23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bingung Cari Alamat, Padahal Bukan Alamat Palsu Seperti Lagu Ayu Ting Ting

Made Nurbawa by Made Nurbawa
April 6, 2019
in Esai
Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Ke mana, ke mana, ke mana, ku harus mencari ke mana…

Begitulah lirik lagu dengan judul “Alamat Palsu” yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut Ayu Ting Ting yang debut tahun 2011. Lagu tersebut mengisahkan kebingungan Ayu Ting Ting mencari alamat kekasih tercintanya yang lama tak datang ke rumah, lalu ia cari ke mana-mana dan ternyata  alamat yang diberikan kekasihnya palsu. Lagu dangdut berjudul “Alamat Palsu” membuat nama Ayu Ting Ting meroket di blantika musik nasional dan sukses.

Ngomong-ngomong soal mencari alamat, dua tahun lalu, sekitar 2017, saya punya pengalaman lain, walau rada-rada serupa dengan kebingungan Ayu Ting Ting. Bedanya, Ayu Ting Ting memegang alamat palsu, sedangkan saya tidak. Alamatnya benar-benar asli.

Dalam sebuah perjalanan tugas, sore menjelang malam, saya pernah kebingungan mencari alamat yang diberikan oleh panitia. Alamat yang harus saya tuju adalah kantor perbekel di sebuah desa yang ada di kawasan wisata yang mulai go international di wilayah pesisir Bali selatan.

Waktu itu saya ada undangan untuk sebuah pertemuan dengan muda-mudi di sana. Dengan bantuan aplikasi internet saya mendapat petunjuk kalau sudah mengarah ke wilayah yang dimaksud.

Nampak di sepanjang jalan di kawasan wisata itu begitu padat dengan bangunan bercorak khas usaha dagang dan jasa wisata. Sangat berbeda jauh dengan kondisi 10 tahun lalu, di mana terakhir kali saya melintasi wilayah itu.

Awalnya, dalam pikiran saya, mencari alamat kantor perbekel pasti sangat mudah dan pastinya banyak orang yang tahu. Oh, ternyata tidak, setelah memasuki kawasan yang ditunjuk oleh aplikasi internet, saya tidak langsung ketemu alamat yang dimaksud. Beberapa kali saya harus muter-muter dengan sepeda motor dan sempat bingung dengan arah. Maklum sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak pernah lagi melintas di wilayah itu.

Di sepanjang perjalanan saya terus toleh kiri dan kanan sambil melirik sejumlah papan nama usaha yang terpangpang di pinggir jalan. Di sepanjang jalan utama berderet puluhan pertokoan, restaurant, homestay, hotel dan sejenisnya. Setiap usaha memiliki papan nama yang  keren dengan desain yang bagus.

Nama usahanya pun memakai bahasa asing yang belum akrab dibenak saya.  Kawasan yang sangat padat dan banyak perubahan,  benar-benar merasa asing dibuatnya.  

Sepeda motor terus saya pacu mengikuti penunjuk arah seperti dalam aplikasi internet. Tetapi dalam aplikasi tanda panah terlihat mengarah ke arah obyek wisata utama di kawasan itu.  “Saya mencari alamat kantor perbekel, bukan obyek wisata,” pikir saya.

Saya pun berusaha mencari tahu nama jalan, banjar atau desa yang biasanya ditulis di papan-papan nama perusahaan.  Aneh dan sedikit jengkel, senja itu, saya tidak menemukan satu pun papan nama usaha atau papan promosi yang mencantumkan alamat lengkap seperti nama desa, banjar dan nama jalan. Hal itu membuat saya ragu, tidak tahu apakah saya sudah ada di wilayah yang benar. Rupanya banyak pelaku usaha di jalur itu  yang tidak lagi mencantumkan alamat seperti nama jalan, banjar atau nama desa di papan nama perusahaannya.  

Saya kembali memacu sepeda motor sambil berharap ada petunjuk yang bisa memastikan kalau saya sudah berada di wilayah yang benar. Wow, sudah beberapa puluh meter melaju dengan sepeda motor saya tetap gagal menemukan papan nama usaha atau billboard yang mencantumkan nama banjar atau desa. Saya tidak menyerah, seperti pepatah mengatakan “malu bertanya sesat dijalan”, setelah bosan muter-muter saya berhenti lalu bertanya dengan salah seorang warga.

“Permisi, numpang tanya, di mana alamat kantor perbekel desa anu, Mbak?” tanya saya.

“Maaf saya tidak tahu, saya bukan warga sini,” ucapnya.

Saya buru-buru permisi dan melanjukan perjalanan. Beberapa meter saya kembali berhenti untuk bertanya, kali ini dengan ibu-ibu paroh baya.

“Permisi, Bu,  numpang tanya, di mana alamat kantor perbekel desa anu?”

“Oh, terus saja, nanti ada belok-belok lagi, setengah kilo dari sini, lokasinya dekat anu,” jelas ibu itu dengan bahasa Bali.

“Baik, Bu, saya coba cari. Permisi,” ucap saya dan segera balik kanan sambil mengira-ngira karena nama tempat yang disebut ibu tadi tetap asing dalam benak saya.

Sepeda motor saya pacu lagi menuju arah yang ditunjukkan ibu tadi. Sempat bolak balik beberapa kali. Akhirnya saya beruntung, setelah sempat resah hampir 40 menit,  kantor perbekel yang saya cari berhasil saya temukan dengan tidak sengaja.

Setelah memarkir sepeda motor, sesaat saya merenung sambil duduk di sadel. Susah juga mencari alamat seperti dalam surat undangan, lumayan melelahkan lahir dan batin, gumamku dalam hati.  Maklum, sejak berangkat dari rumah pikiran terpatok pada nama desa, sementara di aplikasi internet hanya terlihat nama obyek wisata, kebingungan terjadi karena obyek wisata berbeda  dengan nama desa.

Peristiwa itu hingga kini terus terngiang, sebuah pengalaman berharga sekaligus mengingatkan saya bahwa jaman telah berubah, Bali telah berubah. Saya pun disadarkan kini di beberapa wilayah di Bali mencari alamat harus benar-benar dipersiapkan dengan matang dengan waktu yang cukup. Jika tidak ingin terlambat, jam berangkat pun harus lebih awal dari waktu tempuh sebelumnya karena jika tidak terjebak kemacetan lalu lintas,  sangat mungkin kita kesasar karena situasi berubah sangat cepat.

Sekarang ini mencari alamat di beberapa kawasan di Bali apalagi yang belum pernah kita lewati sangat sulit berpatokan pada simbul dan situs-situs sosial dan budaya seperti   pohon beringin, tempat suci/pura, balai banjar/nama banjar, batas-batas desa dan sejenisnya. Kalau kita bertanya pun banyak warga yang kita temui di pinggir jalan mengaku tidak tahu karena kebanyakan dari mereka adalah warga pendatang.

Bagi saya hal ini cukup memperihatinkan, ditengah dengung pariwisata budaya, kita tidak lagi merasa penting menunjukan simbul-simbul budaya lokal. Atau bisa jadi usaha tersebut bukan lagi dikuasai oleh orang lokal, atau kita semua sudah lupa bahwa banyak usaha wisata terkenal karena Bali, bukan sebaliknya.


BACA JUGA:

  • Karena Ikon Pariwisata, Sejumlah Desa di Bali Nyaris Balik Nama

Bagi warga yang lahir di atas tahun 1960-an pasti bisa merasakan perbedaannya, kini generasi mellenia (kelahiran diatas 1990 an) jika ditanya soal alamat, banyak yang mengandalkan aplikasi internet/online untuk menemukannya atau mereka berpatokan pada pusat-pusat usaha, belanja atau pusat-pusat keramaian lainnya seperti mall, hotel, pusat hidangan cepat saji, karaoke, SPA dan sejenisnya.

Bahkan hingga di desa-desa, jika kita menanyakan alamat seseorang,  sudah mulai warga tidak lagi menyebut simbul-simbul budaya seperti pura,  balai banjar, setra atau tempat-tempat keramat lainnya sebagai patokan. Sekarang sudah lumrah kita mendengar,  jika bertanya alamat di pelosok-pelosok desa, warga akan menjawab, oh di sana, terus saja, nanti ada “minimarket anu”, ada perempatan lalu belok kanan, dan seterusnya.

Mereka tidak lagi menggunakan balai banjar, perempatan agung, atau simbul-simbul lokal lainnya sebagai patokan. Tentu hal itu tidak salah, karena mungkin saja dengan cara itu alamat bisa lebih cepat di temukan. Tetapi akan menjadi masalah kalau itu terjadi karena generasi muda Bali (generasi mellenia) tidak paham lagi dengan potensi wilayahnya (baca; palemahan) yang pastinya sangat terintegrasi dengan kesadaran filosofis “Tri Hita Karana” dan panji-panji pariwisata budaya. [T]

Tags: balidesaPariwisata
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Hantu Itu Bernama Ateisme

Next Post

Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co