23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

VIRAL

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 4, 2019
in Esai
VIRAL

KOPLAK merasa belakangan ini kepalanya sering gatal-gatal. Tingkat rasa gatal itu makin hari makin keras menyerang dan rasa gatal itu bagi Koplak sudah seperti kekuasaan yang tidak lagi bisa dimusnahkan dengan beragam sampo anti ketombe. Apalagi dengan suara hiruk-pikuk yang tumpah ruah dalam ajang kontestasi Pilpres.

Rasa gatal yang menyerang kepala Koplak sudah semacam kekerasan yang masuk ke ranah privat dan sangat menganggu. Mengekang pikiran dan hati Koplak. Efeknya sebagai seorang pejabat dan berkuasa, walaupun kekuasaan Koplak kecil, bahkan nama desa tempat Koplak memimpin dan berkuasa tidak bisa ditemukan di google.

Ini menunjukkan bahwa kekuasaan Koplak antara ada dan tiada. Maklum sangat terpencil, apalagi sebagai orang paling berkuasa di desanya Koplak juga merasa jubah kekuasaan yang dililitkan di lehernya sesungguhnya adalah beban berat juga bagi Koplak.

Karena bisa dibayangkan, Koplak harus mengatur desanya dengan baik. Mengurus administrasi warga desanya yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Koplak pun tidak bisa terlalu bisa bergaya memerintah ini-itu untuk warga. Warga desanya pun sangat bangga dipimpin oleh Koplak, karena Koplaklah satu-satunya sarjana yang mau pulang ke desa.

“Kalau kau ingin jadi Kades seumur hidup kami semua setuju saja, asal urusan desa kau atur dengan benar?” suatu hari seorang warga sepuh dan disegani warga desa berkata sambil berbisik. Hampir saja jantung Koplak merosot dan pindah tempat. Berkuasa seumur hidup? Koplak bergumam.

“Kau bisa mengatur desa ini sampai kau tua dan tidak sanggup lagi. Pikirkan itu. Kalau aku yang bicara, warga desa ikut saja. Aku ini semacam pemimpin agama sama seperti para pemimpin-pemimpin agama yang ribut menggunakan agama untuk melegalkan kekuasaan. Apa salahnya aku ikut-ikutan mereka. Karena pemimpin agama dijamin tidak ada salahnya. Ucapannya adalah wahyu bagi pengikutnya. Semacam perintah yang wajib ditaati pengikutnya.” Sahut lelaki tua desa itu. Koplak terdiam. Menatap mata lelaki tua di depannya.

“Bape serius?” tanya Koplak hampir tidak terdengar.

“Serius, jika ucapan Bape laku dijual untuk kebaikan desa ini apa salahnya?”

“Tiang— saya tidak suka Bape Lingsir ikut-ikutan bergaya seperti orang-orang di luar itu. Masak agama ditenteng-tenteng dan dipakai jualan. Memangnya agama bisa ditakar. Bape ingin jadi pelingsir yang bicara semaunya? Karena Bape dianggap dituakan dan mengerti petiket Bape harus selalu didengar dan memiliki kebenaran mutlak? Bape, Bape mereka di luar itu seperti jualan kecap saja, ada kecap nomor satu dan nomor dua. Bape ini bagaimana?”

Koplak bersungut-sungut. Tidak ingin sesepuh desa yang dihormatinya tertular virus viral sok berkuasa, sok benar, dan sok paling kenal Tuhan.

“Itu yang sedang viral? Saling goyang saling menghina. Kau lihat saja di TV, hiruk-pikuk seperti suasana pasar. Lebih heboh dari pasar Badung di Denpasar.” lelaki tua itu terkekeh sambul terbatuk-batuk.

“Gaya sekali Bape tahu viral segala.” Koplak berkata pelan sambil menyodorkan segelas kopi pahit dan pisang rebus. Lelaki tua itu menganggat gelas kopi menciumnya dalam-dalam.

“Adakah kebahagiaan yang lebih nikmat ketika mencium aroma kopi yang diseduh dengan rasa tulus dan penuh cinta?” tanya lelaki tua itu datar dan menatap mata Koplak. Koplak menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja semakin menjengkelkan. Ketombe-ketombe yang tumbuh di atas kepala Koplak belum juga menyerah.

“Kalimat Bape selalu bersayap.”

“Sekarang kita harus pandai-pandai memilih kata-kata. Jika ada yang tersinggung kita bisa masuk bui.ahaya jika kau kena pasal itu!” Kata lelaki itu serius.

Aslinya Koplak tidak percaya bahwa lelaki tua yang duduk dihadapannya tidak mengenal bangku sekolah. Koplak merasa pasti Pan Manda seorang lelaki yang paham betul dunia pendidikan di Bali, karena topik apa pun yang dibicarakan dengan Pan Manda. Lelaki tua itu memiliki jawaban-jawaban yang bagi Koplak sangat cerdas dan mendalam. Juga yang menyangkut kehidupan sosial dan agama di Bali.

“Apa pendapatmu tentang kekuasaan?” Suatu hari Koplak disodorkan pertanyaan yang terdengar sederhana itu. Koplak pun terdiam. Lalu lelaki tua itu pun melanjutkan.

“Kekuasaan itu bisa seperti candu. Bisa merusak dirimu, juga orang yang kau kuasai.” Lelaki itu berkata sambil kembali mengangkat gelas kopinya menghirupnya dalam-dalam. Aroma kopi itu menguar bebas dan singgah di hidung Koplak.

Koplak terdiam. Teringat bagaimana persaingan dirinya ketika bersabung di arena Pildes. Apa pun yang dilakukan Koplak selalu diserang kubu yang ingin berkuasa dengan cara-cara tidak hormat.

Tetapi bagi Koplak kekuasaan itu adalah caranya ingin mengelola desa ini, Koplak tidak ingin menganggap kekuasaannya saat ini justru mengangkatnya jadi memiliki kasta sosial paling tinggi. Koplak tidak ingin kekuasaannya membuat dirinya menjadi priyayi-priyayi yang sok memiliki darah biru. Yang selalu ingin disembah, dihargai, dihormati tetapi tidak bisa menyembah, menghormati dan menghargai kehadiran orang lain.

Sampai saat ini Koplak masih yakin darah di dalam tubuhnya belum berubah warna. Masih merah. Sama dengan darah seluruh orang di desa ini. Juga darah seluruh manusia di kapal besar bernama, Indonesia ini.

Makanya Koplak heran Pilres jadi begitu berisik, menenteng cucu dianggap menggunakan anak  kecil untuk kampanye. Padahal sekali pun sebagai Presiden — orang nomor satu yang memiliki kekuasaan penuh dan memiliki tanggungjawab yang tidak kecil sebagai nakhoda kapal besar bernama, Indonesia.

Dia tetap seorang manusia, seorang kakek yang rindu pada cucunya. Kata orang-orang kerinduan kita pada cucu melebihi kerinduan kita pada anak. Itu kata orang, Koplak sendiri belum memiliki pengalaman memiliki cucu, jadi rindunya selalu untuk Kemitir – anak perempuan semata wayangnya.

Koplak juga tidak habis pikir, apa yang salah jika seorang kandidat presiden berjoget dan bergembira di hari Natal bersama saudara-saudaranya.

Belakangan apa yang viral itu yang jadi kebenaran. Isi media sosial penuh makian tidak sehat bagi negeri ini. Ketika isu golput muncul semua panik, padahal dua Paslon dan timnya itulah sumber semua yang terjadi di negeri ini. Mereka ikut menyumbangkan kegaduhan viral terhadap naiknya ketidakpercayaan pemilih pada mereka.

“Harusnya mereka berdua dan timnya berpikir sedikitlah. Bertarunglah memikirkan visi-misi masa depan Indonesia. Isu lingkungan, isu teknologi, dan isu mau dibawa kemana generasi milineal ini. Ini kok malah rebutan jadi tokoh viral!” Pan Manda menatap mata Koplak sambil meneguk kopi di depannya.

Viral? Apakah kalau sudah viral semua persoalan negeri ini bisa tuntas? Hidup jadi lebih baik? Beragam bencana kabur? Koplak menggaruk kepalanya. Belum juga hilang ketombe sialan ini! (T)

Tags: desagaya hidupmedia sosialrenungan
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Tampang Boyolali Menginap di Villa

Next Post

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co