30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

Dini Nastiti Wardani by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
in Opini
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

Ilustrasi diolah dari Pinterest

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada satuan pendidikan negeri—mulai SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi negeri—dapat digratiskan. Presiden bahkan menyatakan akan segera membahasnya dalam rapat terbatas.

Pernyataan tersebut membawa satu pesan penting, bahwa pendidikan memang merupakan hak bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya mudah dijangkau oleh keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi saja. Namun, di balik gagasan sekolah gratis, juga ada pertanyaan yang jauh lebih besar, yakni ketika biaya pendidikan dibuat gratis, apakah persoalan pendidikan Indonesia otomatis selesai? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.

Gratis adalah persoalan akses. Sementara pendidikan bermutu adalah persoalan proses, kurikulum, guru, sarana, teknologi, lingkungan belajar, evaluasi dan hasil belajar.

Karena itu, sekolah gratis seharusnya tidak berhenti pada pembebasan biaya. Jangan sampai negara berhasil membuat sekolah tanpa biaya, tetapi anak-anak tetap mendapatkan pengalaman belajar yang tidak merata.

Sekolah Gratis dan Persoalan Pendidikan Hari Ini

Jika kita sering membaca, mendengar, atau melihat berita di media nasional, Indonesia masih menghadapi persoalan kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Ada sekolah dengan ruang belajar yang baik, perangkat digital, akses internet dan guru yang relatif lengkap. Di sisi lain, masih ada sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana, sumber belajar, bahkan akses teknologi.

Pemerintah sendiri telah menjalankan berbagai program untuk memperbaiki kondisi tersebut. Dalam laporan pemerintah pada Agustus 2026, sebanyak 71.744 sekolah disebut telah diperbaiki pada 2026. Pemerintah juga memperluas pemanfaatan teknologi pembelajaran melalui Interactive Flat Panel (IFP).

Artinya, persoalan pendidikan sebenarnya bukan hanya soal berapa rupiah yang dibayar orang tua, tetapi juga apa yang diterima peserta didik sebagai pengalaman belajar.

Sekolah gratis akan kehilangan maknanya jika orang tua tidak membayar uang sekolah, tetapi anak tetap menghadapi keterbatasan buku, laboratorium, perangkat pembelajaran, kualitas guru, koneksi internet atau pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan.

Dengan kata lain, gratis tidak boleh diterjemahkan sebagai murahnya pendidikan. Gratis harus berarti negara menjamin hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu.

Kurikulum Jangan Ikut “Gratis”

Di sinilah persoalan kurikulum menjadi penting. Kurikulum bukan sekadar daftar mata pelajaran. Kurikulum menentukan kompetensi apa yang harus dimiliki peserta didik, pengalaman belajar seperti apa yang diberikan, bagaimana guru mengajar, bagaimana peserta didik dinilai, dan bagaimana sekolah merespons perubahan zaman.

Indonesia sedang mendorong Pembelajaran Mendalam atau deep learning. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diarahkan pada pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan relevan dengan tantangan nyata. Peserta didik tidak cukup hanya menguasai informasi, tetapi perlu mampu berpikir mendalam, memecahkan masalah, berkolaborasi dan beradaptasi. Tentu, ini menjadi tantangan besar.

Sebab, pendidikan gratis tidak akan banyak berarti apabila proses pembelajarannya masih membuat siswa sekadar menghafal, mengejar nilai, dan menyelesaikan tugas.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya, “Apakah sekolah gratis?” Tapi lebih jauh dari itu, pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang dipelajari anak? Bagaimana anak belajar? Mengapa anak mempelajarinya? Dan apakah pengetahuan itu dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata?”

Persoalan ini relevan dengan kajian Dr. H. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd., akademisi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Salah satu kajiannya pada 2026 membahas peran kurikulum dalam membangun resiliensi akademik mahasiswa di era digital. Ia juga meneliti kesiapan pedagogis guru dalam menghadapi fleksibilitas kurikulum serta hubungan problem-based learning dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital.

Gagasan tersebut memberi pelajaran penting dalam membaca program sekolah gratis, yakni akses pendidikan dan kualitas pembelajaran harus berjalan bersama.

Sekolah gratis membutuhkan kurikulum yang mampu menjawab perubahan masyarakat. Anak-anak hari ini hidup di tengah AI, media sosial, banjir informasi dan perubahan pekerjaan yang cepat.

Karena itu, kurikulum tidak cukup mengajarkan anak untuk mengetahui. Anak harus dilatih untuk bertanya, menganalisis, memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi dan menciptakan sesuatu. Kurikulum harus menjadi jembatan antara sekolah dan kehidupan.

Jika tidak, sekolah gratis hanya memperluas jumlah anak yang masuk sekolah tanpa memastikan mereka mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.

Teknologi Pendidikan Bukan Sekadar Layar di Kelas

Pada era digitalisasi seperti sat ini, sering kali teknologi pendidikan dipahami secara sederhana, yakni menyediakan komputer, tablet, internet, atau layar digital di ruang kelas. Padahal teknologi pendidikan jauh lebih luas.

Teknologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana manusia, proses, sumber belajar, metode, dan teknologi dirancang secara sistematis untuk memecahkan masalah belajar. Karena itu, ketika pemerintah menyediakan layar pintar di sekolah, pertanyaan berikutnya ialah “Apakah guru sudah siap menggunakannya? Apakah materi pembelajarannya tersedia? Apakah metode mengajarnya berubah? Apakah peserta didik menjadi lebih aktif? Dan apakah teknologi tersebut benar-benar menyelesaikan masalah belajar?”

Pemerintah pada 2026 memang mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dan menyebut penggunaan IFP untuk menghadirkan sumber pembelajaran serta pengajaran berbagai bidang.

Namun, perangkat hanyalah alat. Teknologi pendidikan tidak boleh berubah menjadi proyek pengadaan barang. Teknologi harus ditempatkan sebagai bagian dari desain sistem pembelajaran.

Jika guru tetap menggunakan metode lama, sementara papan tulis diganti layar digital, maka yang berubah mungkin hanya medianya. Proses belajarnya belum tentu berubah. Di sinilah teknologi pendidikan memiliki peran strategis.

Dari Sekolah Gratis Menuju Pendidikan Bermutu

Program pendidikan gratis juga perlu dilihat dalam konteks berbagai kebijakan pendidikan yang sudah berjalan.

Pemerintah telah menjalankan Sekolah Rakyat sebagai program pendidikan gratis bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Hingga April 2026, pemerintah menyebut program tersebut telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi di 36 provinsi.

Ini menunjukkan bahwa perluasan akses pendidikan sudah menjadi bagian dari agenda kebijakan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan ekuitas kualitas. Anak dari keluarga miskin tidak cukup hanya diberi tempat duduk di kelas. Ia harus mendapatkan guru yang kompeten, kurikulum yang relevan, sumber belajar yang memadai, lingkungan belajar yang aman, teknologi yang sesuai kebutuhan, serta kesempatan mengembangkan potensinya. Di sinilah konsep keadilan pendidikan menjadi penting.

Adil bukan berarti semua sekolah menerima benda yang sama. Adil berarti setiap anak memperoleh dukungan yang sesuai agar memiliki kesempatan belajar yang bermakna. Sebab, hakikatnya, pendidikan gratis jangan hanya menggratiskan kursi, namun juga menggratiskan hambatan untuk belajar. Negara perlu memastikan anak tidak berhenti sekolah karena biaya, tetapi sekaligus memastikan mereka tidak kehilangan kualitas pendidikan karena lokasi tempat tinggal, kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan teknologi atau kualitas pembelajaran.

Sekolah gratis harus bertemu dengan kurikulum yang adaptif. Kurikulum harus bertemu dengan pedagogi yang tepat. Pedagogi harus didukung teknologi pendidikan. Teknologi harus digunakan berdasarkan kebutuhan belajar. Dan semuanya harus bermuara pada satu tujuan, peserta didik yang mampu berpikir, belajar, beradaptasi dan menghadapi kehidupan nyata.

Karena pendidikan bukan sekadar persoalan apakah orang tua membayar atau tidak. Pendidikan adalah investasi negara terhadap manusia. Sekolah gratis adalah pintu masuk. Pendidikan bermutu adalah tujuan. Dan teknologi pendidikan, kurikulum, guru serta desain pembelajaran adalah bagian dari jalan untuk mencapainya.[T]

Penulis: Dini Nastiti Wardani
Editor: Jaswanto

Tags: PendidikanPresiden Prabowo Subiantosekolah gratissekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

Next Post

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Dini Nastiti Wardani

Dini Nastiti Wardani

Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa sekaligus penyiar Pro 1 RRI Surabaya.

Related Posts

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails
Next Post
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co