2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melalui Kesunyian Suara Bisa Terdengar – Bersama Wanggi Hoed di Parade Teater Canasta 2018

Satyawati by Satyawati
November 3, 2018
in Khas
Melalui Kesunyian Suara Bisa Terdengar – Bersama Wanggi Hoed di Parade Teater Canasta 2018

Wanggi Hoed (Instagram)

JUSTRU suara yang keras itu lebih sering tidak terdengar dan bahkan mungkin sengaja untuk tidak didengar. Melalui kesunyian, Wanggi Hoed menyampaikan berbagai persoalan yang dirasa meresahkan. Dan justru itu lebih kedengaran hingga gaungnya terus menggema.

Wanggi Hoed menyampaikan berbagai persoalan itu dalam diskusi di hari kedua Parade Teater Canasta 2018 di Canasta Creative Space, Denpasar, 30 Oktober 2018.

Ketika itu, saya baru saja sampai di Canasta Creative Space, ternyata diskusi sore baru saja bubar. Memang saya datang agak sedikit terlalu cepat karena saya pikir diskusi malam akan segera dibabat. Diskusi malam itu memang saya tunggu: tentang proses kreatif bersama Wanggi Hoed.

Sekitar jam 20.00, acara diskusi baru saja dibuka. Pembukaan diskusi ini diawali dengan penjelasan tentang latar belakang Mas Wanggi, tentang berbagai hal yang sudah dilakukan dan dicapai. Nggak berlama-lama, Mas Wanggi pun menampilkan film sunyi yang ia buat berkolaborasi dengan temannya.

Klip ini kira-kira durasinya 15 menit. Nggak terlalu panjang. Tapi dampak setelah menontonnya yang panjang. Mas Wanggi menceritakan latar belakang film ini dibuat adalah respon terhadap isu kesehatan mental yang belakangan memang sedang bergema. Dalam film sunyi ini, Mas Wanggi menampilkan gerakan-gerakan yang memperlihatkan detail tubuh dalam mengekspresikan sesuatu. Ketika gerakan dalam film seperti cemas, saya pun tanpa sadar juga ikut merasa cemas.

Setelah menonton film itu, akhirnya sharing session pun dimulai. Awalnya, Mas Wanggi menceritakan bagaimana ia memulai perjalanannya dengan melakukan pantomim untuk menyampaikan pesan-pesan yang meresahkan. Mas Wanggi juga terutama beraksi di Aksi Kamisan, antara Jakarta dan Bandung. Ia melakukan aksinya no matter what, mau hujan atau badai pun ia tetap melakukannya. Tidak ada yang menonton pun ia akan tetap melakukannya. Inilah perjalanan menyampaikan pesan agar bisa terdengar.

Sebuah usaha tentu tidak ada yang sia-sia. Berkat perjuangannya, ia justru banyak mendapatkan simpati dan tempat di masyarakat yang merasa pesan ini perlu disampaikan. Banyak yang mendengar pesannya ini, walaupun Mas Wanggi menyampaikannya melalui kesunyian.

Contohnya, ia pernah menampilkan pertunjukan, “Sehat itu Milik Siapa?” yang pada saat itu bertepatan dengan Hari Gizi Nasional. Ia melakukannya di Gedung Sate, Bandung. Melalui pertunjukan itu, ternyata banyak media yang meliput hingga Departemen Kesehatan pun mengkliping fotonya.

“Bayangin, ngapain coba salah satu departeman ngliping foto saya, muka saya? Ya, kalau nggak untuk bahan evaluasi, untuk apa lagi? Masa iya, cuma karena suka sama saya. Kan, nggak mungkin,” gitu kata Mas Wanggi. Ya, pesan yang ingin Mas Wanggi sampaikan itu sudah terdengar hingga di ujung puncak. Inilah yang saya maksud usaha tidak ada yang sia-sia.

Kemudian, Mas Wanggi juga mengatakan bahwa, “Ya, satu-satunya cara untuk beraksi adalah buatlah dan lakukanlah.” Memang tidak ada cara lain jika kita ingin melakukan sesuatu. Ya, lakukan saja, nggak perlu banyak nanti-nati. Mas Wanggi melanjutkan, “Bisa isu tentang apa saja. Misalnya, kamu lihat taman di dekat rumahmu rusak, suarakan! Kamu lihat pohon di daerahmu rusak, suarakan!”

Ia menekankan bahwa kita perlu melakukan sesuatu sesuai dengan jalur kita masing-masing. Nggak perlu mengangkat isu yang “tinggi”, angkat apa saja yang ada di sekitar. Nggak perlu juga memikirkan jelek atau bagus, atau ada yang lihat atau tidak. Yang penting, lakukan saja.

 

BACA JUGA

  • Hal-hal Kecil yang Teater? – Pertanyaan di Parade Teater Canasta 2018
  • Tiga Lapis Kesedihan Teater Kalangan – Hari Pertama Parade Teater Canasta 2018

 

Diskusi ini berubah menjadi obrolan yang lumayan seru karena pembawaan Mas Wanggi yang energik dan ekspresif. Ditambah lagi, ia juga bercerita tentang pengalamannya digiring oleh intel.

“Pas saya baru datang, saya bingung, nih. Kok mukanya nggak ada yang saya kenal, ya? Tapi saya tetep masuk aja, nyelonong boy gitu,” ketika saya mendengar cerita ini antara takjub dan bingung. Sebab, saya hanya pernah baca cerita-cerita ini di cerpen atau novel saja.

“Saya udah feeling, nih. Kayak ada yang nggak beres. Yauda saya keluar lagi aja. Eh tiba-tiba ada bapak-bapak nyegat saya, terus tiba-tiba mobil Alphard dateng,” Mas Wanggi menceritakan pengalaman ini dengan biasa-biasa saja, seperti bukan sesuatu yang luar biasa. “Pas saya lihat mobil Alphard dateng, saya seneng sebenernya. Alphard, lho! Tapi, ya, di dalem saya ditanya-tanya.” Ia melanjutkan bahwa ia ditanya kenapa ia menyebabkan keributan dan sebagainya.

Cerita Mas Wanggi pun berlanjut ke cerita yang lain. Salah satu hal yang saya ingat dari perkataan Mas Wanggi adalah, “Kita menjadi bola-bola kecil aja, tapi dampaknya bisa ke mana-mana.” Begitu kira-kira katanya. Saya setuju banget, sih. Sering kali yang besar-besar itu justru tidak memberikan dampak apa-apa. Justru pesan yang ingin disampaikan sering kali tersamar dengan pesan-pesan “bawaan” lainnya. Mas Wanggi menambahkan juga tidak perlu menjadi seorang maestro yang tinggi, atau apalah yang tinggi-tinggi. Semakin tinggi kita berada, semakin kencang pula angin menerpa. Perlu balik ke ajaran padi itu, semakin berisi semakin merunduk.

Saya semakin sadar bahwa ketika ingin didengar dan terdengar, bukan berarti kita harus menaikkan volume suara kita, teriak sekeras-kerasnya. Sebab, dengan berbagai hal bisa dilakukan untuk bisa menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan. Caranya pun bisa bermacam-macam. Nggak melulu harus menggunakan caranya sama dari waktu ke waktu. Kalau kata Mas Wanggi, “Hellooo, ini udah tahun berapa. Masih aja duduk di bawah pohon menunggu hujan dan panas.”

Obrolan bersama Mas Wanggi tidak hanya terjadi ketika acara diskusi saja. Setelahnya, saya dan Mas Wanggi ngobrol sedikit tentang bahasa Isyarat dan pantomim. Saya mengatakan bahwa pantomim itu bukan bahasa, tapi gestur dan sebaliknya, bahasa Isyarat itu, ya, bahasa. Seperti bahasa Bali, Jawa dan lainnya.

Mas Wanggi pun setuju dengan pernyataan saya. Ia bilang, “Kalau di pantomim, misalnya mau gerakan bapak, kan bisa kayak gini, nih.” Ia pun mencontohkan gestur bertubuh besar dengan gerakan-gerakan yang menggambarkan bapak. “Tapi, kalau di bahasa Isyarat kan ga bisa. Kalau bapak gini, ya harus gini. Nggak bisa ganti-ganti.” Mas Wanggi juga menambahkan bahwa pantomim itu bebas sebab terbangun dari imajinasi. Imajinasi, kan, nggak terbatas.

Ya, obrolan perlu berhenti sebab malam juga perlu berhenti. Semoga akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya!

Melalui kesunyian, suara justru terdengar. (T)

Tags: filmKreativitasParade Teater Canastaproses kreatif
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Lapis Kesedihan Teater Kalangan – Hari Pertama Parade Teater Canasta 2018

Next Post

Punya Tampang Boyolali, Boleh Saja “Ndeso” Tapi Sering “Bejo”

Satyawati

Satyawati

Biasa dipanggil Tya. Mahasiswa linguistik Unud yang cukup aktif menulis di blog pribadinya: lihat-dengar.blogspot.com

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Punya Tampang Boyolali, Boleh Saja “Ndeso” Tapi Sering “Bejo”

Punya Tampang Boyolali, Boleh Saja “Ndeso” Tapi Sering “Bejo”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co