Sahabatku,
Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam di malam yang sunyi. Raga kita memang tidak lagi mampu bersama, terpisah oleh bentangan jarak dan takdir administratif yang mengasingkanku dari pulau suci tempat kau berada. Namun, aku meyakini bahwa jiwa dan pikiran kita akan selalu bersama, mengembara di sela-sela memori yang pernah kita tenun berdua. Melalui lembaran surat ini, aku ingin mengalirkan kembali seluruh ingatan kolektif yang dulu sering kita perdebatkan, sebuah catatan tentang ruang hidup yang sakral, keharmonisan yang mulai retak, dan sebuah naskah refleksi eksistensial yang sengaja tidak ingin kuakhiri dengan sebuah titik, karena aku tak ingin memori kita berakhir.
Sahabatku yang selalu datang dengan segudang pertanyaan,
Aku masih mengingat momen saat aku mengajakmu untuk melihat Hyang Dwipa bukan dengan mata lahiriah yang terbatas dan kau menanggapinya dengan bertubi-tubi pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa.
“Bagaimana puncak-puncak vulkanis di Hyang Dwipa bisa terlihat bagaikan punggung seekor raksasa yang seolah ingin menggapai langit, sedangkan di kakinya terpendam tungku magma raksasa yang membara di bawah lapisan tanah yang menjadi tempat manusia berpijak di atasnya?”
Atau saat kau bertanya, “Mengapa sungai-sungai bisa mengalir dari celah bebatuan di sela tubuh sang raksasa yang seakan dipahat oleh sang Maestro Maha Agung, lalu kemudian membawa muatan sulfur, kalium, dan fosfor yang menyuburkan setiap jengkal tanah, menciptakan hamparan karpet zamrud tempat peradaban dibentuk dan membentuk?”
Sahabatku yang selalu kurindukan,
Ingatkah kau saat kita membahas catatan pengelana asal Meksiko, Miguel Covarrubias, yang melarikan diri dari Great Depression tahun 1930-an? Ia melihat Hyang Dwipa dengan jiwa seorang pelukis yang jatuh cinta, menyaksikan jeram berbuih putih, air terjun yang melompat lincah, dan sawah berundak yang memeluk punggung bukit sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap geometri bumi.
Di penghujung diskusi kita saat itu, satu istilah kau perkenalkan padaku, orang luar yang tidak tahu apa-apa ini. Sang Hyang Catur Danu, empat entitas suci yang bersemayam di dalam cekungan kaldera purba, tempat air bermetamorfosis menjadi amertha, air kehidupan yang suci.
Kemudian kau mengenalkanku pada sosok Bhatari Gangga di Danau Buliyan dan Bhatari Sri di Danau Tamba Eling saat kita melewati dua danau kembar itu, di tengah cerita nostalgia tentang kawan-kawanmu pada masa remaja dulu. Kau juga mengenalkan padaku sosok Bhatari Laksmi saat hujan memaksa kita berhenti untuk memakai mantel malam itu di tepi Danau Teraban. Dan yang paling kuingat adalah, saat kau mengajakku melihat Danau Batu Hyang, tempat Bhatari Uma berstana, bermandikan sinar sang surya yang perlahan naik dari ufuk timur.
Ingatanku masih tertambat saat kita menikmati mujair nyat-nyat dan kau bercerita tentang bagaimana leluhurmu di Hyang Dwipa memahat pengetahuan ekologis di atas prasasti untuk menetapkan pembagian lahan demi melindungi resapan air. Lalu kau melanjutkan cerita tentang konsep Nyegara Gunung, sebuah sistem dualisme harmonis bagai Lingga dan Yoni yang melahirkan sebutan Agama Tirtha.
Sahabatku yang selalu menantang alam pikirku,
Kerinduan padamu membawaku kembali pada arsitektur tradisional di dataran tinggi Hyang Dwipa sebagai simbol kepatuhan mikrokosmos pada makrokosmos. Rumah penduduk masa lampau yang dibangun sebagai organisme yang bernapas bersama penghuninya; dinding-dindingnya disusun dari papan kayu lokal tanpa lapisan cat kimia, memperlihatkan lingkaran tahun yang merekam riwayat cuaca ekstrem. Di atasnya, bertumpu atap megah dari ijuk tebal, jalinan serat pohon yang dipanen tanpa membunuh sang pohon yang kau sebut sebagai Arenga pinnata.
Kerinduan ini juga membawa ingatanku pada momen saat kita dan sahabat-sahabat dari sebuah tempat istimewa di republik ini berdiskusi tentang paon. Ia bukan hanya sekadar tempat memasak, katamu dulu, yang diamini oleh sahabat-sahabat kita. Karena ia juga berfungsi sebagai rahim spiritual tempat bertemunya seluruh hasil bumi dari tiga ruang ekologis, natah atau pekarangan untuk pemenuhan gizi mikro dari dedaunan dan bumbu dasar, abian atau ladang sebagai sumber karbohidrat kompleks, serta uma atau sawah tempat ditanamnya beras merah dan hitam kaya serat dari petak berundak. Ilmu kimia yang kau miliki kemudian membawaku pada kisah bagaimana proses kimia di atas tungku batu berkaki tiga mengubah materi alam menjadi energi fisik (sekala) dan energi spiritual (niskala) melalui sesaji.
Aku sangat merindukan binar matamu dan lincah tarian tanganmu saat melipat janur kelapa muda menjadi wadah persembahan dengan geometri sakral. Wadah janur, yang menurut tuturmu, dahulu diisi dengan hasil bumi paling jujur dalam bentuk beras merah beraroma kacang, jeruk pegunungan berpori kasar, dan ragam jajanan yang diolah dengan proses yang tekun. Lalu kau mengucapkan sebuah kalimat, “Ambil secukupnya dari alam, haturkan kembali sisanya yang terbaik melalui ritual, dan jangan pernah berani merusak rumah besar yang telah memberimu makan.”
Sahabatku yang selalu terlihat gelisah,
Ingatanku akan lontaran kata-katamu yang berapi-api masih terngiang di memoriku saat kita berdebat tentang sebuah disrupsi berlabel Revolusi Agraria yang menggoyahkan harmoni ekologis yang telah bertahan selama satu milenia. Paradoks kemajuan yang dibawa oleh kekuatan modal telah mendekonstruksi basis material pulau tempat kau lahir dan tumbuh. Papan kayu disingkirkan demi batako kaku, dan atap ijuk diturunkan secara massal untuk digantikan lembaran seng bergelombang yang mengubah rumah menjadi oven panas di siang hari dan ruang es membeku di malam hari.
Kau berbagi padaku cerita ayahmu tentang saluran irigasi yang dulunya parit tanah alami, kini dilapisi semen beton tebal, memenjarakan air dan memutus hubungan sakral dengan bumi, sehingga air mengalir terlalu cepat tanpa sempat mengisi cadangan air tanah dangkal.
Air yang tumpah dari penjaranya lalu merembes ke ruang-ruang spiritual dan tanpa sadar mengerosi tradisi masyarakat Hyang Dwipa yang paling intim. Ritual pemuliaan ruang seperti Ngusaba dan Melasti terjebak menjadi sekadar tontonan visual eksotis demi kamera pelancong asing. Anyaman janur kelapa yang organik digantikan oleh wadah mika plastik instan pabrikan, buah lokal diganti apel impor kemilau berselimut jaring plastik, dan kue suci berganti biskuit dalam kemasan aluminium. Selesai upacara, kemasan sintetis yang tidak bisa diurai ratusan tahun itu dibuang menjadi gunungan sampah yang menyumbat tebing sungai, sementara kawasan hutan di hulu dan sawah berundak beralih fungsi demi mengakomodir tuntutan pariwisata.
Hingga akhirnya, batas kepatuhan alam pun pecah pada September 2025. Bapak Angkasa dan Ibu Pertiwi menjatuhkan murka purbanya melalui anomali cuaca ekstrem. Volume air yang seharusnya didistribusikan secara normal dalam waktu satu bulan penuh, seolah ditumpahkan dari langit hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja. Di wilayah hulu, air limpasan permukaan tidak lagi menemukan pori-pori tanah untuk merembes karena
bumi telah dikunci oleh semen dan plastik. Air menjelma menjadi monster cair berenergi kinetik masif yang meluncur tanpa hambatan menuju dataran rendah yang topografinya lebih rendah.
Kawasan hilir, pusat metropolitan yang dipadati fasilitas umum dan pariwisata modern, dalam sekejap berubah menjadi lautan kelabu berarus deras. Banjir ekstrim seketika melumpuhkan kawasan perkotaan, menghantam pusat perbelanjaan, dan memakan korban jiwa. Saluran drainase kota yang tersumbat oleh jutaan ton sampah plastik kemasan sesaji instan tak mampu menampung arus balik air bah. Air yang dulu dipuja sebagai Tirtha, berkah suci pencuci dosa dunia, kini mewujud menjadi kutukan hidrologis yang melumpuhkan peradaban modern. Para birokrat bersembunyi di balik istilah teknis ‘anomali cuaca’, menolak mengakui bahwa banjir besar ini adalah akibat langsung dari retaknya tatanan moral-spiritual manusia terhadap ruang hidupnya sendiri.
Sahabatku yang aku sayangi,
Tulisan refleksi ini kubiarkan tetap terbuka tanpa sebuah titik penutup, karena aku menolak membiarkan perjuangan pemikiran dan ingatan kita tentang kelestarian alam berakhir di sini. Surat ini kutuliskan dari seberang lautan, membawa seluruh sisa idealisme dan rasa rindu yang mendalam kepadamu dan Hyang Dwipa. Pikirkan baik-baik pertanyaan ini, sebelum hujan berikutnya turun dari langit tanpa membawa lagi rasa ampunan.
Apakah kau sedang menjaga kedalaman danau jiwamu, ataukah kau sedang membiarkannya mendangkal di tengah bisingnya dunia modern?
Tertanda,
Seseorang yang selalu memikirkanmu dari pulau seberang [T]
Penulis: Ari Murdimanto
Editor: Adnyana Ole




















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)






