24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
in Opini
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering menjadi simbol kapasitas intelektual. Dulu kampus hadir sebagai ruang ideologis untuk pengembangan karakter dan ilmu pengetahuan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah perguruan tinggi perlahan mengalami perubahan. Perguruan tinggi negeri tidak lagi fokus dengan urusan akademik, kini mereka berada dalam tekanan untuk bersaing, mencari sumber pendanaan, dan menarik sebanyak mungkin mahasiswa.

Ketika banyak perguruan tinggi negeri diberi otonomi oleh pemerintah untuk berstatus badan hukum (PTN-BH), perguruan tinggi bertransformasi menjadi institusi semi pasar. Otonomi kampus memberi keleluasaan perguruan tinggi untuk mengelola dan mengembangkan dirinya sendiri. Namun, juga diiringi dengan tanggung jawab yang semakin besar untuk memenuhi kebutuhan “rumah tangganya” secara mandiri. Persoalan mulai menjadi rumit ketika mahasiswa mulai dipandang sebagai ceruk sumber daya ekonomi yang sangat potensial. Pada saat yang sama, kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) juga semakin menambah beban biaya yang harus ditanggung mahasiswa.

Jalur masuk perguruan tinggi hari ini mulai berkembang bagaikan jalan tol dengan berbagai cabangnya. Ada jalur mandiri, jalur prestasi, jalur afirmasi, bahkan jalur tikus yang terkadang sulit dilacak. Semua jalur tersebut dibungkus dengan semangat memperluas akses pendidikan dengan berbagai narasi yang indah oleh tim marketing kampus. Bahkan tidak jarang pula melibatkan mahasiswa dengan paras yang rupawan sebagai tim marketing untuk menambah daya tarik promosi. Membuka peluang selebar-lebarnya bagi akses kesempatan pendidikan tentu saja adalah hal yang baik. Namun, realitasnya akses yang lebar jutsru tidak dijaga dengan kualitas.

Masalahnya, ketika kampus mulai terlalu bergantung pada jumlah mahasiswa sebagai sumber pendanaan, seleksi akademik sering berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, perguruan tinggi ingin menjaga reputasi mutu. Di sisi lain, kebutuhan finansial menuntut jumlah mahasiswa yang terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, standar seleksi menjadi lebih fleksibel atau bahkan kompromistis.

Logika pasar bebas mulai perlahan merembes masuk ke dunia pendidikan tinggi negeri. Perguruang tinggi negeri tidak mau kalah berlomba dengan perguruan tinggi swasta untuk mendatangkan mahasiswa. Promosi sering dikemas melalui berbagai strategi pemasaran, mulai dari iklan digital, poster kreatif, mengerahkan kekuatan alumni dan mahasiswa, hingga menggunakan daya tarik dosen dan guru besar untuk promosi langsung ke sekolah-sekolah. Tidak hanya itu, kampus-kampus negeri berlomba mengajukan berkas-berkas persyaratan untuk membuka program studi baru yang sesuai dengan tren pasar dibandingkan kebutuhan pengembangan keilmuan. Upaya tersebut adalah respons terhadap perubahan ekosistem perguruan tinggi yang semakin kompetitif. Fenomena ini menunjukkan pergeseran orientasi dari idealisme keilmuan ke rasionalitas pragmatis.

Dampak dari masuknya logika pasar tersebut terasa nyata dalam dinamika akademik. Ketika kampus lebih menekankan kuantitas mahasiswa sebagai indikator keberhasilan, kualitas kesiapan akademik mahasiswa menjadi semakin beragam. Dosen dihadapkan pada sikap dilematis antara mempertahankan idealisme atau menyesuaikan standar akademik yang lebih kompromistis. Tekanan secara tidak langsung juga datang dari institusional kampus untuk menjaga tingkat kelulusan, kualitas IPK, dan kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan kampus. Hal ini justru mendorong dosen melakukan penyederhanaan materi, penilaian yang lebih permisif, bahkan dosen harus meluluskan paksa. Dosen juga kerap diposisikan sebagai mesin pekerja melalui beban pengajaran SKS yang sangat tinggi dan melampaui batas kewajaran profesional. Di sisi lain, program studi dipaksa bekerja ekstra untuk meraih akreditasi unggul maupun akreditasi internasional demi meningkatkan citra dan daya saing institusi.

Perguruan tinggi yang telah memiliki reputasi kuat dengan peringkat nasional yang strategis, umumnya tetap mampu menjaga seleksi yang ketat karena daya tarik institusinya membuat jumlah peminat tetap tinggi. Kampus yang sedang berkemmbang atau dengan peringkat menengah sering berada dalam tekanan kompetisi untuk mempertahankan jumlah mahasiswa demi menjaga keberlanjutan finansial dan operasional institusi. Dalam situasi tersebut, standar penerimaan mahasiswa cenderung sengaja dilonggarkan sehingga kualitas input akademik menjadi tidak merata. Sistem kebijakan pendidikan tinggi yang melibatkan logika otonomi finansial secara tidak langsung mendorong komersialisasi pendidikan. Kampus dipaksa bertahan dalam situasi persaingan bisnis dengan orientasi keuntungan optimal. Padahal secara filosofis pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar, yakni sebagai praksis humanisasi dan pembentukan pribadi yang kritis.

Ketika kualitas input mahasiswa menurun dan standar akademik ikut melemah, dampak jangka panjang yang dipertaruhkan adalah reputasi kampus dan kualitas lulusan yang menjadi tulang punggung bangsa. Perguruan tinggi seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga kualitas intelektual masyarakat. Jika benteng itu mulai retak, dampaknya bisa terasa dalam berbagai sektor, mulai dari dunia kerja, usaha, dan industri. Bahkan, bisa saja berdampak hingga kualitas sumber daya manusia aparatur negara yang juga bermuara pada kualitas pengambilan kebijakan publik.

Pendidikan tinggi memang tidak boleh menjadi ruang eksklusif yang hanya bisa dimasuki segelintir kelompok. Tantangannya adalah bagaimana membuka akses tanpa menurunkan standar. Seleksi mahasiswa seharusnya tetap dijaga dengan standar yang ketat. Fungsinya digunakan sebagai penyaring dan alat pemetaan kemampuan. Kampus bisa tetap menerima mahasiswa dengan latar belakang akademik beragam, namun harus diimbangi dengan sistem pendampingan akademik yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan belajar mahasiswa.

Otonomi kampus tidak boleh dibiarkan berubah menjadi komersialisasi yang menjadikan mahasiswa sebagai objek pasar bebas. Jumlah mahasiswa memang penting, tetapi mutu pendidikan jauh lebih menentukan masa depan. Jika kampus terus bergerak mengikuti logika pasar tanpa standar seleksi yang jelas, bukan tidak mungkin suatu saat perguruan tinggi hanya menjadi pabrik ijazah. Ketika kondisi tersebut terjadi, menurunnya kualitas pendidikan dan kepercayaan moral publik terhadap institusi akademik adalah keniscayaan. [T]

Penulis:I Kadek Adhi Dwipayana
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerguruan Tinggiperguruan tinggi negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

Next Post

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Ddosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails
Next Post
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  ------ Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co