ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi, pura, dan ruang-ruang kesenian Bali kini berdiri dengan pelawah yang bukan terbuat dari kayu. Plastik!
Bahan yang biasanya kita kenali dalam bentuk kantong belanja, botol, kemasan makanan, atau barang-barang yang setelah dipakai segera kita masukkan ke tempat sampah. Kali ini plastik tidak dibuang. Plastik-plastik itu, disusun, diolah, dibentuk, lalu menjadi tempat bertumpunya bilah-bilah gamelan. Tentu saja plastik yang dipakai tidak sembarangan.
Plastik jenis HDPE seperti botol oli atau tutup botol menjadi bahan utamanya. Prosesnya pun sama seperti kerajinan sampah plastik yang diproduksi oleh Rumah Plastik Mandiri milik Eka Darmawan.
Sampah plastik itu dicacah lalu dipres, kemudian dibentuk menjadi pelawah atau “rumah” bagi bilah-bilah selonding.
Ketika dipukul, bunyinya tetap datang dari logam. Dentingnya tetap berat. Tetap dalam. Tidak serta-merta terdengar seperti benda asing hanya karena tubuh yang menopangnya dibuat dari sesuatu yang biasanya kita anggap sebagai sampah. Mungkin justru di situlah keanehannya.

Kita sering mengira sampah adalah sesuatu yang sudah selesai. Ketika dibuang, urusannya dianggap berakhir. Padahal, seperti yang diperlihatkan selonding ini, sesuatu yang kita sebut sampah ternyata masih bisa mempunyai perjalanan lain.
I Dewa Gede Bayu Agastya, seniman yang terlibat dalam proses pembuatannya, mengatakan teknik memainkan gamelan ini tidak berbeda dengan gamelan tradisional lainnya. “Sama saja,” katanya.
Yang berbeda adalah material pelawahnya. Bayu menyebut eksperimen ini sebagai sudut pandang baru. Ia tidak sedang mengatakan bahwa kayu harus digantikan plastik. Ia sedang mencoba membuka kemungkinan bahwa material yang selama ini berada di luar bayangan kita tentang seni tradisi ternyata bisa masuk ke dalamnya. Ia mengatakan sebuah kalimat yang barangkali terdengar seperti puisi. “Kayu adalah suara semesta. Plastik adalah semesta yang bersuara.”
Kalimat itu membuat kita berhenti sebentar. Sebab plastik memang sudah menjadi bagian dari semesta kita, suka atau tidak. Plastik ada di dapur. Di pasar. Di sekolah. Di tempat kerja. Di jalan. Di sungai. Di pantai.
Dan, sayangnya, juga di laut.

Ide membuat gamelan dengan pelawah plastik bukan muncul begitu saja. Eka Darmawan, pemilik Rumah Plastik Mandiri, sudah lama memikirkan kemungkinan tersebut. Hanya saja, gagasan itu tidak segera menjadi benda. Ia tidak mempunyai pengetahuan mengenai pembuatan instrumen gamelan. Pertemuan dengan Bayu kemudian membuat gagasan itu menemukan jalan.
Enam bulan digunakan untuk melakukan riset. Material dicoba. Bentuk dirancang. Resonansi suara dipelajari. Ada bagian-bagian yang mungkin harus dicoba berkali-kali sebelum akhirnya menemukan bentuk yang dianggap cukup. Setelah riset selesai, pengerjaan fisiknya membutuhkan sekitar satu bulan. “Harus hati-hati karena main di resonansi suara,” kata Eka.
Kalimat sederhana itu sebenarnya menunjukkan bahwa membuat karya dari sampah tidak sesederhana memungut barang bekas lalu menjadikannya benda baru. Apalagi jika benda tersebut harus mengemban fungsi tertentu. Harus kuat. Harus tepat.
Dan dalam kasus gamelan, harus mampu menjadi bagian dari sistem bunyi. Ada pengetahuan yang harus dipelajari dan ada kesabaran yang tidak sedikit. Bahkan setelah pelawah selesai, persoalan belum berhenti. Para penabuh juga harus membiasakan diri. Barangkali tubuh mereka memiliki ingatan sendiri tentang bagaimana memainkan gamelan dengan pelawah kayu. Ketika materialnya berubah, ada pengalaman baru yang harus diterima tubuh.
Di sinilah sebuah eksperimen seni menjadi menarik. Bukan karena langsung berhasil. Tetapi karena membuat orang mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Eksperimen itu kemudian tidak berhenti pada gamelan. Plastik daur ulang juga digunakan untuk membuat kostum dan aksesori pertunjukan tari. Bayu bersama penata tari Anak Agung Putra Dalem Segara menyebut gerakan tersebut sebagai Plastic for Art.
Plastik mencoba masuk ke wilayah yang selama ini identik dengan keindahan. Menjadi bagian dari pakaian. Menjadi ornamen. Menjadi tubuh pertunjukan. Menjadi bagian dari bunyi.
Di sini ada semacam pembalikan cara pandang.
Sesuatu yang biasanya kita sembunyikan karena dianggap kotor dan tidak berguna justru ditampilkan di atas panggung. Namun kita juga perlu berhati-hati. Jangan sampai karena sebuah karya menggunakan material daur ulang, kita buru-buru menganggap persoalan lingkungan telah selesai. Tidak sesederhana itu.

Sebuah gamelan dari plastik tidak akan membuat sungai otomatis bersih. Kostum dari sampah tidak serta-merta membuat orang berhenti menggunakan plastik. Sebuah pertunjukan juga tidak bisa menggantikan pekerjaan memilah sampah dari rumah, mengurangi konsumsi, memperbaiki sistem pengangkutan, atau memastikan sampah tidak berakhir di laut.
Tetapi mungkin seni memang tidak selalu harus menyelesaikan persoalan. Kadang-kadang ia hanya perlu membuat kita melihat persoalan itu dari sisi yang berbeda. Dan mungkin itu yang sedang dilakukan selonding ini.
Bali sudah lama berbicara tentang sampah. Aturan tentang pembatasan plastik sekali pakai sudah diberlakukan. Pengelolaan sampah berbasis sumber juga sudah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah. Tetapi kebijakan, sebagus apa pun bunyinya, pada akhirnya bertemu dengan kebiasaan sehari-hari.
Kita masih membeli sesuatu dengan kemasan plastik. Masih menerima kantong ketika sebenarnya tidak membutuhkannya. Masih mencampur sampah organik dengan anorganik. Dan masih sering menganggap tempat sampah sebagai tempat berakhirnya masalah.
Padahal tempat sampah hanya memindahkan masalah itu dari satu tempat ke tempat lain.
Maka ketika plastik kemudian muncul sebagai bagian dari gamelan, itu seperti sedang mengembalikan sesuatu kepada kita.
“Ini barang yang kalian buang.”
“Sekarang dengarkan.”
Mungkin kira-kira begitu cara paling sederhana membaca karya tersebut.
Pelawah plastik ini memang belum menjadi standar baru dalam dunia karawitan Bali. Dan sebaiknya memang tidak buru-buru dijadikan standar. Ini baru eksperimen. Masih harus diuji oleh waktu, oleh para penabuh, oleh seniman, oleh masyarakat, bahkan oleh material itu sendiri.
Apakah cukup kuat? Apakah mudah dirawat? Apakah bisa digunakan dalam jangka panjang? Apakah masyarakat karawitan akan menerimanya? Apakah plastik benar-benar menjadi solusi atau hanya menjadi cara baru untuk membicarakan masalah lama?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum mempunyai jawaban. Bayu sendiri tidak memberikan satu kesimpulan tentang apa yang seharusnya dimaknai dari karya tersebut.
“Saya memberi ruang tafsir untuk semua peminat,” katanya.
Barangkali memang begitu seharusnya sebuah karya bekerja. Tidak selalu memberikan jawaban. Dan kadang hanya mengetuk pintu pikiran kita. Dan selonding dari plastik ini sedang mengetuk pintu itu. Di satu sisi, berbicara tentang seni dan kemungkinan. Di sisi lain, berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari
Ada ironi kecil di sini. Kita membutuhkan plastik karena praktis. Murah. Ringan. Mudah digunakan. Tetapi setelah selesai digunakan, kita ingin secepat mungkin melupakannya. Sementara plastik tidak punya kemampuan untuk melupakan dirinya sendiri.
Mereka tetap ada. Bertahun-tahun. Puluhan tahun. Mungkin lebih lama dari usia kita. Dan sekarang, untuk beberapa saat, plastik itu berdiri di atas panggung.
Tidak lagi sebagai kantong belanja. Tidak lagi sebagai botol bekas. Tidak lagi sebagai benda yang ingin kita singkirkan. Plastik menjadi pelawah. Lalu bilah-bilah selonding dipukul.
Bunyinya mengalir.
Di antara suara logam dan tubuh plastik itu, mungkin ada satu hal yang sedang kita dengarkan bersama. Bukan hanya musik, tetapi juga cara baru memandang benda yang selama ini kita buang.
Apakah eksperimen ini akan bertahan, belum ada yang tahu. Mungkin akan menjadi sesuatu yang terus dikembangkan. Mungkin juga suatu hari hanya tinggal cerita tentang sebuah percobaan. Tidak apa-apa. Sebab tidak semua percobaan harus langsung menjadi tradisi.
Sebagian memang ditakdirkan untuk menjadi pertanyaan.
Dan barangkali, pelawah selonding dari plastik ini adalah salah satunya. Kalau sesuatu yang kita sebut sampah masih bisa menghasilkan suara, sebenarnya kapan sebuah benda benar-benar menjadi tidak berguna? [T]





























