6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

Nur Kamilia by Nur Kamilia
September 6, 2026
in Cerpen
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

Ilustrasi: tatkala.co | Canva

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara gemeretak kecil di atas genting tanah liat setiap kali dahi sore mulai bersentuhan dengan bayang-bayang pohon asam. Di teras rumah, Kakek selalu duduk diam sembari merajut tali dari sabut kelapa. Matanya yang rabun tidak pernah menatap jari-jarinya yang bekerja, melainkan menerawang jauh ke arah bukit kapur yang kian hari kian botak dikeruk mesin-mesin besi milik orang kota.

“Dulu, pohon-pohon di bukit itu punya nama satu-per-satu,” bisik Kakek suatu hari, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering yang tersapu angin pelan.

Aku, yang duduk bersila di sampingnya sambil membersihkan biji sawo, menoleh sekilas. “Mana mungkin pohon punya nama, Kek. Pohon ya pohon. Kayu bakar atau bahan reng atap.”

Kakek terkekeh pelan. Tawanya berderak di tenggorokannya yang tua. “Karena kau hanya melihatnya sebagai kayu, makanya kau tidak pernah mendengar mereka memanggil saat malam jumat tiba. Pohon juga punya ingatan. Mereka ingat siapa kakek moyang kita yang dulu menanamnya dengan doa, dan siapa cucu durhaka yang menjual akarnya demi lembaran kertas bergambar pahlawan.”

Aku terdiam. Kalimat Kakek selalu memiliki cara aneh untuk menohok ulu hati, tanpa perlu diucapkan dengan nada marah.

Kampung kami memang sedang berubah. Di ujung jalan desa, papan-pakan proyek pembangunan pabrik semen sudah mulai menancap, merobek ketenangan tanah ulayat yang selama ratusan tahun dijaga oleh pamali dan ritual sedekah bumi. Para pemuda desa berbondong-bondong meninggalkan sawah. Mereka memilih merantau menjadi buruh pabrik atau sopir truk logistik, mengejar kilau uang yang katanya bisa merubah nasib dalam semalam. Ayahku adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih bertahan di balik lumpur sawah, meski setiap musim panen hasilnya kian tidak menentu akibat cuaca yang kian beringas.

Suatu sore, tepat seminggu sebelum ritual tahunan membersihkan mata air desa digelar, sebuah kejadian ganjil terjadi. Pohon jati tua di pekarangan belakang rumah, pohon terbesar yang batangnya harus dipeluk oleh empat orang dewasa, tiba-tiba mengeluarkan getah kemerahan menyerupai air mata.

Ibu yang melihatnya pertama kali langsung menjatuhkan baskom cucian. Ia bergidik ngeri dan segera memanggil tetangga. Bisik-bisik mistis langsung menyebar ke seluruh warung kopi. Ada yang bilang itu pertanda buruk, ada yang bilang itu kutukan penunggu tanah, dan ada pula yang berujar bahwa pohon itu sedang menangisi nasib tanah leluhur yang sebentar lagi akan digusur rata dengan tanah. Namun, Kakek tidak ikut berkerumun di bawah pohon. Ia hanya mengambil segelas air putih, melangkah pelan dengan tongkat bambunya, lalu duduk di akar pohon jati yang menonjol ke permukaan tanah.

“Jangan menakuti orang desa dengan takhayul yang kau ciptakan sendiri,” ucap Kakek tenang ketika Pak Lurah datang dengan wajah pucat membawa dupa. “Pohon ini tidak sedang menuntut sesajen atau mengirim kutukan. Ia hanya sedang kehausan. Akar-akarnya di dalam sana sudah mati lemas karena air tanah kita disedot habis oleh pabrik-pabrik di hilir dan sumur bor raksasa yang kalian bangun tanpa perhitungan.”

Semua orang yang hadir tertegun. Pak Lurah menelan ludah, tidak berani membantah lelaki sepuh yang dianggap sebagai tetua adat terakhir di kampung itu.

Malam harinya, rumah kami kedatangan tamu tak diundang. Dua orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja rapi datang membawa koper kecil. Mereka adalah utusan dari perusahaan yang ingin membebaskan sisa tanah di sekitar bukit. Dengan senyum ramah yang terasa licin, mereka menawarkan uang penggantian dalam jumlah besar kepada Ayah.

“Pak, tanah seluas ini kalau ditanami padi terus tidak akan membuat bapak kaya. Lepaskan saja. Perusahaan akan membangun kawasan industri hijau di sini, masa depan anak cucu bapak terjamin,” bujuk salah seorang dari mereka sambil meletakkan segepok dokumen di atas meja kayu.

Aku melirik Ayah. Wajah lelaki paruh baya itu tampak lelah. Garis-garis di wajahnya adalah peta penderitaan seorang petani yang sering kalah oleh harga pupuk dan permainan tengkulak. Aku tahu ada keraguan di mata Ayah. Uang sebanyak itu bisa melunasi utang di warung sembako dan membiayai sekolah adikku hingga tuntas. Namun, sebelum Ayah sempat membuka mulut untuk menjawab, pintu kamar Kakek terbuka. Lelaki tua itu keluar tanpa bantuan tongkat, meraba dinding kayu rumah hingga sampai di ruang tamu.

“Pulanglah,” ucap Kakek dengan suara datar namun tajam menusuk udara malam.

Dua utusan itu terkejut. “Tapi, Kek, kami datang baik-baik membicarakan masa depan…”

“Masa depan apa yang kalian tawarkan di atas tanah yang sudah kalian matikan airnya?” potong Kakek tegas. “Kalian datang membawa janji kemakmuran, tapi pergi meninggalkan sumur-sumur yang kering dan debu semen di paru-paru anak cucu kami. Tanah ini bukan sekadar tanah liat tempat mencangkul. Tanah ini adalah ibu yang menyusui kami selama hidup. Jika seorang anak menjual ibunya demi segenggam emas, maka yang tersisa di rumahnya bukan lagi keluarga, melainkan kutukan keserakahan.”

Suasana di ruang tamu mendadak sunyi mencekam. Lampu minyak di atas meja bergetar kecil seiring tiupan angin malam yang menyelinap lewat celah dinding bilik. Kedua utusan itu akhirnya memilih pamit, membereskan berkas mereka dengan wajah geram sambil melangkah keluar tanpa pamit secara layak.

Tiga hari setelah kejadian itu, Kakek jatuh sakit. Tubuhnya yang kurus kering menolak untuk bangun dari kasur kapuknya. Ia tidak mengerang kesakitan, hanya memejamkan mata rapat-rapat sambil sesekali menggumamkan nama-nama pohon yang dulu memenuhi bukit di kampung kami.

Menjelang detik-detik terakhirnya, Kakek memanggilku mendekat. Napasnya terdengar berat, berderak pelan mirip suara daun jati yang gugur di musim kemarau.

“Nak,” bisiknya lirih.

“Ya, Kek. Aku di sini,” jawabku sambil menggenggam jemari keriputnya yang dingin.

“Kelak, jika pohon jati di belakang rumah itu benar-benar mati, jangan pernah sedih karena kayunya ditebang. Yang harus kau tangisi adalah jika ingatanmu tentang cara merawat bumi ini ikut mati di dalam dadamu.”

Kakek menutup matanya untuk selamanya tepat ketika fajar menyingsing di ufuk timur.

Kini, setahun telah berlalu sejak kepergian Kakek. Pabrik semen itu gagal beroperasi karena gelombang protes warga yang akhirnya bangkit setelah melihat sumur-sumur di desa benar-benar asin dan tak layak minum. Tanah kami selamat, meski sisa-sisa lukanya masih membekas di perbukitan yang telanjang.

Setiap sore, aku sering mendatangi sisa tunggul pohon jati di pekarangan belakang yang kini mulai ditumbuhi tunas-tunas hijau kecil. Aku tidak lagi melihatnya sebagai sekadar kayu bakar. Di setiap helai daun mudanya yang menyambut matahari, aku seperti mendengar Kakek sedang berbisik pelan, mengingatkan bahwa hidup manusia tidak pernah berdiri sendiri di atas bumi, melainkan terikat dalam satu napas yang sama dengan akar-akar pohon yang menolak untuk menyerah. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Next Post

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co