2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Made Nurbawa by Made Nurbawa
April 1, 2019
in Esai
Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Era 1970 hingga 1990 an Pariwisata Bali mulai tumbuh pesat. Di era tersebut sejumlah obyek wisata  melesat pesat di ruang-ruang informasi dan promosi pariwisata dunia. Lebih pesat lagi ketika tahun 2000 an mulai muncul teknologi informasi berbasis internet yang membuat beragam informasi hadir dalam ruang-ruang pribadi masyarakat dunia.

Harus diakui, denyut perekonomian Bali sangat tergantung dengan industri pariwisata. Bali menjadi destinasi pariwisata terkenal di dunia tidak bisa lepas karena pelaku usaha gencar melakukan komunikasi dan promosi. Namun jangan salah,  lebih banyak lagi pelaku usaha atau hotel-hotel besar terkenal karena Bali, bukan sebaliknya.

Setiap tahun jutaan wisatawan manca negara berkunjung ke Provinsi Bali, hal itu memicu pesatnya pertumbuhan hotel, restauran dan akomudasi wisata. Sehingga dibandingkan dengan tahun 1980-1990 an,  di abad 21 ini wajah Bali jauh lebih sesak dengan beragam dampak ikutan yang ditimbulkan seperti kemacetan lalu lintas, perang tarif, kriminalitas, penurunan masa tinggal hotel dan sebagainya.

Hal itu membuat Pariwisata Bali ada dalam ‘dilema”, satu sisi target pertembuhan ekonomi harus bisa di capai,  namun disisi lain Bali mulai kehilangan pengagum masa lalunya yang membayangkan Bali pulau yang  “hening” dan hanya bergerak dalam nafas kedewataan.  Karena keheningan itu Pulau Bali pun disebut-sebut “pulau sorga”, jangan sampai sorga kehilangan penggemarnya.

Mengupas kepariwisataan Bali tak akan habis-habisnya, sangat multi dimensional. Selama ini di koran-koran, meja seminar, bahkan di meja rapat paripurna para dewan (DPRD),  isu pariwisata terkesan lebih banyak soal pertumbuhan ekonomi, perizinan, tarif, pajak, retribusi atau belakangan yang tidak kalah keren soal pembahasan peruntukan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersumber dari Pajak Hotel dan Restauran (PHR) Kabupaten Badung yang mengalir ke sejumlah kabupaten di Bali.

Di tengah laju dan geliat pariwisata Bali, dari sisi budaya, sesuatu yang tak disengaja pun terjadi, karena Ikon Pariwisata yang sudah go international sejumlah desa di Bali (desa dinas maupun desa adat)  nyaris dibuat “balik nama”. Balik nama dalam kamus bahasa Indonesia berarti “diganti”.

Misalnya dulu ketika saya bertemu dengan kenalan baru, saya bertanya,  asalnya dari desa mana? Dengan enteng kenalan saya itu menjawab dari Candidasa, usut punya usut ternyata dari Desa Bugbug.   Karena yang saya tanya asal desa, seharusnya jawaban kenalan saya itu dari Desa Bugbug, bukan Candidasa. Candidasa adalah salah satu obyek wisata terkenal di Bali timur, berada di wilayah Desa Bugbug Kabupaten Karangasem.  

Sering juga saya mendengar seseorang ketika ditanya alamat tempat tinggal  mengaku tinggal di Nusa Dua. Padahal maksudnya dari Desa Bualu. “Nusa Dua” adalah Ikon Pariwisata yang terkenal dengan puluhan hotel berbintang yang dikelola oleh BUMN Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC)-dulu Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Nusa Dua berada di wilayah Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Tidak itu saja, mereka yang berasal dari wilayah obyek wisata Bali utara Buleleng ketika ditanya mengaku dari Lovina. Padahal desa asalnya dari Desa Kalibukbuk. “Lovina” adalah Ikon Pariwisata di Bali utara. Kawasan ini terkenal dengan pantainya yang tenang dengan atraksi ikan lumba-lumba. Kata “Lovina” sendiri dikenal di manca negara sejak tahun 1950 an yang erat kaitannya dengan sosok bangsawan dan sastrawan Anak Agung Pandji Tisna. Bahkan kini setidaknya ada enam desa disekitar Desa Kalibukbuk juga disebut kawasan Lovina.

Ternyata di Kabupaten Tabanan juga ada desa yang nyaris “balik nama” karena ikon pariwisata. Sering saya dengan seseorang menyebut berasal dari Tanah Lot. Padahal maksudnya dari Desa Beraban, Kecamatan Kediri Tabanan. Tanah Lot adalah nama Pura yang berada di atas batu karang di tengah laut. Karena keindahan panorama laut,  sun set, dan aktivitas keagamaan Umat Hindu membuat kawasan suci Tanah Lot (DTW Tanah Lot) memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara.

Masih ada lagi mereka yang berasal dari Desa Candikuning Kecamatan Baturiti lebih akrab menyebut dirinya berasal dari Bedugul. Kawasan Bedugul (DTW Bedugul) juga salah satu ikon pariwisata Bali memiliki daya tarik berupa hutan pegunungan dan danau dengan udaranya yang sejuk.

Begitulah sejumlah kawasan/obyek wisata terkenal di Bali seolah-olah “menenggelamkan” nama desa-desa asli. Penyebutan kawasan wisata terkenal tentu tidak salah, semua itu serta merta agar lebih mudah di pahami oleh orang lain dari pada menyebut desa asli yang brandingnya kalah jauh dengan  brading obyek wisata.  

Tetapi dari sisi kepentingan pariwisata budaya atau pelestarian budaya tentu fenomena  tersebut perlu mendapat kajian lebih lanjut, jangan sampai secara tidak sengaja kita membiarkan sesuatu yang membuat seseorang lupa dengan asal-usulnya, lupa dengan sejarah dan  tatanan leluhurnya.

Desa di Bali bukan sekedar batas-batas administratif, tetapi “Desa” adalah tempat/wilayah untuk belajar dan menerapkan nilai-nilai kerohanian dan pengetahuan suci (Weda). [T]

Tags: balidesaNamaPariwisata
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Menyepi di Tengah Keramaian

Next Post

Rezeki Meningkat Setelah Kusayangi Istriku – Catatan Seorang Suami Muda

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rezeki Meningkat Setelah Kusayangi Istriku – Catatan Seorang Suami Muda

Rezeki Meningkat Setelah Kusayangi Istriku - Catatan Seorang Suami Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co