2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bingung Cari Alamat, Padahal Bukan Alamat Palsu Seperti Lagu Ayu Ting Ting

Made Nurbawa by Made Nurbawa
April 6, 2019
in Esai
Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Ke mana, ke mana, ke mana, ku harus mencari ke mana…

Begitulah lirik lagu dengan judul “Alamat Palsu” yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut Ayu Ting Ting yang debut tahun 2011. Lagu tersebut mengisahkan kebingungan Ayu Ting Ting mencari alamat kekasih tercintanya yang lama tak datang ke rumah, lalu ia cari ke mana-mana dan ternyata  alamat yang diberikan kekasihnya palsu. Lagu dangdut berjudul “Alamat Palsu” membuat nama Ayu Ting Ting meroket di blantika musik nasional dan sukses.

Ngomong-ngomong soal mencari alamat, dua tahun lalu, sekitar 2017, saya punya pengalaman lain, walau rada-rada serupa dengan kebingungan Ayu Ting Ting. Bedanya, Ayu Ting Ting memegang alamat palsu, sedangkan saya tidak. Alamatnya benar-benar asli.

Dalam sebuah perjalanan tugas, sore menjelang malam, saya pernah kebingungan mencari alamat yang diberikan oleh panitia. Alamat yang harus saya tuju adalah kantor perbekel di sebuah desa yang ada di kawasan wisata yang mulai go international di wilayah pesisir Bali selatan.

Waktu itu saya ada undangan untuk sebuah pertemuan dengan muda-mudi di sana. Dengan bantuan aplikasi internet saya mendapat petunjuk kalau sudah mengarah ke wilayah yang dimaksud.

Nampak di sepanjang jalan di kawasan wisata itu begitu padat dengan bangunan bercorak khas usaha dagang dan jasa wisata. Sangat berbeda jauh dengan kondisi 10 tahun lalu, di mana terakhir kali saya melintasi wilayah itu.

Awalnya, dalam pikiran saya, mencari alamat kantor perbekel pasti sangat mudah dan pastinya banyak orang yang tahu. Oh, ternyata tidak, setelah memasuki kawasan yang ditunjuk oleh aplikasi internet, saya tidak langsung ketemu alamat yang dimaksud. Beberapa kali saya harus muter-muter dengan sepeda motor dan sempat bingung dengan arah. Maklum sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak pernah lagi melintas di wilayah itu.

Di sepanjang perjalanan saya terus toleh kiri dan kanan sambil melirik sejumlah papan nama usaha yang terpangpang di pinggir jalan. Di sepanjang jalan utama berderet puluhan pertokoan, restaurant, homestay, hotel dan sejenisnya. Setiap usaha memiliki papan nama yang  keren dengan desain yang bagus.

Nama usahanya pun memakai bahasa asing yang belum akrab dibenak saya.  Kawasan yang sangat padat dan banyak perubahan,  benar-benar merasa asing dibuatnya.  

Sepeda motor terus saya pacu mengikuti penunjuk arah seperti dalam aplikasi internet. Tetapi dalam aplikasi tanda panah terlihat mengarah ke arah obyek wisata utama di kawasan itu.  “Saya mencari alamat kantor perbekel, bukan obyek wisata,” pikir saya.

Saya pun berusaha mencari tahu nama jalan, banjar atau desa yang biasanya ditulis di papan-papan nama perusahaan.  Aneh dan sedikit jengkel, senja itu, saya tidak menemukan satu pun papan nama usaha atau papan promosi yang mencantumkan alamat lengkap seperti nama desa, banjar dan nama jalan. Hal itu membuat saya ragu, tidak tahu apakah saya sudah ada di wilayah yang benar. Rupanya banyak pelaku usaha di jalur itu  yang tidak lagi mencantumkan alamat seperti nama jalan, banjar atau nama desa di papan nama perusahaannya.  

Saya kembali memacu sepeda motor sambil berharap ada petunjuk yang bisa memastikan kalau saya sudah berada di wilayah yang benar. Wow, sudah beberapa puluh meter melaju dengan sepeda motor saya tetap gagal menemukan papan nama usaha atau billboard yang mencantumkan nama banjar atau desa. Saya tidak menyerah, seperti pepatah mengatakan “malu bertanya sesat dijalan”, setelah bosan muter-muter saya berhenti lalu bertanya dengan salah seorang warga.

“Permisi, numpang tanya, di mana alamat kantor perbekel desa anu, Mbak?” tanya saya.

“Maaf saya tidak tahu, saya bukan warga sini,” ucapnya.

Saya buru-buru permisi dan melanjukan perjalanan. Beberapa meter saya kembali berhenti untuk bertanya, kali ini dengan ibu-ibu paroh baya.

“Permisi, Bu,  numpang tanya, di mana alamat kantor perbekel desa anu?”

“Oh, terus saja, nanti ada belok-belok lagi, setengah kilo dari sini, lokasinya dekat anu,” jelas ibu itu dengan bahasa Bali.

“Baik, Bu, saya coba cari. Permisi,” ucap saya dan segera balik kanan sambil mengira-ngira karena nama tempat yang disebut ibu tadi tetap asing dalam benak saya.

Sepeda motor saya pacu lagi menuju arah yang ditunjukkan ibu tadi. Sempat bolak balik beberapa kali. Akhirnya saya beruntung, setelah sempat resah hampir 40 menit,  kantor perbekel yang saya cari berhasil saya temukan dengan tidak sengaja.

Setelah memarkir sepeda motor, sesaat saya merenung sambil duduk di sadel. Susah juga mencari alamat seperti dalam surat undangan, lumayan melelahkan lahir dan batin, gumamku dalam hati.  Maklum, sejak berangkat dari rumah pikiran terpatok pada nama desa, sementara di aplikasi internet hanya terlihat nama obyek wisata, kebingungan terjadi karena obyek wisata berbeda  dengan nama desa.

Peristiwa itu hingga kini terus terngiang, sebuah pengalaman berharga sekaligus mengingatkan saya bahwa jaman telah berubah, Bali telah berubah. Saya pun disadarkan kini di beberapa wilayah di Bali mencari alamat harus benar-benar dipersiapkan dengan matang dengan waktu yang cukup. Jika tidak ingin terlambat, jam berangkat pun harus lebih awal dari waktu tempuh sebelumnya karena jika tidak terjebak kemacetan lalu lintas,  sangat mungkin kita kesasar karena situasi berubah sangat cepat.

Sekarang ini mencari alamat di beberapa kawasan di Bali apalagi yang belum pernah kita lewati sangat sulit berpatokan pada simbul dan situs-situs sosial dan budaya seperti   pohon beringin, tempat suci/pura, balai banjar/nama banjar, batas-batas desa dan sejenisnya. Kalau kita bertanya pun banyak warga yang kita temui di pinggir jalan mengaku tidak tahu karena kebanyakan dari mereka adalah warga pendatang.

Bagi saya hal ini cukup memperihatinkan, ditengah dengung pariwisata budaya, kita tidak lagi merasa penting menunjukan simbul-simbul budaya lokal. Atau bisa jadi usaha tersebut bukan lagi dikuasai oleh orang lokal, atau kita semua sudah lupa bahwa banyak usaha wisata terkenal karena Bali, bukan sebaliknya.


BACA JUGA:

  • Karena Ikon Pariwisata, Sejumlah Desa di Bali Nyaris Balik Nama

Bagi warga yang lahir di atas tahun 1960-an pasti bisa merasakan perbedaannya, kini generasi mellenia (kelahiran diatas 1990 an) jika ditanya soal alamat, banyak yang mengandalkan aplikasi internet/online untuk menemukannya atau mereka berpatokan pada pusat-pusat usaha, belanja atau pusat-pusat keramaian lainnya seperti mall, hotel, pusat hidangan cepat saji, karaoke, SPA dan sejenisnya.

Bahkan hingga di desa-desa, jika kita menanyakan alamat seseorang,  sudah mulai warga tidak lagi menyebut simbul-simbul budaya seperti pura,  balai banjar, setra atau tempat-tempat keramat lainnya sebagai patokan. Sekarang sudah lumrah kita mendengar,  jika bertanya alamat di pelosok-pelosok desa, warga akan menjawab, oh di sana, terus saja, nanti ada “minimarket anu”, ada perempatan lalu belok kanan, dan seterusnya.

Mereka tidak lagi menggunakan balai banjar, perempatan agung, atau simbul-simbul lokal lainnya sebagai patokan. Tentu hal itu tidak salah, karena mungkin saja dengan cara itu alamat bisa lebih cepat di temukan. Tetapi akan menjadi masalah kalau itu terjadi karena generasi muda Bali (generasi mellenia) tidak paham lagi dengan potensi wilayahnya (baca; palemahan) yang pastinya sangat terintegrasi dengan kesadaran filosofis “Tri Hita Karana” dan panji-panji pariwisata budaya. [T]

Tags: balidesaPariwisata
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Hantu Itu Bernama Ateisme

Next Post

Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Puisi-puisi Made Gunawan # Suara dari Dalam Kubur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co