24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mobile Legends” dan Ihwal Remeh-temeh yang Sangat Mengkhawatirkan

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 7, 2018
in Esai
“Mobile Legends” dan Ihwal Remeh-temeh yang Sangat Mengkhawatirkan

BERANGKAT dari beberapa minggu lalu ketika saya sempat dibuat tersihir dan tertarik pada sebuah game android. Awalnya agak risih juga melihat sejumlah teman saya yang terus-terusan bermain game. Lambat laun, setelah setiap hari bahkan setiap beberapa jam selalu mendengarkan nada game tersebut, akhirnya saya mencoba-coba.

Setelah mengerti dan semakin lihai memencet tombol-tombol navigasi akhirnya saya pun ketagihan bermain game itu. Dikarenakan smartphone yang kurang memadai, akhirnya demi memuaskan hasrat nge-game, gadget teman saya pun jadi korban. Sampai-sampai bila dihitung dan diprosentasekan terkait pemakaian, pemilik (teman saya) akan mendapat angka lebih sedikit daripada si peminjam (saya sendiri).

Pada akhirnya, setelah teman yang gadgetnya biasa saya pinjam untuk nge-game itu pulang, saya seperti merasakan gelisah. Hampir mirip perokok berat yang kehabisan rokok dan lagi kebelet ingin rokokan. Benar-benar sakau. Ambisi untuk meng-upgrade smartphone sangat menggelora di hati saya. Namun nasib tidak mengizinkannya. Dengan segenap kekecewaan dan iba, saya pendam keinginan itu dalam kantong tipis dompet saya.

Bukan hanya Mobile Legends juga sebenarnya, beberapa game kerap membuat manusia kecanduan bermain smartphone. Sempat pula Clash of Clans viral di tengah para pengguna gadget. Berbagai ulasan tentang tips and trick memenuhi semesta google perihal cara bermain game tersebut. Begitu pula youtube yang tak mau kalah menampilkan tayangan-tayangan game di beranda awal semakin membuat para gamers kecanduan dan bagi yang tidak tahu jadi semakin penasaran. Manusia menjadi makhluk pemuja game. Sebab melalui game tersebut, hasrat untuk memenuhi kebahagiaan bisa tercapai. Belum lagi sejumlah idealisme ala gamers yang membuat bermain game seolah menjadi kegiatan yang penuh manfaat dan mengesankan.

Barangkali, bila Karl Marx hidup pada zaman ini, maka yang dia legitimasikan sebagai “candu” bukan lagi agama, melainkan game. Game menjadi jalan terakhir dan pemasrahan diri bagi segenap kepenatan dan kegalauan manusia. Atau mungkin Marx akan mengulas fenomena ini dengan penafsirannya perihal teori keterasingan (alienasi), di mana manusia terasing dengan ciptaannya sendiri, yang pada konteks ini adalah game. Sehingga secara tidak langsung dan mau tidak mau, mereka seperti memuja dan mengagung-agungkan game.

Berapa banyak orang yang rela menghabiskan waktunya bahkan rela mengeluarkan uang untuk keberlangsungan karir game-nya. Tahun lalu bahkan sempat viral beberapa pemberitaan perihal game Pokemon yang miris hampir membuat banyak bencana. Sejumlah orang bahkan diberitakan meninggal karena ambisi untuk mendapatkan pokemon. Padahal yang mereka cari itu hanya terdapat di layar hp, tidak lebih. Dimakan juga tidak bisa. Apalagi membuat manusia masuk surga. Sangat utopis!

Sedikit merasa munafik juga menulis artikel ini ketika yang dirasa-rasakan bahwa saya juga suka nge-game dan dengan seolah paling lantang meneriakkan bahwa bermain game adalah kegiatan pragmatis tiada guna. Namun bagaimana lagi ketika kenyataan yang ada memanglah seperti ini. Manusia (termasuk saya) sadar sesadar-sadarnya bahwa bermain game itu tidak bermanfaat – paling-paling ada tapi sedikit – namun mereka terus melakukannya bahkan menganggap game itu adalah aktifitas utama mereka. Sampai-sampai makan yang menjadi kebutuhan utama hidup dinomorduakan.

Game hanyalah salah satu bagian kecil dari lingkaran besar yang banyak merubah hidup manusia melalui kecanggihan teknologi. Banyak hal lain yang juga membatasi pandangan manusia yang berkutat hanya pada kotak kecil yang bersinar. Mereka kemudian enggan dan apatis terhadap dunia luar. Mbak Maya seperti terlihat lebih anggun daripada Buk Nyata.

Zaman telah memasuki era krisis emosional dikarenakan teknologi informasi yang semakin canggih dan luar biasa pesat pekembangannya. Emosi-emosi di dunia maya cukup diwakili dengan gambaran emoji. Tersenyum, melet, terbahak, dan lainnya. Sampai kemudian muncul pemberitaan hari emoji internasional. Menurut saya hal itu merupakan puncak dari kekolotan dan konserfatifme manusia dalam hal emosi. Emosi yang menjadi unsur alamiah kemanusiaan mengalami pengkerdilan juga distorsi makna dan kemudian hanya menjadi sebatas gambaran simbolisme semata.

Satu game heboh pada masanya, kemudian game lain tumbuh menumbangkan keviralan game-game lainnya. Game seolah pahlawan hero yang muncul untuk menyelamatkan kemurungan manusia. Tanpa iklan dan tanpa spanduk-spanduk promosi yang nagkring di warung-arung pojok suatu game dengan sendirinya banyak digandrungi orang-orang, apa lagi bila memunculkan iklan di televisi.

Game juga menjadi lahan alteratif bagi mereka yang belum menemukan kenikmatan dalam aplikasi chat semacam whatsapp. Entah sebab karena “kejombloan” atau memang karena tidak suka. Pada intinya, manusia selalu menemukan sisi menyenangkan dalam menggunakan smartphone. Tanpa perlu adanya motivator dan acara-acara inspiratif, pemain game pun akan dengan sendirinya tekun dan gigih membukanya setiap waktu.

Pada akhirnya saya akan memohon ampun pada tuhan dan segenap jajaran malaikat pencatat amal buruk karena kemunafikan saya dalam tulisan ini. Jujur, saya masih menyimpan file apk beberapa game yang saya suka, termasuk Mobile Legends, Clash of Clans, Clash Royal, dan banyak nama-nama game lain di memori smartphone saya agar kelak bila sudah kebelet pengen main tinggal install tanpa buang-buang kuota untuk download lagi di google play store. Namun terkadang, untuk menyadarkan diri sendiri lebih-lebih orang lain, sikap muka dua memang perlu direalisasikan. Sekali lagi, maafkan kami Tuhan.(T)

Tags: gamepermainansmartphone
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Makan Duren di Buleleng: Promosi Buah Tempatan, Bolehlah Nyontek Upin-Ipin

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus# Menimbang Bahasa Bali Sebagai MKDU di Perguruan Tinggi

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Harian Sugi Lanus# Menimbang Bahasa Bali Sebagai MKDU di Perguruan Tinggi

Catatan Harian Sugi Lanus# Menimbang Bahasa Bali Sebagai MKDU di Perguruan Tinggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co