30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Ari Murdimanto by Ari Murdimanto
August 30, 2026
in Cerpen
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Sahabatku,

Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam di malam yang sunyi. Raga kita memang tidak lagi mampu bersama, terpisah oleh bentangan jarak dan takdir administratif yang mengasingkanku dari pulau suci tempat kau berada. Namun, aku meyakini bahwa jiwa dan pikiran kita akan selalu bersama, mengembara di sela-sela memori yang pernah kita tenun berdua. Melalui lembaran surat ini, aku ingin mengalirkan kembali seluruh ingatan kolektif yang dulu sering kita perdebatkan, sebuah catatan tentang ruang hidup yang sakral, keharmonisan yang mulai retak, dan sebuah naskah refleksi eksistensial yang sengaja tidak ingin kuakhiri dengan sebuah titik, karena aku tak ingin memori kita berakhir.

Sahabatku yang selalu datang dengan segudang pertanyaan,

Aku masih mengingat momen saat aku mengajakmu untuk melihat Hyang Dwipa bukan dengan mata lahiriah yang terbatas dan kau menanggapinya dengan bertubi-tubi pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa.

“Bagaimana puncak-puncak vulkanis di Hyang Dwipa bisa terlihat bagaikan punggung seekor raksasa yang seolah ingin menggapai langit, sedangkan di kakinya terpendam tungku magma raksasa yang membara di bawah lapisan tanah yang menjadi tempat manusia berpijak di atasnya?”

Atau saat kau bertanya, “Mengapa sungai-sungai bisa mengalir dari celah bebatuan di sela tubuh sang raksasa yang seakan dipahat oleh sang Maestro Maha Agung, lalu kemudian membawa muatan sulfur, kalium, dan fosfor yang menyuburkan setiap jengkal tanah, menciptakan hamparan karpet zamrud tempat peradaban dibentuk dan membentuk?”

Sahabatku yang selalu kurindukan,

Ingatkah kau saat kita membahas catatan pengelana asal Meksiko, Miguel Covarrubias, yang melarikan diri dari Great Depression tahun 1930-an? Ia melihat Hyang Dwipa dengan jiwa seorang pelukis yang jatuh cinta, menyaksikan jeram berbuih putih, air terjun yang melompat lincah, dan sawah berundak yang memeluk punggung bukit sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap geometri bumi.

Di penghujung diskusi kita saat itu, satu istilah kau perkenalkan padaku, orang luar yang tidak tahu apa-apa ini. Sang Hyang Catur Danu, empat entitas suci yang bersemayam di dalam cekungan kaldera purba, tempat air bermetamorfosis menjadi amertha, air kehidupan yang suci.

Kemudian kau mengenalkanku pada sosok Bhatari Gangga di Danau Buliyan dan Bhatari Sri di Danau Tamba Eling saat kita melewati dua danau kembar itu, di tengah cerita nostalgia tentang kawan-kawanmu pada masa remaja dulu. Kau juga mengenalkan padaku sosok Bhatari Laksmi saat hujan memaksa kita berhenti untuk memakai mantel malam itu di tepi Danau Teraban. Dan yang paling kuingat adalah, saat kau mengajakku melihat Danau Batu Hyang, tempat Bhatari Uma berstana, bermandikan sinar sang surya yang perlahan naik dari ufuk timur.

Ingatanku masih tertambat saat kita menikmati mujair nyat-nyat dan kau bercerita tentang bagaimana leluhurmu di Hyang Dwipa memahat pengetahuan ekologis di atas prasasti untuk menetapkan pembagian lahan demi melindungi resapan air. Lalu kau melanjutkan cerita tentang konsep Nyegara Gunung, sebuah sistem dualisme harmonis bagai Lingga dan Yoni yang melahirkan sebutan Agama Tirtha.

Sahabatku yang selalu menantang alam pikirku,

Kerinduan padamu membawaku kembali pada arsitektur tradisional di dataran tinggi Hyang Dwipa sebagai simbol kepatuhan mikrokosmos pada makrokosmos. Rumah penduduk masa lampau yang dibangun sebagai organisme yang bernapas bersama penghuninya; dinding-dindingnya disusun dari papan kayu lokal tanpa lapisan cat kimia, memperlihatkan lingkaran tahun yang merekam riwayat cuaca ekstrem. Di atasnya, bertumpu atap megah dari ijuk tebal, jalinan serat pohon yang dipanen tanpa membunuh sang pohon yang kau sebut sebagai Arenga pinnata.

Kerinduan ini juga membawa ingatanku pada momen saat kita dan sahabat-sahabat dari sebuah tempat istimewa di republik ini berdiskusi tentang paon. Ia bukan hanya sekadar tempat memasak, katamu dulu, yang diamini oleh sahabat-sahabat kita. Karena ia juga berfungsi sebagai rahim spiritual tempat bertemunya seluruh hasil bumi dari tiga ruang ekologis, natah atau pekarangan untuk pemenuhan gizi mikro dari dedaunan dan bumbu dasar, abian atau ladang sebagai sumber karbohidrat kompleks, serta uma atau sawah tempat ditanamnya beras merah dan hitam kaya serat dari petak berundak. Ilmu kimia yang kau miliki kemudian membawaku pada kisah bagaimana proses kimia di atas tungku batu berkaki tiga mengubah materi alam menjadi energi fisik (sekala) dan energi spiritual (niskala) melalui sesaji.

Aku sangat merindukan binar matamu dan lincah tarian tanganmu saat melipat janur kelapa muda menjadi wadah persembahan dengan geometri sakral. Wadah janur, yang menurut tuturmu, dahulu diisi dengan hasil bumi paling jujur dalam bentuk beras merah beraroma kacang, jeruk pegunungan berpori kasar, dan ragam jajanan yang diolah dengan proses yang tekun. Lalu kau mengucapkan sebuah kalimat, “Ambil secukupnya dari alam, haturkan kembali sisanya yang terbaik melalui ritual, dan jangan pernah berani merusak rumah besar yang telah memberimu makan.”

Sahabatku yang selalu terlihat gelisah,

Ingatanku akan lontaran kata-katamu yang berapi-api masih terngiang di memoriku saat kita berdebat tentang sebuah disrupsi berlabel Revolusi Agraria yang menggoyahkan harmoni ekologis yang telah bertahan selama satu milenia. Paradoks kemajuan yang dibawa oleh kekuatan modal telah mendekonstruksi basis material pulau tempat kau lahir dan tumbuh. Papan kayu disingkirkan demi batako kaku, dan atap ijuk diturunkan secara massal untuk digantikan lembaran seng bergelombang yang mengubah rumah menjadi oven panas di siang hari dan ruang es membeku di malam hari.

Kau berbagi padaku cerita ayahmu tentang saluran irigasi yang dulunya parit tanah alami, kini dilapisi semen beton tebal, memenjarakan air dan memutus hubungan sakral dengan bumi, sehingga air mengalir terlalu cepat tanpa sempat mengisi cadangan air tanah dangkal.

Air yang tumpah dari penjaranya lalu merembes ke ruang-ruang spiritual dan tanpa sadar mengerosi tradisi masyarakat Hyang Dwipa yang paling intim. Ritual pemuliaan ruang seperti Ngusaba dan Melasti terjebak menjadi sekadar tontonan visual eksotis demi kamera pelancong asing. Anyaman janur kelapa yang organik digantikan oleh wadah mika plastik instan pabrikan, buah lokal diganti apel impor kemilau berselimut jaring plastik, dan kue suci berganti biskuit dalam kemasan aluminium. Selesai upacara, kemasan sintetis yang tidak bisa diurai ratusan tahun itu dibuang menjadi gunungan sampah yang menyumbat tebing sungai, sementara kawasan hutan di hulu dan sawah berundak beralih fungsi demi mengakomodir tuntutan pariwisata.

Hingga akhirnya, batas kepatuhan alam pun pecah pada September 2025. Bapak Angkasa dan Ibu Pertiwi menjatuhkan murka purbanya melalui anomali cuaca ekstrem. Volume air yang seharusnya didistribusikan secara normal dalam waktu satu bulan penuh, seolah ditumpahkan dari langit hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja. Di wilayah hulu, air limpasan permukaan tidak lagi menemukan pori-pori tanah untuk merembes karena

bumi telah dikunci oleh semen dan plastik. Air menjelma menjadi monster cair berenergi kinetik masif yang meluncur tanpa hambatan menuju dataran rendah yang topografinya lebih rendah.

Kawasan hilir, pusat metropolitan yang dipadati fasilitas umum dan pariwisata modern, dalam sekejap berubah menjadi lautan kelabu berarus deras. Banjir ekstrim seketika melumpuhkan kawasan perkotaan, menghantam pusat perbelanjaan, dan memakan korban jiwa. Saluran drainase kota yang tersumbat oleh jutaan ton sampah plastik kemasan sesaji instan tak mampu menampung arus balik air bah. Air yang dulu dipuja sebagai Tirtha, berkah suci pencuci dosa dunia, kini mewujud menjadi kutukan hidrologis yang melumpuhkan peradaban modern. Para birokrat bersembunyi di balik istilah teknis ‘anomali cuaca’, menolak mengakui bahwa banjir besar ini adalah akibat langsung dari retaknya tatanan moral-spiritual manusia terhadap ruang hidupnya sendiri.

Sahabatku yang aku sayangi,

Tulisan refleksi ini kubiarkan tetap terbuka tanpa sebuah titik penutup, karena aku menolak membiarkan perjuangan pemikiran dan ingatan kita tentang kelestarian alam berakhir di sini. Surat ini kutuliskan dari seberang lautan, membawa seluruh sisa idealisme dan rasa rindu yang mendalam kepadamu dan Hyang Dwipa. Pikirkan baik-baik pertanyaan ini, sebelum hujan berikutnya turun dari langit tanpa membawa lagi rasa ampunan.

Apakah kau sedang menjaga kedalaman danau jiwamu, ataukah kau sedang membiarkannya mendangkal di tengah bisingnya dunia modern?

Tertanda,

Seseorang yang selalu memikirkanmu dari pulau seberang [T]

Penulis: Ari Murdimanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Next Post

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Ari Murdimanto

Ari Murdimanto

Seorang geograf yang sedang berusaha memahami manusia, lingkungan, dan interaksi keduanya. Saat ini mencoba membaca rangkaian kata dalam buku-buku koleksinya dan mencoba menulis untuk menumpahkan hasil dialog dengan pemikirannya sendiri di sela aktivitasnya di instansi pelestarian kebudayaan. Ajakan ngobrol sambil ngopi bisa dikirim lewat IG @am23286

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co