24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bingung Cari Alamat, Padahal Bukan Alamat Palsu Seperti Lagu Ayu Ting Ting

Made Nurbawa by Made Nurbawa
April 6, 2019
in Esai
Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Ke mana, ke mana, ke mana, ku harus mencari ke mana…

Begitulah lirik lagu dengan judul “Alamat Palsu” yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut Ayu Ting Ting yang debut tahun 2011. Lagu tersebut mengisahkan kebingungan Ayu Ting Ting mencari alamat kekasih tercintanya yang lama tak datang ke rumah, lalu ia cari ke mana-mana dan ternyata  alamat yang diberikan kekasihnya palsu. Lagu dangdut berjudul “Alamat Palsu” membuat nama Ayu Ting Ting meroket di blantika musik nasional dan sukses.

Ngomong-ngomong soal mencari alamat, dua tahun lalu, sekitar 2017, saya punya pengalaman lain, walau rada-rada serupa dengan kebingungan Ayu Ting Ting. Bedanya, Ayu Ting Ting memegang alamat palsu, sedangkan saya tidak. Alamatnya benar-benar asli.

Dalam sebuah perjalanan tugas, sore menjelang malam, saya pernah kebingungan mencari alamat yang diberikan oleh panitia. Alamat yang harus saya tuju adalah kantor perbekel di sebuah desa yang ada di kawasan wisata yang mulai go international di wilayah pesisir Bali selatan.

Waktu itu saya ada undangan untuk sebuah pertemuan dengan muda-mudi di sana. Dengan bantuan aplikasi internet saya mendapat petunjuk kalau sudah mengarah ke wilayah yang dimaksud.

Nampak di sepanjang jalan di kawasan wisata itu begitu padat dengan bangunan bercorak khas usaha dagang dan jasa wisata. Sangat berbeda jauh dengan kondisi 10 tahun lalu, di mana terakhir kali saya melintasi wilayah itu.

Awalnya, dalam pikiran saya, mencari alamat kantor perbekel pasti sangat mudah dan pastinya banyak orang yang tahu. Oh, ternyata tidak, setelah memasuki kawasan yang ditunjuk oleh aplikasi internet, saya tidak langsung ketemu alamat yang dimaksud. Beberapa kali saya harus muter-muter dengan sepeda motor dan sempat bingung dengan arah. Maklum sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak pernah lagi melintas di wilayah itu.

Di sepanjang perjalanan saya terus toleh kiri dan kanan sambil melirik sejumlah papan nama usaha yang terpangpang di pinggir jalan. Di sepanjang jalan utama berderet puluhan pertokoan, restaurant, homestay, hotel dan sejenisnya. Setiap usaha memiliki papan nama yang  keren dengan desain yang bagus.

Nama usahanya pun memakai bahasa asing yang belum akrab dibenak saya.  Kawasan yang sangat padat dan banyak perubahan,  benar-benar merasa asing dibuatnya.  

Sepeda motor terus saya pacu mengikuti penunjuk arah seperti dalam aplikasi internet. Tetapi dalam aplikasi tanda panah terlihat mengarah ke arah obyek wisata utama di kawasan itu.  “Saya mencari alamat kantor perbekel, bukan obyek wisata,” pikir saya.

Saya pun berusaha mencari tahu nama jalan, banjar atau desa yang biasanya ditulis di papan-papan nama perusahaan.  Aneh dan sedikit jengkel, senja itu, saya tidak menemukan satu pun papan nama usaha atau papan promosi yang mencantumkan alamat lengkap seperti nama desa, banjar dan nama jalan. Hal itu membuat saya ragu, tidak tahu apakah saya sudah ada di wilayah yang benar. Rupanya banyak pelaku usaha di jalur itu  yang tidak lagi mencantumkan alamat seperti nama jalan, banjar atau nama desa di papan nama perusahaannya.  

Saya kembali memacu sepeda motor sambil berharap ada petunjuk yang bisa memastikan kalau saya sudah berada di wilayah yang benar. Wow, sudah beberapa puluh meter melaju dengan sepeda motor saya tetap gagal menemukan papan nama usaha atau billboard yang mencantumkan nama banjar atau desa. Saya tidak menyerah, seperti pepatah mengatakan “malu bertanya sesat dijalan”, setelah bosan muter-muter saya berhenti lalu bertanya dengan salah seorang warga.

“Permisi, numpang tanya, di mana alamat kantor perbekel desa anu, Mbak?” tanya saya.

“Maaf saya tidak tahu, saya bukan warga sini,” ucapnya.

Saya buru-buru permisi dan melanjukan perjalanan. Beberapa meter saya kembali berhenti untuk bertanya, kali ini dengan ibu-ibu paroh baya.

“Permisi, Bu,  numpang tanya, di mana alamat kantor perbekel desa anu?”

“Oh, terus saja, nanti ada belok-belok lagi, setengah kilo dari sini, lokasinya dekat anu,” jelas ibu itu dengan bahasa Bali.

“Baik, Bu, saya coba cari. Permisi,” ucap saya dan segera balik kanan sambil mengira-ngira karena nama tempat yang disebut ibu tadi tetap asing dalam benak saya.

Sepeda motor saya pacu lagi menuju arah yang ditunjukkan ibu tadi. Sempat bolak balik beberapa kali. Akhirnya saya beruntung, setelah sempat resah hampir 40 menit,  kantor perbekel yang saya cari berhasil saya temukan dengan tidak sengaja.

Setelah memarkir sepeda motor, sesaat saya merenung sambil duduk di sadel. Susah juga mencari alamat seperti dalam surat undangan, lumayan melelahkan lahir dan batin, gumamku dalam hati.  Maklum, sejak berangkat dari rumah pikiran terpatok pada nama desa, sementara di aplikasi internet hanya terlihat nama obyek wisata, kebingungan terjadi karena obyek wisata berbeda  dengan nama desa.

Peristiwa itu hingga kini terus terngiang, sebuah pengalaman berharga sekaligus mengingatkan saya bahwa jaman telah berubah, Bali telah berubah. Saya pun disadarkan kini di beberapa wilayah di Bali mencari alamat harus benar-benar dipersiapkan dengan matang dengan waktu yang cukup. Jika tidak ingin terlambat, jam berangkat pun harus lebih awal dari waktu tempuh sebelumnya karena jika tidak terjebak kemacetan lalu lintas,  sangat mungkin kita kesasar karena situasi berubah sangat cepat.

Sekarang ini mencari alamat di beberapa kawasan di Bali apalagi yang belum pernah kita lewati sangat sulit berpatokan pada simbul dan situs-situs sosial dan budaya seperti   pohon beringin, tempat suci/pura, balai banjar/nama banjar, batas-batas desa dan sejenisnya. Kalau kita bertanya pun banyak warga yang kita temui di pinggir jalan mengaku tidak tahu karena kebanyakan dari mereka adalah warga pendatang.

Bagi saya hal ini cukup memperihatinkan, ditengah dengung pariwisata budaya, kita tidak lagi merasa penting menunjukan simbul-simbul budaya lokal. Atau bisa jadi usaha tersebut bukan lagi dikuasai oleh orang lokal, atau kita semua sudah lupa bahwa banyak usaha wisata terkenal karena Bali, bukan sebaliknya.


BACA JUGA:

  • Karena Ikon Pariwisata, Sejumlah Desa di Bali Nyaris Balik Nama

Bagi warga yang lahir di atas tahun 1960-an pasti bisa merasakan perbedaannya, kini generasi mellenia (kelahiran diatas 1990 an) jika ditanya soal alamat, banyak yang mengandalkan aplikasi internet/online untuk menemukannya atau mereka berpatokan pada pusat-pusat usaha, belanja atau pusat-pusat keramaian lainnya seperti mall, hotel, pusat hidangan cepat saji, karaoke, SPA dan sejenisnya.

Bahkan hingga di desa-desa, jika kita menanyakan alamat seseorang,  sudah mulai warga tidak lagi menyebut simbul-simbul budaya seperti pura,  balai banjar, setra atau tempat-tempat keramat lainnya sebagai patokan. Sekarang sudah lumrah kita mendengar,  jika bertanya alamat di pelosok-pelosok desa, warga akan menjawab, oh di sana, terus saja, nanti ada “minimarket anu”, ada perempatan lalu belok kanan, dan seterusnya.

Mereka tidak lagi menggunakan balai banjar, perempatan agung, atau simbul-simbul lokal lainnya sebagai patokan. Tentu hal itu tidak salah, karena mungkin saja dengan cara itu alamat bisa lebih cepat di temukan. Tetapi akan menjadi masalah kalau itu terjadi karena generasi muda Bali (generasi mellenia) tidak paham lagi dengan potensi wilayahnya (baca; palemahan) yang pastinya sangat terintegrasi dengan kesadaran filosofis “Tri Hita Karana” dan panji-panji pariwisata budaya. [T]

Tags: balidesaPariwisata
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Hantu Itu Bernama Ateisme

Next Post

Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co