1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
in Khas
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

Wayan Tumtum menjaga kiosnya yang sepi pengunjung│Foto: tatkala.co/Dede

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!”

Seruan itu begitu melekat dalam ingatan Wayan Putra (23). Ia mendengarnya setiap kali menyusuri Pasar Seni Sukawati bersama ibunya semasa kecil. Para pedagang akan bersiap menyambut setiap pengunjung dengan kain Bali di tangan dan seruan yang terdengar berulang setiap hari. Kadang, ada juga pedagang acung yang menghampiri, menawarkan suvenir setengah memaksa. Meski hiruk-pikuk itu tampak membosankan, bagi Wayan, justru itulah yang membuat pasar hidup, ada keramaian dan interaksi.

Dulu, Pasar Seni Sukawati berdiri tepat di depan Pasar Umum Sukawati. Lokasinya strategis, warga bisa membeli kebutuhan pokok, kemudian berburu barang seni. Rombongan wisatawan kerap berhenti, menyaksikan hiruk-pikuk kehidupan yang bergerak dinamis di antara dua pasar itu.

Kini, semua terasa jauh, Pasar Seni Sukawati yang dulu Wayan kenal telah berubah wajah. Wayan kini datang sebagai orang dewasa, nyaris tak mengenali tempat yang dulu begitu hidup dalam memorinya. Tembok-tembok beraroma cat segar, lift mengangkat pelan pengunjung yang tak banyak, dan udara dingin dari pendingin ruangan menyelimuti setiap sudut gedung yang megah. Riuh tawar-menawar tak terdengar seperti dulu. Hanya suara langkah kaki, bersahutan dalam lorong-lorong lengang.

Pasar Seni Sukawati Blok C (dahulunya pasar umum)│Foto: tatkala.co/Dede

Kios-kios lengang sepi pengunjung│Foto: tatkala.co/Dede

Di salah satu kios Blok B, seorang perempuan paruh baya duduk tenang. Di sekelilingnya, kain-kain Bali tertata rapi. Wayan berhenti sejenak, di matanya, kios itu tak hanya menjual kain, tapi juga kenangan. Perempuan itu bernama Wayan Tumtum, sejak 1985 setia menjaga kios di Pasar Seni Sukawati. “Sekarang memang lebih nyaman, tapi sepi. Kalau dulu ramai, sekarang sudah kalah sama pusat oleh-oleh,” ucapnya lirih, menghela napas.

Megah yang Merenggut Riuh

Revitalisasi besar-besaran sejak 2020 memang menciptakan bangunan yang megah dan mencolok. Tapi keberhasilan fisik itu seakan menghapus denyut kehidupan. Pasar Umum Sukawati pun kena imbasnya. Para pedagang kehilangan tempat, langganan beralih ke pasar lain. Dikutip dari BaliPost.com, beberapa pedagang dipindahkan ke lokasi baru, di Banjar Gelumpang, di atas tanah Desa Sukawati. Pemerintah menganggarkan Rp 10 miliar untuk relokasi itu. Tapi tak semua pedagang menerima. Sebagian memilih jalan sendiri: berpencar, bertahan, dan menyesuaikan.

“Dulu di sana ramai, bertemu pelanggan setia. Sekarang, rasanya seperti kehilangan rumah,” ujar seorang pedagang yang dulu berjualan di pasar umum, kini di pinggir jalan.

Wayan kembali mengingat suasana pagi di pasar umum. Bau bumbu dapur, suara klakson mikrolet, dan teriakan para pedagang saling bersahutan. Petani datang membawa hasil panen, ibu-ibu memilih sayur sambil menawar, anak-anak berlarian membawa jajanan. Ketika mikrolet hilir-mudik, sopirnya berseloroh, membuat penumpang tertawa:

“Cepetan, Bu! Nanti nggak kebagian kursi!” 

“Yang dompetnya tebal, bayar lebih ya. Biar saya bisa beli bakso juga!”

Candaan sederhana itu bisa membuat siapa pun tersenyum—menyuntikkan semangat dalam rutinitas pagi yang padat.

Pedagang pasar umum meluber ke kaki lima│Foto: tatkala.co/Dede

Sejak kabar revitalisasi itu datang, Wayan menyaksikan satu per satu kios mulai tutup bersiap pindah, mikrolet mulai lengang, pedagang berpencar. Kini, semua tinggal kenangan. Sebagian pedagang tampak berjualan di pinggir jalan. Sebagian lain, menghilang tanpa jejak. Kini, yang berdiri adalah bangunan megah bernama Pasar Seni Sukawati.

Kepala Pasar Umum Sukawati, AA Raka, membenarkan adanya perubahan tersebut. Ia menyebutkan bahwa pendekatan telah dilakukan kepada ratusan pedagang. “Awalnya sempat ada pro-kontra. Sekarang semua sudah menerima,” ujarnya, dikutip dari NusaBali.

AA Raka juga menambahkan bahwa pedagang yang ingin tetap berjualan di gedung baru harus mengganti jenis dagangan. “Mereka harus menjual kerajinan atau barang seni, seperti pedagang di Pasar Seni Sukawati,” katanya.

Tiga gedung baru kini berdiri: Blok A, B, dan C. Rp 160 miliar digelontorkan demi wajah baru yang megah, fasilitasnya lengkap: parkir bawah tanah, lift, dan pendingin ruangan. Sekarang, di setiap lantai, para pedagang wajib menjual barang sesuai kategori. Lantai dasar menjual lukisan dan aneka kerajinan, lantai satu hingga tiga menjual kain dan pakaian. Tak ada lagi keberagaman, tak ada kejutan di setiap belokan kios.

Pasar Seni Sukawati Blok B│Foto: tatkala.co/Dede

Kios-kios lengang sepi pengunjung│Foto: tatkala.co/Dede

“Sekarang harus sama. Dulu bisa campur-campur, pembeli senang bisa pilih-pilih,” keluh Made, pedagang kain di Blok A, yang kini hanya membawa pulang tak sampai Rp 100 ribu sehari.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada 2024, sebanyak 72,3 persen wisatawan domestik lebih memilih pusat oleh-oleh modern ketimbang pasar tradisional atau pasar seni.

“Sekarang terlalu steril. Wisatawan datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk merasakan suasana pasar yang khas. Ketika pasar terasa seperti mall, daya tariknya luntur,” ucap Ida Bagus Raka Suardana, Guru besar FEB, Undiknas Denpasar, dikutip dari tirto.id. Di sisi lain, pusat oleh-oleh modern menjulang, tersebar di mana-mana. Belanja lebih cepat, praktis, tak ada drama tawar-menawar, semua berlabel harga. Selain itu, situs belanja daring memungkinkan siapa pun membeli suvenir dari rumah. Tak perlu berkeringat, tak perlu basa-basi.

“Sekarang turis lebih hemat. Banyak potong pengeluaran, termasuk pengeluaran untuk oleh-oleh,” ujar Jro Gde Sudibya, pengamat ekonomi Bali, dikutip dari tirto.id. Menurut Sudibya, pariwisata masa kini lebih berbasis pengalaman dan konten media sosial. Bukan oleh-oleh yang dibawa pulang, tapi foto-foto.

Pasar Seni Sukawati Blok A│Foto: tatkala.co/Dede

Kini, banyak agen pariwisata bekerja sama dengan pusat oleh-oleh modern—tempat yang dianggap lebih praktis, terorganisir, dan penuh komisi. Pasar Seni Sukawati perlahan tersingkir dari rute kunjungan. Untuk itu, kondisi tersebut barangkali bukan semata salah pasar yang terlalu megah. Bisa jadi karena keliru dalam membaca arah, strategi promosi, dan pemasaran yang tertinggal. Pasar Seni Sukawati tak bisa hanya menadah remah dari pesta yang tak lagi mengundang, karena pasar yang menunggu tanpa bergerak akan dilupakan, ditinggalkan.

Ya, Pasar Seni Sukawati kerap hanya dilewati. Kalaupun disinggahi, kebanyakan hanya CLBK (Cuma Lihat Beli Kagak). Di tengah situasi yang kian menghimpit, masih ada yang bertahan, seperti Tumtum. Saban pagi ia membuka kios, menyusun kain, dan menata cerita. Ia percaya, suatu hari nanti, lorong-lorong lengang ini akan kembali bergema. Riuh tawar-menawar kembali terdengar, dan Pasar Seni Sukawati tak lagi hanya megah, tapi juga hidup. Sementara Wayan terus bertanya dalam hati, “Akankah pasar ini hidup kembali?”[T]

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Pasar Seni Sukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

Next Post

Manusia Purba di Kota Denpasar

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Manusia Purba di Kota Denpasar

Manusia Purba di Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co