… kalau #akebuleleng banyak ngisi di event pemerintah. Kalau ingin kecipratan Paedah-nya, ayo bikin lagu sendiri, bikin album sendiri. Cukuplah panggung-panggung musik di Buleleng di isi dengan band yang hanya bisa nyanyiin dan ngenakin lagu orang lain yang sudah terkenal.

Mari ramaikan panggung musik di Buleleng dengan musisi dan lagu karya sendiri. Jangan juga merasa sumbar setelah merilis satu, dua single saja. Teruslah berkarya ramaikan blantikan musik buleleng dengan karya-karya musisi Buleleng. Biar banyak punya follower di IG, jika sudah banyak job pasti datang dan pasti jadi “PAEDAH” 

Selamat #AKEBULELENG [T]

Tags: Ake BulelengbulelenglagumusikSeni
Share300TweetSendShareSend
Previous Post

Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Next Post

Menerima Tanpa Terlena

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Menerima Tanpa Terlena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co