22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyepi di Tengah Keramaian

Jaswanto by Jaswanto
April 1, 2019
in Esai
Siapa Orang yang Paling Baik?

Setelah mengisi acara bedah buku pliTik karya Bang Nanoq da Kansas di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Minggu kemarin, seorang kawan tiba-tiba mengajak saya untuk mendaki Gunung Batur.

Walaupun sangat mendadak, dan tentu saja saya belum mempersiapkan apa-apa, namun saya tetap menerima ajakan yang sangat menggiurkan itu.

Pasalnya, saya sangat menyukai naik gunung, dan merasakan sensasi-sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Bagi saya, mendaki gunung—atau hanya sekadar kemah di hutan—sangat menyenangkan daripada hidup terbelenggu dalam penjara kota—yang tentu saja sudah penuh dengan tempat-tempat yang sangat bising.

Seperti kata Soe Hok Gie, “Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur”. Dan benar, pemuda idealis itu tidur dalam keabadian di Gunung Semeru. Dan Christopher McCandless, misalnya, seorang petualang muda asal Amerika Serikat, yang ditemukan meninggal di Alaska setelah melakukan perjalanan panjang.

Kawanku, mendaki gunung—sekali lagi—sangat menyenangkan. Saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, kau akan merasakan sensasi yang lebih hebat lagi. Dan saat sampai di puncak tertinggi, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa kau lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan pohon-pohon cemara dan bintang-gemintang, di antara batu-batu yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, kau akan merakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Meskipun kakimu juga akan terasa lumpuh, kulitmu seakan mati rasa hingga panas api di ujung jari tak bisa membakarmu, napasmu sesak, ego memuncak, tapi itu adalah kenikmatan lain yang ditawarkan alam kepadamu, agar kau merasakan bahwa sejatinya, jika ingin meraih sesuatu yang menurutmu indah, tentu rasa-rasa yang tidak menyenangkan itu akan hadir sebagai bumbu-bumbu penyedap. Dan anggaplah itu sebagai proses belajar untuk menaklukkan dan berdamai dengan diri sendiri.

Setelah kau bisa berdamai dengan alam, dengan dirimu sendiri, berbaringlah sejenak di atas debu, di bawah langit yang terlihat begitu rendah dengan hiasan bintang di atas wajahmu, kau baru akan merasakan perasaan takjub pada bumi. Kau akan selalu mengingat sensasi itu setelah kau kembali ke kos atau rumahmu yang nyaman. Dan akan menjadi cerita menarik suatu saat nanti.

***

Ketika sebagian rakyat Indonesia heboh dengan Debat Capres ke-4 yang baru saja di gelar pada Sabtu kemarin di Hotel Shangri La, Jakarta Pusat, lalu seperti biasa muncul ribut-ribut—yang memenuhi timeline media sosial—tentang perilaku kedua capres, pendapat, dan lain-lain, saya bersama tiga kawan saya tengah berkendara menuju Gunung Batur. Meninggalkan kota pada akhir pekan, mulai mendaki pada pagi buta, dan seperti yang sudah saya katakan di awal, tanpa persiapan apapun.

Tujuan saya pribadi, memang untuk menghindar sejenak dari hiruk-pikuk kota dan perdebatan orang-orang. Mencoba untuk membuang diri, menepi, meminggirkan diri bersama sepi, mengasingkan diri bersama sunyi. Seperti Pandawa, yang menyepi untuk mengalahkan musuh dalam diri. Atau mengembara seperti Musa menemui Khidlir sang penjaga rahasia. Seperti Yunus yang ditelan samudera, dan Muhammad yang gigil memeluk firmanNya.

“Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa isi dari keramaian.” Begitu kata Cak Nun. Di hutan, atau di gunung, di atas sana ada kesunyian yang hampir sempurna. Tak ada deru mesin yang bising, urusan kerja, birokrasi yang boborok, konflik interna-eksternal agama, baliho-baliho caleg, dan masalah-masalah yang seperti hendak membunuhmu saat ini juga.

Di atas gunung menjadi salah satu tempat yang, saya pikir tepat untuk berkontemplasi dan memahami berbagai hal dalam kehidupan. Kau juga akan merasakan sedang bersama diri sendiri.

Dan tak terkecuali untuk merenungi nasibmu yang jomlo, atau mencari jawaban atas harapan-harapan palsu dari gebetanmu.

Namun, di dunia yang semakin ramai ini, tak banyak orang yang menyukai dunia yang sunyi, sepi, dan menyendiri. Semua orang suka hingar bingar, memuji bising, dan menikmati pesta.

Sunyi, sepertinya semakin disingkirkan. Ia dijauhi mereka yang ingin agar hidup sepenuhnya dibangun oleh kata tegas, diarahkan logos, dengan kesadaran penuh, hingga dapat dirumuskan wacana, disusun rapi dan diperkuat mufakat. Padahal, tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan cara akademis, hukum, dll, terkadang sebuah permasalahan juga bisa diselesaikan dengan cara-cara estetika, keindahan.

Sunyi—dalam bahasa Sapardi Djoko Damono, dalam sajaknya, Pada Suatu Malam, menuliskan bahwa sunyi adalah minuman keras—kini telah tiada. Hanya seperti lentera kecil yang berada di batas nyala. Redup. Semakin redup. Tidak salah jika jiwa manusia sekarang banyak yang jernih. Sebab mereka telah meramaikan jiwa dan raganya dengan urusan-urusan yang profan dan menyingkirkan yang sakral.

Padalah sunyi adalah dunia para sufi. Bertapa untuk menjauh dari bising. Untuk lebih dekat dengan diri sendiri, jiwa yang merasuk begitu dalam hingga kabur antara batas “aku” dan “bukan aku”. Hingga jiwa terlepas dari beban duniawi. Jernih. Hanya ada ketenangan bersama diri sendiri.

Kawanku, kita tidak akan bertahan lama, bukan? Jika kau sudah merasa jenuh dengan semua ini dan merasa terpenjara oleh belantara kota, tinggalkan kotamu. Pegilah dengan teman-temanmu. Tempuhlah perjalanan menembus hutan, dan tertawalah tanpa henti—menertawakan dunia dan diri sendiri. [T]

Tags: alamGunung BaturlingkunganSapardi Djoko DamonoSoe Hok Gie
Share48TweetSendShareSend
Previous Post

Evolusi Pasca Darwin

Next Post

Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ''Balik Nama''

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co