1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 1, 2026
in Khas
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Gamelan selonding yang pelawahnya dibuat dengan olahan sampah plastik

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi, pura, dan ruang-ruang kesenian Bali kini berdiri dengan pelawah yang bukan terbuat dari kayu. Plastik!

Bahan yang biasanya kita kenali dalam bentuk kantong belanja, botol, kemasan makanan, atau barang-barang yang setelah dipakai segera kita masukkan ke tempat sampah. Kali ini plastik tidak dibuang. Plastik-plastik itu, disusun, diolah, dibentuk, lalu menjadi tempat bertumpunya bilah-bilah gamelan. Tentu saja plastik yang dipakai tidak sembarangan.

Plastik jenis HDPE seperti botol oli atau tutup botol menjadi bahan utamanya. Prosesnya pun sama seperti kerajinan sampah plastik yang diproduksi oleh Rumah Plastik Mandiri milik Eka Darmawan.

Sampah plastik itu dicacah lalu dipres, kemudian dibentuk menjadi pelawah atau “rumah” bagi bilah-bilah selonding.

Ketika dipukul, bunyinya tetap datang dari logam. Dentingnya tetap berat. Tetap dalam. Tidak serta-merta terdengar seperti benda asing hanya karena tubuh yang menopangnya dibuat dari sesuatu yang biasanya kita anggap sebagai sampah. Mungkin justru di situlah keanehannya.

Gamelan selonding yang pelawahnya dibuat dengan olahan sampah plastik

Kita sering mengira sampah adalah sesuatu yang sudah selesai. Ketika dibuang, urusannya dianggap berakhir. Padahal, seperti yang diperlihatkan selonding ini, sesuatu yang kita sebut sampah ternyata masih bisa mempunyai perjalanan lain.

I Dewa Gede Bayu Agastya, seniman yang terlibat dalam proses pembuatannya, mengatakan teknik memainkan gamelan ini tidak berbeda dengan gamelan tradisional lainnya. “Sama saja,” katanya.

Yang berbeda adalah material pelawahnya. Bayu menyebut eksperimen ini sebagai sudut pandang baru. Ia tidak sedang mengatakan bahwa kayu harus digantikan plastik. Ia sedang mencoba membuka kemungkinan bahwa material yang selama ini berada di luar bayangan kita tentang seni tradisi ternyata bisa masuk ke dalamnya. Ia mengatakan sebuah kalimat yang barangkali terdengar seperti puisi. “Kayu adalah suara semesta. Plastik adalah semesta yang bersuara.”

Kalimat itu membuat kita berhenti sebentar. Sebab plastik memang sudah menjadi bagian dari semesta kita, suka atau tidak. Plastik ada di dapur. Di pasar. Di sekolah. Di tempat kerja. Di jalan. Di sungai. Di pantai.

Dan, sayangnya, juga di laut.

Gamelan selonding yang pelawahnya dibuat dengan olahan sampah plastik

Ide membuat gamelan dengan pelawah plastik bukan muncul begitu saja. Eka Darmawan, pemilik Rumah Plastik Mandiri, sudah lama memikirkan kemungkinan tersebut. Hanya saja, gagasan itu tidak segera menjadi benda. Ia tidak mempunyai pengetahuan mengenai pembuatan instrumen gamelan. Pertemuan dengan Bayu kemudian membuat gagasan itu menemukan jalan.

Enam bulan digunakan untuk melakukan riset. Material dicoba. Bentuk dirancang. Resonansi suara dipelajari. Ada bagian-bagian yang mungkin harus dicoba berkali-kali sebelum akhirnya menemukan bentuk yang dianggap cukup. Setelah riset selesai, pengerjaan fisiknya membutuhkan sekitar satu bulan. “Harus hati-hati karena main di resonansi suara,” kata Eka.

Kalimat sederhana itu sebenarnya menunjukkan bahwa membuat karya dari sampah tidak sesederhana memungut barang bekas lalu menjadikannya benda baru. Apalagi jika benda tersebut harus mengemban fungsi tertentu. Harus kuat. Harus tepat.

Dan dalam kasus gamelan, harus mampu menjadi bagian dari sistem bunyi. Ada pengetahuan yang harus dipelajari dan ada kesabaran yang tidak sedikit. Bahkan setelah pelawah selesai, persoalan belum berhenti. Para penabuh juga harus membiasakan diri. Barangkali tubuh mereka memiliki ingatan sendiri tentang bagaimana memainkan gamelan dengan pelawah kayu. Ketika materialnya berubah, ada pengalaman baru yang harus diterima tubuh.

Di sinilah sebuah eksperimen seni menjadi menarik. Bukan karena langsung berhasil. Tetapi karena membuat orang mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Eksperimen itu kemudian tidak berhenti pada gamelan. Plastik daur ulang juga digunakan untuk membuat kostum dan aksesori pertunjukan tari. Bayu bersama penata tari Anak Agung Putra Dalem Segara menyebut gerakan tersebut sebagai Plastic for Art.

Plastik mencoba masuk ke wilayah yang selama ini identik dengan keindahan. Menjadi bagian dari pakaian. Menjadi ornamen. Menjadi tubuh pertunjukan. Menjadi bagian dari bunyi.

Di sini ada semacam pembalikan cara pandang.

Sesuatu yang biasanya kita sembunyikan karena dianggap kotor dan tidak berguna justru ditampilkan di atas panggung. Namun kita juga perlu berhati-hati. Jangan sampai karena sebuah karya menggunakan material daur ulang, kita buru-buru menganggap persoalan lingkungan telah selesai. Tidak sesederhana itu.

Sebuah gamelan dari plastik tidak akan membuat sungai otomatis bersih. Kostum dari sampah tidak serta-merta membuat orang berhenti menggunakan plastik. Sebuah pertunjukan juga tidak bisa menggantikan pekerjaan memilah sampah dari rumah, mengurangi konsumsi, memperbaiki sistem pengangkutan, atau memastikan sampah tidak berakhir di laut.

Tetapi mungkin seni memang tidak selalu harus menyelesaikan persoalan. Kadang-kadang ia hanya perlu membuat kita melihat persoalan itu dari sisi yang berbeda. Dan mungkin itu yang sedang dilakukan selonding ini.

Bali sudah lama berbicara tentang sampah. Aturan tentang pembatasan plastik sekali pakai sudah diberlakukan. Pengelolaan sampah berbasis sumber juga sudah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah. Tetapi kebijakan, sebagus apa pun bunyinya, pada akhirnya bertemu dengan kebiasaan sehari-hari.

Kita masih membeli sesuatu dengan kemasan plastik. Masih menerima kantong ketika sebenarnya tidak membutuhkannya. Masih mencampur sampah organik dengan anorganik. Dan masih sering menganggap tempat sampah sebagai tempat berakhirnya masalah.

Padahal tempat sampah hanya memindahkan masalah itu dari satu tempat ke tempat lain.

Maka ketika plastik kemudian muncul sebagai bagian dari gamelan, itu seperti sedang mengembalikan sesuatu kepada kita.

“Ini barang yang kalian buang.”

“Sekarang dengarkan.”

Mungkin kira-kira begitu cara paling sederhana membaca karya tersebut.

Pelawah plastik ini memang belum menjadi standar baru dalam dunia karawitan Bali. Dan sebaiknya memang tidak buru-buru dijadikan standar. Ini baru eksperimen. Masih harus diuji oleh waktu, oleh para penabuh, oleh seniman, oleh masyarakat, bahkan oleh material itu sendiri.

Apakah cukup kuat? Apakah mudah dirawat? Apakah bisa digunakan dalam jangka panjang? Apakah masyarakat karawitan akan menerimanya? Apakah plastik benar-benar menjadi solusi atau hanya menjadi cara baru untuk membicarakan masalah lama?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum mempunyai jawaban. Bayu sendiri tidak memberikan satu kesimpulan tentang apa yang seharusnya dimaknai dari karya tersebut.

“Saya memberi ruang tafsir untuk semua peminat,” katanya.

Barangkali memang begitu seharusnya sebuah karya bekerja. Tidak selalu memberikan jawaban. Dan kadang hanya mengetuk pintu pikiran kita. Dan selonding dari plastik ini sedang mengetuk pintu itu. Di satu sisi, berbicara tentang seni dan kemungkinan. Di sisi lain, berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari

Ada ironi kecil di sini. Kita membutuhkan plastik karena praktis. Murah. Ringan. Mudah digunakan. Tetapi setelah selesai digunakan, kita ingin secepat mungkin melupakannya. Sementara plastik tidak punya kemampuan untuk melupakan dirinya sendiri.

Mereka tetap ada. Bertahun-tahun. Puluhan tahun. Mungkin lebih lama dari usia kita. Dan sekarang, untuk beberapa saat, plastik itu berdiri di atas panggung.

Tidak lagi sebagai kantong belanja. Tidak lagi sebagai botol bekas. Tidak lagi sebagai benda yang ingin kita singkirkan. Plastik menjadi pelawah. Lalu bilah-bilah selonding dipukul.

Bunyinya mengalir.

Di antara suara logam dan tubuh plastik itu, mungkin ada satu hal yang sedang kita dengarkan bersama. Bukan hanya musik, tetapi juga cara baru memandang benda yang selama ini kita buang.

Apakah eksperimen ini akan bertahan, belum ada yang tahu. Mungkin akan menjadi sesuatu yang terus dikembangkan. Mungkin juga suatu hari hanya tinggal cerita tentang sebuah percobaan. Tidak apa-apa. Sebab tidak semua percobaan harus langsung menjadi tradisi.

Sebagian memang ditakdirkan untuk menjadi pertanyaan.

Dan barangkali, pelawah selonding dari plastik ini adalah salah satunya. Kalau sesuatu yang kita sebut sampah masih bisa menghasilkan suara, sebenarnya kapan sebuah benda benar-benar menjadi tidak berguna? [T]

Tags: daur ulang sampah plastikgamelan selondingRumah Plastiksampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Api Menjadi Cermin

Next Post

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co