SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang boleh dipikirkan dan apa yang harus dibungkam.
Pada era platform digital, ancamannya bergeser menjadi lebih halus: manusia masih bebas berpikir, tapi ekosistem perhatian mengarahkan sedemikian rupa sehingga pemikiran yang lambat semakin sulit bertahan. Kini muncul ancaman yang lebih halus lagi. Tidak dalam bentuk larangan atau pengalihan perhatian, tapi sebuah tawaran yang sangat menarik, yaitu jalan keluar dari kesulitan berpikir itu sendiri.
Kecerdasan buatan generatif tidak datang ke dunia sastra Indonesia yang sehat lalu tiba-tiba merusaknya. Ia datang ke ekosistem yang sudah mengalami erosi panjang. Erosi standar, erosi keberanian kritik, erosi kesabaran pembaca. Dengan kata lain: ia tidak menciptakan penyakitnya. Ia adalah akselerator dari penyakit yang sudah lama ada. Dan justru karena itu, ia jauh lebih berbahaya dari yang biasanya diasumsikan.
Pembicaraan tentang AI dalam sastra hampir selalu terjebak pada dua pertanyaan yang kurang esensial: apakah AI bisa menulis karya yang bagus, dan apakah karya yang ditulis AI bisa dianggap seni. Keduanya adalah pertanyaan yang menarik secara filosofis, tapi keduanya melewatkan sesuatu yang lebih mendesak dan lebih konkret: apa yang terjadi pada proses berpikir manusia ketika jalan keluar instan dari setiap kebuntuan kreatif selalu tersedia?
Menulis bukan sekadar memindahkan gagasan yang sudah utuh dari kepala ke halaman. Dalam bentuknya yang paling dalam, menulis adalah cara manusia menemukan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Banyak penulis baru memahami emosinya sendiri ketika mereka mencoba menyusunnya menjadi bahasa. Banyak gagasan paling penting lahir justru dari kebuntuan, dari jam-jam ketika kalimat yang tepat tidak datang, ketika struktur cerita tidak mau terbentuk, ketika sesuatu terasa benar tetapi belum bisa dijelaskan mengapa. Kebuntuan itu bukan gangguan dalam proses kreatif. Ia adalah proses kreatif itu sendiri.
AI generatif mampu memotong proses yang selama ini melelahkan dalam menulis. Justru di situlah persoalannya: ia hadir bukan sebagai sesuatu yang memaksa dari luar, melainkan sebagai kemudahan yang sulit ditolak.
Buntu di paragraf ketiga? Minta AI meneruskan. Tidak tahu bagaimana mengakhiri cerita? Minta AI mengusulkan beberapa opsi. Karakter terasa datar? Minta AI mendeskripsikan motivasi yang lebih kompleks. Satu per satu, bagian-bagian paling sulit dalam proses menulis mulai bisa dialihkan. Dan karena hasilnya sering kali tampak “cukup baik”, banyak orang gagal melihat apa yang sebenarnya hilang dalam proses itu.
Banyak yang khawatir hilangnya keaslian teks. Padahal yang paling berbahaya adalah hilangnya pengalaman manusia bergulat dengan pikirannya sendiri.
Di Indonesia, eksperimen dengan AI dalam penulisan sastra sudah dimulai. Pada 2023, penulis Dadang Ari Murtono mengerjakan proyek novela dengan bantuan AI. Ia menulis draf, lalu berdialog dengan sistem AI untuk mengembangkan cerita, mengambil sebagian kecil masukan yang terasa tepat dan menolak sisanya. Novela itu diterbitkan Indonesia Tera pada April 2024.
Temuan terpenting bukan pada kualitas novela itu sendiri, melainkan pada pengakuan yang muncul dalam prosesnya, bahwa AI cenderung menghasilkan teks yang “normatif, penuh pesan moral seperti pendakwah, dan bahkan menyerupai cerita populer yang sudah ada.” Itu cukup menjelaskan bahwa AI senada dengan apa yang telah dihasilkan oleh mekanisme algoritma. AI sejalan dengan Sastra Perhatian.
Pengakuan ini penting karena ia menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar keterbatasan teknis. Ini menunjukkan ketidakmampuan AI dalam menghasilkan apa yang bisa disebut “ketidakefisienan yang produktif”: momen ketika penulis tidak tahu apa yang ingin ia katakan, lalu duduk bersama ketidaktahuannya itu cukup lama hingga sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya mulai terbentuk.
Persoalannya jauh melampaui kasus eksperimen seperti yang dilakukan Dadang, yang dengan sadar dan kritis mempertahankan posisinya sebagai pembuat keputusan estetik. Persoalan yang lebih besar adalah apa yang terjadi di skala massal, di platform penulisan online tempat ratusan ribu orang memproduksi konten setiap hari, di ekosistem print on demand yang tidak memiliki standar kurasi, di antara penulis yang sudah terbiasa memproduksi satu bab per hari untuk memenuhi jadwal platform.
Bagi mereka, AI bukan alat eksperimen, tapi solusi logistik. Dengan begitu, teks semakin mudah diproduksi dan semakin bebas dari kurasi. Di sinilah “inflasi kata”, salah satu akibat langsung dari Sastra Perhatian, mencapai titik paling ekstremnya. Tidak ada lagi yang berdiri di antara mesin dan teks kecuali keputusan manusia untuk segera menekan tombol publikasi.
Jika ledakan print on demand menghasilkan ratusan judul baru per bulan dari penulis manusia, AI generatif berpotensi menghasilkan ribuan dengan kecepatan yang tidak bisa disaingi manusia, dengan biaya yang mendekati nol, dan dengan hasil yang secara permukaan cukup menyerupai fiksi untuk lolos dari pengamatan pembaca yang tidak teliti.
Kata-kata tidak lagi membutuhkan manusia untuk lahir. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang standar tidak lagi relevan. Karena tidak ada lagi subjek yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas pilihan estetiknya.
Menulis sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan kemampuan bertahan dalam kebingungan. Di situlah biasanya sebuah karya menemukan bentuknya. Tetapi platform digital menuntut kecepatan, pasar menghargai volume, dan AI menawarkan kemudahan instan. Sedikit demi sedikit, proses kreatif dipersingkat hingga yang tersisa hanyalah produksi teks yang lancar tanpa pergulatan yang sungguh-sungguh.
Dalam ekosistem Sastra Perhatian, AI tidak datang sebagai invasi dari luar. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis, langkah mutakhir dari proses panjang yang sudah dimulai jauh sebelum mesin belajar menulis kalimat pertamanya. Selama bertahun-tahun, ekosistem ini terus memberi hadiah kepada kecepatan dan produktivitas, sambil membuat proses kreatif yang lambat dan penuh kebuntuan terasa semakin tak berguna.
Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengakhiri sastra. Sastra tidak semudah itu lenyap. Pertanyaannya adalah: setelah bertahun-tahun tekanan untuk menulis lebih cepat, lebih mudah, dan lebih produktif, masih adakah cukup banyak penulis yang percaya bahwa kesulitan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari lahirnya sastra itu sendiri? [T][Bersambung]
Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-750x375.png)
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-360x180.png)










![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









