UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga bersama para undangan bergerak menuju klinik kuliner. Di tempat itu, sejumlah hidangan tradisional telah tersaji rapi di atas meja yang berlapis kain putih.
Para undangan disuguhkan kuliner unik. Menu yang disajikan itu mungkin masih asing bagi sebagian tamu undangan, yakni Kuliner Tradisional Ulam Carik. Menu-menu yang mengusung suasana persawahan. Hidangan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menghadirkan kembali kekayaan pangan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat agraris Bali.
Sebagian undangan yang belum mengenal nama maupun jenis hidangan tersebut tampak bertanya kepada petugas. Sementara mereka yang sudah mengetahuinya langsung mengambil dan mencicipi. Para petugas, dengan sigap menjelaskan satu per satu bahan serta cara pengolahan kuliner yang sebagian kini semakin jarang ditemui.


Keberadaan menu-menu berbahan hasil persawahan itu menjadi daya tarik tersendiri. Rasa penasaran mendorong sejumlah undangan untuk mencoba, sekaligus menemukan kembali cita rasa yang lahir dari kedekatan masyarakat Bali dengan alam dan lingkungan persawahan.
Suasana tersebut menjadi bagian dari hari ketiga sekaligus penutup Tanah Lot Art and Food Festival VII yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2026. Festival yang mengusung tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya”, ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan dan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengangkat seni, budaya, kuliner, serta potensi pariwisata Tabanan.
Cita Rasa dari Sawah
Ulam Carik menghadirkan sejumlah hidangan yang merekam kekayaan bahan pangan dari lingkungan persawahan. Salah satunya Lindung Metunu Sambal Bejek, yang menggunakan belut sawah pilihan. Belut dibumbui dengan rempah khas Bali atau base genep, kemudian dimasak secara tradisional dengan teknik metutu menggunakan balutan daun pisang.
Proses tersebut menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma khas. Hidangan kemudian disajikan bersama sambal bejek yang pedas dan segar, menciptakan perpaduan rasa yang kuat sekaligus mencerminkan karakter kuliner Bali.

Ada pula Kakul Suna Cakuh, berbahan keong sawah yang dipadukan dengan bawang putih, kencur, dan rempah-rempah khas Bali. Tekstur kakul yang kenyal berpadu dengan cita rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang khas.
Sementara Pesan (Pepes) Testes menggunakan anak ikan air tawar atau testes. Anak ikan dipadukan dengan base genep, dibungkus daun pisang, kemudian dimasak secara tradisional hingga menghasilkan aroma khas dan cita rasa yang kaya.
Hidangan lainnya adalah Kuah Kakul, yang lahir dari kekayaan alam persawahan dan tradisi memasak masyarakat Bali. Kakul segar dimasak bersama base genep sehingga menghasilkan kuah rempah yang harum dan kaya rasa.

Dari kelompok sayuran, terdapat Jukut Gonda, salah satu kuliner tradisional khas Tabanan yang menggunakan pucuk tanaman gonda, sayuran air yang tumbuh di kawasan persawahan. Teksturnya lembut dengan cita rasa segar. Sederhana dalam pengolahan, jukut gonda dimasak dengan bawang putih dan cabai, tetapi tetap menghadirkan rasa yang khas.
Tak hanya makanan, klinik kuliner itu juga memperkenalkan ragam minuman tradisional. Rujak Bir, misalnya, memadukan kesegaran kelapa muda dengan kuah rujak berbumbu rempah khas Bali. Meski menggunakan nama “bir”, minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol dan dapat dinikmati semua kalangan.
Ada pula Rujak Tibah (Mengkudu), minuman yang dibuat dari sari buah tibah atau mengkudu. Buah segar dihancurkan dan diperas, kemudian sarinya dicampur dengan air matang, gula, garam, cabai, dan perasan jeruk. Hasilnya adalah perpaduan rasa asam, manis, pedas, gurih, sekaligus menyegarkan.

Untuk kudapan, Jaje Uli Tape menjadi salah satu sajian yang mempertemukan beras ketan, kelapa, dan tape ketan hasil fermentasi alami. Perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit asam menjadikan jajanan ini tidak hanya kaya rasa, tetapi juga merefleksikan tradisi dan kebersamaan yang diwariskan antargenerasi.
Sementara Loloh Cemcem melengkapi ragam minuman tradisional yang disajikan. Minuman herbal khas Bali ini menawarkan keseimbangan rasa manis, asam, dan gurih, dengan kesegaran bulir kelapa muda di dalamnya.
Rangkaian kuliner tersebut memperlihatkan bahwa makanan tradisional tidak berdiri sendiri. Di balik setiap bahan terdapat hubungan antara manusia, alam, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Merawat Warisan Lewat Festival
Selama tiga hari, Tanah Lot Art and Food Festival VII berlangsung semarak dengan berbagai pertunjukan seni, budaya, kuliner, dan hiburan. Festival ini tidak hanya menjadi ruang rekreasi bagi masyarakat dan wisatawan, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan Tabanan kepada khalayak yang lebih luas sekaligus membuka ruang kreativitas bagi para penggiat seni.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Tabanan atau yang mewakili, anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda beserta para asisten Setda, kepala perangkat daerah, camat se-Kabupaten Tabanan, Penglingsir Puri Kediri, Manajer DTW Tanah Lot, tokoh masyarakat setempat, serta undangan lainnya.

Wabup Dirga menyampaikan apresiasi atas konsistensi pelaksanaan festival yang menjadi ruang untuk mengangkat sekaligus mempromosikan kekayaan seni, budaya, kuliner, dan potensi pariwisata Tabanan. “Tanah Lot memiliki posisi istimewa sebagai destinasi wisata yang telah dikenal hingga mancanegara,” katanya.
Menurutnya, panorama alam yang dimiliki Tanah Lot merupakan anugerah sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga keberlangsungannya. Ia juga mengapresiasi beragam pertunjukan seni, budaya, hingga kuliner tradisional yang ditampilkan selama festival.
Ia menilai keberagaman tersebut menjadi bukti kuat bahwa Tabanan memiliki potensi lokal yang kaya dan layak terus dikembangkan. “Selama tiga hari ini kita telah menyaksikan berbagai pertunjukan seni, budaya dan kuliner tradisional yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kita sangat kaya akan seni, budaya, kuliner tradisional dan berbagai potensi menarik lainnya,” ujar Wabup Dirga saat itu.

Festival diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjaga dan melestarikan laut sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. “Event ini bukan hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat identitas budaya kita serta memperkenalkan kekayaan warisan nenek moyang kepada generasi muda dan dunia,” tutur Wabup Dirga.
Tanah Lot Art and Food Festival menjadi langkah strategis dalam mempromosikan seni, budaya, adat istiadat, kuliner, serta berbagai kearifan lokal Tabanan sekaligus sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Tabanan.
“Saya sangat berharap event ini bisa dilaksanakan secara konsisten setiap tahun. Dibutuhkan kerja keras, kreativitas dan inovasi baru agar kunjungan wisata bisa terus meningkat dan DTW Tanah Lot semakin terkenal,” harap Wabup Dirga.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto





























