7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezeki Meningkat Setelah Kusayangi Istriku – Catatan Seorang Suami Muda

Ricky Mahendra by Ricky Mahendra
April 1, 2019
in Esai
Rezeki Meningkat Setelah Kusayangi Istriku – Catatan Seorang Suami Muda

Foto ilustrasi diolah dari sumber foto di Google

Seorang suami tugasnya adalah mencari nafkah dan memenuhi semua kebutuhan anak dan istrinya.

Seorang suami harus bisa menjadi sosok yang tidak mudah mengeluh dan cengeng. Seorang suami harus siap bekerja keras agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga yang selalu datang setiap harinya.  Rezeki sudah diatur Tuhan benar adanya, namun jika tidak berusaha dan dalam rumah tangga sering terjadi pertengkaran rezeki itu akan menjauh dan tidak akan menghampirimu.

Untukmu yang akan menjadi seorang suami, mendekatlah. Aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu. Aku akan memberikan sebuah gambaran atau bayangan, bagaimana rasanya menjadi seorang suami itu.

Hei.. Minum saja beer itu, jangan melulu minta kopi.

Kamu harus tahu hidup itu tidak hanya pahit. Tapi, pusing juga. Karena setelah menjadi seorang suami atau kepala rumah tangga kamu akan merasakan bagaimana rasanya pusing itu.

Aku ingin menceritakan sedikit pengalamanku. Dan harapku kamu tak melakukan hal yang salah sepertiku.

Aku menikah di usia 20 tahun dan masih berstatus mahasiswa. Mengapa muda? Karena aku melakukan hal yang seharusnya belum waktunya untuk dilakukan. Kalian pasti paham itu.

Dulu di awal pernikaham sangat terasa berat untuk aku jalani. Apalagi aku menikah saat usiaku masih sangat muda dan tidak bertanggungjawab. Sikap dan pikiranku belum siap untuk hal ini.  Aku belum punya tabungan, aku belum paham apa yang harus dlakukan sebagai seorang suami dan tidak tahu apa-apa tentang tanggung jawab seorang suami.

Siiaaal… rasanya sangat sulit aku temukan tujuan hidup ini. Aku masih belum percaya dengan semua keadaan ini. Akhirnya semua kegalauan itu aku lampiaskan ke minuman keras. Aku minum, aku keluyuran dan selalu pulang tengah malam.

Ya begitulah.. Hari-hari kuhabiskan untuk hal yang tak berguna. Sesampai di rumah aku hampir selalu bertengkar karena istriku melarangku untuk mabuk dan keluar malam. Aku selalu membuat istriku menangis dan selalu berkata soal perceraian.

Lambat laun aku mulai sadar. Jika terus melakukan hal yang tidak berguna dan selalu bertengkar, setelahnya hidupku terasa semakin kacau. Aku merasa keharmonisan dan rezeki terasa jauh dari hidupku.

Aku mencoba untuk membenahi diri. Setelah itu aku berfikir untuk mencari sebuah pekerjaan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga kecilku. Karena di dalam diri ini sudah mulai tumbuh rasa malu untuk meminta lagi kepada orang tua.

Kemudian aku mendapat pekerjaan di sebuah Rumah Makan. Aku bekerja pada pagi dan malam hari. Merasa hasil dari bekerja di Rumah Makan tak seberapa, aku memutuskan untuk membungkus cemilan dan dititipkan di warung-warung.

Aku juga menjual donat. Semua pekerjaan aku kerjakan. Hampir 1 hari full badanku tak dapat istirahat. Pagi bekerja, siang membungkus cemilan dan menghantar donat, sore kuliah dan malamnya bekerja lagi.

Kamu pikir aku pria hebat? Wo ya jelas tidak.. Aku ini pria cengeng. Pria yang selalu mengeluh dengan keadaan itu. Penat dan lelah usai bekerja membuat emosiku sulit untuk kukontrol. Aku sering membentak dan memarahi istriku yang hanya melakukan kesalahan kecil. Aku adalah pria yang cengeng tapi brengsek bukan?

Setelah beberapa bulan bekerja, aku merasa tak mendapatkan hasil yang cukup. Orang Bali bilang “megae sing mesari” yang artinya kerja tapi hasilnya tidak keliatan.

Aku bingung kenapa bisa begini. Sembari memikirkan hal itu, aku melihat-lihat instagram. Di sana aku membaca sebuah quotes yang berisi kata seperti ini “Kalau Kamu  Merasa Bisnismu Belum Sukses, Usahamu Belum Lancar, Doamu Belum Juga Terkabulkan. Coba Koreksi Bagaimana Kamu Memperlakukan Istrimu. Sudahkah kamu Membahagiakannya ?”.

Itu membuatku berfikir sejenak. Setelah aku pikir-pikir kata-kata itu ada benarnya.

Kemudian aku perbaiki caraku memperlakukan istriku. Aku selalu membawakan makanan kesukaannya selesai bekerja, membantunya mencuci dan membereskan rumah saat aku libur. Walaupun tak banyak yang bisa aku berikan, setidaknya dia selalu tersenyum saat aku pulang bekerja. Aku sangat merasakan hangatnya keharmonisan itu. Itu membuatku untuk lebih semangat bekerja. Apalagi dia sedang mengandung buah hatiku, aku berjanji tak akan membuatnya menangis lagi.


BACA JUGA

  • Menikah Saat Kuliah: Pupuslah Mimpi Masa Muda, tapi Kini Aku Punya Tujuan
  • Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Beberapa minggu kemudian, hari-hariku semakin membaik. Aku merasakan rezeki itu datang menghampiri keluarga kecil kami. Langganan warung yang kutitipi cemilan semakin banyak, dan memesan 2x lipat cemilan yang aku jual. Lalu donat yang kujual lumayan banyak yang membeli.

Aku tak mempercayai hal ini. Bagaimana mungkin efeknya sangat cepat aku rasakan. Aku sangat yakin, rezeki dan kemudahan ini datang karena perlakuan baikku terhadap istriku.

Untuk kamu yang bakal menjadi calon suami ataupun sudah. Aku sangat menyarankan untuk kamu perlakukan istrimu dengan baik. Tanpa kita sadari wanita yang kamu jadikan seorang istri itu mengorbankan banyak hal. Dia meninggalkan rumah dan orang tuanya, menahan sakit saat mengandung dan melahirkan, merawat anak dan kita (suami) dan banyak lagi. Maka dari itu, sayangilah istrimu. [T]

Tags: istriKeluargaPerempuansuami
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Karena Ikon Pariwisata Sejumlah Desa di Bali Nyaris ”Balik Nama”

Next Post

Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun” Karya Kambali Zutas di Bentara Budaya Bali

Ricky Mahendra

Ricky Mahendra

Mahasiswa PGSD Undiksha. Sedang merangkap jadi ayah

Related Posts

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”  Karya Kambali Zutas di Bentara Budaya Bali

Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun” Karya Kambali Zutas di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co