12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melalui Kesunyian Suara Bisa Terdengar – Bersama Wanggi Hoed di Parade Teater Canasta 2018

Satyawati by Satyawati
November 3, 2018
in Khas
Melalui Kesunyian Suara Bisa Terdengar – Bersama Wanggi Hoed di Parade Teater Canasta 2018

Wanggi Hoed (Instagram)

JUSTRU suara yang keras itu lebih sering tidak terdengar dan bahkan mungkin sengaja untuk tidak didengar. Melalui kesunyian, Wanggi Hoed menyampaikan berbagai persoalan yang dirasa meresahkan. Dan justru itu lebih kedengaran hingga gaungnya terus menggema.

Wanggi Hoed menyampaikan berbagai persoalan itu dalam diskusi di hari kedua Parade Teater Canasta 2018 di Canasta Creative Space, Denpasar, 30 Oktober 2018.

Ketika itu, saya baru saja sampai di Canasta Creative Space, ternyata diskusi sore baru saja bubar. Memang saya datang agak sedikit terlalu cepat karena saya pikir diskusi malam akan segera dibabat. Diskusi malam itu memang saya tunggu: tentang proses kreatif bersama Wanggi Hoed.

Sekitar jam 20.00, acara diskusi baru saja dibuka. Pembukaan diskusi ini diawali dengan penjelasan tentang latar belakang Mas Wanggi, tentang berbagai hal yang sudah dilakukan dan dicapai. Nggak berlama-lama, Mas Wanggi pun menampilkan film sunyi yang ia buat berkolaborasi dengan temannya.

Klip ini kira-kira durasinya 15 menit. Nggak terlalu panjang. Tapi dampak setelah menontonnya yang panjang. Mas Wanggi menceritakan latar belakang film ini dibuat adalah respon terhadap isu kesehatan mental yang belakangan memang sedang bergema. Dalam film sunyi ini, Mas Wanggi menampilkan gerakan-gerakan yang memperlihatkan detail tubuh dalam mengekspresikan sesuatu. Ketika gerakan dalam film seperti cemas, saya pun tanpa sadar juga ikut merasa cemas.

Setelah menonton film itu, akhirnya sharing session pun dimulai. Awalnya, Mas Wanggi menceritakan bagaimana ia memulai perjalanannya dengan melakukan pantomim untuk menyampaikan pesan-pesan yang meresahkan. Mas Wanggi juga terutama beraksi di Aksi Kamisan, antara Jakarta dan Bandung. Ia melakukan aksinya no matter what, mau hujan atau badai pun ia tetap melakukannya. Tidak ada yang menonton pun ia akan tetap melakukannya. Inilah perjalanan menyampaikan pesan agar bisa terdengar.

Sebuah usaha tentu tidak ada yang sia-sia. Berkat perjuangannya, ia justru banyak mendapatkan simpati dan tempat di masyarakat yang merasa pesan ini perlu disampaikan. Banyak yang mendengar pesannya ini, walaupun Mas Wanggi menyampaikannya melalui kesunyian.

Contohnya, ia pernah menampilkan pertunjukan, “Sehat itu Milik Siapa?” yang pada saat itu bertepatan dengan Hari Gizi Nasional. Ia melakukannya di Gedung Sate, Bandung. Melalui pertunjukan itu, ternyata banyak media yang meliput hingga Departemen Kesehatan pun mengkliping fotonya.

“Bayangin, ngapain coba salah satu departeman ngliping foto saya, muka saya? Ya, kalau nggak untuk bahan evaluasi, untuk apa lagi? Masa iya, cuma karena suka sama saya. Kan, nggak mungkin,” gitu kata Mas Wanggi. Ya, pesan yang ingin Mas Wanggi sampaikan itu sudah terdengar hingga di ujung puncak. Inilah yang saya maksud usaha tidak ada yang sia-sia.

Kemudian, Mas Wanggi juga mengatakan bahwa, “Ya, satu-satunya cara untuk beraksi adalah buatlah dan lakukanlah.” Memang tidak ada cara lain jika kita ingin melakukan sesuatu. Ya, lakukan saja, nggak perlu banyak nanti-nati. Mas Wanggi melanjutkan, “Bisa isu tentang apa saja. Misalnya, kamu lihat taman di dekat rumahmu rusak, suarakan! Kamu lihat pohon di daerahmu rusak, suarakan!”

Ia menekankan bahwa kita perlu melakukan sesuatu sesuai dengan jalur kita masing-masing. Nggak perlu mengangkat isu yang “tinggi”, angkat apa saja yang ada di sekitar. Nggak perlu juga memikirkan jelek atau bagus, atau ada yang lihat atau tidak. Yang penting, lakukan saja.

 

BACA JUGA

  • Hal-hal Kecil yang Teater? – Pertanyaan di Parade Teater Canasta 2018
  • Tiga Lapis Kesedihan Teater Kalangan – Hari Pertama Parade Teater Canasta 2018

 

Diskusi ini berubah menjadi obrolan yang lumayan seru karena pembawaan Mas Wanggi yang energik dan ekspresif. Ditambah lagi, ia juga bercerita tentang pengalamannya digiring oleh intel.

“Pas saya baru datang, saya bingung, nih. Kok mukanya nggak ada yang saya kenal, ya? Tapi saya tetep masuk aja, nyelonong boy gitu,” ketika saya mendengar cerita ini antara takjub dan bingung. Sebab, saya hanya pernah baca cerita-cerita ini di cerpen atau novel saja.

“Saya udah feeling, nih. Kayak ada yang nggak beres. Yauda saya keluar lagi aja. Eh tiba-tiba ada bapak-bapak nyegat saya, terus tiba-tiba mobil Alphard dateng,” Mas Wanggi menceritakan pengalaman ini dengan biasa-biasa saja, seperti bukan sesuatu yang luar biasa. “Pas saya lihat mobil Alphard dateng, saya seneng sebenernya. Alphard, lho! Tapi, ya, di dalem saya ditanya-tanya.” Ia melanjutkan bahwa ia ditanya kenapa ia menyebabkan keributan dan sebagainya.

Cerita Mas Wanggi pun berlanjut ke cerita yang lain. Salah satu hal yang saya ingat dari perkataan Mas Wanggi adalah, “Kita menjadi bola-bola kecil aja, tapi dampaknya bisa ke mana-mana.” Begitu kira-kira katanya. Saya setuju banget, sih. Sering kali yang besar-besar itu justru tidak memberikan dampak apa-apa. Justru pesan yang ingin disampaikan sering kali tersamar dengan pesan-pesan “bawaan” lainnya. Mas Wanggi menambahkan juga tidak perlu menjadi seorang maestro yang tinggi, atau apalah yang tinggi-tinggi. Semakin tinggi kita berada, semakin kencang pula angin menerpa. Perlu balik ke ajaran padi itu, semakin berisi semakin merunduk.

Saya semakin sadar bahwa ketika ingin didengar dan terdengar, bukan berarti kita harus menaikkan volume suara kita, teriak sekeras-kerasnya. Sebab, dengan berbagai hal bisa dilakukan untuk bisa menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan. Caranya pun bisa bermacam-macam. Nggak melulu harus menggunakan caranya sama dari waktu ke waktu. Kalau kata Mas Wanggi, “Hellooo, ini udah tahun berapa. Masih aja duduk di bawah pohon menunggu hujan dan panas.”

Obrolan bersama Mas Wanggi tidak hanya terjadi ketika acara diskusi saja. Setelahnya, saya dan Mas Wanggi ngobrol sedikit tentang bahasa Isyarat dan pantomim. Saya mengatakan bahwa pantomim itu bukan bahasa, tapi gestur dan sebaliknya, bahasa Isyarat itu, ya, bahasa. Seperti bahasa Bali, Jawa dan lainnya.

Mas Wanggi pun setuju dengan pernyataan saya. Ia bilang, “Kalau di pantomim, misalnya mau gerakan bapak, kan bisa kayak gini, nih.” Ia pun mencontohkan gestur bertubuh besar dengan gerakan-gerakan yang menggambarkan bapak. “Tapi, kalau di bahasa Isyarat kan ga bisa. Kalau bapak gini, ya harus gini. Nggak bisa ganti-ganti.” Mas Wanggi juga menambahkan bahwa pantomim itu bebas sebab terbangun dari imajinasi. Imajinasi, kan, nggak terbatas.

Ya, obrolan perlu berhenti sebab malam juga perlu berhenti. Semoga akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya!

Melalui kesunyian, suara justru terdengar. (T)

Tags: filmKreativitasParade Teater Canastaproses kreatif
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Lapis Kesedihan Teater Kalangan – Hari Pertama Parade Teater Canasta 2018

Next Post

Punya Tampang Boyolali, Boleh Saja “Ndeso” Tapi Sering “Bejo”

Satyawati

Satyawati

Biasa dipanggil Tya. Mahasiswa linguistik Unud yang cukup aktif menulis di blog pribadinya: lihat-dengar.blogspot.com

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Punya Tampang Boyolali, Boleh Saja “Ndeso” Tapi Sering “Bejo”

Punya Tampang Boyolali, Boleh Saja “Ndeso” Tapi Sering “Bejo”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co