30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 30, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang boleh dipikirkan dan apa yang harus dibungkam.

Pada era platform digital, ancamannya bergeser menjadi lebih halus: manusia masih bebas berpikir, tapi ekosistem perhatian mengarahkan sedemikian rupa sehingga pemikiran yang lambat semakin sulit bertahan. Kini muncul ancaman yang lebih halus lagi. Tidak dalam bentuk larangan atau pengalihan perhatian, tapi sebuah tawaran yang sangat menarik, yaitu jalan keluar dari kesulitan berpikir itu sendiri.

Kecerdasan buatan generatif tidak datang ke dunia sastra Indonesia yang sehat lalu tiba-tiba merusaknya. Ia datang ke ekosistem yang sudah mengalami erosi panjang. Erosi standar, erosi keberanian kritik, erosi kesabaran pembaca. Dengan kata lain: ia tidak menciptakan penyakitnya. Ia adalah akselerator dari penyakit yang sudah lama ada. Dan justru karena itu, ia jauh lebih berbahaya dari yang biasanya diasumsikan.

Pembicaraan tentang AI dalam sastra hampir selalu terjebak pada dua pertanyaan yang kurang esensial: apakah AI bisa menulis karya yang bagus, dan apakah karya yang ditulis AI bisa dianggap seni. Keduanya adalah pertanyaan yang menarik secara filosofis, tapi keduanya melewatkan sesuatu yang lebih mendesak dan lebih konkret: apa yang terjadi pada proses berpikir manusia ketika jalan keluar instan dari setiap kebuntuan kreatif selalu tersedia?

Menulis bukan sekadar memindahkan gagasan yang sudah utuh dari kepala ke halaman. Dalam bentuknya yang paling dalam, menulis adalah cara manusia menemukan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Banyak penulis baru memahami emosinya sendiri ketika mereka mencoba menyusunnya menjadi bahasa. Banyak gagasan paling penting lahir justru dari kebuntuan, dari jam-jam ketika kalimat yang tepat tidak datang, ketika struktur cerita tidak mau terbentuk, ketika sesuatu terasa benar tetapi belum bisa dijelaskan mengapa. Kebuntuan itu bukan gangguan dalam proses kreatif. Ia adalah proses kreatif itu sendiri.

AI generatif mampu memotong proses yang selama ini melelahkan dalam menulis. Justru di situlah persoalannya: ia hadir bukan sebagai sesuatu yang memaksa dari luar, melainkan sebagai kemudahan yang sulit ditolak.

Buntu di paragraf ketiga? Minta AI meneruskan. Tidak tahu bagaimana mengakhiri cerita? Minta AI mengusulkan beberapa opsi. Karakter terasa datar? Minta AI mendeskripsikan motivasi yang lebih kompleks. Satu per satu, bagian-bagian paling sulit dalam proses menulis mulai bisa dialihkan. Dan karena hasilnya sering kali tampak “cukup baik”, banyak orang gagal melihat apa yang sebenarnya hilang dalam proses itu.

Banyak yang khawatir hilangnya keaslian teks. Padahal yang paling berbahaya adalah hilangnya pengalaman manusia bergulat dengan pikirannya sendiri.

Di Indonesia, eksperimen dengan AI dalam penulisan sastra sudah dimulai. Pada 2023, penulis Dadang Ari Murtono mengerjakan proyek novela dengan bantuan AI. Ia menulis draf, lalu berdialog dengan sistem AI untuk mengembangkan cerita, mengambil sebagian kecil masukan yang terasa tepat dan menolak sisanya. Novela itu diterbitkan Indonesia Tera pada April 2024.

Temuan terpenting bukan pada kualitas novela itu sendiri, melainkan pada pengakuan yang muncul dalam prosesnya, bahwa AI cenderung menghasilkan teks yang “normatif, penuh pesan moral seperti pendakwah, dan bahkan menyerupai cerita populer yang sudah ada.” Itu cukup menjelaskan bahwa AI senada dengan apa yang telah dihasilkan oleh mekanisme algoritma. AI sejalan dengan Sastra Perhatian.

Pengakuan ini penting karena ia menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar keterbatasan teknis. Ini menunjukkan ketidakmampuan AI dalam menghasilkan apa yang bisa disebut “ketidakefisienan yang produktif”: momen ketika penulis tidak tahu apa yang ingin ia katakan, lalu duduk bersama ketidaktahuannya itu cukup lama hingga sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya mulai terbentuk.

Persoalannya jauh melampaui kasus eksperimen seperti yang dilakukan Dadang, yang dengan sadar dan kritis mempertahankan posisinya sebagai pembuat keputusan estetik. Persoalan yang lebih besar adalah apa yang terjadi di skala massal, di platform penulisan online tempat ratusan ribu orang memproduksi konten setiap hari, di ekosistem print on demand yang tidak memiliki standar kurasi, di antara penulis yang sudah terbiasa memproduksi satu bab per hari untuk memenuhi jadwal platform.

Bagi mereka, AI bukan alat eksperimen, tapi solusi logistik. Dengan begitu, teks semakin mudah diproduksi dan semakin bebas dari kurasi. Di sinilah “inflasi kata”, salah satu akibat langsung dari Sastra Perhatian, mencapai titik paling ekstremnya. Tidak ada lagi yang berdiri di antara mesin dan teks kecuali keputusan manusia untuk segera menekan tombol publikasi.

Jika ledakan print on demand menghasilkan ratusan judul baru per bulan dari penulis manusia, AI generatif berpotensi menghasilkan ribuan dengan kecepatan yang tidak bisa disaingi manusia, dengan biaya yang mendekati nol, dan dengan hasil yang secara permukaan cukup menyerupai fiksi untuk lolos dari pengamatan pembaca yang tidak teliti.

Kata-kata tidak lagi membutuhkan manusia untuk lahir. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang standar tidak lagi relevan. Karena tidak ada lagi subjek yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas pilihan estetiknya.

Menulis sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan kemampuan bertahan dalam kebingungan. Di situlah biasanya sebuah karya menemukan bentuknya. Tetapi platform digital menuntut kecepatan, pasar menghargai volume, dan AI menawarkan kemudahan instan. Sedikit demi sedikit, proses kreatif dipersingkat hingga yang tersisa hanyalah produksi teks yang lancar tanpa pergulatan yang sungguh-sungguh.

Dalam ekosistem Sastra Perhatian, AI tidak datang sebagai invasi dari luar. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis, langkah mutakhir dari proses panjang yang sudah dimulai jauh sebelum mesin belajar menulis kalimat pertamanya. Selama bertahun-tahun, ekosistem ini terus memberi hadiah kepada kecepatan dan produktivitas, sambil membuat proses kreatif yang lambat dan penuh kebuntuan terasa semakin tak berguna.

Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengakhiri sastra. Sastra tidak semudah itu lenyap. Pertanyaannya adalah: setelah bertahun-tahun tekanan untuk menulis lebih cepat, lebih mudah, dan lebih produktif, masih adakah cukup banyak penulis yang percaya bahwa kesulitan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari lahirnya sastra itu sendiri? [T][Bersambung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Tags: algoritmaAndre SyahrezasastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co